Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Kekhawatiran


__ADS_3

Saat Laura akan berbalik, seketika dia di kejutkan dengan kehadiran Zul juga Lyra serta ketiga anak kembar keluarga itu, yang sudah berdiri di belakangnya.


"Laura ...?"


"Kak ..." 


Lyra tampak kebingungan saat mendengar teriakkan Laura saat mobil Adi berlalu meninggalkan apartemen keluarga mereka.


Bergegas Lyra mendekati Laura, merangkul bahu wanita yang tampak kusut itu, "Kita ke restoran saja yuk? Enggak enak di lihatin orang-orang. Kamu sama siapa?"


Laura hanya menjawab singkat, "Aku sendiri Kak ..." dengan nada terisak.


Lyra membawa Laura yang masih menangis tersedu-sedu, sementara Zul serta ketiga buah hatinya hanya menyusul kedua wanita yang jalan lebih dulu.


Lyra memilih ruangan yang sedikit privasi agar Laura dapat bercerita dengan tenang.


Zul memesankan beberapa makanan kecil, serta minuman hangat untuk menemani obrolan mereka.


Lyra menoleh kearah Zul, memberi kode untuk membawa anak-anaknya bermain, agar tidak mendengar percakapan orang dewasa yang dianggap sedikit privasi.


Zul mengangguk, namun dia tidak ingin membiarkan istrinya menghadapi wanita seperti Laura itu sendiri.


"Sayang, aku akan tetap disini. Kalian ngobrol saja, anak-anak tidak akan mendengarkan nya," jelas Zul saat melepaskan Haris yang tengah asik berlari menuju playground bersama kedua kembarannya Hani juga Hana.


Apartemen yang memiliki restoran cukup luas juga tenang, sehingga membuat para penghuni merasa nyaman ketika menghabiskan waktu di sana.


Lyra mengusap lembut punggung tangan Laura, yang masih sibuk menyeka wajahnya menggunakan tisu pemberian calon kakak iparnya.


Lyra bertanya, karena penasaran melihat kondisi Laura yang tidak baik-baik saja, "Ada apa kamu kesini hmm? Apakah ada yang harus kamu bicarakan dengan Adi?"


Laura menoleh kearah Zul, yang mendengarkan namun tidak memperhatikan kedua wanita itu.


Laura menundukkan wajahnya, sedikit berbisik hanya bisa mengatakan, "Aku hamil kak ..."


Lyra menelan ludahnya sendiri susah payah, seketika kepalanya pening. Belum selesai urusan Kesy putri kesayangannya, kini dia harus di hadapkan dengan kejujuran gadis yang duduk bersebelahan dengannya.


Seketika Lyra mengalihkan pandangannya, hanya bisa meremas kuat kedua tangannya yang sejak tadi berada di atas meja.


"Ehm ... Apa kamu yakin?"

__ADS_1


Laura mengangguk meng'iya'kan pertanyaan Lyra.


Lyra menggelengkan kepalanya, "Bu-bu-bukan itu maksud kakak, apa kamu yakin itu anak Adi? Hmm maaf banget, apa kamu tidak tahu bahwa Adi akan menikah dengan Kesy, putriku?" tanyanya pelan.


Laura kembali menganggukkan kepalanya.


Tubuh Lyra seketika terasa sangat berat dan panas. Bagaimana mungkin Adi akan menikahi dua wanita sekaligus dalam waktu bersamaan? Hanya itu yang ada dalam benaknya saat ini.


"Bagaimana dengan nasib putri ku? Ooogh Tuhan ..." jeritan kecil hati Lyra kembali meratapi nasib putri kesayangan nya, yang akan mengalami patah hati kembali.


Lyra teringat saat Adi memutuskan untuk bertunangan dengan Laura kala itu.


Kesy hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar meratapi kisah cintanya yang tak mampu untuk di perjuangkan, tanpa mau bercerita pada sang Mama, sehingga mereka membatalkan keberangkatan ke Singapura kala itu.


Lyra berusaha tersenyum menatap wajah Laura, yang tampak putus asa karena mendengarkan pernikahan Adi.


"Hmm ... Saat ini Adi sedang membeli sesuatu, kakak enggak tahu mereka pulang jam berapa. Bagaimana kalau kita menunggu di atas?" tanya Lyra mengusap lembut lengan Laura.


Laura menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin melihat Adi atau Kesy, jika berada di lantai atas.


"Enggak Kak, mending kalau Adi pulang suruh dia ke hotel aku saja. Karena aku ingin bicara dengan dia mengenai anak yang ada dalam kandungan ku ..." jelasnya pelan.


Zul yang melihat istrinya dari kejauhan, karena mengawasi ketiga buah hati mereka, tengah menundukkan kepalanya, dengan sigap mendekati wanita dewasa itu karena penasaran. Melirik kearah Laura yang masih duduk di samping istrinya.


"Ada apa Laura?" tanya Zul memilih duduk di samping istrinya.


Lyra mengangkat kepalanya, menatap Zul kemudian menangis sejadi-jadinya didada suaminya.


Zul sangat memahami apa yang terjadi saat ini, kemudian dia menatap Laura yang masih duduk berdekatan dengan Lyra.


"Katakan pada ku! Apa sebenarnya yang terjadi, Laura? Aku sudah mendengar semua penjelasan tentang mu dari Adi," tegasnya.


Lyra menahan dada Zul agar tidak berlaku kasar pada wanita yang saat ini berada diantara mereka ...


"Laura hamil hun ..." ungkap Lyra pelan.


Zul tersenyum tipis, dia sudah membayangkan apa yang ada dalam benak wanita itu.


"Benarkah? Kenapa setelah dua bulan kalian berpisah, baru sekarang kamu mencari Adi? Bukankah kamu memiliki hubungan dengan Zidan? Ingat Laura, aku tidak ingin berdebat atas semua kebohongan yang kamu ciptakan, karena Adi sudah menceritakan semua pada ku! Jika kamu hamil, itu bukan anak Adi, melainkan anak selingkuhan mu!" tegasnya dengan rahang mengeras.

__ADS_1


"Zul! Jaga ucapan mu! Bisa jadi yang ada dalam kandungan Laura saat ini merupakan anak Adi! Kita enggak tahu. Ingat Zul, anak kita masih ada yang perempuan. Aku enggak mau terjadi karma dalam kehidupan mereka di kemudian hari!"


Zul yang mendengar penuturan Lyra, sedikit terkejut, dia mengerenyit keningnya, karena sejujurnya dia memiliki istri yang sangat lugu.


Laura kembali menundukkan kepalanya, sejujurnya dia hanya takut, tidak tahu akan mengadu kemana. Tapi kali ini dia sudah harus menghadapi semua ini, tanpa menghiraukan dampak atas perbuatannya nanti.


"Jawab Abang jujur Laura, benarkah kamu mengandung anak dari Adi? Atau jangan-jangan kamu sengaja ingin menyakiti Kesy putri kami!" hardiknya tanpa menghiraukan apapun.


Bagi Zul, kali ini dia akan melakukan apapun demi melindungi keluarganya. Apalagi ini menyangkut Kesy putri kesayangan mereka.


Laura semakin ketakutan, dia hanya bisa menahan air matanya yang terus menerus mengalir tanpa bisa di bendung.


"Bang ...!" ucapnya dengan suara bergetar pelan.


BRAAAK ...!


"Jawab aku!" bentak Zul, membuat beberapa pasang mata menoleh kearah mereka.


Tangan kekar Zul memutih, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan penyerangan dari berbagai pihak hari ini. Kepalanya semakin berdenyut, bahkan membuat darahnya mendidih seketika.


"Aku hamil Bang! Dan ini anak Adi ..." ucap Laura tetap teguh pada pendiriannya.


Zul menganggukkan kepalanya, "Oke. Kamu hamil, Adi dan Kesy anak menikah seminggu lagi, dan ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan bagi keluarga saya! Tapi jika kamu berbohong pada kami, kamu tanggung akibatnya!" tegasnya.


Zul membawa Lyra serta memanggil ketiga buah hati mereka, untuk meninggalkan restoran setelah membayar bill makanan mereka.


Laura kembali memanggil Zul juga Lyra, agar dapat bertemu dengan Adi ...


"Bang ... Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan pada Adi! Aku mohon pada kalian berdua!" teriaknya.


Namun tak diacuhkan oleh Zul juga Lyra yang telah berada di pintu restoran, meninggalkan gadis itu seorang diri.


Lyra yang memiliki rasa empati yang tinggi hanya bisa berkata pada Zul ...


"Bagaimana jika anak itu, benar-benar darah daging Adi, hun? Apa yang kita lakukan ...?"


"Tenanglah, aku akan mencari tahu semua informasi tentang mereka. Aku tidak ingin orang lain merusak kebahagiaan putri kita ..."


Jawaban itu membuat perasaan Lyra sedikit lega, walau masih ada kekhawatiran dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2