Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Kurang di perhatikan ...


__ADS_3

Dokter Suryo mengangguk tersenyum, membawa Zul untuk segera masuk ke ruang tindakan agar memberi ruang pada dua insan pengantin baru tersebut.


Zul berhamburan mendekati sang istri, mendekap erat tubuh ramping wanitanya. Kebahagiaan yang tak terkira dia rasakan mendapatkan keturunan dari wanita sehebat Lyra sang istri walau berstatus janda. Rasa cinta yang Zul rasakan sangat berbeda dengan mantan kekasihnya Luna.


"Terimakasih sayang! Terimakasih kamu sudah bersedia mengandung benih cinta kita. Kamu wanita hebat sayang ..." tangis Zul mendekap tubuh istrinya mengusap lembut perut yang masih terlihat ramping.


Lyra hanya menangis bahagia, mengusap lembut punggung suami yang masih mendekapnya erat.


"Kembar hun ... Kita akan punya bayi kembar, semoga bulan depan kita berangkat, dan semua baik-baik saja. Kamu sehat, Kesy sehat, buah hati kita juga sehat," ucap Lyra dengan suara parau ...


Zul mengangguk-angguk. Bagaimana mungkin dia akan melepaskan wanita cantik dan pintar ini. Mampu menjaga dirinya walau tak di sentuh suami selama dua tahun. Mampu menjaga dirinya hanya untuk menanti pria beruntung sepertinya. 'Setia', hanya kata itu yang selalu ada dalam benak pria muda tersebut menilai Lyra.


Rasa takjub Zul semakin bahagia, dengan permintaan maaf Lyra setelah pemakaman Dony. Wanita yang menyadari keegoisan nya, hanya bisa menangis di pelukan Zul saat meminta maaf pada pria yang selama ini baik padanya. Dengan sabar menjaga dan merawatnya dengan penuh tanggung jawab.


Perhatian yang di berikan keluarga Zul juga dapat memberikan kenyamanan bagi Lyra, saat melihat mereka memperlakukan Kesy dengan sangat baik.


Benih-benih cinta yang tumbuh, seketika lenyap karena harus mendengar kematian Dony. Namun semua dapat terobati saat Zul menyerahkan sepenuhnya pada Lyra tentang keinginannya untuk segera menjual rumah hasil jerih payahnya selama ini demi masa depan Kesy dan keluarga kecil mereka.


Tak lama mereka tengah mereguk kebahagiaan yang tak berkesudahan, walau mesti di hadapkan dengan ipar brengsek yang tak henti-hentinya menyakiti Lyra, kedua orang tua mereka masuk ke ruang tindakan dengan tergesa-gesa, karena mendengar kabar dari perawat yang berlalu lalang melewati ruang tindakan, tentang kondisi anak menantunya.


"Zul, ada apa? Kenapa enggak kasih tahu Mama?" tanya Eni dengan wajah khawatir.


Lince melihat putrinya yang terbaring lemah, semakin cemas, bahkan melihat Boy yang tampak mendekati putri satu-satunya.


"Bilang sama Papa, apa yang terjadi, Nak?" suara Boy yang terdengar serak bahkan menggeram saat mendengar kondisi Lyra sedang tidak baik-baik saja dari salah satu perawat rumah sakit.


Kesy yang melihat sang Mama terbaring lemah, mendekap tubuh Zul yang langsung menyambut gadis kecil itu untuk duduk di pangkuannya.


"Ma ... Pa ... Lyra hamil bayi kembar. Tadi ada sedikit accident di kantor, dan Lyra mengalami pendarahan, tapi kondisi janin kami tidak apa-apa ..." jelas Zul pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sontak kabar mengejutkan itu membuat mereka semakin bersorak gembira. Setelah empat bulan pernikahan anak menantunya itu, baru sekarang di beri kejutan luar biasa yang sangat membahagiakan bagi keluarga Zul dan Lyra.


Ditambah rencana resepsi dan pernikahan resmi kedua anak mereka akan di selenggarakan minggu depan. Suatu kebahagiaan yang sangat sempurna bagi keluarga tersebut.


Tanpa pikir panjang, Ahmad selaku dokter spesialis kandungan yang berpengalaman, memberikan perhatian khusus pada menantu terbaiknya.


"Jika sudah tiba di Berlin, kamu temui Dokter Teddy Zurk yang biasa menangani persalinan baby kembar secara normal. Dia teman baik Papa saat kuliah di sana," jelas Ahmad.


Zul mengangguk mengerti.


Lince dan Eni tersenyum bahagia, karena akan segera mendapatkan cucu lagi dari pernikahan Lyra yang kedua, namun yang pertama untuk Zul.


Mereka saling bercerita dan membawa Lyra untuk beristirahat di rumah yang hanya berjarak 10 meter dari rumah sakit induk.


.


Tiga hari berlalu, Lyra masih beristirahat di rumah dengan berbagai drama yang di ciptakan Kesy meminta perhatian lebih dari sang Mama.


"Kesy mau Mama yang antar! Bosan sama Opa terus!" rengek Kesy yang masih duduk di sofa paviliun kamar Lyra.


"Opa sudah di parkiran sayang ... Nanti terlambat pergi sekolah," jelas Lyra dengan suara lembut.


Kesy masih tak bergeming, dia menunggu sang Mama untuk ikut serta mengantarkan nya ke sekolah, karena merasa kurang di perhatikan akhir-akhir ini.


Lyra mengambil handphone nya, menghubungi Zul untuk membujuk Kesy yang sedang cemburu atas kehamilan sang Mama.


["Ya sayang ..."]


["Kesy ngambek, hun ... Kamu masih lama enggak? Papa udah di parkiran, bisa keluar sebentar?"]

__ADS_1


["Hmm ..."]


Mereka menutup sambungan telepon.


Tanpa menunggu lama, Zul sudah berada di hadapan Kesy yang masih berpangku tangan di sofa kamar Lyra.


Dengan penuh kelembutan, Zul berusaha membujuk gadis manjanya, untuk segera berangkat ke sekolah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 kala itu.


"Kok anak Papi begini? Mama belum bisa kemana-mana, sayang. Bagaimana Papa yang mengantarkan Kesy, dan pulang sekolah kita belanja ke mall. Kata Mama, Kesy mau membeli perhiasan dari uang pemberian almarhum Papa. Kita pergi berdua, kita borong semua perhiasan yang ada inisial 'D', dari huruf kapital, sampai huruf kecil ... Bagaimana?" rayu Zul pada gadis berusia tujuh tahun tersebut.


Air mata Kesy kembali mengalir deras, dia sangat merindukan Papa Dony yang selalu membujuknya persis yang di lakukan Zul saat ini.


Kesy mengangguk pelan, "Mama enggak boleh ikut, yah? Kita berdua saja. Karena kalau Mama ikut, pasti banyak larangan!" sungutnya.


Zul mengangguk, dengan penuh semangat dia menggendong putri kesayangannya untuk mengantarkan ke sekolah.


"Hun ... Belikan aku makanan, yah?" pinta Lyra saat menerima pelukan dari putri manjanya.


Zul mengangguk, dia bergegas membawa Kesy untuk berangkat ke sekolah, karena waktu sudah menunjukkan bel berbunyi.


Lyra menghela nafas panjang, melanjutkan pekerjaannya di kamar, yang telah tersedia semua fasilitas melebihi hotel bintang lima.


Lyra teringat akan surat yang pernah dikirim oleh Dony pada Kesy. Namun, sama sekali tidak pernah menemukan dimana surat itu di simpan putrinya.


Kesy yang tidur di rumah utama, bersebelahan dengan kamar Adi adik kandung Zul, yang masih menuntut ilmu di Jerman untuk dunia penerbangan.


"Hmm ... Kebiasaan Kesy, suka main petak umpet dari Mama-nya. Semoga setelah di Berlin dia akan mendapatkan teman baru dan mudah bergaul dengan anak-anak seusianya ..." gumam Lyra.


Berkali-kali Lyra mencari informasi tentang pendidikan di Berlin untuk putri kesayangannya yang hanya mampu menggunakan Bahasa Inggris, karena sekolah bertaraf internasional.

__ADS_1


Lyra memijat pelan pelipisnya, melihat biaya sekolah yang sangat tinggi, namun menerima beasiswa bagi siswa berprestasi.


"Ck ... Kesy hanya menyukai dunia sastra, dia tidak menyukai dunia lain. Hmm ... Sebaiknya aku mengajak Zul untuk berdiskusi tentang pendidikan Kesy selama di sana," tambah Lyra lagi dalam hati.


__ADS_2