Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Partner dalam segala hal


__ADS_3

Suasana kediaman Boy dan Lince justru didatangi kedua orang tua Zul sore itu. Mereka ingin melihat kondisi Kesy yang masih sibuk bercerita dengan Zul dan Lyra di meja makan.


Rumah cukup mewah yang di beli Boy saat menerima dana pensiun sebagai seorang karyawan untuk putri kesayangannya Lyra kala itu. Keduanya bersitegang hanya karena Dony, membuat Lyra memutuskan untuk tidak menetap dirumah itu. Wanita muda tersebut lebih memilih untuk menjadikan rumah itu sebagai pemasukan uang tambahan untuk pribadinya.


Dokter Ahmad melihat gitar milik Boy, sesekali bercerita seputaran music. Keduanya berencana untuk berlibur sekaligus ngamen di satu daerah ke daerah lainnya, jika memiliki waktu senggang mengisi kegiatan mereka selaku calon besan.


Saat yang bersamaan juga, handphone milik Eni berdering. Dia melihat nama yang tertera 'Mama Luna'. Tanpa beban dia mengangkat panggilan telepon dari sahabat sekaligus calon besan yang gagal.


Beberapa kali Eni menjelaskan pada Mama Luna diseberang sana, bahwa Zul akan menikahi seorang janda yang sangat baik, tidak akan pernah merubah keputusan apapun, atau kembali kepelukan Luna calon menantu yang buruk.


Eni tertawa kecil, mendengar celotehan Mama Luna diseberang sana. Baginya, lebih baik anaknya menikahi seorang janda, daripada seorang gadis yang berasa seperti janda. Bahkan lebih terhormat wanita berstatus janda daripada gadis yang sering berbuat curang, saat berjauhan dengan anaknya.


Eni menggelengkan kepalanya, saat menutup telfon dan meletakkan handphone didalam tas kembali. Dia berlalu menuju meja makan, melihat canda tawa calon keluarga kecil yang memilih akan menetap di Berlin untuk beberapa waktu.


Eni, mengusap lembut punggung putranya, "Mama Luna, barusan nelpon. Mama malas banget sama ibu-ibu arisan ini. Banyak banget yang bahas pernikahan kamu dengan Lyra. Padahal Mama cuma kasih tahu sama sahabat saja, Tante Nisa. Eeeeh.... malah kesana kemari ceritanya."


Zul mencium punggung tangan sang Mama, sambil tersenyum melirik kearah Lyra dan Kesy, "Zul hanya butuh suport dari Mama. Bukan omongan mereka. Next time..... Mama enggak perlu ceritain Zul dan Lyra lagi. Jika undangan sudah beres, sudah fix di gedung mana kita akan berpesta, Mama boleh bicara sama sahabat sosialita. Sekaligus Mama posting foto pernikahan Zul, dan keluarga kecil ini."


Eni mengangguk mengerti, dia menghampiri Kesy yang masih duduk mendengarkan obrolan orang dewasa yang selalu dia tonton di saluran televisi ikan terbang.


"Oma Eni.... apakah Mama Kesy akan menikah dengan Papi Zul? Bagaimana dengan Papa Kesy?" tanya Kesy mengejutkan Lyra yang pura-pura tuli sejak tadi.

__ADS_1


Lyra terbatuk-batuk mendengar suara putri kesayangan, karena telah bisa berbicara layaknya orang yang sangat mengerti bagaimana perasaan sang Mama.


"Uhug.... uhuug-uhuug-uhuug...!!"


Bergegas Zul memberikan air putih, melihat Lince menghampirinya sedikit khawatir.


"Kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Zul seperti bersimpuh di paha wanita dewasa itu.


Lince dan Eni yang melihat kejadian itu memilih meninggalkan kedua insan yang saling menatap. Tentu mereka membawa Kesy bersama agar tidak terlihat hal-hal yang merusak pemandangan.


Kesy menoleh, memastikan bahwa Lyra tidak akan menikah dengan pria manapun selain Papa Dony. Baginya, tidak akan ada pria yang sanggup berbuat baik padanya, karena menganggap kejadian lalu merupakan kekhilafan Dony belaka, pikir Kesy dalam hati.


Sementara Zul masih memberikan air putih untuk Lyra, sesekali menatap penuh cinta.


Zul melirik kebawah dimana tangan Lyra sudah berada disana. Dia mengangguk membenarkan, "Wanita ini telah mengkhianati aku beberapa tahun lalu. Sudahlah, aku sudah melupakannya. Saat ini hanya kamu dan aku. Jujur inisial ini merupakan satu kebetulan, jadi bisa Lyra. Wanita cantik yang sangat menggemaskan. Oya, kapan kamu sidang lagi? Aku akan menemanimu, dan kemungkinan besok, Om Iqbal juga sudah berada di kota kita. Jadi kita bisa menyelesaikan semua tentang tuntutan kamu dan wanita yang menyakiti Kesy."


Lyra menggelengkan kepalanya, "Kemaren pihak kepolisian menyampaikan pada ku, Dony menjadi tahanan kota hingga kasus perceraian ku beres. Ada yang menjamin laki-laki itu. Aku yakin panglima yang telah membebaskan istri sekaligus Dony, tapi entahlah....!!"


Zul mengangguk memperhatikan wajah polos Lyra, "Besok kamu sidang, kan? Lebih baik kamu hadirin sidang dulu, aku akan membantu kamu. Kita akan pergi bersama, sehingga tidak ada celah bagi laki-laki itu untuk memerangi mu, sayang! Anggap saja, saat ini aku sebagai sahabat yang selalu ada untuk kamu. Jangan merasa sungkan, apapun yang kamu rasakan..... kamu bisa bicara sama aku," kecupnya pada punggung tangan Lyra.


Lyra mengangguk setuju, mereka saling menautkan kelingking, dan tertawa kecil untuk menjadi sahabat baru sekaligus partner dalam segala hal.

__ADS_1


.


Berbeda dengan kondisi Dony yang tengah berada dikediaman Rita. Mereka kedatangan dua orang tamu yang tidak diundang, yang sangat berwibawa dan gagah juga seorang gadis cantik.


Ya.... mereka adalah Luna dan Bara, yang membawa duit satu tas besar, untuk memberikan kesaksian baru, pada majelis hakim tentang perselingkuhan Lyra dan Zul.


Dony melihat video yang sempat direkam oleh Luna, sehingga membuat mantan suami Lyra tersebut tersulut api cemburu.


Bagaimana mungkin, seorang pemuda tampan akan menikahi mantan istrinya, bahkan lebih kaya dan bisa memberikan apa saja untuk Lyra. Sementara Dony? Hanya berkutat pada toko, bahkan sangat memilukan karena Nela tidak kunjung memperlihatkan wajahnya setelah keluar dari penjara beberapa waktu lalu.


Dony yang picik, bertanya menatap Bara, "Kenapa kalian menemui aku? Apakah kalian memiliki niat untuk menyakiti anak ku Kesy?"


Luna menoleh kearah Bara, dia mendengus dingin, "Sejak kapan kami berniat untuk menyakiti seorang anak kecil? Kami hanya ingin kamu mempersulit perceraian kalian dengan bukti perselingkuhan mantan istrimu untuk merebut hak asuh anak kalian. Setelah itu, kamu bisa mengantarkan anak mu ke panti asuhan, kek! Atau kasih sama orang kaya yang tidak memiliki anak juga bisa, kan? Kenapa kamu jadi bodoh gini! Pantas saja istrimu minta cerai, ternyata suaminya bodoh....!" ketusnya.


Pernyataan Luna yang benar-benar menghina Dony menyulut emosi Rita karena mendengar celotehan perempuan yang berparas cantik tersebut, namun karena diawal gadis muda itu telah memperlihatkan satu tas tumpukan uang untuk adiknya, mereka menahan hinaan tersebut, demi mendapatkan uang yang berada didalam tas.


Dony menggeram mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menghajar laki-laki dan wanita di hadapannya, karena mengakui mereka adalah pasangan yang tidak menikah dan berani berciuman mesra di kediaman Rita.


"Maaf, aku tidak tertarik dengan uang kalian.... silahkan bawa saja tas itu. Karena aku tidak pernah ingin melukai darah daging ku sendiri....!"


Pernyataan itu membuat Luna dan Bara menggeram, namun tidak untuk Rita.

__ADS_1


"Berikan uangnya, saya akan mengurus semua ini. Enak saja Lyra cerai dari adikku mendapatkan pria kaya. Lebih baik aku goda pria itu dengan Riche adik Dony. Kalian tenang saja....!"


__ADS_2