
Sementara di seberang sana, Laura tengah menggeram kesal. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Adi semudah itu akan meninggalkan nya begitu saja.
"Aku tidak akan terima, Di ... Bagaimanapun, kamu orang yang pertama telah merenggut kehormatan ku, aku tidak akan membiarkan mu menikahi gadis kecil itu ..." geramnya.
Dia menghubungi sopir maskapai penerbangan, agar mengantarkan nya menuju apartemen Keluarga Ahmad Maeta yang berada cukup jauh dari tempat iya menginap.
"Aku akan mengatakan bahwasanya aku tengah mengandung anaknya, yang baru aku ketahui saat ini ..."
Seketika Laura teringat, kapan terakhir kali dia meminum pil pelancar periode yang selalu di berikan maskapai penerbangan padanya, untuk menunda kehamilan.
Bergegas Laura meraih testpack yang selalu dia letakkan di dalam travel bag nya selama dinas, untuk berjaga-jaga dalam situasi genting seperti saat ini.
Laura meletakkan handphone miliknya di meja rias, memasuki kamar mandi hotel untuk memeriksakan kondisi dia saat ini.
Lebih kurang dari 20 menit Laura berada di kamar mandi, sekaligus membersihkan dirinya sendiri, kembali matanya tertuju pada testpack yang iya letakkan di keramik wastafel kamar mandi.
Matanya membulat besar, saat testpack berwarna putih itu menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan, membuat dadanya semakin berdenyut.
"Positif ...?"
"Aku positif hamil? Ooogh Tuhan, ini tidak mungkin. Aku masih ada beberapa bulan lagi kontrak dengan maskapai penerbangan Lutfhansa. Ini tidak mungkin, Zidan tidak akan mau mempertanggung jawabkan perbuatannya ..." isaknya menangis di kamar mandi.
Seketika tubuhnya bergetar hebat, saat menyadari bahwa sudah sebulan lebih dia tidak menggunakan tampon. (Tampon\=Pembalut sebesar kapsul)
Tangannya meremas kuat hasil testpack. Secepatnya dia menghubungi Zidan, memberi kabar kondisinya saat ini.
Berkali-kali Laura menghubungi pria yang masih berada dalam masa dinasnya di negara Asia.
["Ya ..."]
Terdengar suara bariton Zidan yang masih berada di dalam kabin pesawat.
["Apa sudah take off?"]
["Hmm, baru landing!"]
["Aku hamil, Zee ..."]
["What? Bukankah kita melakukannya satu bulan yang lalu? Jika kamu hamil, yang pasti itu bukan anak ku! Karena aku mendapatkan mu saat kamu berada ditangan Adi. Dan aku pastikan jika kamu hamil, itu bukan darah daging ku!"]
__ADS_1
Mendengar penuturan Zidan di seberang sana, membuat darah Laura mendidih seketika.
["Apa maksud mu, Zee! Semenjak kita dekat, aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun!"]
["Adi ...?"]
["Brengsek kamu! Karena kamu aku putus dari Adi. Saat ini dia justru akan menikah! Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan ku, Zee ..."]
["Sorry, aku tidak ada waktu berdebat dengan mu!"]
Zidan menutup telfonnya di seberang sana, saat Laura akan mencaci maki pria itu.
Air mata Laura tak tertahankan, dia menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali dia membanting handphone pipih yang masih berada dalam genggamannya.
"Tega kamu Zee, tega! Ini anak kamu. Aku yang tahu kapan terakhir aku berhubungan dengan Adi. Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku akan meminta Adi untuk bertanggung jawab akan kehamilan ku ini ..." tangisnya kembali terdengar di setiap sudut kamar hotel.
Seketika gadis yang berprofesi sebagai pramugari itu lemah tak berdaya, Laura mencari vitamin yang biasa ia konsumsi, hanya untuk sekedar menambah stamina bagi tubuhnya saat ini.
Air matanya terus mengalir, tak membayangkan bagaimana caranya dia akan menjelaskan pada maskapai penerbangan saat ini. Kontrak perpanjangan pekerjaannya telah dia tanda tangani untuk satu tahun ke depan.
"Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan pada Adi? Atau aku katakan saja bahwa anak ini merupakan buah cinta aku dan Adi ...?"
"Aku harus menemui Bang Zul juga Kak Lyra. Daripada aku harus mengugurkan kandungan ini ... Lebih baik aku menemui keluarga mereka. Aku yakin Bang Zul masih mau menerima aku ..."
Laura bergegas meninggalkan hotel tempat ia menginap, kali ini dia harus merebut Adi kembali dalam pelukannya. Dia tidak peduli dengan hubungan Adi dan Kesy, yang penting kali ini dia harus menyelamatkan dirinya sendiri untuk mendapatkan pengakuan dari pria yang telah menjalin hubungan selama tujuh tahun bersama.
Mobil putih yang bertuliskan maskapai penerbangan Lutfhansa, berhenti di loby apartemen.
Bergegas Laura menekan tombol agar pintu lift yang menuju kediaman Zul yang berada di lantai delapan itu menekan password kediaman keluarga mereka.
"Ya ..."
"Hmm Laura berada di bawah Nyonya ..." ucapnya.
Yang menekan tombol bukanlah keluarga Zul, melainkan Betris yang tidak mengerti bahasa Indonesia.
Lama Laura belum mendapatkan jawaban dari lantai delapan, membuat security datang menghampirinya.
"Guten Abend werte Dame. Wohin willst du gehen?" tanya salah seorang security yang berjaga di sana.
__ADS_1
(Selamat sore Nona. Anda mau kemana?)
Laura sedikit salah tingkah, dia tampak semakin gugup karena bingung, dengan pertanyaan security yang seolah-olah mencurigai nya.
"Hmm ... Ich bin Gast bei der Familie Zul und möchte nach oben," jelasnya menunjuk kearah lift.
(Hmm ... Saya tamu Keluarga Zul, dan saya ingin naik ke atas.)
Security menghubungi kediaman Zul, namun tidak ada jawaban yang berarti dari kediaman mereka.
"Tut mir leid, Miss, vielleicht ist Herr Zul nicht oben. Wir können Ausländern keinen Login-Zugang gewähren ..." jelasnya pelan.
(Maaf Nona, mungkin Tuan Zul tidak ada di atas. Kami tidak bisa memberikan akses masuk untuk orang asing ...)
Laura hanya bisa menahan rasa sakit hatinya saat ini. Lama wanita itu terdiam di depan pintu lift. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Adi, namun tidak ada jawaban dari pria itu.
Tak terasa air mata Laura kembali mengalir, membasahi wajahnya. Ada setitik penyesalan yang ada dalam hati telah mengkhianati pria sebaik Adi.
Laura menoleh kearah security, tersenyum tipis, dan berlalu meninggalkan apartemen Zul.
"Fillen danke, Herr ..." ucapnya pelan.
(Terimakasih Tuan ...)
Security mengiringi langkah Laura untuk segera meninggalkan apartemen, yang tidak di beri izin bagi siapapun berkunjung tanpa akses lengkap ke sana.
Seketika perasaan Laura hancur. Hatinya terasa sangat perih, bagaimana mungkin Adi akan menikahi Kesy, sementara dirinya sendiri harus menelan pil pahit karena kehamilannya.
Laura berdiri di parkiran loby apartemen menunggu kendaraannya, seketika matanya melihat sosok Adi yang berada didalam mobil, bersama Kesy tanpa menoleh kearahnya.
Entah keberanian dari mana, dia berteriak keras memanggil nama pria yang pernah ada dalam hatinya, namun kendaraan itu terus berlalu meninggalkan nya sendiri di sana.
"Adi! Adi jangan tinggalkan aku!" teriaknya sekuat tenaga.
Membuat beberapa pasang mata, menatap aneh pada wanita yang hanya berdiri di ruas jalan keluar masuk akses kendaraan.
Saat Laura akan berbalik, seketika dia di kejutkan dengan kehadiran Zul juga Lyra serta ketiga anak kembar keluarga itu, yang sudah berdiri di belakangnya.
"Laura ...?"
__ADS_1
"Kak ..."