Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Uraikan ...


__ADS_3

Zul masih menunggu jawaban dari Adi. Sejak awal tiba di rumah sakit, ingin sekali dia melayangkan bogeman mentah di wajah adiknya itu. Namun dia urungkan niatnya, karena tidak ingin melihatkan kekecewaan nya dihadapan Lyra sang istri.


Bagaimanapun, sikap Adi sudah tidak layak untuk di maafkan.


Zul masih mengepal kuat tangannya, hingga buku-buku tangan yang bersih itu tampak memutih, melanjutkan pertanyaannya ...


"Apa kau tidak berfikir, akan keselamatan dan kesehatan Kesy? Dia tidak sama dengan Laura! Dia wanita manja juga lemah. Aku saja, tidak berani membentaknya walau dia salah. Karena aku tahu siapa Kesy, aku yang menjaganya hingga dia remaja, dia periode pertama, membelikannya underwear. Tapi ini yang kau lakukan pada anak tiri ku, Di. Pertumbuhan yang belum sempurna, hingga kau tega merenggut kehormatannya sebagai wanita. Picik sekali otak mu, bro! Jika kau melakukan dengan Laura itu sangat berbeda konteksnya, kau memiliki perasaan, bahkan kalian sudah sama-sama dewasa. Kesy masih kecil, Di. Masih 17 tahun, dua bulan lagi baru 18 tahun. Kau tahu usia wanita menikah sebaiknya usia berapa?" sesalnya panjang lebar.


Adi tak bisa mengelak lagi, dia hanya bisa menunduk. Kali ini jika dia ingin bersujud, mungkin dia akan bersujud di kaki Lyra dan Zul Abangnya.


Tatapan kosong, mata memerah, bahkan tampak kelelahan karena dua minggu berada di penerbangan, membuat dia tampak kusut.


"Bang, aku ingin melihat Kesy. Aku akan bicara pada Mama. Mungkin besok atau lusa, aku akan mengambil jadwal penerbangan ku menuju Asia. Saat ini aku sudah tidak satu wadah lagi dengan Laura. Aku hanya sering menjalin komunikasi dengan Kesy. Karena dia terus yang meminta dan mengatakan merindukan aku. Aku sebagai pria harus bagaimana? Aku tidak bisa menolak, dan aku yakin jika kami menikah semua akan berbeda. Mungkin aku akan tinggal berdua dengannya di Munich, atau tetap di Berlin. Tapi dia menginginkan tinggal di Dusseldorf ..." jelasnya pelan.


Zul menghela nafas panjang, kali ini dia menunggu keputusan Lyra. Apapun yang akan menjadi keputusan terbaik istrinya, dia akan mengikuti semua ingin wanita yang telah 12 tahun bersama.


Zul menoleh kearah Adi, "Apa kamu yakin tidak ada wanita lain yang kamu perlakuan seperti Kesy juga Laura? Aku akan mempertimbangkan nya, karena saat ini, Mama dan Papa belum tahu kejadian ini. Aku yakin ini akan menjadi masalah besar karena kita merupakan orang Timur. Kita ini orang daerah, hanya kebetulan serta keberuntungan yang membawa kita kesini ..."


Adi menggeleng meyakinkan Zul, sama sekali dia tidak pernah menghabiskan waktu dengan wanita manapun setelah bersama Kesy.


"Aku menyesal, aku sangat-sangat menyesal, bang ..."


Lagi-lagi Zul menarik nafas panjang, mengusap wajahnya sedikit kasar, merebahkan tubuhnya di kursi koridor lebih dalam.


Tatapan mata Zul, tampak lelah. Saat ini dia di hadapkan dengan dua masalah besar sekaligus.


Permintaan Lyra yang ingin bercerai darinya, juga Kesy yang tengah di ambang pintu kehancuran yang tak jelas arahnya.

__ADS_1


Kali ini Zul benar-benar pasrah. Awal pernikahan yang berat dia rasakan. Kehilangan bayi kembarnya, kematian mantan suami Lyra, serta Kesy yang tak pernah lepas dari tekanan-tekanan.


'Ternyata membina rumah tangga itu gampang. Tapi memperjuangkan nya sangat sulit. Aku memikirkan perasaan Haris, Hana juga Hani. Jika mereka mengetahui tentang Kesy, mungkin mereka akan menganggap bahwa menikah sesama keluarga itu biasa. Ooogh Tuhan ... Kemana akan aku bawa Kesy bersembunyi? Gadis itu benar-benar mencintai Adi ... Apapun yang di minta Adi, semua dia lakukan, aaaagh ...!'


Mata Zul terpejam sejenak. Akan tetapi, tangan kekar seorang pria menepuk pundaknya.


Zul terlonjak kaget, saat melihat tangan Dokter Teddy sebagai seniornya, yang seumuran dengan Papa Ahmad menyapanya ...


"Ngapain kamu di sini, Zul? Apakah Lyra masuk rumah sakit?"


Zul tersenyum, memperbaiki posisi duduknya, agar lebih dekat dan nyaman. Saat ini dia benar-benar butuh masukan yang baik juga positif dari orang tua.


"Dokter, bisa kita bicara di ruangan sebentar? Ada hal yang mesti aku bicarakan. Kesy yang sakit, Dok," jelasnya dengan suara serak.


Dokter Teddy melirik kearah Adi, "Bagaimana Pak pilot? Apakah sudah siap terbang lagi? Come on, kenapa kalian berdua tampak seperti orang yang memikirkan masalah hidup yang sangat berat?" tawanya.


Teddy hanya mengangguk, menepuk paha Zul pelan, "Ayo ke ruangan saya. Katanya tadi mau ngobrol. Palingan tentang Kanza yang saat ini tengah berada di sini ..." tawanya menggoda pria yang sudah dia anggap anak tersebut.


Zul menggelengkan kepalanya, "Aku ke ruangan Dokter Teddy dulu. Jika Kak Lyra sudah selesai dengan Kesy, minta segera menyusul saja."


Adi mengangguk, mengacungkan jempolnya tanda mengerti.


Zul mengikuti langkah Teddy dengan berbicara ringan, tampak seperti sedang membahas tentang mahasiswa mereka yang masih menyelesaikan tugas akhir.


Ruangan Teddy yang tidak begitu jauh dari ruang rawat Kesy, memudahkan istri Zul untuk segera menyusul nantinya.


Teddy meminta asistennya membuatkan minuman hangat, agar tampak lebih nyaman dan tenang.

__ADS_1


"Duduklah Zul, ada apa kamu mau bicara dengan saya. Lyra mana? Apa masih bersama Dokter Heru?"


Zul mengangguk, dia memijat pelipisnya pelan, tersenyum tipis saat beradu tatap dengan dokter seniornya.


"Lyra meminta cerai dari ku, Dok ...!"


Teddy yang mendengar penuturan Zul menaikkan kedua alisnya, menatap wajah pria muda yang telah di karuniai putra-putri kembar, tiba-tiba ingin bercerai.


"Apa yang kalian pikirkan? Apa kalian tidak memikirkan anak-anak? Jangan ada korban lagi. Come on Zul, ini hal yang mudah bukan? Apa kamu memiliki hubungan dengan wanita lain? Atau Lyra memiliki hmm ..."


Zul mengayunkan tangannya, sebagai tanda tidak ada pihak ketiga dalam pernikahan mereka.


"Ini menyangkut Kesy dan Adi, Dok. Kesy jatuh hati pada Adi ...!" ungkapnya dengan wajah menekuk malu.


Teddy menarik nafas dalam-dalam, mengusap lembut dadanya sendiri. Tertawa kecil mendengar penuturan Zul yang sangat lucu di telinganya.


"So ... Apakah ada yang salah? Adi single, sudah bekerja, memiliki pekerjaan tetap, penghasilan yang good, masalahnya di mana? Apakah kalian menginginkan Kesy jatuh hati pada artis, atau K-Pop terkenal, atau bahkan pemilik rumah sakit swasta?"


Zul hanya memainkan jari-jarinya, mendengarkan gurauan dari Dokter Teddy.


"Bukan begitu Dok, Adi itu adik ku! Tidak mungkin aku menikah kan anak tiri ku dengan adik kandung ku, dokter ..."


Teddy kembali mengerenyitkan keningnya, 'Apakah Ahmad dan Eni tidak menceritakan tentang Adi kepada Zul ...'


Teddy berpikir sejenak, kemudian bertanya pada Zul, "Apa Mama dan Papa tidak pernah menceritakan siapa Adi pada mu? Atau bahkan Adi sama sekali tidak mengetahui siapa dirinya?"


Zul menatap tak mengerti, tampak wajahnya semakin berubah, dia benar-benar tidak pernah mengetahui rahasia apa yang ada pada keluarganya selama ini.

__ADS_1


"Sorry Dokter, bisa uraikan? Jujur aku tidak mengerti dengan apa yang dokter maksud ..."


__ADS_2