
Hari yang dinanti oleh Kesy dan Adi akhirnya tiba ...
Pernikahan, merupakan impian dua insan yang saling mencintai. Tanpa pingitan, tanpa adat istiadat wilayah mereka masing-masing ...
Kesy berdandan bak wanita anggun yang tampak elegan dengan balutan kebaya putih, pemberian Adi beberapa hari lalu.
Lyra duduk di bibir ranjang kamar putri kesayangannya, menangis sesenggukan di temani Zul sang Papi sambung.
"Kamu tinggalin aku sama Kesy dulu sayang, aku pengen ngobrol sama dia ..." usap Zul pada punggung istrinya.
Lyra mengangguk, memilih keluar dari kamar putri kesayangannya, di temani Lince juga Kenny yang telah datang dari Denpasar.
Entahlah ... Kali ini Lyra melihat sosok Dony pada diri Kesy yang tampil sangat cantik dengan makeup yang natural, layaknya wanita belia yang dinikahi pria berusia 28 tahun.
Jarak usia mereka terpaut 10 tahun, membuat cinta Kesy tidak pernah berubah sejak usianya delapan tahun.
Jodoh, mungkin itu lebih tepat bagi Kesy untuk Adi. Tapi masih belum bisa menebak bagaimana perasaan Adi sesungguhnya pada adik kecil yang dia anggap sebagai sahabat sedari dulu.
Zul mengusap lembut kepala putri sambungnya, yang dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
"Kamu cantik ... Persis Mama. Tapi lebih tepatnya kamu fotocopy wajah Papa kamu Dony."
Zul menundukkan kepalanya, membendung air matanya yang semakin lama semakin terasa hangat membasahi wajahnya.
Kesy yang melihat Zul dari pantulan cermin, membalikkan tubuhnya, hanya bisa tersenyum dan berkata ... "Kesy mengucapkan terimakasih sama Papi, sudah menyayangi Kesy dari kecil hingga tumbuh seperti saat ini. Tetaplah menjadi sosok pria idola Kesy, karena kebaikan juga kasih sayang Papi sama Kesy hingga saat ini. Kesy mohon maaf, karena telah melakukannya lebih dulu. Mungkin kami hanya khilaf dan takut kehilangan ..."
Zul duduk dihadapan putri kesayangannya, mengecup lembut jemari tangan Kesy dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Papi belum bisa menjadi teman, sahabat, sehingga kamu membuat keputusan yang sangat cepat untuk melepaskan masa lajang mu ... Papi sangat menyayangi mu, sama seperti Hana juga Hani. Jadilah istri yang baik buat suami mu, jangan pernah membantah, dan jadilah wanita hebat seperti Mama. Jika terjadi sesuatu pada rumah tangga mu, jangan hadirkan pihak ketiga, buat Bang Adi benar-benar jatuh hati padamu ..."
__ADS_1
Zul mengecup lembut kening Kesy, memeluk tubuh ramping putri kesayangannya, dengan penuh perasaan bahagia.
Kesy mendekap erat tubuh Zul, menangis haru, karena tak menyangka bahwa hari ini dia akan menjadi seorang istri pilot.
"Makasih yah Pi, sudah mau menikahkan Kesy ... Menjadi wali untuk Kesy sebagai pengganti Papa. Kesy yakin, Papa pasti akan tersenyum di surga melihat putrinya bahagia saat ini ..."
Zul semakin mendekap tubuh Kesy, tersenyum bahagia.
Setidaknya dia merasa lega, karena mampu menyelesaikan tugasnya sebagai Ayah sambung bagi Kesy.
Di ruangan yang berbeda, Boy justru tengah menatap Adi yang gagah. Dibalut jas putih, sesuai permintaan Kesy sang calon istri.
Boy menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya, kemudian berkata, "Opa senang kamu bisa menjadi teman, sekaligus sahabat juga suami untuk Kesy. Jika kamu tidak menginginkan nya lagi, jangan pernah kamu tinggalkan dia sendiri. Antarkan dia baik-baik seperti kamu mengambilnya dari kami. Mungkin Opa sedikit keras, tapi semua ini kami lakukan untuk menjaga anak-anak perempuan kami. Opa tahu, kami terlalu kampungan, bahkan tidak satu pemikiran dengan kamu yang terbiasa hidup di negara maju seperti ini. Tapi jangan pernah tinggalkan adat istiadat kita sebagai orang timur."
Adi mengangguk mengerti, saat ini dia ingin sekali memiliki wanita yang bernama Kesy itu seutuhnya.
"Terimakasih sudah mau menerima aku sebagai keluarga Opa. Bagaimanapun, aku akan menjaga Kesy seperti dulu sampai sekarang dan selamanya. Aku bersyukur tumbuh di keluarga Papa Ahmad, yang sangat menyayangi aku, tanpa membedakan, bahkan saat ini menikahkan aku dengan cucu Opa. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih," tunduknya mencium punggung tangan Boy, selaku orang tua dari Mama mertuanya.
Lyra masih duduk disofa ruang keluarga, menunggu Zul memanggilnya untuk menyusul ke dalam kamar putrinya.
Sementara Hani dan Hana saling bercerita dengan Bima, yang lumayan faseh menggunakan bahasa Jerman. Mereka saling bercengkrama, layaknya keluarga yang tengah berbahagia.
Ahmad tengah asyik berbincang-bincang dengan Dokter Teddy, sahabat lamanya yang sengaja mereka undang sebagai saksi pernikahan Adi dan Kesy.
Tedy menepuk pundak Ahmad, berkata jujur, "Akhirnya Adi berhasil menjadi pria yang mapan dengan didikan kalian berdua. Semoga rumah tangga mereka kekal hingga tua."
Ahmad mengangguk meng'iya'kan, "Saya rasa ini saat yang tepat untuk Adi menjalani kehidupan barunya. Dengan status sebagai suami, yang akan bertanggung jawab pada gadis yang seharusnya menjadi keponakan."
Teddy menaikkan kedua bahunya, "Kita hanya bisa berencana bertunangan dengan siapa. Hasilnya, jodoh Adi ada di depan mata. Aku rasa mereka pantas untuk bahagia selamanya. Kesy juga gadis yang baik, masih muda dan lebih dewasa. Oya, kapan kita bermain music di restoran milik Benz? Dia menanti kita, kamu bisa membawa besan mu yang ternyata seorang musisi legendaris ..."
__ADS_1
Mereka tertawa bahagia.
Disela-sela kebahagiaan keluarga, Betris yang menanti kehadiran penghulu di lantai bawah apartemen, sesuai perintah Zul, lagi-lagi di kejutkan dengan kehadiran Laura yang mengenalnya, namun iya sama sekali tidak mengingat wanita itu.
Tak selang berapa lama, dua pria paruh baya yang merupakan warga negara Indonesia, hadir di hadapannya.
"Bist du das Betris? Assistentin der Zulmaeta-Familie?"
(Apakah ini kamu Betris? Asisten Keluarga Zulmaeta?)
Betris mengangguk, menjawab dengan cepat, "Ja ... Ja ... Bitte, der Herr!"
(Ya ... Ya ... Silahkan Tuan)
Mereka memasuki lift yang seketika terbuka lebar, disusul oleh Laura yang akan menerobos masuk, namun di hadang oleh Betris dengan bantuan security yang berdiri didekat mereka.
Perlakuan keluarga Zul, membuat hati Laura semakin geram. Bagaimana mungkin dia di halangi untuk bertemu Adi sebelum pria itu melanjutkan pernikahan.
"Lepaskan aku! Aku hanya ingin bertemu dengan Adi! Dia merupakan calon suamiku! Aku hamil anaknya!" teriaknya terus menerus, saat security membawanya keluar dari apartemen.
Penghulu yang mendengar jeritan Laura dari balik lift, mengerenyitkan keningnya.
"Entschuldigung Madam, meinen Sie, die Frau ist mit dem Kind des Bräutigams schwanger?"
(Maaf Nyonya, apakah maksud wanita itu hamil anak mempelai pria?)
Betris hanya tersenyum tipis, menjelaskan perlahan, "Die Frau will nur einen Bräutigam haben, Sir. Aber sie haben sich getrennt und Miss Kesy ist Adis Begleiterin."
(Wanita itu hanya ingin memiliki mempelai pria, Tuan. Tapi mereka telah berpisah dan Nona Kesy yang menjadi pendamping Adi.)
__ADS_1
Keduanya mengangguk mengerti, tersenyum sumringah karena ini kali keduanya dia menikahkan pasangan yang di datangi oleh masa lalu sang mempelai ...
"Saat ini siapapun bisa bicara jika belum memiliki seutuhnya ..."