
Adi yang di hujami beberapa pertanyaan dari keluarganya, lagi-lagi mendapatkan pembelaan dari Eni.
"Sudahlah Zul, Lyra ... Yang penting bawa saja Kesy pulang kerumah kalian, karena Mama tidak suka melihat kehadirannya di sini, jika kelakuan nya tidak berubah sama sekali! Pas resepsi saja mereka bertemu lagi. Lagian resepsi kita hanya mengundang beberapa tamu dari keluarga dekat saja. Jadi setelah resepsi, kalian sudah bisa pulang! Satu lagi Zul, tolong kosongkan apartemen Mama yang di Berlin, karena Adi akan tinggal di sana bersama Kesy. Kalian kan sudah bisa membeli rumah sendiri, yang lebih besar!" tegas Eni dihadapan suami serta anak dan menantunya.
Lyra ternganga, begitu juga Zul dan Ahmad. Setelah 12 tahun pernikahan mereka baru kali ini Eni mengatakan hal yang tidak masuk akal.
Zul menautkan kedua alisnya, menunjukkan ketidaksetujuan nya pada keputusan sang Mama.
"Ma ... Apa-apaan ini? Kenapa apartemen keluarga, Mama kasih ke Adi? Dia kan sudah memiliki apartemen di Munich? Kok jadi Zul yang harus mengalah?"
Mata Zul menatap nanar kearah Adi yang masih duduk tak berkutik di ruang makan ...
"Adi! Apa maksud mu? Apa yang kau katakan pada Mama, sehingga Mama tega melakukan ini sama aku dan istriku?" geram Zul mengepalkan tangannya.
Lyra benar-benar tidak menyangka semua keputusan Eni yang sangat mengejutkan.
Bergegas Lyra menaiki anak tangga, untuk mengambil semua barang-barang Kesy, meninggalkan rumah mertuanya yang ternyata telah menyakiti perasaan putrinya.
Zul mencegah lengan istrinya, namun Lyra tetap berlalu, "Ma!" geramnya, menyusul istrinya kelantai dua.
Ahmad justru tidak setuju dengan keputusan Eni, "Papa sama sekali tidak suka dengan keputusan Mama! Tidak ada resepsi, tidak ada hak Adi atas harta kita! Dengar Ma, sesayang-sayangnya kita pada anak angkat, jangan pernah mengorbankan perasaan anak kandung!"
Ahmad menoleh kearah Adi, tersenyum lirih, menggeleng karena kecewa, dan berlalu meninggalkan ruang makan menyusul keempat cucu-cucunya di bale-bale yang terletak di samping taman, karena hujan telah reda.
__ADS_1
Adi menatap lekat wajah Eni, "Ma, bagaimana ini? Aku enggak mungkin membeli apartemen atau rumah. Karena uang ku tidak cukup," rengeknya mendekati sang Mama tiri.
Eni menghela nafasnya dalam-dalam. Dia sendiri, tidak mengerti kenapa terlalu mendengarkan Adi sejak awal, dan melakukan semua yang di minta anak tirinya tersebut. Agar bisa hidup mandiri bersama Kesy, tanpa mengetahui rencana Adi yang sesungguhnya.
Eni mengusap lembut pipi Adi yang bersandar di bahunya, "Tenang saja, Mama bisa meminta pada Papa. Tapi sebenarnya kamu bisa membawa Kesy tinggal di Munich, kan? Mobil juga sudah dua sama kamu. Mama tidak memiliki tabungan sebanyak itu Adi ..."
Adi masih merengek, dia hanya ingin memberikan semua kebutuhan Kesy, kemudian menikah dengan Laura, tanpa restu ataupun tidak dari pihak keluarganya. Hanya ini yang ada dalam benak Adi, karena dia sangat mengetahui rasa sayang Eni padanya.
Eni menoleh kearah Adi, "Kamu bisa tinggal sama Bang Zul, kan? Ini Mama sudah di musuhi sama Abang dan Kak Lyra, hanya untuk membela kamu! Lagian kenapa kamu tinggal di apartemen seluas itu? Apartemen itu memang cukup untuk Abang mu dan anak-anaknya? Nanti deh Mama pikirkan lagi!" jelasnya menghibur anak tirinya.
.
Di kamar kediaman Ahmad, Lyra menangis di pelukan Zul suaminya. Dia sama sekali tidak menyangka pada keputusan sang Mama.
"Kenapa Mama melakukan ini pada kita? Apa salah kita hun? Padahal aku ngizinin Adi buat tinggal sama-sama, dan aku enggak pernah melarang. Sekarang kita harus memikirkan rumah buat anak-anak, sementara kita masih di sini! Bagaimana ini Zul? Kalau uang, aku masih ada tabungan. Kan selama ini kamu ngasih uang bulanan aku sisihkan jika terjadi sesuatu. Tapi bukan dengan keadaan yang seperti ini? Bukankah kalau anak tiri itu tidak sepenuhnya mendapatkan harta dari keluarga kamu? Aaagh ... Entahlah, kenapa Adi jadi begini sama kita! Lebih baik secepatnya kita meminta bantuan agent properti, mencarikan rumah yang biasa saja. Lebih dekat dengan sekolah anak-anak dan kampus Kesy. Aku yakin Adi sedang merencanakan sesuatu, tapi anak itu tidak mau menceritakan pada kita apa yang tengah direncanakan suaminya."
"Kamu beresin dulu barang-barang Kesy, aku kebawah untuk bicara sama anak kita. Jika memang dia tidak tahu apa yang terjadi, besok kita akan pulang ke Berlin!" tegasnya.
Lyra mengangguk setuju, dia mengusap lembut punggung Zul, yang berbalik badan meninggalkannya di kamar Kesy sang putri.
Langkah Zul lebih cepat, namun dia kembali berpapasan dengan Adi yang masih memeluk tubuh Eni. Ada sedikit kecemburuan dan kecemasan dalam hatinya.
Zul mendekati Eni, melirik kearah Adi sambil tersenyum, "Jujur aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu saat ini! Bagiku, kau sudah aku anggap adik kandung! Tapi jika kau melakukan sesuatu hal yang tidak aku ketahui, aku akan membuat kau menyesal seumur hidup mu! Apalagi sampai menyakiti putri ku, Kesy! Resepsi tidak akan pernah terjadi, aku yang akan mengantarkan uang ke panti asuhan, hanya untuk mendoakan keluarga kita baik-baik saja!"
__ADS_1
Zul berlalu tanpa menghiraukan pembelaan diri dari sang Mama serta Adi yang sudah mengecewakan perasaannya sebagai pewaris tunggal.
Bergegas dia menuju Kesy, ternyata putri kesayangannya tengah menangis terisak-isak di pelukan Ahmad. Zul mengurungkan niatnya untuk mendekati sang putri.
Zul yang dapat membaca situasi, melihat sekeliling rumahnya, menatap dari arah luar, yang tampak samar melihat kedalam rumah, karena tirai gorden terbuka dan ia menyaksikan pembicaraan serius antara Eni dan Adi.
"Hmm ..."
Zul bergegas mencari keberadaan asisten rumah tangganya, melalui pintu belakang yang terbuka.
Saat dia melihat wanita paruh baya itu masih meracik bahan yang akan di olah menjadi makan siang mereka. Zul menghampirinya.
Sejujurnya pembantu rumah tangga tersebut, sudah sering mendengar curhatan Adi pada sang Mama, tentang Laura.
Wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi pembantu rumah tangga di keluarga itu, menceritakan apa yang ia dengar selama ini pada Zul.
"Yang bibi dengar, Bang Adi ingin bertemu dengan Laura. Tapi Kesy melarang dengan alasan menyebut wanita itu sebagai jallang. Bang Adi tersinggung karena ucapan Kesy yang terus-menerus menyebut Laura jallang. Ibu sebenarnya lebih senang Adi menikah dengan Kesy, daripada Laura. Makanya, Ibu berniat ngasih apartemen itu buat Bang Adi. Biar bisa membahagiakan Kesy, terus enggak berhubungan lagi sama Laura. Yang bibi dengar seperti itu, tapi enggak paham juga tujuannya apa. Setahu bibi kalian baik-baik saja. Cuma aneh saja, Ibu jadi berubah begini," jelasnya panjang lebar.
Zul bergumam dalam hati, "Jangan-jangan Adi ingin membawa Laura tinggal bersama dengan Kesy? Licik sekali otak anak itu!"
Perlahan Zul meminta asisten rumah tangga itu untuk mendekati Eni dan Adi yang masih serius berbicara, dengan alasan membereskan meja makan yang masih berantakan.
Tentu di angguki cepat oleh wanita itu, karena Zul menyelipkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Bang? Bibi aktifkan rekaman handphone dulu. Jadi ada bukti, biar kita enggak salah!"
Zul mengangguk setuju, melihat wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan dapur, menuju ruang makan. Sementara ia menunggu di luar taman luar, memanggil ketiga buah hatinya.