
"Lyra, will you marry me, honey....?"
Kesy yang akan keluar dari mobil seketika ternganga mendengar kalimat yang diucapkan Zul pada sang Mama tercinta.
"Yes, I wan't ...!"
Kesy berlari menutup pintu mobil dengan cepat, sebelum kedua orang tuanya berteriak kesal, karena telah berani menjawab permintaan Zul.
Lyra tak mampu berkata-kata, kebaikan Zul sangat nyata untuknya. Bagaimana mungkin seorang pemuda kaya, mapan, bahkan berpendidikan tinggi, mau menjadi pendamping seorang janda beranak satu.
Lyra menoleh kearah Zul, bertanya seakan-akan memiliki keraguan dalam hatinya, "Zul, apakah kamu tidak akan menyesal akan menikah dengan janda seperti aku? Apa kata kerabat dekat keluarga mu? Aku belum siap harus menerima cemoohan dari mereka! Aku masih takut, Zul."
Zul menggenggam jemari tangan Lyra, mengecup berulang kali, "Kita menikah, dan akan tinggal dikediaman ku. Aku tidak ingin melihatmu tertekan, sampai semua benar-benar rampung dan kita akan menetap di Berlin. Aku mencintaimu, Lyra. Sangat mencintai wanita baik seperti mu! Aku sudah mempersiapkan semua kebutuhan kita, juga Kesy. Jujur aku tak kuasa membendung rasa ingin segera memiliki mu. Aku pria dewasa, kamu pernah merasakan kebahagiaan itu. Aku yakin, kita akan menjadi partner luar biasa dalam urusan percintaan. Kamu wanita ku, Lyra. Kamu belahan jiwaku."
Wanita mana yang tidak akan terbang melayang setelah mendengar rayuan cinta dari seorang pria gagah dan berwibawa. Tak pernah terbayangkan oleh Lyra akan merasakan kembali jatuh cinta pada seorang pria. Pria yang benar-benar baik, bahkan sangat memahami bagaimana kebutuhannya saat ini.
"Zul ...!"
"Hmm ...!"
"Mau kah kamu mengajak aku berkencan? Aku ingin menikmati indahnya kencan pertama kita. Selama kamu tiba di kota ini, hanya menyelesaikan masalah yang tak kunjung usai. Aku ingin kita menghabiskan malam bersama disalah satu gedung yang tinggi. Aku ingin berteriak keras, dan kamu memeluk erat tubuhku," pinta Lyra meringkuk manja di lengan Zul.
Zul mengecup lembut puncak kepala wanita dewasanya, "Bersiaplah, aku akan membawamu terbang malam ini."
Lyra melirik kearah Zul, mencium bibir pria muda itu dengan penuh kelembutan.
Namun Zul menyambut ciuman Lyra dengan lummatan mesra dan semakin memperdalam ciuman keduanya, membuat mereka saling mendecaap nikmaat.
Tangan kanan Zul menyelusup masuk kedalam pakaian kekasihnya membuat bulu halus Lyra semakin meremang.
"Hmmfh ...!"
Hembusan nafas dalam deccapan yang sangat menggairahkan seketika membuat keduanya semakin terbuai.
Lyra semakin terlarut dalam suasana hangat yang sudah lama dia rindukan. Dadanya terlihat naik turun saat tangan kekar Zul menyentuh lembut punggung hingga bagian kenyalnya dari balik benang yang masih menutupi puncak yang indah.
Lyra melepas ciumannya, mendekatkan puncak hidungnya, seraya berkata, "Yes, I wan't ... anda I love you, honeyhh!"
Zul mendekap erat tubuh Lyra, membawanya dalam pelukan hangat pria muda yang masih enggan untuk mengakhiri permainan mereka.
"Jujur aku tak kuasa menahan hasrat ku, sayang! Benar kata Mama, kamu wanita baik dan terhormat. Sangat cocok untuk menjadi pendamping hidup ku," ucap Zul lembut mengusap rambut panjang sang wanita tercinta.
Lyra melepas pelukannya, menatap manja kearah Zul, "Apakah kita akan melakukannya malam ini? Aku belum siap Zul, karena status kita belum menikah. Aku takut, jika kita melakukannya tanpa ikatan pernikahan akan berdampak pada benih yang mungkin akan berkembang menjadi janin. Kamu tahu Papa dan Mama masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ketimuran kita sebagai orang yang taat beragama."
__ADS_1
Zul tersenyum bahagia, membenarkan perkataan calon istrinya, menghela nafas panjang yang terasa sangat berat, "Aku memahami bagaimana keadaan kita. Aku juga bukan penganut yang seperti itu, sayang. Bagiku, wanita yang aku sayangi tidak akan pernah aku tiduri sebelum adanya akad nikah. Sekarang tugas kamu bersiap-siap, aku akan menjemputmu pukul 20.00 on time."
Lyra mengangguk setuju, "Ada dress code?"
"Putih ...!"
Lyra menautkan alisnya, tapi tidak ingin melanjutkan pertanyaannya, karena malam ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Zul. Pria muda yang tampan dan mapan, yang akan menjadi belahan jiwanya disisa usia.
Mereka berpisah.
Lyra bergegas menuju kamar, melihat Kesy tengah asyik bercengkrama hangat bersama Boy dan Lince.
Lyra hanya meletakkan semua bawaannya, bergegas masuk kekamar mandi untuk melakukan ritualnya.
Sementara Kesy dan Boy telah mempersiapkan sebuah box berisikan baju yang telah dipersiapkan oleh Mama Eni dan Mama Lince.
Kesy memberi perintah pada Boy dan Lince, agar segera bersiap-siap untuk segera meninggalkan kediaman mereka tanpa sepengetahuan Lyra.
Kesy hanya berteriak dari balik pintu kamar mandi, memanggil sang Mama dengan wajah berseri-seri, "Ma ... aku keluar sama Opa dan Oma. Nanti kita ketemu dimana? Yang penting malam ini menjadi malam yang spesial untuk Mama dan Papi."
Lyra yang masih berdiri didepan cermin setelah mengguyur tubuh indahnya sedikit penasaran, "Maksudnya apa Kesy? Mama memang mau keluar malam ini, tapi kita mau ketemu dimana?"
"Hmm ... Mama yang penting pake baju yang sudah Kesy persiapkan. Jangan terlambat Papi akan menjemput sebelum jam delapan. Oke ... bye Mama! I love you," teriak Kesy dari balik pintu.
Lyra hanya mendehem, namun semakin penasaran dibuat keluarganya malam ini.
Lyra baru teringat, bahwa mobil pemberian Zul masih berada di kantor. Bergegas dia menghubungi security yang berjaga malam.
["Ya Bu ...!"]
["Bang, mobil ku masih di kantor! Bisa anterin kerumah malam ini?"]
["Maaf Bu, tadi sudah dijemput sama sopir rumah sakit. Mereka akan membawa kerumah Ibu."]
Lyra berfikir sejenak.
["Oooogh .... baik! Terimakasih."]
Lyra duduk di pinggir kasur, termenung sejenak melihat box besar bertuliskan huruf kapital yang ditulis oleh Kesy.
'Happy wedding, Ma'
Paraf kecil disudut tulisan membuat Lyra semakin tampak kebingungan.
__ADS_1
"Siapa yang akan menikah? Ini pasti akal-akalan anak itu saja. Mana ada pernikahan diadakan dalam semalam!" sesal Lyra.
Lyra membuka box besar tersebut yang dihiasi pita berwarna pink keunguan, sesuai warna kesukaannya.
Kedua bola matanya membulat, bagaimana mungkin dia harus mengenakan kebaya modern berwarna putih.
"Kesy, this isn't funny! You must be kidding ...!" gumam Lyra menahan senyum bahagianya.
Lyra mengenakan kebaya modern yang indah. Sepengetahuan nya kebaya yang dikenakan itu merupakan pemberian Kesy. Akan tetapi, semua itu merupakan satu kejutan yang dikirim Mama Eni, selaku calon mertua Lyra.
Lyra menghiasi telinganya dengan mutiara terbalut emas putih, yang dia miliki sebagai pemberian Bima kala itu saat ulang tahunnya.
Lyra berdiri didepan cermin, melihat dirinya sendiri, seperti seorang Cinderella yang akan dijemput sang pangeran menggunakan kreta kencana.
Saat Lyra tengah sibuk memuji diri sendiri, handphonenya berdering melalui video call. Dia menoleh ke layar handphone miliknya, sedikit bergumam, "Zul ..."
["Ya honey ...!"]
["Aku sudah didepan, tidak sabar untuk menjemput calon istri ku."]
Lyra menautkan kedua alisnya.
["Are you kidding me, honey?"]
["Aku menunggu istriku malam ini."]
Lyra tersenyum bahagia, bergegas keluar rumah.
Saat Lyra membuka pintu utama, terlihat Zul telah rapi mengenakan jas putih yang dibalut kemeja putih didalamnya. Pria gagah itu bersimpuh dihadapan Lyra layaknya seorang Romeo tengah menunjukkan cincin berlian yang sangat indah pada Juliet.
"Will you marry me, Lyra ...?"
Lyra menutup bibirnya, air mata bahagia menggenang di pelupuk mata, "Zul ...! Tadi kan udah dijawab ..." geramnya.
Mata keduanya saling menatap, bibir tak kuasa berucap, namun Zul masih bersimpuh dihadapan wanita terbaiknya.
Lyra mengangguk, "Yes, I wan't ..."
____
Hai hai hai ...
Selamat hari Senin ...
__ADS_1
Terimakasih banyak atas kunjungannya, terus dukung karya othor pemes ...🙏🌹
Agar rajin update, dan terus menyelesaikan cerita ini disini. 🥰😘