Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Menukar kebahagiaan istri sendiri


__ADS_3

Suasana hati Lyra semakin tenang setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan Iqbal. Sahabat masa sekolah dan yang ternyata teman sepermainan Aryo semasa menyelesaikan kuliah mereka untuk mencapai gelar profesor.


Kurang dari 20 menit, Lyra memarkirkan mobil di area parkir halaman kantor tempat dia bekerja. Hari ini dia mendapatkan laporan keuangan daerah yang akan dikirim ke pusat.


Lyra membukakan safety belt Kesy, mengusap lembut kepala putrinya, yang tampak tenang saat tiba di kantornya.


"Kita turun sekarang?" tanya Lyra mengusap lembut kepala Kesy.


Kesy mengangguk bahagia, kembali bertanya, "Apakah Mama dan Papa akan bercerai? Terus, jika kalian bercerai apakah sudah tidak bisa bersama lagi seperti di sinetron itu?"


Lyra tersenyum tipis, wajahnya berubah seketika, ada kesedihan didalam hatinya. Bagaimana mungkin gadis sekecil Kesy akan mengalami keadaan seperti ini. Keluarga broken, dan tidak ada kehangatan keluarga lagi saat dia dewasa.


Aaaagh.... bagaimana ini? Apakah Kesy akan membenciku? Jika aku benar-benar berpisah dari Dony? Apakah mungkin, aku tidak akan menikah dengan pria lain lagi? Batin Lyra saat menatap lekat wajah tak berdosa putrinya.


"Tidak-tidak-tidak, aku tidak akan pernah percaya pada pernikahan lagi."  Sejenak lamunannya kembali teringat pada pria muda diseberang sana, "Zul... ya Zul.... aaaagh, Zul." Hanya nama itu seketika bersemayam dalam benaknya.


Lyra mengecup kening putrinya, "Dengar sayang, Mama dan Papa berpisah karena tidak bisa untuk terus bersama. Suatu hari kamu pasti mengerti dan paham," ucapnya.


Kesy tersenyum, kemudian bertanya lagi, "Apakah Tante Nela menjalin hubungan dengan Papa? Seperti kisah yang sering aku lihat di 'ku menangis' itu, Ma."


Lyra tertawa kecil, mendengar celotehan Kesy mampu menghibur dirinya selaku wanita yang teraniaya.


"Kita turun saja. Nanti Mama terlambat, belum absen!" goda Lyra pada puncak hidung putrinya.


Mereka turun dari mobil, beberapa rekan Lyra mendekatinya hanya untuk sekedar menyapa Kesy.


Suasana semakin terasa hangat dan akrab, Kesy sangat ceria saat beberapa rekan kerja memberikan cemilan pada putri kesayangan sahabatnya.

__ADS_1


Lela merangkul bahu Lyra, sedikit berbisik penasaran ketelinga sahabatnya, "Kenapa kamu sama Dony? Aku jadi penasaran.... apa keluarganya masih terus mengganggu?" tanyanya.


Lyra mengangguk, "Aku akan mengajukan gugatan perceraian hari ini. Kamu tahu untuk mengurus perceraian secara resmi di kita itu butuh proses yang panjang. Nggak semudah itu baju coklat ini menyandang status janda atau duda dengan mudah. Banyak prosedurnya. Makanya aku mau konsultasi dulu sama teman sekolah ku. Mereka memeras ku."


Lela menutup bibirnya, "Apa Kesy sudah tahu tentang perceraian kalian? Terus, bagaimana masalah hak asuh anak? Bukankah Dony sangat dekat dengan Kesy?"


Lyra menatap malas pada Lela, perasaan bahagianya terasa seperti di patahkan oleh sahabatnya, "Anak ku masih kecil, Kesy masih dalam pengasuhan aku, jika dia mau membawa putrinya silahkan. Karena aku tidak akan melarang. Tergantung anaknya saja. Yang bermasalah aku dan Papanya, bukan Kesy!"


Lela mengangguk setuju, "Maaf.... aku terlalu ikut campur," ucapnya pelan.


Lyra menggelengkan kepalanya, memilih berpisah dari Lela menuju security untuk mengambil dokumen titipan Sisi.


Setelah menerima dokumen dari security, Lyra membawa Kesy ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memang harus dia selesaikan segera.


Lyra memberi ruang untuk Kesy bermain game online melalui handphone miliknya, sehingga gadis kecil itu terlelap di sofa ruangannya.


Saat Lyra tengah sibuk berkutat di depan laptop, seketika handphone yang berada ditangan putrinya berdering. Dia bergegas mendekati Kesy, melihat nama siapa yang menghubunginya, sedikit berbisik menautkan kedua alisnya, "Zul....!?"


["Ya halo....!"]


["Hai, apa kabar?" tanya Zul di seberang sana.]


["Aku baik Zul.... kamu dimana? Kok tumben tadi pagi enggak menghubungi aku?"]


["Hmm, kebetulan ada kelas pagi. Makanya aku enggak sempat hubungi kamu. Sekarang kan aku hubungi kamu," tawa Zul.]


["Ohh ya....! Zul, aku pengen cerita sama kamu. Tapi nanti deh, saat aku udah sampai dirumah saja. Karena kalau sekarang aku masih di sibukkan dengan laporan."]

__ADS_1


["Bagaimana, kalau nanti malam kita video call. Bareng anak kamu juga. Kita makan bareng-bareng. Aku disini kamu disana. Setidaknya, biar lebih deket."]


Lyra menggelengkan kepalanya, menautkan kedua alis, tertawa geli mendengar penuturan Zul diseberang sana.


["Kamu ngajakin, kayak kita sebuah keluarga yang harmonis. Padahal kenal juga enggak. Udah aaagh.... aku enggak mau menghayal dulu. Nanti malam aja kita sambung yah? Aku mau kerja dulu, makan siang sama teman ku, dan juga menyelesaikan urusan pribadi ku dengan kepala bagian."]


["Oke...... jaga kesehatan kamu. I miss you, Lyra...!"]


Lyra tertawa kecil.


["Hmm, jangan mulai lagi. Aku kerja dulu!"]


Lyra menutup telfonnya, membiarkan tergeletak di meja kerja. Sementara matanya masih fokus mengarah pada laptop, sesekali melirik kearah Kesy yang masih terlelap.


Saat Lyra tenga fokus pada pekerjaannya, terdengar suara ketukan pintu. Dia sedikit menoleh, melirik jam tangan berfikir sejenak, "Siapa? Sepertinya aku tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini, kecuali Aryo dan Iqbal. Hmm..."


Lyra berdiri mendekati pintu, dan membuka lebar daun pintu. Saat dia membuka pintu, nafasnya seketika mendidih karena kehadiran Dony dihadapan nya tanpa rasa malu.


Lyra menatap, dan bertanya dengan ketus, "Ada apa lagi siih kamu kesini, Don? Nggak capek apa? Kamu gangguin aku terus? Bukannya kamu udah bahagia bersama wanita tetangga yang cantik mempesona itu. Pergiii..... bahagia kan dia. Jangan ganggu aku lagi! Aku yang akan menggugat mu, dan hari ini akan aku ajukan ke kepala bagian yang mengurus perceraian kita."


Mendengar ucapan Lyra, Dony seolah-olah menjadi pemenang, "Hmm.... sepertinya sebentar lagi rumah itu menjadi milikku. Dan akan aku tempati bersama Kesy," kenangnya dalam hati.


Semua itu hanya hayalan yang menari-nari di kepala Dony. Tidak seperti itu, untuk benak Lyra. Dia justru tengah berfikir dalam benaknya, "Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun, termasuk mobil yang kamu pakai saat ini."


Dony sedikit mendongakkan kepalanya, mencari keberadaan Kesy putri kesayangan, "Aku akan membawa Kesy ke rumah Kak Rita. Mereka tidak ingin kamu mendidik Kesy jadi enggak benar. Masak kamu membawanya duduk sama Om-om senang. Kalau kamu mau selingkuh, mau pacaran silahkan.... tapi jangan bawa anak...!" ucapnya asal bicara.


Lyra yang tidak terima atas tuduhan yang Dony sampaikan tampak menggeram, "Haaah....?? Aku selingkuh? Pacaran? Bukannya kamu yang seperti itu? Pacaran dengan tetangga yang menyerupai tante girang, bahkan bernama nenek lampir, karena memiliki wajah yang sangat menyeramkan dan menjijikan. Tega kamu menukar kebahagiaan istri sendiri dengan wanita sejenis itu. Dimana otakmu....!?" kesalnya.

__ADS_1


Mereka saling menantang tanpa ada yang ingin disalahkan.


"Laki-laki brengsek....!!!"


__ADS_2