
Lyra yang masih shock dengan kejujuran Zul yang selama beberapa jam di tutupi dari sang istri, membuat wanita dewasa itu hanya mengikuti langkah suaminya tanpa banyak bicara, yang berjalan cepat menuju mobil meninggalkan kediaman keluarganya.
Ahmad yang tidak tenang, mengikuti langkah Zul, disusul Eni yang ingin mengetahui semua tentang Adi putra angkat mereka.
"Pa ... Maafkan Mama ..."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Eni, namun di tepis oleh Ahmad. Saat ini dia merasakan cucunya tengah terancam, dan keselamatan Kesy lebih penting daripada sebuah kata maaf yang keluar dari bibir sang istri.
Ketika mau memasuki mobil, Ahmad justru tidak ingin memberi ruang pada istrinya, karena perasaan kecewa telah tega membohonginya.
Eni yang akan membuka pintu mobil, justru tidak mendapatkan perhatian apapun yang berarti dari pria paruh baya itu. Kali ini Ahmad ingin menyaksikan sendiri ucapan sang putra, bahwa Adi mengalami tekanan selama ini.
Mobil berwarna putih itu melaju meninggalkan Eni, yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pa ... Papa! Mama kok di tinggal?" sesalnya menggeram.
Sementara Mobil Zul melaju kencang menuju arah hotel yang dikirimkan Kesy melalui maps, tanpa banyak bicara dengan Lyra.
Tipe wanita seperti Lyra yang gampang panik, masih saja bertanya pada suaminya saat memasuki loby hotel bintang lima tersebut.
"Hun ... Ada apa? Kamu jangan buat aku semakin panik? Jawab aku!"
Zul yang melihat mata istrinya berkaca-kaca, hanya bisa menahan amarahnya, "Kamu lihat saja, aku harap kamu bisa mengendalikan emosi mu! Ingat, kamu selamatkan Kesy, aku yang akan memberi pelajaran pada Adi!"
Tak banyak bicara lagi, Zulmaeta turun dengan gagahnya, melempar kunci mobil pada security, tanpa mau berbasa-basi atau menyapa dengan ramah.
Saat ini bak pembunuh berdarah dingin, Zul melangkah cepat menuju meja resepsionis meminta agar pihak hotel menghubungi pihak kepolisian dan rumah sakit, untuk menyelamatkan putrinya.
Tentu kehadiran Zul mendapatkan penolakan dari pihak hotel, karena akan mengganggu kenyamanan para tamu yang menginap di sana.
"Cepat lakukan!" bentak Zul menghardik salah satu resepsionis hotel.
"Ba-ba-baik Pak! Tapi Pak Adi berpesan bahwa ..."
Kalimat resepsionis itu di bantah keras oleh Zul, "Di dalam sana putri ku lagi terancam! Mungkin dia akan mati, jika kita terlambat menyelamatkan nya!"
Wajah resepsionis semakin pucat, bahkan dengan tangan bergetar dia memberikan card duplikat pada Zul, agar bisa masuk ke kamar yang berada di lantai delapan tersebut.
Lyra yang mendengar penuturan suaminya, hanya bisa pasrah, kali ini dia benar-benar tidak menyangka bahwa nyawa Kesy terancam oleh seorang menantu, yang di gadang-gadangkan mencintai sang putri.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Zul menerobos lift, dengan pengawalan dua orang security serta manager hotel yang menemani mereka kelantai tersebut. Hanya untuk memastikan ucapan pria yang ternyata dari keluarga terpandang tersebut.
Saat pintu lift sudah berhenti, dan terbuka lebar, Zul mencari nomor kamar tanpa mau bertanya ataupun meminta petunjuk pada petugas hotel yang menemani nya.
Kali ini pandangannya benar-benar garang, dia bahkan sudah semakin tak kuasa membendung amarah murkanya. Kecewa sudah pasti, selama ini di bohongi oleh Adi dengan kepolosan dan kepalsuan yang diciptakan oleh anak angkat Ahmad dan Eni tersebut.
Zul menarik nafas dalam-dalam, saat berada di depan pintu kamar hotel yang tampak hening bahkan tak ada suara sama sekali.
Perlahan dia menempelkan kartu di pintu kamar, membuka perlahan, dan benar saja ...
Zul menyaksikan Kesy dengan keadaan telanjang bulat, bersimbah darah segar di lantai kamar, membuat dia murka tanpa ampun saat menyaksikan Adi yang tidak mengenakkan satu helai benangpun tertidur pulas di atas ranjang kingsize kamar hotel tersebut.
"Brengsek!"
Bergegas Zul mengambil handuk untuk menutupi tubuh sang putri, berteriak keras pada petugas hotel yang berdiri ketakutan di depan pintu kamar untuk segera menghubungi ambulans dan pihak kepolisian.
"Cepat! Hubungi rumah sakit keluargaku! Lyra peluk Kesy, sayang!" perintahnya dengan suara lantang.
Adi terlonjak seketika, dia masih berada dalam kondisi setengah sadar, hanya bisa berkata, "Abang? Kak Lyra?"
Lyra tak kuasa membendung amarahnya, dia justru berteriak keras memanggil nama Adi sebagai laki-laki laknat.
Sementara Adi benar-benar tak menyangka akan mendapatkan serangan dari keluarganya, seketika harus menerima tubuh Abangnya yang sudah menaiki ranjang, mengungkung tubuh pria laknat tersebut, dan menghantam Adi dengan brutal, seketika ...
BHUUG ...!
BHUUG ...!
BHUUG ...!
BHUUG ...!
Zul tak mampu menahan emosinya, dia benar-benar membalaskan sakit hatinya kali ini, pada anak yang tidak pernah berterima kasih pada keluarganya.
Tangan kekar Zul mencengkeram erat leher Adi, yang masih setengah sadar membuat pria itu sulit untuk bernafas dan bergerak.
Namun Ahmad datang tepat waktu, dia melihat anak tirinya yang sudah hampir kehabisan oksigen, menepis cepat tangan Zul dari leher Adi, dengan menampar wajah Zul agar tidak melakukan hal yang membahayakan bagi mereka.
PLAAK ...!
__ADS_1
"Lepaskan tangan mu, Zul!" hardik Ahmad yang tidak menyukai tindakan kekerasan yang dilakukan Zul siang itu.
Zul meludahi wajah Adi yang tampak pucat pasi, bahkan menghujamkan pukulannya tepat di rahang adik tirinya itu.
BHUUG ...!
"Pengecut kau! Laki-laki binatang! Jika tidak sanggup memiliki istri, tidak usah menikah! Brengsek!"
Zul turun dari ranjang, melihat Kesy yang masih setengah sadar, tanpa banyak bicara, menggendong putrinya, agar tidak menjadi tontonan bagi orang yang berada di sana.
"Minggir kalian!"
Zul menoleh kearah Lyra, berkata tegas, "Aku selamatkan Kesy! Kamu tunggu pihak kepolisian!"
Lyra hanya mengangguk patuh, walau sebenarnya dia ingin ikut dengan Zul.
Zul bergegas membawa Kesy yang terbalut handuk, dengan cepat, di kawal security hotel untuk membantu pria itu menekan tombol lift.
Sementara Lyra masih berada di dalam kamar melihat cambuk, dan beberapa alat permainan ranjang yang sangat mengerikan bahkan menjijikkan dengan berbagai macam jenis, membuat dia semakin meledak-ledak.
"Kau ceraikan anak ku! Aku tidak sudi memiliki menantu seperti kau! Laki-laki binatang, kau pikir bisa melakukan apapun sesuka hati mu! Mendekam lah kau di penjara seumur hidup mu! Laki-laki brengsek! Menyesal aku menikah kan putri ku dengan mu!" teriak Lyra tak peduli dengan semua orang yang masih menyaksikan kejadian tersebut.
Ahmad hanya bisa menahan amarahnya dengan cara yang berbeda. Kecewa terhadap Adi sangat luar biasa. Ini merupakan aib baru bagi keluarga bahagianya selama hidupnya. Ternyata kelakuan Adi benar-benar di luar dugaan selama bertahun-tahun tertutup rapat.
Adi menoleh kearah Ahmad, dia sudah tidak tahu harus berbuat apa, menutup tubuhnya saja dia sudah tidak ada tenaga, karena merasakan sakitnya bogeman Zul yang menghantam rahangnya berkali-kali.
"Pa ..."
Lyra yang mendengar suara Adi keluar dari bibirnya, kembali menoleh kearah adik angkat yang dianggap adik kandung suaminya selama ini ...
"Lebih baik kau diam brengsek! Pakai baju mu! Karena jijik melihat tubuh mu!"
Lyra melempar kasar baju kaos yang berada di dekat meja rias, tanpa mau menoleh kearah Ahmad yang menyaksikan ketidaksopanan sang menantu.
Saat dada Lyra masih belum bisa sepenuhnya bersahabat dengan keadaan, dia malah menoleh kearah pintu kamar hotel yang sudah ramai melongokkan kepala hanya untuk menyaksikan kejadian itu, bergegas ia menutup pintu itu dengan bantingan keras ...
BRAAK ...!
"Ini bukan tontonan, jika tidak bisa membantu, lebih baik jangan jadi penonton!" umpatnya dengan geram.
__ADS_1