
Saat Zul akan berbalik, dia melihat Lyra telah berdiri di belakangnya, hingga mendengar semua ucapan security pada suaminya.
"Hun ..."
Zul bertanya pelan, mencari keberadaan Kesy, "Sayang, kamu sejak kapan di sini, bukankah kamu lagi di mobil bersama Kesy?"
Kepala Lyra menggeleng pelan, air matanya jatuh tak terbendung, "Surat apa itu, hun? Apa yang terjadi pada Kesy? Bukankah kamu mengatakan pada ku kalau kita akan mengobati perasaan Kesy bersama-sama? Kenapa kamu malah meminta aku menunggu di mobil, sementara kamu sendiri merahasiakan sesuatu dari aku! Apa maksud kamu, hun! Apa!"
Zul melihat ke kiri dan kanan, menoleh kearah security yang pura-pura tidak mendengar keributan mereka berdua.
"Sayang, dengarkan aku! Aku tidak ingin kamu memikirkan permasalahan Kesy. Aku tahu anak kita itu sedang ada masalah, dan ini berdampak pada psikologis Kesy! Kesy mengalami goncangan yang dia pendam dan akan berdampak ketika usianya remaja, bahkan dewasa! Please, kita bahas di rumah yah? Aku bisa mencarikan dokter hebat di Berlin," jelasnya dengan suara pelan.
Lyra menggeleng, dia tidak percaya atas semua ucapan Zul. "Kesy baik-baik saja! Aku tahu bagaimana putri ku!" tegasnya.
Zul menarik nafas panjang, dia menoleh kearah security, "Pak, terimakasih yah? Semua surat-surat Kesy saya bawa."
Security mengangguk, dia melanjutkan pekerjaannya, sambil melirik kearah Lyra dan Zul yang masih saling marah, membuat beberapa pasang mata melihat kejadian tersebut.
Namun, saat mereka berdua masuk kedalam mobil ternyata Kesy tidak berada di dalamnya. Seketika kedua orang tuanya panik bukan kepalang.
"Kesy! Kesy!"
"Kesy!! Kesy!"
Teriak ke-duanya saling bersahutan. Mereka berdua tampak panik, kembali masuk ke pekarangan sekolah.
"Kesy!" teriak Lyra.
"Kesy!" teriak Zul.
"Hun, kemana dia?" Lyra mulai panik, karena tidak melihat keberadaan putrinya.
Zul bertanya pada salah seorang petugas kebun sekolah, untuk bertanya dimana keberadaan Kesy, dia menunjuk kearah kantin.
__ADS_1
"Tadi saya lihat Kesy ke arah kantin, Pak," ucap petugas kebun, karena memang melihat Kesy berjalan menuju kantin.
Bergegas Zul menarik tangan Lyra, menuju kantin.
Betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Kesy tengah berbicara serius, dan menangis terisak-isak.
Zul yang melihat kejadian itu, menahan lengan Lyra yang akan mendekati putri kesayangannya. Perlahan mereka semakin mendekat, melihat tidak ada sosok yang menjadi lawan bicaranya. Keduanya hanya mendengar Kesy bicara, dan menjadi pusat perhatian Ibu penjaga kantin sekolah.
Kesy menangis seolah-olah iya tengah mencurahkan isi hatinya pada Dony, "Kesy sangat merindukan Papa. Kenapa Papa lama sekali tidak menemui Kesy? Apa Papa tidak merindukan aku? Oya, besok aku akan berangkat ke Berlin. Papa baik-baik, yah? Jangan lupa kirim pesan pada ku. Aku akan meminta pada Mama handphone yang mirip kayak punya Papa, dua juta kan harganya? Papa waktu itu kasih aku satu juta, yah ... Nombok dong aku, Pa! Papa nakal iigh ..." ceritanya.
Kesy menyuapkan makanan ke mulutnya, dan menyuapkan pada bangku kosong yang ada di hadapannya.
Pemandangan itu membuat Zul mengambil tindakan cepat untuk mengganti kan posisi Dony di hadapannya.
Kesy memiringkan kepalanya, meletakkan sendok ke piring yang ada di depan bangku kosong tersebut.
Sementara Lyra bertanya pada Ibu penjaga kantin, "Apakah Kesy sering melakukan ini?"
Lyra menoleh kearah Kesy dan Zul yang saling bercerita, seolah-olah mereka saling bercerita hangat antara anak dan ayah.
Lyra terisak, karena beberapa kali Kesy menyebut Papa pada Zul. Dia menangis melihat pemandangan itu. Tidak menyangka bahwa putrinya menjadi seperti orang gila, semenjak kehilangan Dony.
Lyra seperti tertampar, karena kurang memperhatikan sang putri sejak kehamilannya yang terlalu cepat. Iya menyentuh perutnya yang sudah sedikit membuncit, namun melihat kejadian ini, dia berpikir ulang untuk segera memiliki buah hati.
'Aku tidak bisa memberikan adik pada Kesy dalam waktu dekat. Karena akan berdampak pada kejiwaan putriku ...'
Lyra semakin menangis, saat tangan kecil Kesy menyentuh wajah Zul, dan sekali lagi menyebutkan Papa Dony.
Kedua tangan Lyra mengusap lembut wajah cantiknya, mendekati Kesy yang tengah bercerita panjang.
"Sayang! Kamu di sini? Kita jalan dulu, yah? Mama sudah di tunggu Pak Sardi," ucap Lyra lirih.
Kesy terdiam, bibirnya berhenti menatap wajah Zul dengan penuh seksama.
__ADS_1
"Papi kenapa di sini? Bukankah kita akan melihat rumah Mama yang sudah terjual? Oya Ma, Kesy mau ambil mainan dulu yah di sana? Terus ada beberapa kenang-kenangan yang di tinggalkan Papa waktu dulu, sebelum Mama memberikan kunci pada pemilik rumah itu," ucapnya pelan.
Lyra mengusap lembut punggung putrinya, menatap kearah Zul, menggelengkan kepalanya untuk tidak berpura-pura menjadi Dony.
Mereka berlalu, setelah membayar beberapa makanan yang Kesy makan.
Ibu pemilik kantin hanya bisa tersenyum dan bergumam, "Hmm, kenapa orang kaya anak-anaknya pada stres begitu? Kalau enggak autis, yaaah gitu! Ngomong sendiri, ketawa sendiri! Enggak satu Kesy saja yang begitu. Rata-rata yang orang tuanya pisah, kerja di luar negeri, malah anaknya yang jadi korban. Untung anak ku udah gede-gede! Jadi pas bapaknya meninggal kemaren ikut ngurusin kuburnya."
.
Zul terus menggenggam jemari Kesy yang duduk di sebelahnya. Dia mengecup lembut punggung tangan anak kecil itu sepenuh hati.
"Kesy mau handphone apa? Papi beliin biar bisa menjalin komunikasi dengan Papa. Ingat, Papi akan melakukan apapun buat Kesy," kecupnya lagi.
Kesy berteriak riang, dia merangkul lengan Zul, menoleh kearah Lyra, "Mama jangan marah. Papi beliin buat Kesy saja, bukan buat Mama!"
Lyra hanya tersenyum tipis, menatap lekat wajah Zul dari kaca spion tengah, agar tidak mengikuti semua keinginan putri kesayangannya.
Zul menghentikan kendaraannya di salah satu toko handphone, membeli tiga buah handphone yang berbeda.
Satu untuk Kesy dengan kualitas terbaik, dua lagi hanya untuk menjadi pegangan bagi kedua orang tua Kesy, untuk menyamar sebagai Papa Dony.
Zul melakukan ini, agar mengetahui apa yang Kesy inginkan. Semenjak kepergian Dony dan kehamilan Lyra, putri satu-satunya itu lebih sering menikmati kesendirian nya jika tanpa Adi.
Apalagi fasilitas yang di berikan oleh Opa Ahmad dan Oma Eni sangat lah lengkap di kamar yang besar tersebut, dan dia sering menghabiskan waktu bersama Adi untuk membacakan cerita atau bermain game bersama.
Kesy berteriak riang, saat iya menghubungi Adi melalui ponsel barunya.
["Kesy di beliin Papi handphone baru. Papi tambahin uang pemberian Papa. Semoga Papa bahagia jika mendapatkan pesan dari Kesy!"]
Adi yang mendengar celotehan adik kecil perempuannya, hanya bisa tertawa dan kembali mengirimkan link game untuk mereka mabar bersama.
"Aku tidak akan menyusahkan Mama lagi, jika sudah ada kesibukan sendiri ..." ungkapnya dalam hati.
__ADS_1