Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Come on


__ADS_3

Lyra dan Zul berjalan kaki menuju hotel, dengan penuh canda tawa ... Keindahan bulan madu sambil menemani sang putri ternyata sangat berkesan.


Di tangan Lyra hanya ada tas kecil, yang menyimpan resep obat pemberian Caroline.


Zul sesekali menurunkan lengan baju istrinya, yang di desain secara fleksibel. Bisa turun, bisa juga naik ... Hal manis seperti itulah yang membuat pria tampan tersebut, semakin gencar menggoda sang istriyang berjalan beriringan dengannya.


Lyra menoleh kearah Zul, sebelum mereka memasuki hotel, serta menuju supermarket mini yang selalu melayani 24 jam, "Hun ... Besok kita penerbangan jam berapa? Kita pesawat bisnis, kan?"


Zul mengangguk, "Hmm ... Jam 12. 45 ... Emang kita pernah menggunakan fasilitas pesawat selain bisnis? Apalagi anak-anak akan menunggu kita di Jakarta. Aku harap, resepsi Kesy dan Adi di hadiri kerabat dekat saja. Karena aku sudah bicara sama Mama dan Papa. Kita hanya mengundang anak-anak panti asuhan, serta 20 meja untuk keluarga inti. Kita tidak mengundang pihak luar, dan rekan lainnya."


Lyra mengangguk setuju, "Apa perlu kita memberitahu pada keluarga Dony?"


"Of course! Justru mereka harus tahu, bahwa keponakan mereka sudah menikah. Jika mereka banyak bicara, aku yang akan menghajar mulut mereka! Satu lagi, mungkin kita akan stay di rumah kita sayang ... Karena anak-anak tidak mungkin bermain di pekarangan rumah sakit. Apalagi ketiga anak kita senang berlari kesana kemari. Aku takut ada mobil, atau apalah. Walau di jaga security, tapi tetap riskan ... Karena anak-anak tidak bisa menggunakan bahasa Indo."


Lyra hanya mengangguk setuju, dia tidak bisa membantah atau bahkan tidak menyetujui keputusan yang Zul buat kali ini. Mungkin enggan berdebat, atau membiarkan semua mengalir apa adanya, selagi masih masuk akal, demi kebaikan bersama.


Ada sedikit kekecewaan bagi Lyra untuk Kesy. Harapan seorang ibu hanya menginginkan pesta mewah, dengan mengundang beberapa kerabatnya, namun di tolak oleh Keluarga Ahmad Maeta demi menjaga kejiwaan Kesy dari pertanyaan kerabat serta rekan bisnis keluarga mereka, "Kenapa Adi yang menikah dengan Kesy? Bukankah mereka keluarga ..."


Akan tetapi, Lyra sangat memahami bagaimana keinginan sang mertua. Demi menjaga hati serta perasaan kedua keluarga, Lyra hanya bisa pasrah menerima semua keputusan tersebut.


Setelah kedua pasangan ini memilih beberapa souvernir dan makanan ringan, Zul menuju kasir untuk membayar. Sementara Lyra masih berada di salah satu rak supermarket tengah memilih satu sovenir untuk sahabatnya di Indo.


"Ada tambahan lagi sayang?"


Zul meminta pihak kasir untuk menunggu, namun istrinya kembali mendekatinya.


Dengan wajah tanpa berdosa, wanita itu hanya mengatakan, "Enggak jadi, belum ada yang unik ..." peluknya di tubuh suaminya.


Zul yang telah lama menunggu, hanya menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang, mengusap lembut punggung Lyra.


"Kalau mau mencari sovernir yang unik jangan di sini. Besok pagi sebelum ke bandara, kita mampir ke salah satu pusat perbelanjaan yang menjual khusus oleh-oleh."


Lyra hanya mengangguk setuju, wajahnya berbinar-binar, karena akan membawakan beberapa pernak-pernik untuk sahabat lamanya.


Mereka kembali ke kamar yang terletak persis bersebelahan dengan kamar Kesy juga Adi.


Lyra sedikit iseng, menempelkan telinganya pada daun pintu yang hanya untuk mendengarkan kegiatan apa yang terjadi di dalam sana.

__ADS_1


Zul menarik tubuh istrinya, mendekap Lyra sambil menyandarkan tubuh ramping itu ke dinding begitu memasuki kamar mereka berdua.


"Jangan seperti itu ... Kita bahkan lebih dari mereka!" bisik Zul mendekatkan wajahnya ditelinga sang istri.


Lyra mengangguk, kali ini dia kembali melihat gelagat Zul kembali berbeda dari deru nafasnya ...


"Hun ... Seharian tadi udah, aku-aku-aku lelah ..."


Namun, Zul tak mengindahkan ucapan istrinya. Ia justru menggendong tubuh ramping itu hanya untuk menikmati keindahan malam, dengan kamar yang menghadap langsung ke laut, dan jendela yang terbuka, membuat angin berhembus menambah keindahan dalam menembus surga dunia.


Penolakan-penolakan yang Lyra utarakan, berbanding terbalik dengan tubuh yang terus menggeliat meminta pada Zul.


"Hunhh ... Nanti kalau aku hamil lagi bagaimana?" rengeknya, mengalungkan kedua tangan keleher Zul.


Zul tersenyum sumringah, "Emang kalau hamil kenapa? Kan, aku suami kamu, sayang?"


"Bukan itu hunhh ..." Mata Lyra terpejam saat Zul mulai menggerakkan pinggulnya, yang telah berhasil menerobos keindahan surga milik istri tercinta.


"Hmm jadi apa sayanghh ..."


"Hunhh ... Kalau kembar lagi bagaimanahh ...?"


"Kita rawat, sama seperti yang tiga itu sayanghh ..."


"Aku enggak mau melahirkan di apartemen, aku mau melahirkan di rumah sakit, dan caesar ..."


Zul tak mengindahkan permintaan sang istri, dia terus mendessah menikmati milik Lyra yang senantiasa meremas kuat miliknya di dalam sana.


"Hunhh ... A-a-aku mauuhh di atas ..."


Zul yang sejak awal mendominasi permainan mereka, dengan cepat membalikkan tubuhnya, hanya untuk mewujudkan permintaan sang istri yang sangat bahagia jika sudah berada diatas.


Entah berapa lama Lyra mengeraang, kemudian mendessah hebat, dengan tubuh bergetar, mengikuti irama hentakan Zul saat mencapai pelepasan kenikmatan yang tak mampu di ucapkan dengan kata-kata.


Tubuh Lyra ambruk dalam dekapan Zul, yang enggan melepas penyatuan mereka, karena ingin menikmati indahnya malam dengan posisi masih menyatu hingga pagi.


Kedua-nya terlelap, masuk kedalam mimpi tanpa melepaskan cinta, yang semakin membuat mengkedut saat matanya terbuka, menatap sinar matahari pagi yang perlahan menyinari kamar mereka.

__ADS_1


Lyra melepaskan perlahan penyatuannya dengan Zul, karena ada yang tidak enak di bawah sana, berlari menuju kamar mandi.


Sementara, Zul yang sudah terjaga sejak tadi hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sang istri yang serba salah, saat merasakan milik suaminya semakin terjaga di bawah sana.


Zul yang sangat menyukai permainan ranjang Lyra, lagi-lagi mendekati istrinya yang tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Lyra berteriak kecil, saat tangan suaminya sudah berada di punuk kenyal miliknya.


"Hunhh ... Please, aku capek ..."


Zul hanya tersenyum, dia tak mengindahkan ucapan istrinya. Baginya lelah Lyra akan terbayar jika sudah berkumpul dengan anak-anaknya.


Kali ini Zul benar-benar tidak memberikan Lyra untuk beristirahat. Baginya ini kesempatan pertama, menghabiskan waktu berdua, tanpa ketiga anak kembarnya, serta berada di negara yang benar-benar membuat dirinya menjadi pria yang sangat di butuhkan bagi belahan jiwa, yang berada di depannya.


"Hunhh ... Aaagh ...!"


"Hmm ... Sebut nama ku sayang ... Aku mencintaimu ..."


"Ooogh ... Hmmfh Zulhh ..."


Jemari indah itu mencari titik sensitif istrinya dibawah sana, membantu sang istri untuk terbang menikmati indahnya pesona seorang Zulmaeta ...


Dengan nafas tersengal, dada naik turun, Lyra memejamkan matanya, mengikuti tangan Zul membawa tubuhnya untuk merasakan indahnya kehangatan cinta antara mereka berdua.


"I love you hunhh ..."


Zul mellumat geram bibir indah sang istri, hanya bisa menjawab, "I love you too sayang ..."


Mereka saling tertawa kecil saat membersihkan tubuh yang benar-benar telah bercampur aduk, membuat mereka hanya bisa tertawa bahagia.


"Hun ... Aku belum mau hamil," rengeknya lagi.


"Semakin kamu menolak untuk hamil, aku akan semakin liar diatas mu. Mau mencoba lagi?"


"Hun!!!!!" teriak Lyra, berlari menjauh dari suaminya sendiri.


"Come on sayang ..."

__ADS_1


__ADS_2