
Dony mendorong tubuh Lyra, agar bisa menerobos masuk keruangan itu dengan mudah, namun ditahan oleh wanita berstatus mantan dengan menantang matanya.
Lyra menatap tajam kearah Dony, seraya mengancam geram, "Jangan pernah membawa putriku untuk bertemu dengan keluarga mu! Jika tidak ingin aku sebarkan video mesum mu untuk sebagai bukti bahwa sesungguhnya, kamu lah maling yang teriak maling!"
Dony menatap lekat wajah Lyra, sedikit terkejut, karena ternyata istrinya mengetahui apa yang telah dia perbuat, "KAU....!!"
Mendengar ucapan KAU di telinga Lyra membuat dia semakin mendorong tubuh Dony agar keluar dari ruangannya.
"Dengar laki-laki brengsek! Jangan kamu pikir aku disini sendiri, terus seenaknya kamu memperlakukan aku seperti sapi perah! Kamu salah Dony! Kamu lupa siapa aku? Siapa yang mengangkat derajat mu sebagai suami. Jika yang kamu harapkan harta ku! Kamu salah, aku jamin, kamu tidak akan menerima satu sen pun!!! Cam kan itu....!!!" Lyra menutup pintu ruangannya, tidak memperdulikan rekan lainnya yang mendengar dan melihat kejadian tersebut.
Lyra menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, terdengar bisikan dari arah luar ruangan bahwa Dony kembali membuat kericuhan di kantor pemerintahan yang kemudian harus di usir secara tidak sopan oleh security.
Lyra memejamkan matanya, menangis dalam hati seperti tengah meratapi nasibnya sendiri. Mengapa pernikahan yang dia anggap akan indah pada waktunya, ternyata lebih parah dari impian sebagai seorang wanita.
Azas manfaat Dony padanya semakin terlihat jelas. Berapa banyak laki-laki itu menghabiskan uangnya hanya untuk memberikan kepada keluarganya, sementara hanya hinaan yang Lyra dapatkan dari bibir bergelar ipar.
Lamunannya kembali dikejutkan dengan panggilan telepon dari meja kerja Lyra.
Dengan demikian, bergegas Lyra kembali kemeja kerjanya, untuk mengangkat telepon yang masih berdering keras.
["Ya...!"]
["Bu Lyra, Pak Sardi mau bertemu dengan Ibu. Karena mendengar keributan dibawah," ucap secretaris kepala bagian.]
Lyra menarik nafas dalam, mengusap lembut kepalanya sendiri.
["Ya, saya kesana segera."]
Lyra kembali meletakkan telepon yang terletak di meja, membangunkan Kesy yang masih terlelap.
Perlahan Lyra mengusap kepala putrinya, "Sayang, Mama mau keruangan bos dilantai dua. Kamu mau disini atau mau keruangan Tante Lela?" bisiknya ditelinga Kesy.
Kesy mengusap matanya pelan, "Aku di ruang Tante Lela saja, Ma. Karena aku masih ngantuk."
__ADS_1
Lyra mengangguk setuju, membawa putri kesayangan keluar menuju ruang kerja Lela yang terletak tidak begitu jauh dari ruangannya.
Lyra meminta Lela untuk menemani Kesy sampai dia selesai bertemu dengan kepala bagian. Tentu diangguki setuju oleh sahabatnya tersebut, karena dia sangat menyukai anak kecil. Apalagi jika anak itu secantik Kesy.
Lyra bernafas lega dapat meninggalkan Kesy dengan aman bersama Lela. Melangkah perlahan menapaki anak tangga. Seketika wajahnya tampak tegang, karena sekuat tenaga dia menyembunyikan polemik rumah tangga, ternyata masih diketahui oleh rekan kerjanya.
Ini menjadi beban untuk wanita sepertinya, karena akan banyak mulut orang berbicara diluar sana yang mencemooh bahkan menyalahkan dirinya sebagai seorang istri yang tidak baik.
Perlahan Lyra mengetuk pintu ruangan kepala bagian, disambut oleh secretaris yang duduk dimeja kerjanya berada tidak jauh dari pintu masuk kepala bagian.
"Masuk saja, Bu. Bapak sudah menunggu didalam," senyum manis wanita bernama Sinta.
Lyra mengangguk, perlahan dia membuka pintu ruangan atasannya, melihat Pak Sardi tengah duduk dikursi kebesarannya.
Dengan senyuman ramah, Sardi mempersilahkan Lyra untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di hadapannya.
"Silahkan Lyra....!" ucap Sardi ramah.
Lyra duduk, menatap kaku karena malu dan sungkan.
Sardi menjelaskan sembari bertanya, "Santai saja. Saya kebetulan lewat di ruangan kamu, mendengar keributan kamu dengan siapa itu? Suamimu namanya?"
Lyra menelan salivanya, menunduk kemudian menjawab, "Dony, Pak. Kami memang telah bercerai." Dia menarik nafas dalam, "Hari ini saya akan mengajukan permohonan kepada bagian yang menangani perceraian rumah tangga."
Sardi mengangguk mengerti, "Apa masalahnya? Bukankah kalian sudah memiliki anak? Kasihan anakmu Lyra!" nasehatnya.
Lyra terdiam, wajahnya memerah, "Dia yang menceraikan saya Pak. Dan saya juga tidak mau mempertahankan rumah tangga ini. Karena keluarganya terlalu mencampuri urusan kami."
Sardi membulat kan bibirnya. Menyandarkan tubuhnya kebelakang, "Kamu tahu bagaimana sulitnya mengurus perceraian? Karena di instansi pemerintah kita, sangat berbeda dengan yang lainnya. Semoga kamu tetap kuat menghadapinya Lyra."
Lyra mengangguk membenarkan perkataan Sardi. Dia juga sangat memahami peraturan baru, yang sangat sulit memproses perceraian selain di Pangadilan Agama.
Lyra menghela nafas panjang, semoga saja untuk kasus ini dia dapat menyelesaikan semua dengan cepat dan tidak terlalu dipersulit karena memiliki bukti yang cukup saat merekam semua ancaman tadi pagi yang di teriakkan oleh Dony di luar rumah mereka.
__ADS_1
Setelah lama bercerita ringan, dan menerima beberapa wejangan dari Pak Sardi, Lyra meminta izin untuk kembali ke ruangannya. Tentu menjadi suatu hal yang berat baginya menghadapi ujian hidup saat ini.
Lyra menuruni anak tangga, sedikit menunduk malu karena berpapasan dengan beberapa rekan kerja yang menoleh kearahnya. Perasaan-perasaan tidak enak muncul, karena perlakuan Dony yang sengaja membunuh karakternya di kantor tempat dia bekerja.
Saat akan mengetuk pintu ruang Lela, ternyata sahabatnya lebih dulu membuka pintu.
"Astaghfirullah....!!!" kejut Lela mengusap dadanya karena kaget.
Lyra celingak-celinguk mencari keberadaan Kesy, "Mana anak gadisku? Aman dia?" tanyanya.
Lela mengacungkan jempol, "Kami pesan mie ayam bakso lewat aplikasi buat makan siang. Tuh, udah di depan Abang gojek nya. Aku pikir kamu makan siang bareng Pak Sardi. Makanya enggak pesan buat kamu," jelasnya.
Lyra menaikkan kedua bahunya, menerobos masuk kedalam ruangan Lela sahabat sekaligus rekan kerja satu team.
Kesy yang melihat kehadiran sang Mama, memeluk Lyra, memberikan handphone miliknya yang dimainkan putri kesayangan saat bertemu dengan pimpinan.
Kesy berkata dengan suara pelan, "Tadi ada teman Mama yang nelpon. Om Aryo dan Om Iqbal. Kesy bilang Mama lagi rapat," ceritanya.
Lyra mengangguk, "Selesai kamu makan mie ayam sama Tante Lela, kita ketemu sama Om Aryo, yah? Mama juga lapar, tapi pengen makan nasi!" ucapnya lembut.
Kesy mengangguk setuju, wajah cantik yang sangat ceria namun menyembunyikan kesedihan dari tatapan matanya, membuat Lyra tersadar. Bahwasanya Kesy masih membutuhkan perhatian seorang Papa.
Hanya Dony yang mampu memberikan kenyamanan bagi Kesy, tapi bagaimana mungkin untuk mereka tetap bertahan hidup bersama dengan ikatan pernikahan namun sudah ada pengkhianatan didalamnya.
Lyra sesekali tersenyum melihat tingkah Kesy yang bersenda gurau dengan Lela saat menikmati semangkok mie ayam bakso. Sesekali tangan kecil itu menyuapkannya dengan penuh kasih sayang.
"Mama, kita akan berkumpul lagi kan sama Papa?" tanya Kesy dengan wajah polos yang belum memahami apa sebenarnya pernikahan.
Lyra mengusap lembut kepala putrinya, "Untuk sementara waktu, kapan kamu mau dekat Papa, silahkan.... Mama enggak akan melarang. Tapi kalau ada apa-apa, kasih tahu Mama."
Kesy mengangguk, memeluk tubuh Lyra yang duduk disampingnya.
Lyra melirik kearah Lela, menggeleng pelan, memberi isyarat, "Apa yang harus aku lakukan!?"
__ADS_1
Mata Lyra kembali berkaca-kaca, mengingat semua kejadian yang dia hadapi saat ini. Jujur hal ini membuat hatinya semakin kacau balau. Apalagi mengingat perselingkuhan Dony yang sangat menjijikkan baginya.
"Aaaagh.....!!!!"