
Dony melihat kehadiran sosok pria menggunakan jas hitam dan berkulit gelap hadir di hadapannya, tengah melihat mantan suami Lyra dari balik jeruji besi.
Wajah Dony tampak urakan, bahkan terlihat semakin tirus, membuat sahabat Lyra ingin mengeluarkan mantan suami sahabatnya sendiri, hanya untuk merebut rumah milik wanita itu karena sebuah janji yang diucapkan keluarga Dony padanya.
"Aryo.... dari mana kamu tahu tentang aku? Aku sudah menghubungi keluarga ku, tapi sampai saat ini mereka tidak kunjung datang," sesal Dony penuh perasaan bersalah dan menyesal.
Aryo menyunggingkan senyuman tipis, "Kak Rita yang menghubungi saya. Kenapa sampai tega Abang menghukum Kesy? Jika Abang memang mau menyakiti, sakiti Lyra saja. Saya sudah berjanji akan membantu! Tapi lihat, apa yang sudah Abang lakukan? Saat ini, Lyra kesulitan untuk mencari pengacara, karena setahu dia, saya akan membantunya. Padahal saya berpihak pada Anda!" ucapnya tanpa perasaan berdosa.
Dony yang mendengar penuturan Aryo dapat bernafas lega, dia akan segera keluar, dan merebut Kesy hingga rumah wanita itu. Kekuasaan akan berpihak padanya, dengan penuh percaya diri, karena Lyra tidak bisa melawan Pengadilan tanpa orang hebat yang sudah berpihak padanya, pikir Dony.
"Baik, nanti hasil penjualan rumah itu akan kita perhitungkan. Saat ini, saya harus segera keluar! Karena saya harus bertemu Kesy, saya mau minta maaf....! Saya mohon keluar kan saya dari sini. Karena otak saya hampir gila berkumpul dengan mereka...!!" tunjuknya pada orang yang meringkuk didalam sel yang sama.
Aryo mengangguk, "Baik, tapi untuk sementara waktu Abang tidak boleh pulang ke rumah itu. Abang harus bersembunyi sampai keputusan pengadilan! Abang mengerti?" tanyanya.
Dony mengangguk penuh semangat. Bagaimana tidak, dia akan membuat Lyra benar-benar hancur, bahkan akan pindah ke seberang karena telah kehilangan segalanya. Lebih baik aku mengikuti semua saran keluarga untuk mendapatkan semua kekuasaan, dan aku akan menikahi Nela. Hidup bahagia di toko yang tidak akan pernah bisa diambil alih oleh wanita bodoh itu.
Pikiran picik seperti itulah yang ada dalam benak Dony, untuk merebut Kesy dan bisa menjadikan Lyra mesin ATM otomatis setiap bulannya.
.
Lyra masih tersenyum bahagia, setelah kesadaran Kesy putri tercinta. Air mata haru saat melihat Kesy kembali mengusap lembut wajahnya.
Hanya anak belahan hidup seorang Ibu, walau mesti disakiti suami bertubi-tubi, di hadapkan dengan pengkhianatan sekaligus hinaan yang sangat menyakitkan.
Handphone milik Lyra kembali berdering, dia melihat nama yang tertera 'Aryo'. Dia meminta izin pada Zul dan keluarga yang masih berkumpul di ruang ICU untuk mengangkat telepon dari sahabatnya tersebut.
["Ya Yo....!"]
["Aku dengar Kesy masuk rumah sakit, kenapa Lyra?"]
Lyra menautkan kedua alisnya, dari mana Aryo mengetahui tentang putrinya Kesy, yang sengaja dia sembunyikan untuk menutup aib mantan suami juga Papa kandung anaknya.
__ADS_1
["Oooh.... sepertinya kamu salah deh! Kesy memang demam, tapi tidak sampai dirawat!"]
Lyra sengaja berbohong.
Aryo terdiam diseberang sana. Apakah kabar yang dia terima dari Rita itu hanya kebohongan belaka? Atau jangan-jangan Rita sengaja membuat cerita palsu untuk meminta bantuan padanya.
["Oogh, ya sudah. Minggu depan kita bertemu di pengadilan yah? Kebetulan ada yang harus kamu tanda tangani."]
["Ooogh ya, baik Yo! Terimakasih....!"]
Lyra tertegun sejenak, dia mengusap lembut wajahnya, memilih beranjak dari tempat dia berdiri, namun dikejutkan dengan Boy yang berdiri di belakangnya.
"Astaghfirullah.... Papa...! Papa ngagetin saja!" kesal Lyra menepuk lengan Boy.
Boy beralih duduk di kursi yang tersedia, "Duduk sini? Biarkan Kesy dengan Mama dulu. Papa mau ngobrol sama kamu!"
Lyra menarik nafas pelan, memberi kode pada Zul, dari balik kaca.
Boy menatap lekat wajah cantik Lyra, dia mengusap lembut punggung anaknya, "Papa tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tapi Papa meminta jawaban dari kamu, apakah kamu memiliki hubungan serius dengan putra mereka? Ingat Lyra, dia itu masih muda, bujangan, dan kita sangat jauh berbeda....! Papa hanya ingin melihat kamu dan Kesy bahagia. Papa suka sama dia, tapi apa kamu tidak memikirkan perbedaan usia, dan status kamu sebagai janda. Akan banyak fitnah diluar sana, Nak! Papa tidak mau kamu menelan pil pahit lagi."
Lyra mengangguk membenarkan perkataan Boy, dia tersenyum tipis menatap mata sang Papa dengan penuh kasih sayang, "Kita jangan bahas ini dulu yah, Pa? Aku dan Dony masih proses perceraian. Mungkin butuh waktu untuk aku bisa move on. Sekarang aku hanya bisa menjalani kehidupan ku, membesarkan Kesy tanpa memikirkan perasaan ku sendiri. Jika memang dia jodoh ku, pasti akan di permudah. Yang penting Papa, tidak pernah menghalangi aku untuk meraih kebahagiaan ku sama pria yang benar-benar menyayangi Kesy dan aku!" senyumnya.
Boy mengangguk, memeluk Lyra untuk memberi kekuatan pada sang putri, "Kamu kuat, kamu pasti kuat. Anak Papa enggak boleh cengeng! Kamu kuat, Kesy juga kuat. Kalian pasti akan bertemu dengan orang yang tepat suatu saat nanti."
Lyra tersenyum sumringah, air matanya kembali mengalir membasahi pipi mulusnya atas semua nasehat yang diberikan sang Papa.
Walau banyak orang yang menertawakan Papa-nya sebagai orang yang tidak berwibawa, karena memiliki hoby yang aneh yaitu music, bahkan sering menghabiskan waktu untuk ngamen di cafe-cafe demi menyalurkan hobinya sebagai pensiunan yang bahagia.
Suster menghampiri mereka, "Bu Lyra, makan siang sudah tersedia. Kita mengadakan syukuran kecil atas siumannya Kesy sesuai permintaan Dokter Zul."
Lyra mengangguk, menggandeng tangan Boy untuk masuk keruang ICU mengikuti keinginan Zul sebagai pemilik rumah sakit dan penanggung jawab atas Kesy selama berada disana.
__ADS_1
Dokter Kris sangat bersemangat menghibur Kesy, untuk memulihkan kondisi psikologis putri kecil yang tidak berdosa itu dengan penuh suka cita. Korban perceraian kedua orang tuanya, bahkan mendapat perlakuan kasar, membuat empati suster bersemangat menghibur anak berusia tujuh tahun tersebut.
Kesy masih menggunakan selang pernafasan. Dia hanya bisa makan bubur hangat yang telah di persiapkan oleh rumah sakit atas permintaan Zul.
Zul, mendekati Kesy dengan sangat ramah. Boneka beruang madu yang dia bawa dipeluk erat oleh putri kecil itu, "Kamu senang? Jika kamu mau, Papi akan membelikan mu satu lemari boneka beruang!"
Kesy tersenyum sumringah, mengangguk setuju. Baginya boneka beruang madu adalah sosok penyayang yang sangat lucu seperti Masha and the bear.
"Apakah Kesy harus memanggil Paman dengan sebutan, Papi? Mami nya yang mana?" tanya Kesy saat menerima suapan dari Zul.
Sementara keluarganya tengah menikmati makan siang bersama.
Tentu pertanyaan Kesy, membuat mata yang berada diruangan itu saling menatap.
Lyra yang menjadi pusat perhatian, hanya bisa menunduk malu dengan perasaan semakin berdebar-debar, "Jangan menunjuk pada ku, Zul. Kesy belum mengerti akan hal itu...!!" batinnya dalam hati melirik kearah Zul, ternyata sudah menunjuk kearahnya.
________
Pesan Author Pemes untuk para reader.
Terimakasih atas kunjungannya....
Kali ini saya sebagai author akan memberikan give pada pecinta Perjaka untuk Janda...
Silahkan untuk meninggalkan vote dan hadiah terbaik mu.
Dua minggu lagi author akan mengirimkan paket internet untuk para reader yang selalu setia, berdasarkan top fans... 1, 2 dan 3.
Berlaku dari tanggal 5 Agustus 2022 sampai dengan 30 Agustus 2022. Cemungut....🎉👍💪🌹
Salam Author Pemes
__ADS_1
Tya Calysta...