Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Are you crazy....!?


__ADS_3

Pak Sardi menghampiri kedua anggotanya setelah bercerita banyak tentang perencanaan Zul dan Lyra yang akan di perjuangkan oleh Mama Eni. Hal yang akan menjadi bahan pertimbangan bagi instansi tempat Lyra bekerja dan berkarir disana.


.


Sudah hampir tiga minggu Lyra menemani Kesy di rumah sakit, sudah lebih dua minggu pula Zul menemaninya dan memperlakukan Lyra dengan sangat baik.


Pagi ini mereka akan kembali ke kediaman Lyra, tentu diantar oleh Zul dan Mama Eni yang sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kesy.


Zul menarik tangan Lyra membawa dia setelah mendapatkan izin dari Eni agar menunggu mereka.


Lyra yang hanya mengikuti langkah kaki Zul, sempat tertegun, melihat bangunan mewah yang berdiri kokoh dibelakang rumah sakit. Bagaimana tidak, sebuah rumah besar dengan beberapa pilar menopang bangunan bernuansa Eropa tersebut sangat memukau pandangannya selaku orang biasa namun cukup bahagia sebagai anak karyawan, begitu juga karirnya.


Lyra terdiam, jujur dalam hatinya semakin tidak karuan. Perasaan takjub, bahkan tidak menyangka akan melihat rumah semewah yang ada di hadapannya.


Zul menoleh kearah Lyra, melihat wajah cantik yang mematung kaku, "Lyra sayang, kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Ayo.... nanti kasihan Kesy pulang deluan sama Papa dan Mama kita." Tariknya pada jemari Lyra kembali mengikuti langkahnya.


Zul menekan remote control yang menempel di dinding pagar, membawa Lyra ke bagasi yang ada disebelah kanan pandangan mereka. Dia menekan tombol, untuk membuka satu unit city car merah metalik buatan Eropa yang masih menggunakan plat nomor profit.


Zul mengambil BPKB dari dalam mobil tersebut, kembali mendekati Lyra, "Ini sesuai janji ku padamu. Aku akan memberikan city car buat kamu. Aku mencintaimu, Lyra!" kecupnya pada kening wanita cantik itu dihadapan security yang menjaga rumah sakit sekaligus rumah keluarganya.


Sumpah demi apa.....? Ini satu kejutan yang membuat Lyra semakin merasa tidak nyaman, bahkan semakin bingung karena tak sanggup jujur pada diri sendiri, namun nyaman saat bersama.

__ADS_1


Selama dia berdekatan dengan Zul, sedikitpun pria muda yang pernah meminta hal aneh padanya saat video call, ternyata merupakan pria baik dan sopan. Menyentuh Lyra sangat hati-hati bahkan selalu meminta izin walau terkadang suka iseng. Mereka sudah melihat tubuh masing-masing melalui layar handphone, namun tidak melupakan bayangan tersebut dalam benaknya.


Lyra terdiam, dia tidak bisa menolak, namun sulit untuk menerima, dia menatap wajah Zul yang masih menatapnya, "Hmm.... apa ini tidak terlalu berlebihan, Zul? Kamu sudah banyak menanggung biaya kesehatan Kesy! Kini kamu malah ngasih aku mobil ini? Ini terlalu, apa kata orang-orang! Aku tidak mau menerimanya. Aku tidak pantas, maaf....!"


Zul yang tampak tenang saat mendengar penjelasan Lyra, memeluk tubuh ramping yang semakin lama semakin terasa lebih ramping, karena beban pikiran yang dipikirkan terutama masalah perceraian yang tak kunjung usai, mengusap lembut punggung wanita yang berhati malaikat tersebut. Tubuh kekar itu merasakan kehangatan dan kedamaian dari wanita dewasa itu, membuat dia semakin yakin pada Lyra.


"Dengar Lyra, aku sudah berjanji....! Akan memberikanmu city car. Ini seri terbaru aku pesan di kota ini, karena aku tahu kamu sangat membutuhkan nya. Terimalah, untuk kamu dan Kesy." Mohon Zul merenggangkan pelukannya.


Dia menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya, bibir merah muda yang basah semakin membuat Zul ingin menciumnya. Dia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Lyra tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Entah kenapa wanita dewasa itu, tidak menolak bahkan dia menyambut ciuman Zul, dengan remasan tangan di jas yang kenakan pria muda nan tampan tersebut.


Keduanya terlarut dalam ciuman yang sangat romantis, merupakan ciuman pertama diantara mereka selama bersama.


"I love you, Lyra....!" ucap Zul lembut.


Lyra menutup matanya, nafas terasa berat, menatap wajah Zul dengan bibir masih ternganga meminta lebih, "Please.... do it.... I want it, Zul!"


Lyra menatap mata indah yang juga menatapnya, menggigit bibir bawahnya, menatap penasaran bahkan sangat menggiurkan.


Zul mengusap punggung Lyra, mengalihkan perhatian pada mobil yang masih berada di bagasi dengan BPKB masih berada ditangan kekasihnya.

__ADS_1


Saat Lyra masih mengatur nafas dan perasaannya kala itu juga, Zul memberitahu bahwa mobil yang dia beri untuk kekasih hatinya merupakan city car terbaik di kota itu. Harga fantastis, sangat berbeda dengan mobil buatan Asia.


"Kamu suka sayang? Saat driver mengantarkan kerumah pagi itu, mereka tidak menemukan siapapun dikediaman mu. Ternyata Aldo memberitahu keadaan Kesy dan kondisi mobilmu yang mengalami tabrakan dikarenakan human eror. Aku khawatir, makanya langsung terbang hari itu juga. Aku meminta cuti lebih kurang tiga bulan, setidaknya kita bisa langsung menikah, dan kamu ikut dengan ku kesana." Jelasnya penuh semangat, bahkan tidak ada perasaan canggung ataupun keberatan.


Lyra tentu menolak, dia tidak ingin hidupnya seperti di atur oleh pria muda yang ada di hadapannya, "Apa....?! Kita menikah? Secepat itu kah, Zul? Apa yang dikatakan orang-orang! Bahkan kita baru mengenal, dan tidak mungkin menikah secepat ini. Bagaimana pekerjaan ku? Bagaimana sekolah Kesy? Bahkan kedua orang tua ku? Kamu akan membawa aku jauh ke Berlin. Are you crazy, Zul....!?"


Zul tertawa terbahak-bahak, menggelengkan kepalanya, "Kan, kita yang menikah? Kenapa mesti minta izin sama orang-orang? Emang mereka mau membiayai semua biaya pernikahan kita, hmm...!?"


Lyra mendengus kesal, "Ya.... tapi apa kata keluarga suami ku, Zul?" rungutnya.


Zul tersenyum tipis, "Aku ingin kamu bahagia Lyra.... dengan cara ku! Dengan dunia mu! Aku akan meminta Mama untuk mengurus pindah mu, ke instansi yang sama yang berada di Berlin. Kamu bisa mewakili negara kita disana. Kamu bebas melakukan apapun, tapi kamu tidak melupakan tugasmu sebagai seorang Istri Dokter seperti aku. Masih ada waktu lima tahun untuk kita menetap disana. Mungkin jika kamu baik dalam bekerja, cerdas, kamu akan mendapatkan promosi ke negara lainnya. Trust me.... kamu akan menjadi wanita hebat....!"


Lyra terdiam, membayangkan semua yang tidak mungkin terjadi. Semua yang diutarakan, Zul merupakan impiannya saat masih berstatus istri Dony. Namun, pria tua itu tidak pernah memberi suport pada Lyra karena selalu berkata, 'jangan menghayal, karena itu tidak akan mungkin'.


"Zul, tapi persaingan untuk mendapatkan posisi itu sangat sulit. Aku hanya lulusan S1, dan tidak memiliki banyak pengalaman untuk membantu di kedutaan? Ini enggak mungkin, Zul...!" tolak Lyra memangku tangannya.


Zul kembali mendekati Lyra, "Kenapa kamu terlalu banyak bicara sendiri? Tidak percaya pada kemampuan mu yang super hebat. Bahkan, memiliki kelebihan yang sangat luar biasa. Kamu coba dulu, aku akan membantu mu. Jangan pernah takut Lyra, tidak baik selalu berpikir bahwa kamu tidak mampu, sementara kamu belum mencobanya." Kecupnya lagi pada bibir basah wanita cantik itu.


Lyra yang kaget bibirnya dicuri oleh pria muda itu, memukul manja lengan Zul tersipu malu, "Kamu tuh suka banget mencuri yah....!! Coba sekali lagi, aku akan mencubit mu."


Mereka kejar-kejaran seperti pasangan remaja yang baru saja jadian, tanpa menyadari seseorang tengah menyaksikan pemandangan romantis itu.

__ADS_1


"Bajingan kau, Zul....!! Kembali ke Indo hanya untuk menikahi seorang janda seperti itu!" sesalnya menggerutu.


"Pak, bawa saya untuk mencaritahu tentang wanita itu?" tegasnya pada sopir pribadi.


__ADS_2