Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Bayi kembar ...


__ADS_3

Suasana kantor terlihat sepi, Lyra yang telah membuka amplop coklat pemberian Pak Luqman padanya di hadapan Pak Sardi, membuat wanita cantik itu tersenyum sumringah.


Bagaimana tidak, Lyra menerima semua dokumen yang di selipkan lima gepok uang pecahan seratus ribuan. Jika di hitung keseluruhan berkisar 50 juta bahkan lebih.


Lyra terdiam, memeluk Zul dengan erat karena tidak menyangka dapat rejeki sebanyak itu dari instansi tempat dia bekerja.


"Rejeki istri sholehah itu emang beda ... Semoga kamu betah di Berlin dan fokus mengurus aku juga Kesy serta ... Calon buah hati kita," bisik Zul ketelinga kanan Lyra.


Lyra mengangguk mengerti, sehebat apapun seorang wanita di luar sana, dia juga harus hebat dalam merawat dan menjaga suami serta anak-anaknya kelak.


"Makasih yah, hun! Tapi emang 50 juta cukup untuk hidup di Berlin selama tiga tahun?" tanya Lyra tampak bingung.


Zul tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan istrinya yang sangat menggelitik, bahkan terdengar lucu.


"Ini untuk akomodasi keberangkatan dan tempat tinggal sayang. Lagian kamu sudah baca berapa tunjangan kamu saat berada di Berlin? Itu jelas berbeda, sayang," geram Zul, lagi-lagi mencium puncak hidung istrinya.


Lyra menggeleng, tertawa kecil, berkali-kali dia mengusap dada suaminya dengan manja.


"Seumur hidupku baru sekali menginjak kan kaki di Berlin. Ini kali kedua aku menginjak Eropa, hun. Pertama saat masih gadis, kedua saat menikahi seorang dokter kandungan yang tampan seperti kamu," tawa Lyra semakin memberi arti kebahagiaan yang tiada tara.


Zul membantu membawa beberapa tas milik istrinya, menuju parkiran saat seluruh ruangan sudah terlihat sepi dan hanya tersisa beberapa karyawan yang masih ingin menikmati kebersamaan dengan rekan kerja.


"Pulang Bu Lyra?" sapa rekan kerja Lyra, seketika mereka melewati ruangan bawahan nya yang terbiasa menggoda, jika meminta paraf kecil saat hendak menerima laporan mingguan.


Lyra menoleh kearah tiga orang wanita tersebut, tersenyum sumringah melambaikan tangan, "Deluan yah? Pulang cepat, nanti suaminya pada nyariin," tawanya berlalu.


Zul merangkul pinggang istrinya dengan sangat mesra, membuat para wanita itu saling berbisik-bisik mengagumi ketampanan Zul, yang dapat di dengar oleh pasangan selisih 10 tahun tersebut.


Lyra memberikan semua bawaannya pada Zul, untuk di masukkan ke dalam bagasi dan menanti suami tercintanya membuka pintu mobil penumpang yang berada di depan.


Namun saat Lyra hendak melangkahkan kakinya untuk memasuki mobil, lengan wanita cantik yang ada dalam pengawasan Zul seketika ada yang menarik ...


PLAAAAK ...!


Tamparan keras yang di terima Lyra dari tangan seorang wanita bertubuh kurus, mendarat di pipi kanan wanita cantik itu dihadapan Zul.


"Aaagh!" ringis Lyra menoleh ke wanita tersebut.

__ADS_1


Zul yang melihat tangan wanita berhati iblis itu akan menjambak rambut istri nya, menahan pergelangan tangan kecil itu dengan keras.


Tapi kejadian tidak di sangka-sangka kembali terjadi, wanita jahanam itu mendorong tubuh Lyra yang masih shock mendapatkan serangan mendadak tersebut, membuat tubuh ramping itu terjerembab ke tanah.


BHUUUUG ...!


"Sayang!" teriak Zul mendorong tubuh Riche agar menjauh dari mereka berdua.


Lyra meringis kesakitan, memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sangat ngilu bahkan sakit yang tak mampu di ucapkan dengan kata-kata.


"Hunhh ... Sakit ... Hmfhsshh ..." rintih Lyra meremas kuat tangan suami, dan menggigit bibir bawahnya sangking terasa nyeri di bagian perut.


Zul yang tidak terima mendapatkan perlakuan itu, berdiri mendekati Riche yang juga meringis karena dorongan Zul lebih kencang.


Zul membungkuk, meremas pipi wanita laknat itu dengan sangat kencang, "Apa mau mu haaah? Abang mu sudah mati! Ooogh ... Aku baru ingat, jangan-jangan mobil yang di tabrak Dony adalah mobil pria yang tak ingin menikahi mu? Hmm ...! Jika terjadi sesuatu pada istri ku! Kau akan berurusan dengan ku, Nonya ...!" tegasnya menggeram kesal.


'Untung kau wanita ... Jika pria, sudah ku kirim kau ke neraka! Perempuan laknat. Aku akan segera memperkarakan kau wanita brengsek!'


Zul menghampiri Lyra, menggendong tubuh istrinya, yang terus menerus meringis menahan sakit.


Zul yang masih mendekap tubuh ramping istrinya, melihat darah di rok panjang istrinya.


"Aaaagh shiiit ...!" geram Zul, melepas tangan istrinya, bergegas menuju stir kemudi.


Tanpa menunggu lama Zul melajukan kendaraannya menuju rumah sekaligus rumah sakit keluarganya.


Tak selang berapa lama, mobil sport merah itu berhenti di ruang tindakan, dengan meminta pertolongan pada perawat yang tengah berjalan untuk memasuki ruangan.


Mereka bertindak lebih cepat, saat mengetahui Nyonya Zul mengalami pendarahan.


Tanpa menunggu lama, Zul memeriksa kondisi istrinya melalui USG lima dimensi yang tersedia di rumah sakit.


Betapa terkejutnya Zul, ternyata istrinya tengah mengandung anak mereka yang telah berusia lima minggu.


Tangan Zul bergetar hebat, memberi perintah pada salah satu suster yang berada di sana, agar memanggil Dokter spesialis kandungan yang menjadi rekanan mereka.


"Pinta Dokter Suryo kesini ..." tunduk Zul, mengusap lembut kepala istrinya.

__ADS_1


"Baik Dok ..."


Lyra meringis kesakitan, sakit yang teramat sangat, tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Sesekali Lyra mendesiis, memejamkan matanya, "Hunhh ... Kok sakit banget perut ku!"


Zul hanya mengecup lembut punggung tangan Lyra, "Bertahan sayang. Sebentar lagi dokter datang."


Lyra membuka matanya perlahan, menatap pada suaminya, "Kenapa bukan kamu? Kamu kan tahu aku kenapa. Ini sakit banget hun ... Aku enggak kuat," ringisnya.


Bukankah dokter juga manusia? Yang tidak kuasa melakukan tindakan pada keluarga tercinta, apalagi istri sendiri. Banyak dari spesialis lebih memilih berada di luar ruangan tindakan, dari pada menemani sang istri karena tidak tega melihat orang yang di cintai tersakiti atau bahkan lebih sedih dari itu.


Saat Dokter Suryo memasuki ruangan tindakan, melihat Zul yang masih duduk termenung menenangkan istrinya sendiri, bertanya pelan, "Kenapa Zul? Apa yang terjadi dengan istri mu? Kenapa tidak memanggil Papa Ahmad?" tanyanya.


Zul berdiri, hanya menjawab sedikit pelan, "Papa tidak pernah mau menangani Mama, apalagi menantu. Lakukan sesuatu, Dok. Ternyata istriku telah mengandung lima minggu, tanpa aku ketahui. Selamat kan anak ku."


Zul melepaskan tangannya dari Lyra, menoleh sekali lagi, dan bergegas menunggu di luar ruangan. Dia juga memberi kabar pada keluarganya.


Wajah tampan itu tengah dilanda kekhawatiran, harap-harap cemas, jantung berdegup kencang, bahkan tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan bayi nya.


Berita kehamilan Lyra yang sama sekali tidak dia ketahui, kini harus Zul ketahui karena mantan ipar yang membawa petaka.


'Baru saja aku akan memberikan kejutan pada Mama dan Papa, bahwa Lyra hamil. Tapi ternyata mesti di hadapkan dengan situasi seperti ini. Aku akan membuat perhitungan pada mereka. Mau sampai kapan mereka ingin menggangu istri ku? Apa lagi mau mereka dari Lyra? Bukankah toko milik Dony masih di tutup dan belum di berikan pada siapapun?'


"Aaagh ..." geram Zul mengusap wajahnya kasar.


Saat tengah menunggu keluarganya, Dokter Suryo keluar dari ruang tindakan.


Zul bergegas berdiri dengan perasaan cemas dan takut luar biasa, bagaimana pun ini yang pertama untuk nya, bahkan perasaan itu bercampur aduk seakan meledak jika terjadi sesuatu pada Lyra.


Dokter Suryo tersenyum sumringah saat berhadapan dengan Zul, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Hmm ... Selamat anak muda, Lyra mengandung baby kembar dan syukur kondisi tidak apa-apa. Pendarahan itu karena shock, tolong di jaga kesehatan Lyra, jangan terlalu banyak gerak, kalau bisa istirahat dulu," jelas Dokter Suryo.


Zul terdiam sejenak, wajahnya memerah tak kuasa menahan tangis bahagia yang terjadi dalam hidupnya.


"Kembar Dok ...!?"

__ADS_1


__ADS_2