
Delapan tahun kemudian ...
"Abang akan menikah dengan pramugari penerbangan Lutfhansa. Lusa Abang kenalin sama Kesy, janji?"
Adi mengangkat dua jari sebagai janji mereka sejak dulu.
Mendengar penuturan Adi, Kesy beranjak dari ranjang kamarnya, memilih menghindar dari pria yang sejak dulu menemaninya kalau libur dari pekerjaannya.
Kesy mendengus dingin, "Hmm ... Sejak kapan?"
Adi yang melihat perubahan pada Kesy, memilih duduk di bibir ranjang kamar gadis yang menjadi keponakannya selama ini.
"Maksudnya ...?"
Adi menautkan kedua alisnya, ingin mencari alasan sang keponakan berubah dingin.
Kesy mengalihkan pandangannya, menghela nafas berat, tak ingin melanjutkan cerita cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan.
"Sakit yah, Bang? Jatuh cinta sama pria yang ternyata tidak mencintai kita ..."
Adi semakin tidak mengerti apa yang di maksud Kesy. 'Ada apa dengan gadis ini? Dia sangat aneh jika aku dekat dengan wanita lain. Padahal, kita selalu bercerita tentang masalah pribadi, pekerjaan, dan semua ... Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah ...?'
"Hmm maksud kamu apa sih, sayang? Bukankah kamu juga sering cerita sama Abang, tentang cowok yang kamu suka di kampus? Kok, jadi marah mendengar Abang mau menikah? Memangnya Abang enggak boleh menikah? Jadi perjaka tua dong," tawa Adi mendekati Kesy.
"Ck, udah aaagh! Keluar sana! Jangan cerita nikah sama Kesy!" sesalnya.
Adi tersenyum, mengusap lembut kepala gadis kecil yang selalu tampak aneh, namun ceria saat bersamanya.
"Ya sudah, Abang keluar yah? Kamu istirahat. Jangan lupa oleh-oleh yang Abang bawa di pakai dong. Jauh-jauh Abang bawa dari Hawaii," tawanya segera berlalu meninggalkan kamar keponakan tercinta.
Namun, saat Adi akan membuka pintu kamar pribadi sang keponakan, langkah kakinya seketika terhenti. Merasa ada tangan yang melilit di perut sispack nya.
Adi mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak, 'Kenapa tangan gadis ini memeluk ku begitu erat? Kenapa dia ...?'
Adi membalik kan tubuhnya, menatap lekat kedua bola mata Kesy. Mencari jawaban dari pertanyaan yang tiba-tiba menari dalam benaknya.
Kesy menelan salivanya susah payah, wajah mulus itu seketika berlinang air mata, sesekali menggelengkan kepalanya. Bibir mungil yang selalu terlihat basah hanya bisa berucap perlahan.
"Pilot, I love you ..."
Adi terdiam, dadanya bergemuruh seketika. Bahkan kedua bola matanya menatap penuh selidik akan cinta yang di ungkapkan sang gadis kecil.
"Say it again, you love me ...?" (Katakan sekali lagi, kamu mencintai aku?)
__ADS_1
Kesy mengangguk perlahan. Mata indah itu masih terus mengeluarkan butiran bening, menandakan dia serius dalam berucap.
Adi tak mampu berkata-kata, dia menghela nafas panjang, tersenyum tipis menatap wajah cantik yang sangat dia kagumi sejak Kesy berusia delapan tahun.
Perlahan Adi mendekatkan wajah mereka, mengecup lembut bibir basah yang merah merona, mengeluarkan aroma vanila dan terasa sangat manis.
Tangan Adi menahan tengkuk gadisnya agar mencium bibir mungil itu lebih dalam, karena perasaan penasaran semakin menyeruak saat bibir itu mengeluarkan semacam suara indah yang menggairahkan ...
Mata keduanya saling tertutup rapat, terlena akan ciuman pertama mereka, membuat tangan keduanya hanya mampu saling meremas erat di baju yang mereka kenakan, tanpa menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di belakang kedua-nya.
BRAAAK ...!
Seketika ciuman kedua insan itu terlepas, karena dobrakan pintu dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Kesy terlonjak kaget, begitu juga Adi. Dada mereka semakin berdegup keras, saat menyadari bahwa ada yang melihat ciuman indah itu.
"Mama?"
"Kak Lyra ..."
PLAAAAK ...!
Lyra menampar wajah Adi sangat keras, tak menyangka bahwa adik iparnya setega itu kepada putri kesayangannya.
Adi tidak ingin melihat Kesy di marahi sang Mama. Dia memilih berdiri paling depan untuk melindungi Kesy yang tampak ketakutan berdiri di belakangnya.
"Kak, Adi bisa jelaskan!"
Lyra benar-benar berang melihat putri kesayangannya, berciuman mesra dengan adik iparnya yang akan menikah.
Wanita yang sudah menetap di Berlin selama beberapa tahun, menyeret Adi untuk segera keluar dari kamar putrinya.
"Laki-laki brengsek kamu!! Kamu tahu siapa Kesy? Dia putri ku! Dia anak kesayangan ku! Tega kamu merusak masa depan keponakan kamu sendiri!!!" teriak Lyra lantang.
Zul yang tidak ada di rumah kala itu, karena melakukan perjalanan dinas, membuat Lyra mengambil keputusan untuk segera mengusir adik iparnya dari kediamannya.
"Kak, Adi bisa jelaskan! Tolong dengarkan Adi!" ucapnya agar Lyra tenang.
"Diam kamu!! Kakak akan segera menghubungi Papa dan Mama, karena kamu berniat untuk merusak Kesy!" pekik Lyra berapi-api.
"Ma!" Kesy berusaha menyentuh lengan untuk menenangkan Lyra, namun secepat kilat tangannya menepis sang putri karena telah melakukan hal yang tidak di sangka-sangka.
Lyra menatap wajah Adi garang. Bola matanya membesar, bahkan tidak ingin melihat wajah itu lagi. Tangannya bergetar mengusir Adi dari kediaman nya.
__ADS_1
"Pergi dari rumah ku! Pergi!!!" teriak Lyra lantang.
Adi terdiam, wajah tampannya merah padam, mendengar suara lantang Lyra yang telah mengusirnya, tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.
Lyra mendorong tubuh kekar itu, sehingga membuat Adi terjerembab di lantai ruang tamu apartemen Abangnya sendiri.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri kamu! Sangat berbeda dengan Abang mu! Kalakuan mu sama seperti sampah yang mau berbuat jahat dengan keponakan sendiri!" tegas Lyra.
"Kak, dengarkan Adi dulu," mohonnya.
"Diam! Lebih baik kamu pergi dari sini! Sebelum security yang akan menyeret mu dari kediaman ku!"
Adi menuruti semua ucapan Lyra, menunduk hormat karena perasaan bersalah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Kali ini dia hanya bisa pasrah, melihat Kesy masih menangis di balik pintu kamar tanpa mau mendekat dengannya.
Adi tersenyum tipis pada Kesy, melambaikan tangan perlahan, segera meninggalkan kediaman keluarganya.
Saat Adi akan memasuki lift apartemen, suara Kesy kembali terdengar serak berucap pelan ...
"Pilot, I love you."
Hanya kalimat itu yang terngiang-ngiang di telinga Adi.
Lyra kembali melihat tajam kearah putrinya, mendekati anak gadis yang masih berusia 17 tahun.
"Masuk ke kamar mu!" Perintah Lyra lantang.
Kesy menutup pintu kamar rapat, menangis sejadi-jadinya, meringkuk dalam kesedihan di balik pintu kamar.
"Bang ... Kesy cinta sama Abang. Jangan menikah dengan siapapun. Apapun akan Kesy lakukan. Kesy tahu Abang cinta ..."
Namun, saat bersamaan handphone milik Adi berdering di ranjang Kesy. Bergegas gadis itu mengusap wajahnya, melihat siapa yang menghubungi sang pujaan hati.
'Laura ...'
'Siapa Laura? Apakah ini calon istri Bang Adi?'
Kesy menjawab panggilan telepon dari seberang sana. Tanpa banyak bicara, dia segera menutup telfon tersebut.
Pikiran Kesy menerawang seketika, "Aku akan membatalkan pernikahan mereka! Aku harus memperjuangkan Bang Adi. Aku tidak peduli siapa dia. Aku jatuh cinta padanya. Bang, tunggu Kesy."
Kesy menghubungi nomor telepon lain yang berada di handphone tersebut, bersiap-siap untuk segera menemui Adi di suatu tempat setelah mendapatkan jawaban dari nomor itu.
Tentu dengan membohongi Lyra, untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
__ADS_1