Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Menemuinya


__ADS_3

Hani yang mendengar dari balik rak supermarket, hanya bisa menutup bibir mungil itu dengan kedua jemari kecilnya.


"Oh Gott ... Ist sie die Frau, die Papi von Mama schnappen wird ...?"


(Ooogh Tuhan ... Apakah dia wanita yang akan merebut Papi dari Mama ...?)


Seketika Lyra menoleh kearah Hani, yang bersembunyi dibalik rak supermarket, dengan wajah kecil itu terlihat merah padam, membuat istri Zulmaeta tersebut, berbalik menatap lekat kearah Kanza yang masih tersenyum culas berdiri di belakang mereka.


Lyra tak kuasa membendung amarahnya, kali ini dia tidak ingin bersahabat dengan keadaan. Perasaannya seketika bercampur aduk dengan logika membuat ia enggan bersahabat demi membela putri kesayangannya, juga Zul yang menjadi pendamping hidupnya selama 12 tahun.


Tatapan Lyra teralihkan pada Zul hanya beberapa detik, kemudian dia melangkah mendekati Kanza untuk memberi pelajaran pada wanita yang dengan tega menyakiti perasaan putri kesayangannya.


PLAAAAK ...!


Tangan Lyra melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Kanza. Mata keduanya membulat saling bertatapan penuh dendam.


"Entschuldigung, wenn Sie meinen Mann schnappen wollen ... Benutzen Sie die elegante Art, Miss! Vergiftet nicht den Verstand meiner Kinder! denn du wirst es bereuen, wenn du mir gegenüberstehst!"


(Maaf, jika kau ingin merebut suamiku ... Gunakan cara yang elegan Nona! Jangan kau racuni pikiran anak-anak ku! Karena kau akan menyesal bila sudah berhadapan dengan ku!)


Lyra sudah tidak peduli dengan wanita yang terus menerus mencoba memakinya. Bahkan seolah-olah Lyra lah yang telah merebut Zul darinya.


Kali ini Lyra sudah muak dengan semua drama yang di ciptakan pihak ketiga, hanya untuk menyakiti perasaannya sebagai istri serta Ibu dari ketiga anaknya yang masih berusia delapan tahun.


Mereka bergegas meninggalkan supermarket apartemen, yang terletak tidak jauh dari restoran tempat mereka menghabiskan waktu dengan Laura.


.


Dua hari berlalu semenjak kejadian yang sangat menyakitkan itu, membuat Lyra sedikit takut akan kegilaan wanita seperti Kanza kembali mendekati suaminya Zul.


Ada sedikit perasaan tidak yakin pada dirinya, bahwa Zul akan selalu menjaga komitmen antara mereka berdua. Entahlah, kali ini Lyra lebih memproteksi diri sendiri demi ketenangan jiwanya sebagai seorang istri yang lebih tua dari pria bernama Zulmaeta.


"Morgen sayang ..." kecupnya pada leher Lyra yang terbuka, karena rambut indah itu tercepol tinggi.


"Morgen hun ... Panggil anak-anak, aku buatin mie goreng kesukaan mereka, pakai seafood dan sosis!"


Lyra membalikkan badannya, mencium mesra bibir suaminya yang terasa semakin hangat.


Mereka saling bertukar saliva, setelah melewati malam yang indah demi keharmonisan rumah tangganya.

__ADS_1


Tentu saja menjadi pemandangan yang biasa bagi Betris, begitu juga dengan Kesy dan Adi.


Zul menoleh kearah Adi yang sudah duduk di kursi meja makan, sedikit berbisik, "Jangan lupa jemput Mama dan Papa pukul 19.00 di bandara Frankfurt. Mereka sudah berangkat dari Jakarta. Aku harap kamu siap dengan semua berita yang akan di sampaikan Mama dan Papa. Mungkin lusa, kita akan menghabiskan waktu di Dusseldorf. Kebetulan Abang juga cuti tiga hari ..."


Adi mengangguk, baginya apapun yang akan di bicarakan Mama juga Papa-nya kali ini, dia akan menerima dengan lapang dada.


Lyra yang tengah asyik mempersiapkan masakan, dan meletakkan di masing-masing piring untuk keluarganya hanya bisa tersenyum kearah Kesy.


"Ingat, kalau kalian sudah menikah ... Mama mau kamu tinggal bersama di sini, sampai kalian menentukan di mana akan tinggal," tegasnya.


Kesy hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan sang Mama, yang masih enggan untuk berpisah darinya.


Adi yang mendengar penuturan sang kakak ipar hanya mengangguk setuju.


"Tapi kak, mungkin setelah menikah kami akan kembali ke Indo. Karena Kesy mau melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Karena aku mendapatkan promosi untuk bergabung dengan maskapai penerbangan dalam negeri," jelasnya, dihadapan Zul juga Lyra.


Tentu saja berita ini menjadi kejutan luar biasa bagi Lyra dan Zul.


Lyra menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah Zul yang hanya bisa tersenyum mendengar keputusan adiknya.


"Jangan dong ...! Disini lebih baik, enggak mungkin kita mau jauh-jauhan, kan? Apalagi Opa Boy sudah menjual rumah yang di Jakarta," jelas Lyra tak ingin berpisah dari Kesy.


Kesy tersenyum malu menatap wajah Mama-nya, "Kami enggak pindah sekarang kok, Ma. Karena Bang Adi masih menunggu hasil ujiannya beberapa waktu lalu. Mana mungkin dia mau menerima begitu saja, karena gaji masih nego ..." ceritanya dengan wajah berbinar-binar.


Lyra hanya tersenyum tipis, kali ini perasaannya kembali terganggu dengan keputusan dua insan yang akan meninggalkan nya.


Sementara Zul memanggil ketiga buah hatinya, untuk sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas seperti biasa.


Kesy berlalu menyusul Zul, sekaligus mengambil sesuatu di dalam kamarnya.


Lyra yang melihat Kesy berlalu, meninggalkan ruang makan, dengan sigap wanita itu mendekati Adi yang masih sibuk dengan handphone pintarnya.


Lyra sedikit berbisik ketelinga Adi, untuk bertanya, "Apakah Laura ada menghubungi kamu?" 


Adi mencoba mengingat, kapan terakhir kali Laura menghubungi nya.


"Kayaknya dua hari apa tiga hari lalu, Kak! Kenapa?"


Adi menyeruput kopi susu yang sudah tersedia di meja makan.

__ADS_1


Lyra menghela nafas panjang, "Kakak dan Abang ketemu Laura beberapa hari lalu, dan dia mengatakan bahwa dirinya tengah hamil anak kamu."


Sontak kabar itu membuat Adi tersedak sehingga terbatuk-batuk, "Uhuug-uhuug-uhuug ...! Apa hamil?"


Lyra menganggukkan kepalanya, namun matanya tertuju pada Kesy yang mendekati mereka.


Lyra sedikit gugup, karena telah membuat Adi tersedak, membuat Kesy bergegas mengambil gelas, mengambil air keran dan memberikan pada Adi.


Kesy menatap Lyra juga Adi bergantian, tangan kecil itu menyodorkan bibir gelas ke mulut Adi, kemudian bertanya, "Abang kenapa? Siapa yang hamil?"


Lyra hanya mengangkat kedua bahunya, mengalihkan perhatian Kesy pada ketiga adiknya yang berlari mendekat kearah mereka.


Tentu saja pertanyaan Lyra membuat pikiran Adi gelisah, kemudian menoleh kearah Zul yang menepuk pundaknya.


"Bang, Abang antar adik-adik jam berapa? Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Adi sedikit gelisah.


Zul menatap Lyra yang hanya memberi kode dengan menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum, karena tidak akan ada yang bisa menghalangi keputusannya untuk menikahkan Kesy dan Adi, walau di tentang keluarga sekalipun.


Apalagi hanya seorang Laura, yang tega-teganya telah mengkhianati adik tirinya, yang telah dia anggap seperti adik kandung.


"Haris bilang, hari ini mereka libur sekolah. Karena ada acara rapat bersama wali murid. Jadi kamu bisa menjemput Mama dan Papa di bandara. Bawa mobil yang agak besar saja. Biar adik-adik kamu bisa ikut!" jelas Zul.


Adi mengangguk, meninggalkan ruang makan, menggiring Zul ke ruang kerjanya.


Sementara Lyra dan keempat buah hatinya, sarapan bersama, sambil bersenda gurau menikmati hidangan Asia buatan sang Mama.


Sementara Adi benar-benar kalud tidak percaya dengan berita yang dia dengar dari mulut Lyra.


Adi bertanya, "Apa benar Laura hamil, Bang?"


Zul hanya bisa tersenyum tipis, mengunci pintu ruang kerjanya, agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Ya! Apa benar itu anak kamu? Setahu aku kalian selalu aman, kan?"


Adi berpikir sejenak, mencoba mengingat kapan terakhir kali dia menyentuh wanita itu. Sementara hubungannya dengan Kesy sudah berjalan hampir dua bulan.


"Seingat aku ... Aku tidak pernah mau karirnya terganggu. Karena selama ini, aku selalu aman ..." jelasnya pelan.


"Terus ...!?"

__ADS_1


"Aku akan menemuinya, Bang! Karena aku ingin memastikan, tapi jangan sampai Kesy mengetahui semua ini ..."


   


__ADS_2