
Lyra menangis sejadi-jadinya, bagaimana mungkin saat ini kedua orangtuanya serta mertua tercinta hanya bisa menyalahkan dia sebagai Ibu yang tak bisa mendidik buah hatinya.
Air mata terus membasahi wajah cantiknya, yang terlihat sangat lelah dalam berfikir.
Seketika pendengarannya sedikit teralihkan pada lift yang berbunyi. Bergegas Lyra mengusap wajah cantiknya, menoleh kearah lift yang akan terbuka.
Zul, ya ... Saat ini dia butuh pria yang berdiri tegap akan melangkah keluar mendekatinya.
Lyra berlari mengejar suaminya, dia memeluk erat tubuh Zul, seketika dadanya tak kuasa menahan semua permasalahan itu sendiri.
"Hun ..."
Zul yang telah di omelin Eni selama perjalanan menuju apartemen hanya bisa mengusap lembut punggung Lyra.
"Sabar ... Aku sudah tahu Mama menelfon kamu. Saat ini kita harus tenang sayang. Bagaimanapun, kita sudah menjelaskan pada kedua orang tua kita. Lebih cepat lebih baik. Agar Kesy dan Adi bisa dengan mudah menata masa depan mereka," kecupnya pada puncak kepala Lyra yang masih berada dalam dekapannya.
Lyra hanya mengangguk setuju, saat ini dia tidak ada kuasa untuk melawan Zul. Apapun yang menjadi pilihan anak-anak harus mereka terima.
Zul membawa Lyra agar duduk di sofa ruang keluarga, sambil menunggu ketiga buah hatinya kembali dari sekolah.
Zul melihat jam dinding, mencari keberadaan Adi juga Kesy ataupun Betris, kembali bertanya pada sang istri, "Siapa yang jemput anak-anak, sayang?"
"Hmm tadi Kesy sama Adi izin keluar sebentar. Katanya mereka akan menjemput adiknya," jelas Lyra.
"Betris?"
Lyra terdiam, dia tidak melihat asisten rumah tangganya sejak tadi, "Hmm sepertinya dia sedang ke supermarket bawah. Tadi pagi dia meminta uang untuk belanja bahan-bahan makanan ..."
Zul menghempas tubuhnya agar duduk bersebelahan dengan sang istri, "Aku mau malam ini kamu memasakkan kami menu spesial. Asia, aku rindu dendeng balado kentang kamu. Anak-anak juga rindu sama masakan kamu ..."
Lyra mengangguk meng'iya'kan. Saat ini yang dia butuhkan hanya ketenangan dengan Zul, pria yang lebih dewasa dalam menyikapi semua masalah.
Lyra mencium aroma parfum wanita, yang sangat khas di penciumannya.
__ADS_1
Lyra mendongakkan kepalanya, kemudian bertanya menatap lekat dagu pria yang masih merangkulnya, "Hun, kamu beneran dari rumah sakit?"
Zul mengangguk, dia mencium aroma tubuhnya sendiri. Benar saja, wangi parfum Kanza masih menempel di baju kemejanya.
"Ya benar dong sayang. Emang kenapa?"
Lyra melepaskan dekapannya dari tubuh sang suami, "Kamu enggak bohong sama aku, kan? Aku enggak mau kamu macam-macam di luar, hun ..."
Zul memejamkan matanya, menghela nafas panjang, tangan kekar itu kembali merangkul bahu sang istri, "Bukan sekali dua kali aku kembali dengan aroma parfum wanita, kan? Aku rasa jangan memperkeruh suasana hati kita saat ini. Percayalah sama aku, selama ini aku selalu menjaga komitmen rumah tangga kita."
Lyra mengangguk membenarkan perkataan suaminya. Sejak dulu Zul selalu setia padanya, walau berbagai macam godaan di luar sana, namun pria yang berada di sampingnya kini selalu menjaga komitmen mereka berdua. Begitu juga sebaliknya.
Saat mereka berdua tengah asyik menikmati kemesraan yang di ciptakan Zul untuk saling berkasih sayang di sofa ruang keluarga, seketika lift terbuka lebar.
Membuat Lyra dan Zul melepas penyatuan mereka, berusaha menunduk sambil meraih pakaian yang berserakan di lantai saat mendengar suara anak-anak mereka akan keluar dari lift.
Sementara Adi yang melihat kemesraan abang dan kakak iparnya bergegas menutup pintu lift, setelah di bantu Betris menggendong Hana yang sudah keluar pintu lebih dulu.
"Tut mir leid, ich habe etwas im Supermarkt vergessen. Also müssen wir es nehmen ..." (Maaf, ada yang tertinggal di supermarket. Jadi kita harus mengambilnya ...) jelasnya melirik kearah Adi juga Kesy.
Adi mengusap dadanya, melirik kearah Kesy yang hanya termenung di belakang pria yang selalu ada saat ini, menjelang pernikahan mereka berdua.
Betris tersenyum tipis, membayangkan adegan sang majikan yang ternyata mesum jika tinggal berdua.
"Wenn wir das nächste Mal meinen Bruder kontaktieren müssen, bevor wir hoch in die Wohnung gehen, könnten wir die Ärsche dieser drei Kinder sein, Di ..." (Lain kali kita harus menghubungi Abang dulu sebelum naik ke apartemen, bisa-bisa kita jadi bulan-bulanan ketiga anak ini, Di ...) senyumnya menoleh kearah Adi.
"Ja ... Ja ..." (Ya ... Ya ...) Adi hanya bisa tersenyum sendiri membayangkan Abangnya menunggangi sang kakak dengan penuh perasaan bahagia.
Adi hanya bisa membayangkan keindahannya, saat hidup bersama Kesy nantinya setelah mereka sah menjadi suami istri. Tentu pemandangan tadi memberikan isyarat pada Adi agar selalu membahagiakan istrinya jika sudah menikah nanti.
Seketika mereka tengah berjalan kembali supermarket, saat itu juga handphone Adi berdering.
Adi merogoh koceknya, melihat nama yang tertera di layar handphone miliknya, 'Laura' ...
__ADS_1
"Ngapain dia menghubungi aku lagi? Bukankah semua sudah selesai ...? Aku sudah membatalkan pernikahan kami, karena kelakuan bejatnya sama Zidan."
Adi sedikit menjauh dari Kesy, dengan alasan menerima telpon dari pekerjaannya. Tentu gadis belia itu mengangguk mengerti, dan melanjutkan perjalanan mereka untuk membeli beberapa makanan kecil didalam supermarket.
["Hmm halo ..."]
Terdengar suara isakan tangis Laura di seberang sana ...
["Di, aku bisa bertemu dengan mu? Zidan mengkhianati aku dengan pramugari satu penerbangan dengan mu. Aku ingin kita pikirkan lagi, Di. Aku menyesal telah mengkhianati kamu. Saat ini aku berada di Shangri-La, Berlin ..."]
["Untuk hari ini aku tidak bisa Laura. Malam ini aku sudah janji akan menghabiskan waktu bersama keluarga ku! Maaf, sekali lagi maf, bahkan beribu-ribu kali maaf ... Kita sudah selesai, dan aku akan menikah dengan Kesy!"]
["What? Are you crazy? Kesy itu hanya anak kecil yang menyebalkan! Apa dia bisa memenuhi kebutuhan mu? Dia hanya gadis manja yang tidak bisa jauh dari Mama bahkan Papi-nya! Apa kamu bercanda menggantikan posisi ku dengan wanita belia? Hubungan kita sudah tujuh tahun, Di! Aku tidak terima kamu melakukan ini pada ku. Aku yakin kamu masih mencintai aku! Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin!"]
Adi menutup telfonnya, tak ingin mendengar suara gadis itu lagi. Menutup matanya perlahan, hanya bisa menggeram kesal.
Tanpa Adi sadari, saat dia berbalik ke belakang gadis kecil yang menjadi bahan perdebatannya dengan Laura beberapa menit lalu, sudah berdiri manis di hadapannya.
Kesy tersenyum sumringah, dia berhamburan memeluk Adi. Sejujurnya gadis itu sudah mendengar semua ucapan Adi pada Laura.
Adi hanya bisa mengusap lembut punggung Kesy yang saat ini berada dalam pelukannya.
"Makasih yah, Bang? Kesy senang ... Akhirnya Abang mau jujur dengan gadis itu, tentang hubungan kita, bahkan pernikahan kita ..."
_____
Hai hai hai ...
Jangan lupa mampir juga di kisah baru Author Tya Calysta ... 'Merebut Hati Suami Mayor' ... Yang menjadi awal dari kisah My Wife is Militery ...
Kisah perjodohan yang sangat mengiris hati kaum hawa ...
Terimakasih ...
__ADS_1