Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Bahan ghibah


__ADS_3

Para warga perumahan semakin geram melihat Lyra yang seakan-akan tidak menghargai Dony sebagai suami, setelah mendengar penuturan pria berusia 40 tahun tersebut setelah kepergian Lyra, yang sengaja menguncinya di luar beberapa hari.


Wajah Dony tampak semakin kusut karena tidak memiliki uang, hingga menjadi bahan ghibah bagi warga mereka.


Bagaimana mungkin seorang istri tega membiarkan suaminya luntang-lantung di luar sementara dia bersenang-senang di luar sana sebagai pejabat pemerintahan, bagian keuangan lagi. Kalimat-kalimat itu yang mulai santer terdengar di area perumahan Lyra dan Dony, tanpa mau mendengar apa sebenarnya yang terjadi dalam kisruh rumah tangga mereka berdua.


Terkadang manusia hanya bisa mendengar secara sepihak, tanpa mau mendengar secara langsung dari wanita terzolimi yang menjadi korban oleh suami sendiri.


Dony membawa Nela ke kediaman wanita yang memang tampak cantik di matanya, namun memiliki hati iblis dalam merebut perhatian seorang pria kesepian yang mengaku sebagai pemilik rumah sebelah.


Nela memandang kearah Dony saat mereka masuk kedalam rumah, "Kenapa kamu tidak di izinkan masuk ke rumah mu sendiri, sayang? Apakah istrimu itu seekor serigala betina yang sangat menyeramkan seperti tadi? Dia meremas tangan ku sangat keras, hingga lecet karena memiliki kuku yang panjang," ceritanya.


Dony mengambil kotak P3K untuk mengobati luka, yang di sebabkan oleh mantan istrinya sambil tersenyum dan berkata, "Lyra itu egois. Mana ada pria yang mau sama dia. Kamu lihat saja, penampilannya seperti Nyonya besar. Padahal dia itu hanya seekor ular betina yang selalu menggoda atasannya. Makanya dia naik jabatan, uang berlimpah dan memiliki segalanya. Lebih baik kamu daripada mantan istri ku, sayang," ucapnya memberi satu kecupan pada punggung tangan Nela.


Nela serasa terbang tinggi ke angkasa, karena di perlakukan Dony seperti ratu, bahkan permaisuri beberapa bulan kebersamaan mereka.


Nela memeluk Dony, meminta pria bertubuh kurus itu untuk segera membawanya kembali ke kamar peraduan mereka.


Namun ditolak oleh Dony.

__ADS_1


"Kamu tidak mau kita melakukannya lagi, sayang?" tanya Nela sedikit berbisik dan menggoda.


Dony menaikkan kedua alisnya, "Jangan sekarang yah? Nanti malam saja. Tangan kamu masih luka. Hari ini aku akan mengurus toko dulu, sebelum Lyra mengambil tempat usaha ku. Jika toko ku di tutupnya dan tidak ada pemasukan, nanti uang ku tidak ada, dan kamu meninggalkan aku, sayang."


Ucapan Dony yang seperti itu, membuat Nela sedikit berfikir dalam hati, "Apa benar rumah sebelah ini miliknya? Jika benar, pasti dia akan memberikannya pada ku. Dan aku dapat terlepas dari Panglima yang tidak pernah memberikan kepuasan padaku. Hmm, aku akan menjadi Nyonya besar untuk pria setampan, Dony," senyumnya.


Dony berkali-kali menghubungi Lyra, agar segera mengirimkan uang padanya, karena mobil pribadi pemberian istrinya tersebut kehabisan bahan bakar.


Dony melihat layar handphone miliknya, berharap ada laporan M-banking yang masuk, sebagai pemberitahuan bahwa transfer berhasil seperti biasanya, "Kemana wanita sampah itu. Atau aku akan mengambil Kesy untuk memerasnya. Lihat saja, jika dia tidak membalas pesan ku! Aku akan merebut Kesy dan mengantarkannya ke rumah Kak Rita," gumamnya.


Dony masih terus dipeluk oleh Nela, wanita kesepian yang telah lama di tinggalkan suaminya, bahkan tidak pernah di ketahui siapa suami wanita yang berada dalam dekapannya tersebut.


Nela melepaskan tangannya dari perut tipis Dony. Menatap pria yang berada di dalam rumahnya penuh selidik, "Apa kamu tidak memiliki uang seperti kemarin? Kemana uang kamu? Bukannya kamu laki-laki kaya yang memiliki rumah dan mobil, bahkan toko sparepart? Masak untuk beli bensin enggak ada uang?"


Dony menelan ludahnya kasar, menjawab gugup pertanyaan Nela, "Kan aku udah kasih tahu sama kamu, sayang. Aku sudah membayar uang sekolah Kesy, dan menggugat cerai Lyra. Aku hanya pinjam uang kamu sebentar, tidak lama...!" bohongnya.


Nela menghela nafas panjang, meraih dompet yang ada didalam tas kecil yang terletak di meja dihadapan mereka, mengambil beberapa lembar uang pecahan merah, memberi pada Dony dengan wajah cemberut dan kasar.


"Nih, kembalinya nanti malam. Jangan coba-coba mau jadi pria tidak berguna dihadapan aku. Aku paling benci sama laki-laki miskin. Kamu harus segera mengurus dan mengusir wanita itu. Aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya!" ucap Nela kasar.

__ADS_1


Dony tersenyum sumringah, menerima uang pemberian Nela dengan hati sedikit kesal karena wanita di hadapannya sangat kasar jika sudah membicarakan uang. Berbeda dengan Lyra yang sangat memberikan semua kebutuhannya, tanpa bertanya bahkan meminta kembali. "Aaaagh....!!" sesalnya.


Bergegas Dony meninggalkan Nela di kediaman wanita yang merupakan selingannya.


Terdengar oleh Dony, pembicaraan Pak ketua dengan seorang security saat melihat dia keluar dari kediaman Nela sang istri Panglima.


"Bagaimana mungkin kita akan menggerebek kediaman Ibu Nela. Sementara kita tidak memiliki bukti yang akurat mereka menghabiskan waktu bersama. Bagaimana nanti malam kita coba selidiki, karena setahu saya Bu Lyra akan kembali ke rumahnya," ucap Pak Ketua pada security.


Dony menaikkan kedua alisnya, menoleh kearah Pak ketua yang merupakan salah satu orang yang di segani disana, "Apakah saya sangat menggangu pikiran kalian, Pak? Sehingga menjadi bahan ghibah yang sejak tadi kalian omongin. Kalau kalian mau tahu, apa yang dilakukan Lyra pada Nela, mungkin kalian akan mengusir Bu Lyra dari sini. Karena dia sudah resmi saya ceraikan, dan rumah ini akan menjadi milik saya."


Pak ketua menggelengkan kepalanya, baginya dia lebih mengenal Lyra lebih dulu di perumahan itu, di bandingkan Dony yang baru delapan tahun menjadi suaminya.


Pak ketua menertawakan Dony sembari berbisik pada security, "Bagaimana bisa seorang suami berkuasa pada harta istri. Usahanya saja tidak jelas, malah mau ngaku-ngaku rumah itu milik dia!"


Mereka tertawa terbahak-bahak, namun tidak di hiraukan oleh Dony, sehingga dia meninggalkan perumahan tempat dia tinggal.


"Sial mereka semua! Bisa-bisanya mereka mengejek dan menertawakan aku. Lihat saja, jika rumah itu berhasil aku kuasai, akan aku ganti Pak ketua itu dengan diri ku sendiri," geramnya sambil memukul keras stir kemudi.


Wajah yang dulu terlihat sangat tampan, kini lebih kurus bahkan terlihat seperti seorang pria yang tidak memiliki aura sama sekali. Dony melajukan kendaraannya, membelah kota kecil tersebut menuju toko yang dia kelola selama ini.

__ADS_1


Saat tiba di depan toko, mata Dony melihat beberapa orang Sales yang berada disana, dia menggeram kesal sembari berteriak, "Aaaah.... bagaimana aku akan membayar hutang toko pada mereka. Sementara uang saja aku tidak punya. Brengsek.... aku harus meminta pada Kak Rita, jika Lyra tidak memberikan uang pada ku.....!!" kesalnya meremas kuat rambut sendiri.


__ADS_2