Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Pejuang kanker ...


__ADS_3

Claire menatap langit-langit ruangan rumah sakit, saat menjalani kemoterapi. Tangannya masih ditusuk jarum tempat jalannya obat pembunuh sel kanker itu, dengan perasaan mual yang sangat bergejolak menggulung dari dalam perutnya, untuk segera dikeluarkan.


"Sesak ..." hanya itulah yang dapat dirasakan oleh Claire di ruangan yang hanya ada dirinya dan dua orang perawat, serta satu dokter, juga Zul untuk mendampingi saja.


Kesy mendapatkan informasi dari Zul, bergegas menuju rumah sakit tempat Papi-nya bekerja dengan penuh perasaan khawatir.


Bagaimana tidak, Claire yang tidak memberi kabar padanya selama dua minggu kini berada dirumah sakit Berlin, dengan kondisi sakit yang sangat mengejutkan.


Kesy kembali memarkirkan mobilnya asal, membuat pria yang merupakan sahabat Claire terkurung diparkiran dengan perasaan kesal.


"Hey ugly woman ... Can you park the car-- ...!"


(Hei wanita jelek ... bisakah kau memarkirkan mobil)


Namun saat dia berteriak keras, Kesy menoleh kearahnya, membuat pria bernama Jack Smith itu tersenyum sumringah, dan merendahkan nada suaranya menjadi selembut sutra.


"Baby ... Please. Jangan biarkan aku terkurung diparkiran selama berjam-jam. Aku harus melihat sahabat ku," ucapnya dengan nada memelas.


Kesy memajukan bibirnya, mendengar Jack memanggilnya dengan sebutan baby. Dengan cepat memasuki mobil kemudian memperbaiki posisi kendaraanya.


Bergegas Kesy keluar, disusul Jack yang tak ingin kehilangan gadis kecil seunyu-unyu putri kesayangan Zul dan Lyra itu.


Kesy merasa risih saat Jack masih mengikuti langkahnya, "Ngapain kamu mengikuti aku, Smith?"


Jack menautkan alisnya, tersenyum sumringah, merangkul bahu Kesy tanpa diminta, "Jangan galak-galak, ayo ... Rekan bisnis ku tengah menjalani kemoterapi. Jadi aku ingin menghiburnya. Kebetulan kamu ada disini, sekalian saja aku membawa mu, baby."


Kesy mengikuti langkah Jack, tanpa perlawanan yang berarti, seketika langkah kakinya terhenti saat akan memasuki koridor rumah sakit ...


"Wait ... Apakah teman mu bernama Claire?"


Jack menoleh kearah Kesy, mengangguk membenarkan pertanyaan wanita yang ia sukai sejak dulu.


Jack kembali bertanya, "Hmm apakah kamu mengenalnya?"


Kesy mengangguk, dia mengarahkan tubuhnya untuk saling berhadapan dengan menatap lekat mata Jack, "Please, jika kita berada didalam ruangannya, jangan panggil aku, baby. Kita harus menjaga perasaannya, karena aku tidak ingin dia semakin sakit."

__ADS_1


"Apa kamu sedang memohon padaku, baby?"


Kesy menganggukkan kepalanya, menjawab dengan nada pelan, "Ya ..."


Jack tersenyum, sambil mengusap lembut kepala Kesy, melanjutkan pertanyaannya, "Seberapa besar perasaan mu padanya?"


Kesy tersenyum manis, "Setidaknya dia lebih menggemaskan dari pada kamu, jelek!"


Jack menaikkan kedua alisnya, "Aku yakin kamu akan menyesal jika menolak aku, Kesy!" geramnya, saat pertanyaan serius yang hanya dijawab bercanda oleh Kesy.


"Sudah ah ... Lebih baik kita ke kamarnya sekarang. Aku yakin Papi sudah menunggu di sana. Karena Papi yang menghubungi aku," jelasnya kembali berjalan dengan langkah cepat.


Saat Kesy sudah berdiri di depan pintu, disusul oleh Jack ... Clive menyambut kedatangan sahabat masa sekolah sekaligus partner bisnisnya. Mereka saling berpelukan erat, sementara Marisa melihat kedatangan Kesy hanya bisa tersenyum lirih.


Kesy bertanya kepada Marisa, "Dimana Claire, Tante?"


Marisa mengusap air matanya, "Claire lagi tindakan, setelah dua jam melakukan kemoterapi, dia muntah-muntah dan kini tengah ditangani oleh dokter juga suster."


Kesy yang merasa penasaran, mencari celah untuk bisa melihat kondisi Claire. Benar saja, pria muda itu hanya ditemani dua perawat dan satu dokter serta Zul yang hanya sekedar ingin tahu keadaan Claire.


Air mata Kesy mengalir begitu saja, dia tidak menyangka bahwa secepat ini penyakit akan menyerang pria baik itu.


Marisa menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu persis. Saat kembali dari Buhl3 di Nuremberg, dia demam tinggi, dan terlihat sangat lelah. Tiba-tiba pingsan, dan mimisan. Dia memang sering sekali mimisan, karena kami pikir dia hanya alergi dingin. Tapi ternyata seminggu lalu, Claire diagnosa kanker darah stadium empat. Makanya hari ini, dia melakukan kemoterapi pertama," jelasnya panjang lebar.


Clive yang melihat Kesy datang bersama Jack, hanya memperhatikan gerak-gerik mereka berdua yang tampak seperti tidak saling mengenal. Namun, tatapan Jack tak luput dari janda kecil tersebut.


Mereka masih menunggu di ruang rumah sakit. Harap-harap cemas, itu saja yang ada dalam benak mereka yang ada di luar ruangan itu. Takut, jika Claire di ambil Tuhan lebih cepat, atau entahlah ...


Kesy duduk di kursi yang tersedia, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sudah lebih dari dua jam mereka ada di sana, namun prosesnya belum selesai.


Berapa banyak mereka melihat, suster bolak-balik, membawa pakaian serta infus untuk mengganti semua pakaian Claire, yang masih mengalami muntah-muntah.


Entahlah ... Hanya Claire yang dapat bagaimana rasanya, menjalani kemoterapi yang sangat menakutkan bagi pengidap kanker.


Zul yang sejak tadi memberi kekuatan pada Claire, hanya menemani anak muda itu agar kuat menjalani kemo, menyentuh kaki pria itu yang terasa sangat dingin, namun yang Claire di rasakan tubuhnya mengeluarkan hawa panas, sehingga membuat tangannya membuka beberapa kancing baju.

__ADS_1


"Tu-tu-tu-tuan, tolong ja-ja-jangan beri tahu pada Kesy. Karena aku malu juga takut, jika putri kesayangan mu mengetahui sakit ku. Rasanya a-a-a-aku seperti mimpi, baru kemaren aku mendatangi kediaman mu, tapi kali ini aku harus merasakan berada antara hidup dan mati ..."


Zul tersenyum mendengar ucapan Claire, "Bertahanlah, semangatlah, Kesy sudah menunggu mu sejak tadi. Aku lihat ada Jack Smith juga di luar, apa kalian saling mengenal?"


Claire mengangguk dua kali, dia meringkuk seperti orang yang ketakutan, namun sebenarnya dia tengah mengalami mual yang sangat menyakitkan, membuat air matanya keluar begitu saja.


Zul melihat Claire dengan mata berkaca-kaca, dia tak sanggup untuk berbuat apa-apa. Jika ditanyakan bagaimana rasanya, dan efek kemoterapi itu sangatlah menyakitkan bagi pasien.


Hawa panas, pusing, mual yang berlebihan, membuat pejuang kanker, hanya bisa bertahan karena penuh semangat dalam menjalani hidup.


Melihat Claire sudah sedikit tenang, suster yang ada dalam ruangan telah membuka jarum kemoterapi tersebut, Zul melihat Claire sedikit terlelap, dengan tubuh masih meringkuk di pinggir ranjang.


Sesekali terdengar suara rintihan, menandakan bahwa dirinya kesakitan, dan masih terlihat dua kali ia mengalami mimisan saat proses kemoterapi.


Zul berbisik pada suster, "Darf ich die Geliebte des Patienten in dieses Zimmer bringen? Nur zum Begleiten. Weil sie mehr als zwei Stunden draußen gewartet hatten."


(Boleh saya bawa kekasih pasien masuk ke ruangan ini? Untuk menemani saja. Karena sudah lebih dari dua jam mereka menunggu diluar)


Suster mengalihkan pandangannya, melihat kearah pintu, dan mencari baju steril yang memang tidak ada di ruangan itu.


"Eigentlich kannst du das nicht! Aber ich werde Ihnen sterile Kleidung und Masken geben, damit sie für das Krankenhaus nicht so sichtbar sind ..."


(Sebenarnya tidak boleh dok! Tapi saya akan memberikan baju steril dan masker, agar tidak begitu kelihatan oleh pihak rumah sakit)


Zul tersenyum lega, bergegas dia keluar ruangan untuk membawa putrinya bertemu dengan Claire. Mencari keberadaan Marisa untuk meminta izin dan melihat kearah Jack juga Clive secara bergantian ...


Zul menghulurkan tangan pada Kesy, agar putrinya mengikuti langkah kaki sang Papi, untuk ikut masuk kedalam ruangan.


"Maaf Nyonya Marisa, saya minta izin untuk membawa Kesy ..."


Mendengar kalimat itu, Marisa hanya mengangguk, memberi izin pada Kesy untuk menemani putra kesayangannya.


Sontak Jack dan Clive hanya mendekati pintu kaca, untuk melihat kondisi Claire disana.


"Sedih."

__ADS_1


Hanya satu kata itu yang dapat di isyaratkan oleh Kesy, yang langsung duduk di kursi yang telah di sediakan oleh suster.


 


__ADS_2