
Lyra tidak menjawab pertanyaan putrinya. Saat ini dia hanya ingin menebus kesalahannya agar tidak memikirkan Dony kembali. Bagaimanapun Zul merupakan suami yang sempurna untuknya dan keluarga.
"Ma ..."
"Hmm ..."
"Nanti malam kita mau kemana? Apakah Papi dan Mama ada acara berdua?" tanya Kesy ingin tahu.
Lyra mengusap lembut wajahnya, "Kita makan malam bersama saja. Kamu nonton dulu yah? Mama mau mandi, gerah ..." kecupnya pada kening Kesy.
Kesy tidur bak putri raja, menikmati kemewahan dan keindahan kamar paviliun milik Zul. Kamar khusus yang didesain clasik modern yang sangat nyaman.
Saat mata gadis itu akan terlelap, kepala seorang wanita dewasa mengintip dari balik pintu paviliun yang tengah mencari keberadaan Lyra.
"Kesy, Mama mana? Kok, Tante di tinggal sendiri?" tanya Kenny menyelonong masuk kekamar iparnya.
Kesy mendudukkan tubuhnya, menunjuk kearah kamar mandi, bertanya dengan wajah bingung, "Emang Tante sejak kapan disini? Om Bima mana?"
"Pergi sama Mama Lince dan Mama Eni. Enggak tahu kemana. Kesy udah makan? Papi Zul mana sayang?" Kenny memilih duduk di sofa yang ada di paviliun lantai dua tersebut.
"Papi lagi tindakan. Semenjak Papi disini, sepertinnya Papi mengganti kan posisi Opa Ahmad. Karena Opa lebih sering menikmati hari dengan music nya. Kesy juga bingung sama kedua Opa itu," cerita Kesy tertawa kecil.
Kenny tertawa kecil mendengar celotehan Kesy.
Tak lama mereka saling bercerita, Lyra keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit dikepala.
Kenny tersenyum tipis, "Sepertinya ada yang habis pacaran ... Sebentar lagi Kesy akan mendapatkan adik nih, berdoa saja kembar ..." bisiknya tertawa kecil.
__ADS_1
Kesy tersenyum sumringah, menatap wajah sang Mama, meminta jawaban yang sesungguhnya, "Benarkah, Ma?"
Lyra tersenyum tipis, "Doakan saja. Semoga saja benar hamil. Oya Kak Ken ... Mama kemana? Kok, sepi di bawah?"
Kenny menarik nafas panjang, "Pada pergi semua. Enggak tahu kemana. Bang Bima enggak ngomong, kayaknya pada belanja."
Lyra mengangguk, "Mungkin aku minggu depan akan ke Jakarta, Kak. Dua hari lagi mengurus perceraian resmi," ceritanya sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer yang disediakan di kamar mewah itu.
Kenny tersenyum bahagia melihat perubahan pada adik iparnya, begitu banyak yang Lyra korbankan untuk kebahagiaan Bima dan dirinya. Mengorbankan kepentingan pribadi hanya untuk mempersatukan Bima dan Kenny kala itu.
Kenny melirik kearah Kesy yang sudah terlelap, dengan suara berbisik dia memanggil adik iparnya, "Lyra ... Bisa kita ngobrol sebentar? Mengenai Rusti dan Bara ..."
Lyra menautkan kedua alisnya, memilih duduk disamping wanita cantik itu.
"Ada apa Kak?"
Lyra berfikir sejenak, kembali mengingat wajah wanita muda yang dia lihat saat di pengadilan agama juga restoran milik Aldo. Wajah wanita yang sama saat gadis itu juga mendatangi kantornya.
Lyra menelan salivanya, menggelengkan kepala, menjawab hanya sekedar saja, "Sepertinya aku tidak mengetahui siapa wanita itu, Kak. Tapi beberapa kali aku melihat wajah yang sama. Hanya saja aku tidak pernah mengetahui hubungan mereka. Kalau bisa jangan pisah, Kak. Kasihan anak. Minta pindah saja Bara ke Manado, biar bisa kumpul lagi dengan keluarga."
Kenny hanya bisa pasrah, mendengar penuturan adik ipar sekaligus mantan Bara adik kandungnya.
"Emang kalian tidak pernah ketemu lagi? Bara itu sepertinya terlalu banyak rahasia, sama seperti kamu. Orangnya tertutup, enggan bercerita dengan Kakak atau pun Mama. Saat kamu menikah, dia marah dan nangis. Bang Bima sampe kesal sama dia. Makanya lagi perang dingin mereka berdua," cerita Kenny panjang lebar.
Lyra hanya membulat kan bibirnya, tidak ingin membahas Bara walau dulu pernah berencana akan hidup bersama.
Kenny berucap pelan, "Lyra ... Maafkan Kakak yah? Gara-gara kami hidup kamu yang dulunya akan bahagia bersama Bara, akhirnya harus seperti ini. Jujur ... Aku selalu bicara tentang ini pada Bima, tapi dia hanya menjawab sudah takdir. Tapi takdir kan juga bisa kita rubah. Mungkin jika kamu masih sama Bara, kamu tidak akan bertemu dengan pemuda tampan seperti Zul. Aku yakin Zul sangat mencintaimu, Lyra."
__ADS_1
Lyra mengangguk membenarkan perkataan kakak iparnya, "Sangat ... Sampai aku sendiri jadi bingung bagaimana cara membahagiakan dia sebagai suami. Karena dia enggak banyak bicara. Aku cuma bilang apa yang aku mau, langsung memberikan dengan nyata. Sampai-sampai aku bingung, gaji aku buat apa? Kan, Zul juga yang minta aku untuk memberikan tempat tinggal pada Dony, biar enggak jadi gelandangan diluar sana. Eeeh ... Aku malah diperas sama keluarganya lagi. Emang keluarga mereka enggak jelas, Kak."
Kenny sedikit terkejut mendengar cerita Lyra, "Jadi dia masih menggangu kamu? Kamu jangan terpancing sama dia, Lyra! Dony itu picik, otaknya duit saja. Bang Bima suka geram kalau udah bahas dia. Apalagi kata Mama, dia enggak pernah kasih uang belanja. Jangankan uang, anu-nya saja enggak mampu dia kasih, apalagi uang ...! Mama suka ngomong gitu. Emang bener begitu?" tanyanya mulai ingin mendengar cerita sebenarnya.
Lyra mengangguk membenarkan, sedikit mengalihkan pandangannya, memastikan agar putrinya tidak mendengar cerita rumah tangga yang telah hancur.
"Yah ... Dua tahun dia anggurin aku. Alasannya aku terlalu sibuk, dan enggak pernah ada waktu buat dia. Padahal semua aku lakukan untuk keluarga. Aku pulang kerja juga mikir untuk perut dia juga Kesy. Seenaknya dia bilang aku tidak pernah menjadi istri yang baik dan Ibu panutan buat Kesy. Apa kurang aku coba? Tega-teganya dia selingkuhin aku dengan tetangga sebelah rumah," cerita Lyra panjang lebar.
Sontak perselingkuhan Dony yang tak pernah di dengar Kenny membuat dirinya sedikit terkejut. Bagaimana mungkin, seorang pria tidak mampu memberikan nafkah lahir dan batin mesti berselingkuh dengan wanita lain.
"Woooowh ... Really!?"
Lyra menganggukkan kepalanya, menatap malas kearah lain, "Ooogh ya ... Kakak mau minum apa? Aku pesan sama orang bawah. Kasihan datang-datang ke paviliun aku enggak disuguhi apa-apa," tawanya berusaha mengalihkan pembicaraan dari pria yang bernama Dony.
Kenny menggelengkan kepalanya, melihat iparnya yang sangat polos. Tubuh yang terbalut daster bertali satu tanpa penyangga memperlihatkan keindahan, bahwa Lyra berhasil merawat tubuhnya.
"Hmm ... Wajar saja brondong muda tertarik sama kamu Lyra!" goda Kenny memuji keindahan tubuh adik iparnya yang terawat dan masih terlihat sangat cantik dan anggun.
Lyra tertawa kecil, "Mereka pada jalan-jalan, kita shoping saja yuuk? Ngapain dirumah. Aku mau menghabiskan waktu sama Kakak. Besok kalau aku sudah pindah ke Berlin, kita sudah jauh banget."
"Oooogh sayang ... Pasti kamu akan bahagia bersama pria yang lebih muda dan mencintaimu. Semoga saja dia bisa membimbing Kesy juga anak-anak kalian kelak," rangkul Kenny pada Lyra yang duduk kembali di sofa kamar paviliun.
"Amiin ... Doain yah? Tadi kata Pak Dokter Zul masa periode singkat itu tanda-tanda kehamilan. Karena pas dicek didalam emang udah bersih. Makanya badan ku pegel semua," rengek Lyra manja pada Kenny.
"Cieee ... Habis ehem, pantes seger banget," tawa Kenny.
Kedua wanita itu berteriak penuh perasaan bahagia. Berharap sebentar lagi Kesy akan memiliki adik.
__ADS_1
"Semoga saja ..."