
Lyra masih meringkuk dalam pelukan Zul dan semakin mendekap tubuh kekar itu penuh kedamaian dan ketenangan. Apakah cinta dua insan manusia harus di ungkapkan dengan kata-kata ....?
Tentu tidak, Zul lebih memilih untuk menenangkan Lyra, agar merasa aman dan selalu nyaman saat berada dalam dekapannya.
Kesy mengetuk pintu kamar dari luar, agar bisa masuk ke kamar sang Mama. Zul beranjak dari ranjang membukakan pintu kamar agar gadis kecil itu masuk kedalam kamar tanpa perasaan canggung.
Zul menatap wajah Kesy yang tengah mengusap matanya, sembari bertanya, "Kesy sudah ngantuk ....?"
Kesy mengangguk menguap, menaiki ranjang untuk segera memeluk tubuh ramping sang Mama.
"Oma sama Opa sudah tidur ....?" bisik Lyra saat melihat buah hatinya sudah hampir masuk kedunia mimpinya.
"Hmm .... lagi nelpon Om Bima, mereka mau berlibur kesini. Tapi kayaknya Tante Kenny mau nginap dirumah Adiknya. Udah aaagh .... Kesy ngantuk ....!" Kesy membalikkan tubuhnya, memeluk bantal guling, menyelusup masuk dibawah selimut.
Lyra menautkan kedua alisnya, sedikit bingung dengan penjelasan Kesy, "Besok saja, bahas sama Mama ...." batinnya.
Zul tersenyum lega, mendekati Lyra yang sudah tampak tenang. Dia berpamitan, "Aku pulang yah ....? Besok pagi aku jemput Kesy jika dia mau kesekolah. Kamu istirahat supaya segera sembuh."
Lyra mengangguk. Setelah meminum beberapa butir obat, dan kantuk mulai menyerang.
Namun, Zul yang sedikit berfikir nakal kembali menggoda wanita dewasa yang tengah demam tersebut. Dia berbisik pelan ketelinga Lyra, "Mau pindahin ke aku nggak sakitnya ....?" godanya.
Lyra membulatkan kedua bola matanya, "Maksudnya ....? Kamu mau sakit kayak aku juga ....!? Jangan sakit dong .... nanti pasien kamu nyariin dokter cakepnya, aku yang susah ....!" tawanya kecil.
Zul menautkan keningnya, dia mengetahui bahwa Kesy sudah terlelap dan tidak akan mendengar keisengannya pada sang Mama. Dia membantu Lyra untuk berdiri, merapikan rambut panjang yang tampak acak-acakan.
"Makasih yah .... kamu sudah menjawab cinta ku. Walau sebenarnya belum sepenuh hatimu. Tapi aku yakin, kita akan selalu bersama. I love you, Lyra ....!" ucap Zul pelan.
Lyra tersenyum bahagia, "Aku yang harus bilang makasih. Kamu hati-hati, jangan sampai di keroyok lagi oleh orang yang tidak menyukai mu, dan berniat menyakiti. Aku takut kamu kenapa-napa ....!"
Zul merasa senang saat tubuh Lyra sudah berani bermanja-manja di bahunya, mata mereka saling bertatapan, mata indah pria muda itu sedikit nakal, karena mengetahui bahwa kekasih hati tidak menggunakan penyangga yang semakin merapatkan dada besar tersebut.
Lyra menunduk malu, menggigit bibir bawahnya, berkali-kali menarik nafas agar tidak terlihat salah tingkah oleh pria yang dengan sengaja menggodanya.
__ADS_1
Zul tak kuasa menahan hasrat yang semakin menggebu-gebu jika sudah berdekatan dengan wanita dewasa bertubuh seksi itu, "Aku menginginkan mu, Lyra," kecupnya pada leher jenjang wanita yang sangat mempesona, sengaja mencium aroma wangi walau tubuh mulus itu mengeluarkan hawa panas.
Lyra tak kuasa untuk menolak, dia memejamkan mata, tubuhnya mengisyaratkan hal yang sama, akan apa yang dirasakan pria muda tersebut, "Zul .... jangan lakukan disini. Aku tidak ingin Kesy mendengar suara aneh nantinya."
Zul tersenyum tipis, "Apa kamu mau kita melakukannya sekarang ....?"
Lyra membuka kedua bola matanya, menatap Zul penuh harap, dia mengangguk. Tangannya meremas kuat baju kaos yang Zul kenakan.
Perlahan Lyra menautkan kening keduanya dengan pria tampan di hadapannya, mengadu puncak hidung mereka yang mancung, saling berbicara melalui tatapan mata yang penuh kerinduan untuk segera melakukan hal ini.
"Zul ....!"
"Hmm ....!"
Lyra menutup matanya perlahan, mengecup bibir basah milik Zul.
Zul menahan tengkuk Lyra agar wanita itu tidak lagi menghindar jika dia kembali mellumat bibir kemerahan yang berhawa panas karena suhu tubuhnya saat ini belum stabil.
Keduanya saling bercerita, saling berbagi melalui saliva secara nyata. Cinta yang awalnya tidak kuasa Lyra ungkapkan, namun kali ini dia terbuai dalam perasaan. Perasaan nyaman, dan merasakan kebahagiaan jika berada didekat pria bernama, Zul.
"Honeyhh ....!" seketika dessahan seksi keluar dari bibir mungil yang sangat manis saat disentuh.
Bulu tangan Lyra yang memiliki bulu halus yang terlihat sangat jelas, bahwasanya dia sangat menikmati kecupan Zul saat ini.
Namun, saat keduanya tengah menikmati dan terbuai, Lince mengetuk sekaligus membuka pintu kamar putrinya dengan penuh semangat.
"Ly-r-a ....!" Lince ternganga, saat kedua bola matanya melihat anaknya tampak salah tingkah saat melepas ciuman mereka yang hampir menjalar kemana-mana.
"Zul .... kamu nginap disini ....? Jika iya, tolong parkir kan mobil lebih kepinggir. Security perumahan yang memberikan perintah," tegas Lince sekali lagi.
Zul merasa sungkan karena telah berani melakukan hal tidak senonoh didalam kamar putrinya yang berstatus janda.
"Ehh .... maaf, Ma. Zul, pulang saja. Sudah malam ....!" ucap Zul sambil menelan ludah.
__ADS_1
Lince hanya menjawab dengan mendehem, "Hmm ....!!"
Lince menutup pintu kamar, menarik nafas panjang. Mengusap wajahnya, membayangkan sekali lagi cara Zul meciumi putrinya. "Hmm .... Apakah mereka akan berjodoh ....? Jika iya, aku harus segera meminta pada Zul. Agar tidak menjadi bahan gunjingan para tetangga nantinya. Tapi anak perempuan satu ini sok jual mahal selalu. Dia pikir, orang bisa menunggu. Sok jual mahal, nanti dapetnya malah pria seperti Dony ...!" geramnya.
Didalam kamar justru Zul semakin salah tingkah, wajahnya memerah karena malu. Dia memeluk tubuh Lyra meminta maaf, sekaligus berpamitan untuk kembali ke kediamannya.
"Bilangin sama Mama, aku minta maaf ....! Please sayang, aku minta maaf. Atau kamu mau jika kita nikah sirih dulu ....? Keluarga saja yang tahu ....? Begitu semua selesai dan mengharuskan kita untuk segera berpesta, kita akan meresmikan pernikahan kita ....! Apa kamu setuju ....?" tanya Zul, merasa sungkan dan jujur dia juga tidak akan kuat jika sudah berhadapan dengan wanita dewasa itu.
Lyra memiliki tubuh yang sangat profesional, bahkan lebih mirip Aura kasih jika membandingkan dengan sosok seorang biduan. Bagian kenyal yang berukuran besar, bahkan terlihat kencang dan menantang.
"Lyra .... jawab aku ....! Maukah kamu menikah dengan ku ....? Aku serius, aku akan selalu ada untuk mu. Aku benar-benar jatuh hati pada mu," ungkap Zul tulus.
Lyra menautkan kedua alisnya, hanya menjawab singkat dengan pelukan dan satu kecupan, "Aku mau ....!"
Zul berteriak senang, membuat Kesy yang sudah terlelap kembali terjaga, karena merasa kaget mendengar teriakkan calon Papi sambungnya.
Zul mendekati Kesy, mengecup punggung tangan gadis kecil tersebut. Mengusap lembut punggungnya, sehingga Kesy kembali terlelap.
Lyra menghela nafas panjang, mengusap punggung Zul, "Nginap sini saja. Kasihan kamu besok pagi mesti balik lagi kesini buat jemput Kesy. Kamu bisa tidur di sofa. Untuk baju, kemeja aku ada yang besar berwarna putih," ucapnya.
Zul menoleh kearah Lyra, "Apakah kamu khawatir dengan keselamatan aku ....?" Tanyanya menggoda.
"Iya .... karena tadi ada yang ikutin kamu, kan ....? Aku khawatir, karena hari sudah pukul 23.45. Sangat membahayakan ....! Pindahin dulu mobilnya. Aku temenin ....!"
Zul mengikuti semua permintaan Lyra. Menginap lebih baik, daripada harus kembali ke kediamannya. Kondisi yang semakin rawan, membuat dia berjaga-jaga, sebelum meminta pencarian pada ajudan Iqbal yang masih berada di kota itu.
.
Sangat berbeda dengan nasib Dony yang berada dikediaman pemberian mantan istrinya Lyra.
"Nela .... tolong aku! Aku belum makan satu harian. Aku lapar sekali, sayang ....! Buka pintunya. Aku sudah mendapatkan rumah mantan istri ku ....! Please sayang .... keluar lah!!" Mohon Dony.
Dony berdiri di balik pintu rumah kekasihnya, yang tertutup rapat sejak siang tadi, merasa kelaparan karena belum makan apapun dengan alasan tidak memiliki uang setelah membayar sales meminta hak mereka, membuat dia harus menjual murah beberapa barang di toko tersebut.
__ADS_1
Dony sangat senang, saat mendengar suara kunci pintu terbuka. Namun, betapa terkejutnya dia .... saat beradu tatap dengan sosok pria bertubuh tegap, mengenakan kaos tanpa lengan bercorak loreng, membuat mata Dony tak mampu berkedip, bibirnya terkunci rapat.
"Apakah kamu Dony ....? Tetangga sebelah ....?"