
Adi terdiam mendengar penjelasan dari Edward. Kali ini dia sangat prihatin pada kondisi Laura. Namun Kesy sudah hidup dengannya dalam ikatan pernikahan.
"Aaaagh ... Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus diam-diam menemui Laura? Hmm ... Tidak-tidak-tidak, aku tidak ingin Kesy mengetahui, atau mencari-cari keberadaan ku saat berada di Singapura. Sial ...! Aaaagh damn it!" sesalnya dalam hati penuh emosi karena kebodohan seorang Laura.
Akan tetapi, disisi lain ... Kesy yang terjaga dari tidurnya, mencari keberadaan Adi.
Zul yang melihat kebingungan sang putri kesayangan, menoleh kearah Kesy, kemudian bertanya, "Ada apa sayang? Bang Adi lagi sama pilot di kabin depan. Mungkin sebentar lagi kembali," senyumnya.
Kesy mengangguk, ia menguap dan menggeliatkan tubuhnya, "Pi ... Lapar ..." rengeknya mengusap lembut perut ramping itu dihadapan Zul.
Zul menekan tombol, agar pramugari menghampiri mereka.
Tentu tidak harus menunggu lama, salah seorang pramugari wanita menghampiri Zul yang duduk tak jauh dari putrinya.
Zul melirik kearah Kesy, kemudian bertanya, "Mau makanan apa sayang? Indo atau ...?"
Zul kembali melihat pada pramugari yang sudah menunduk ke arahnya kembali berkata ...
"Just bring the indo food that is there, and I ask for a cup of coffee without sugar ... Dessert don't forget. Thank you."
(Bawakan saja masakan Indo yang ada, dan saya minta secangkir kopi hitam tanpa gula ... Makanan penutup jangan lupa. Terimakasih.)
Pramugari itu mengingat menu yang di sediakan dalam penerbangan mereka, kembali menjelaskan pada Zul ...
"Sorry Mister. The one with rice might be on the GA plane, if we used to replace rice with potatoes. We have a potato menu, which is covered in milk and cheese. Complete with fish filet, grilled and covered with black pepper. Want to try it?" jelasnya.
(Maaf Tuan. Yang ada nasi mungkin di pesawat GA, kalau kita biasa menggantikan nasi dengan kentang. Kita ada menu kentang, yang di balur susu serta keju. Di lengkapi filet ikan, yang di bakar dan dibaluri lada hitam. Mau mencobanya?)
Zul kembali menoleh kearah Kesy, menaikkan kedua alisnya, "Tidak ada nasi, hanya kentang dan filet ikan bakar. Apa kamu mau mencobanya?"
Kesy mengalihkan pandangannya, jujur dia tidak suka menggunakan pesawat asing karena tidak memiliki banyak pilihan menu makanan. Pihak penerbangan hanya menyediakan masakan khas barat ...
__ADS_1
Sangat berbeda jika menggunakan pesawat komersil Garuda Indonesia. Semua menu ada disana. Sehingga sangat memanjakan penumpang yang merindukan nasi serta lauk pauk yang sangat menggugah selera.
Kesy menganggukkan kepalanya, tanda setuju, karena perutnya terasa sangat lapar.
Kesy menahan lengan pramugari yang akan beranjak dari tempatnya berdiri, "Ooogh sorry miss, can I ask your help?"
(Ooogh maaf Nona, bisakah aku meminta bantuan mu?)
Pramugari kembali menundukkan kepalanya, "Yes Miss. How can I help you?"
(Bisa Nona. Apa yang bisa saya bantu?)
Kesy menarik lengan pramugari itu, membisikkan ketelinga pramugari bule nan cantik rupawan tersebut ...
"Hmm I beg you, if you find Bang Adi, tell him that Kesy his wife is awake, I need him ..."
(Hmm ... Saya minta tolong, jika kamu menemukan Bang Adi, katakan padanya bahwa Kesy istrinya telah terjaga ... Saya membutuhkannya ...)
Pramugari cantik itu tersenyum kecil, mengusap lembut kepala Kesy, mengangguk, "Yes I will do ..."
Kesy tersenyum malu, ia menutup wajah cantiknya dengan selimut.
Membuat pramugari tersebut tertawa kecil melihat tingkah laku Kesy yang masih kekanak-kanakan harus jatuh hati pada pilot yang hanya setia pada satu hati. Ia berlalu kembali melakukan tugasnya, untuk mempersiapkan semua permintaan penumpang pesawat.
Saat makanan mereka ada didepan mata, Kesy dan Zul menikmati hidangan tersebut sambil bercerita tentang rencana setelah kembali dari kota kecil yang terletak di Sumatra.
"Oya Kes ... Apa rencana kamu selanjutnya? Apakah akan tetap stay di Berlin bersama Papi dan Mama, atau pindah ke apartemen Abang di Munich, sampai Adi benar-benar di terima di penerbangan dalam negeri?"
Kesy hanya menggelengkan kepalanya, jujur mereka belum membicarakan semua rencana kedepannya dalam pernikahan ini. Mau tetap stay sama kedua orangtuanya, atau bahkan meninggalkan Lyra ...
"Abang hanya mengatakan akan membawa Kesy jika penerbangan Pi. Hingga Kesy hamil, mungkin akan stay sama kalian dulu," jelasnya namun sedikit ragu.
__ADS_1
Zul mengangguk mengerti, baginya dimana pun Kesy akan tinggal, dia sebagai orang tua sambung, akan terus mengawasi wanita manja ini.
Tak lama mereka berbincang-bincang, Adi tiba-tiba muncul dari arah kiri Kesy.
Gadis itu merengek, ketika melihat sosok suaminya mengusap lembut kepala istrinya yang semakin lama semakin manja.
Adi berbisik ketelinga Kesy, "Ketika tiba di Singapura, kamu ikut sama Papi dan Mama dulu, yah? Abang ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi kamu deluan saja ke Jakarta, lusa Abang kembali. Ingat, kamu jangan capek-capek. Istirahat saja, karena begitu Abang tiba, kita langsung dihadapkan dengan resepsi yang sangat melelahkan ..."
Kesy gadis lugu yang sangat percaya pada semua omongan Adi, mengangguk patuh. Dia tidak ingin mempertanyakan apapun jika sudah menyangkut tentang pekerjaan suaminya.
Zul yang mendengar sedikit obrolan Adi dan Kesy, walau samar, menaruh curiga pada adik tirinya tersebut. Kali ini ia tidak akan membiarkan pria itu pergi tanpa pengawalan.
Zul mencolek lengan putri kesayangannya, "Jangan biarkan Bang Adi sendiri di Singapura! Temani dia, kami menunggu kalian di rumah! Walau apapun yang dia katakan, jangan mudah percaya." geramnya melirik kearah Adi.
"Abang tahu apa rencana mu! Jangan main api! Pulang, atau tinggalkan!" ancamnya dengan wajah garang.
Adi terdiam mendengar penuturan yang tegas dari bibir Zul. Dia menundukkan kepalanya, kali ini ia tak mampu untuk berkata-kata, karena semua yang ada di kepalanya, dapat terbaca oleh Zul.
Adi mengalihkan pandangannya kedepan, tak menghiraukan Kesy yang tampak kebingungan. Tangannya hanya menggenggam erat jemari Kesy, namun pikirannya terbang melayang entah kemana.
Kesy hanya mengalihkan perhatiannya, melihat sang Mama yang sudah mulai bergerak untuk bangun dari tidurnya.
Lyra mengecup lembut lengan Zul, meminta pada suaminya untuk menyuapkan makanan yang ada dihadapan pria tersebut.
"Hmm ... Minum air putih dulu sayang, jangan langsung makan," goda Zul pada puncak hidung istrinya.
Lyra menuruti semua perintah suaminya, kemudian berbisik ketelinga Zul, "Kesy sama Adi berantem lagi hun?"
Zul menggelengkan kepalanya, "Adi mau menemui Laura di Singapura, jadi meminta Kesy untuk kembali bersama kita! Aku tidak ingin dia berbuat macam-macam, atau bahkan bertindak bodoh seperti yang dia lakukan beberapa jam lalu ..." jawabnya pelan.
Lyra menaikkan kedua alisnya, "Maksudnya? Emang ada kejadian apa? Kok aku enggak tahu?"
__ADS_1
Zul menghela nafas panjang, "Kadang cinta itu menjadikan seseorang bertindak bodoh. Sama seperti kamu! Sudah di ceraikan sama Dony, masih saja memberikannya uang ... Apa bukan bodoh namanya? Dikhianati, di bohongi, masih saja mengharapkan, tanpa melihat orang yang disampingnya dengan sabar menjaga dan memperhatikan nya. Entahlah ...!" sesalnya.
Lyra menepuk lengan Zul, "Kalau kesal sama Adi, yah Adi saja! Jangan bawa-bawa aku. Gemes ...!!"