
Di kediaman elite Nirvana, Kesy justru tengah bermain bersama ke-tiga adik kembarnya. Dia tak ingin membahas Adi saat ini, sesuai yang di ceritakan nya pada Opa Ahmad.
Ahmad dan Zul yang melihat perubahan pada diri Adi, memendam perasaan kecewa di dalam hati, memilih diam untuk menyelidiki semua ucapan Kesy yang akan menikahi Laura, tanpa sepengetahuan Lyra.
Ahmad tengah berada di taman belakang, menikmati secangkir kopi susu, yang dibuatkan Lyra sang menantu. Kali ini dia akan berangkat terpisah, dan mencari tahu dengan caranya sendiri, setelah memberikan wejangan pada Kesy untuk tetap kuat dalam menghadapi rumah tangga yang tak mudah.
Zul mendengus kesal, saat Ahmad menceritakan semua yang terjadi pada pernikahan putri kesayangannya.
"Zul akan menghajar Adi, Pa! Satu lagi, Zul akan membeli rumah yang lebih dekat dengan sekolah anak-anak, dan membiarkan Kesy tinggal di apartemen itu. Jika terjadi sesuatu pada Kesy, Zul orang pertama yang akan mengirim dia ke neraka!" geramnya mengepal kuat kedua tangannya.
Ahmad hanya tersenyum tipis, menatap langit-langit yang tampak di sinari rembulan malam.
"Papa yang salah, telah mengangkat Adi menjadi anak. Ternyata dia merupakan anak yang tidak tahu balas budi, bahkan sangat tega merusak kehormatan Kesy. Dari hubungannya dengan Laura kala itu, Papa sudah memberi nasehat pada Mama. Agar Adi tidak terlalu mengikuti pergaulan yang kebarat-baratan walau tinggal di sana. Entahlah ... Semua ini salah Papa, karena memberi ruang pada Mama untuk memanjakan Adi."
Zul menggelengkan kepalanya, menepuk paha sang Papa yang merasa terpukul pada sikap Adi, "Tidak ada yang salah Pa. Ini semua karena Adi yang memang tidak bisa di percaya! Zul sangat memahami bagaimana Kesy, dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Tapi pernikahan yang awalnya dia anggap indah, berakhir seperti ini hanya karena seorang mantan tunangan. Terlalu lucu dan naif ...!"
Ahmad mengalihkan pandangannya, kali ini dia tidak ingin membiarkan masalah ini menjadi berlarut-larut. Dia harus membuka mata istrinya, agar tidak memojokkan Kesy, hanya karena cerita Adi yang sengaja menjelekkan gadis kecil itu pada Eni.
"Jika Papa tahu Adi akan tumbuh sepicik ini, sejak awal Papa yang menyuntikkan racun kematian sejak dia lahir, biar menyusul kedua orangtuanya! Anak tidak tahu diri, di nikahkan malah berbuat seenaknya. Mulai minggu depan, Papa akan melarang bagian keuangan untuk mengirimkan dana perbulan pada Adi," sesalnya.
Zul menautkan kedua alisnya, menatap lekat mata sang Papa. Selama ini dia tidak mengetahui tentang uang yang dikirimkan pihak keuangan pada Adi. Perlahan dan sedikit menggelitik keingintahuan Zul, berapa nominal yang di kirim setiap bulannya pada adik tirinya tersebut.
"Emang berapa Adi terima setiap bulannya, Pa?"
__ADS_1
"Hmm ... Paling kecil 100 juta perbulan, terkadang 250 juta. Herannya semua uang itu tak pernah ada yang menempel! Entah itu mobil, aset, atau apalah!"
Zul hanya terdiam, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Adi menerima uang sebanyak itu. Padahal sama sekali hak Adi tidak ada di sana. Kali ini dia hanya bisa tersenyum lirih, membayangkan adik tirinya tidak pernah membuat kedua orangtuanya bangga.
Sejak keputusannya menjadi pilot komersil yang tidak di setujui oleh Ahmad, karena menginginkan Adi menjadi seorang militer angkatan udara. Namun, anak itu menolak mentah-mentah. Kemudian memutuskan menjadi pilot komersil, dan akhirnya menjalin hubungan dengan Laura selama tujuh tahun. Sejak itu kehidupannya jauh berubah dari biasa.
"Kemana uang anak itu? Apakah gaya hidupnya selaku pilot terlalu glamor, dan membuat dia tidak berfikir akan masa depannya ...?" gumam Zul dalam hati.
Cukup lama Zul dan Ahmad berbincang-bincang tentang keuangan rumah sakit selama ini. Sehingga pria paruh baya itu meninggalkan kediaman putranya pada larut malam.
Zul naik ke lantai dua, melihat kedua kamar anak-anaknya. Cukup lama dia berdiri di depan pintu kamar Kesy, dengan mata berkaca-kaca.
Ada sedikit penyesalan dalam dirinya, karena telah menikahkan putri tirinya pada pria laknat seperti Adi, walau sesungguhnya Adi merupakan adik tiri dari keluarga mereka.
Zul yang tidak menyadari kehadiran sang istri telah berdiri di belakangnya, terlonjak kaget saat berbalik kebelakang ...
"Sayang ...!" usap Zul pada dadanya dengan wajah menggeram.
Lyra tersenyum tipis, namun sedikit aneh melihat suaminya berdiri begitu lama di depan pintu kamar Kesy.
Pertanyaan dan tatapan Lyra yang penuh selidik, membuat Zul tampak salah tingkah, "Ada apa hun? Kok kamu melihat Kesy seperti itu? Ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
Zul hanya menggelengkan kepalanya, mengusap lembut punggung istrinya, membawa Lyra kekamar peraduan mereka berdua.
__ADS_1
"Besok kita akan terbang ke Berlin, setelah memberikan sumbangan ke panti asuhan atas pesta Adi dan Kesy yang batal. Jadi sore kita bisa langsung terbang. Karena Papa juga ada kunjungan di Jepang. Jadi lebih baik aku selesaikan urusanku, kamu mau reuni silahkan, asal anak-anak aman di rumah. Karena aku mau mengambil SK dan meletakkan di Bank, supaya ada dana tambahan untuk kita membeli rumah!" jelasnya.
Lyra berpikir sejenak, dia mencoba mengingat uang tabungan yang ada selama ini.
"Hmm ... Tidak usah di sekolahkan SK kamu, uang tabungan aku lumayan. Jadi kita bisa beli rumah yang lebih lengkap. Setidaknya anak-anak bisa memiliki kamar sendiri, hun. Selama ini aku sudah menabung, apalagi uang pensiun muda ku juga tidak tersentuh sama sekali. Setidaknya SK kamu bisa kita gunakan jika anak-anak butuh biaya yang wajib. Lagian gaji kita berdua cukup kok untuk kehidupan selama sebulan di Berlin. Kalau masalah apartemen, aku sama sekali tidak keberatan. Mungkin Mama ingin memberikan yang terbaik buat Adi dan Kesy."
Zul mengangguk membenarkan ucapan istrinya, "Tapi masak beli rumah disana pakai uang kamu juga? Sebenarnya uang aku ada, tapi hmm ..."
Lyra tampak tidak mengerti, "Maksudnya? Apa kamu masih memikirkan untuk membuka klinik sendiri?"
Zul mengangguk, dia memiliki impian sejak dulu membuka satu klinik untuk kesibukannya jika malam. Tapi masih enggan iya lakukan, karena memikirkan waktu jam kerja Lyra yang selalu menyita perhatian pada buah hati mereka.
Lyra hanya tersenyum tipis, "Suatu hari, kamu pasti bisa punya klinik sendiri. Yang penting anak-anak aman dulu. Oya, tadi Papa cerita apa saja tentang Kesy dan Adi? Apakah mereka memiliki masalah yang serius?"
Zul mengusap kasar wajahnya, rasanya dia tidak ingin menunggu lama jika sudah membahas Adi.
"Kita ngobrol di kamar saja, yah? Tolong buatin aku teh manis hangat, sayang ... Karena ada beberapa yang harus aku cek pada laporan keuangan rumah sakit. Kasihan Papa, selama ini hanya mempercayakan kepada bagian keuangan saja," kecupnya pada puncak hidung istrinya.
Lyra mengangguk, melakukan semua perintah suami tercinta.
Saat tiba di kamar utama yang berada dilantai bawah, Zul duduk di meja kerjanya, membuka laptop yang selalu dia bawa, mulai melakukan pekerjaannya.
Matanya tertuju pada dana yang di cairkan pada hari ini sebesar dua milyar. Keningnya semakin mengkerut jengkel ...
__ADS_1
"Dua milyar ...? Buat apa Mama mencairkan dana sebesar ini? Kenapa Papa tidak menceritakan tentang uang dua milyar ini pada ku ...?"