Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
'Membuat suamimu jatuh hati ...'


__ADS_3

Kedua insan yang di mabuk dalam cinta yang hangat, tak mampu menahan rasa yang berbeda di ciptakan Lyra agar membuat suaminya kembali seperti dulu.


Zul pria yang baik, hanya menikmati perlakuan istrinya dengan cara berbeda.


Lyra memeluk erat tubuh kekar suaminya, setelah melakukan hal luar biasa yang membuat pria muda itu tak berkutik mendapatkan kepuasan dari istri tercinta.


Berkali-kali Zul mengusap lembut punggung istrinya, memejamkan mata atas keindahan yang di ciptakan Lyra.


"Makasih yah sayang ... Setidaknya aku sedikit lega ..."


"Makasih untuk apa, hun. Aku istrimu, dan aku harus melayani mu semampu aku," bisiknya pelan.


Zul masih menikmati rasa hangat tubuh istrinya yang menempel di miliknya.


Sayang, hanya kata itu yang ada dalam benak Zul saat ini untuk Lyra, agar dapat mempertahankan pernikahannya yang masih seumur jagung.


.


Dua hari berlalu, Lyra tengah bersiap-siap mengemasi barang-barang bawaannya.


Hari ini merupakan hari terakhir mereka di kota kecil itu. Zul tengah mempersiapkan semua kebutuhan mereka selama di perjalanan yang pasti sangat melelahkan.


Kesy yang telah mempersiapkan barang bawaannya, hanya memeluk Oma Lince sambil menangis tersedu-sedu di pelukan wanita paruh baya yang sangat dia cintai.


"Oma nyusul Kesy, yah? Jangan lupa untuk sering video call sama cucu yang cantik ini," isaknya di pelukan Lince.


Tentu semua ini menjadi hal terberat bagi Lince dan Boy, harus berpisah dari anak menantu sekaligus cucu kesayangannya.


Boy menarik tangan Kesy, dia mengeluarkan uang untuk cucu kesayangannya. Walau tidak banyak, namun cukup sebagai pegangan selama di perjalanan.


"Opa, Kesy ada uang kok! Tapi makasih yah? Sudah mau memberi Kesy uang jajan. Tapi bukannya di Berlin mata uangnya euro kata Bang Adi?" tanyanya melirik kearah Boy.

__ADS_1


Boy mengangguk, "Kamu bisa menukar di money changer atau dimana saja saat kamu butuh nantinya. Mama juga sudah mengurus tabungannya, kan? Bisa di ambil dimana saja jika kamu membutuhkan ..." jelasnya pelan.


Kesy mengangguk mengerti, dia melihat sang Mama yang tengah menuruni anak tangga, di sambut Lela dan Sisi sebagai penggantinya dikantor instansi pemerintahan di kota kecil itu. Mereka saling berbagi dalam sebuah pelukan hangat.


"Hati-hati yah beib. Ingat, jangan nakal, apalagi sampai kepincut bule," tawa Lela sebagai sahabat.


Lyra tersenyum tipis, mendengar celotehan sahabatnya, "Salam buat yang lain, juga Pak Sardi. Maaf, aku enggak bisa mampir kemaren, karena kondisi ku kurang sehat," jelasnya menunduk malu.


Eni dan Ahmad tak henti-hentinya berpesan pada Zul dan Adi untuk menjaga Lyra juga Kesy.


Tentu saja Lyra dapat mendengar nasehat Eni yang berharap banyak, agar segera mendapatkan cucu kembali sebagai penerus garis keturunan keluarga mereka.


Lyra menoleh kearah Rey, yang sedang sibuk memasukkan barang-barang bawaan keluarga kecil itu yang sangat banyak.


Lyra berbisik pada Zul, karena tidak ingin meninggalkan Rey tanpa pegangan sama sekali. Tentu permintaan istrinya itu dapat izin yang dari pria tampan tersebut agar dapat memberikan amplop pada keponakannya.


Lyra menarik tangan Rey, memberikan amplop yang berisikan uang, "Rey, kamu baik-baik bekerja di sini yah? Jaga kesehatan kamu dan jangan lupa selesaikan kuliahnya. Kasihan Oma Eni sudah memberikan wadah yang baik buat kamu. Anggap keluarga ini menjadi keluarga baru kamu," pesannya.


Rey memeluk tubuh ramping Lyra, tak kuasa membendung air mata yang akan mengalir deras membasahi wajahnya.


Lyra mengusap lembut punggung Rey, memberikan kunci toko milik almarhum Dony, "Tante percayakan toko pada kamu. Kamu kelola, dan jangan lupakan kewajiban kamu di sini ..."


Rey tak menyangka akan di berikan amanah seperti ini. Dia mengangguk patuh, karena di kepalanya hanya bisnis lah selalu menari-nari dalam benaknya.


Tak menunggu lama, mereka meninggalkan rumah menuju bandara.


Zul mencium kedua orang tuanya, karena kali ini dia pergi akan lama untuk kembali. Kuliah, sekaligus pekerjaannya yang sudah lama terabaikan harus dia selesaikan.


Penerbangan mereka akan berangkat 20 menit lagi, namun mata Kesy sangat jeli karena harus bertemu kembali dengan sosok wanita muda yang pernah mereka temuin di pusat perbelanjaan kala itu.


"Pi, itu bukannya Tante Kanza?" bisik Kesy saat mereka tengah duduk di ruang tunggu setelah melakukan boarding.

__ADS_1


Zul yang sengaja merahasiakan bahwa Kanza berusaha menggodanya, agar Lyra tidak khawatir sedikit menoleh kearah tunjuk Kesy.


Sontak pemandangan itu menjadi satu kejutan bagi Lyra yang duduk dihadapan mereka berdua.


Lyra menoleh kearah yang sama, menyaksikan gadis itu melambaikan tangannya kearah Zul juga Kesy.


Lyra sedikit kaku, dia enggan menyaksikan kejadian itu, namun sedikit penasaran pada gadis yang melenggang kearah mereka. Dadanya bergemuruh seketika, bahkan semakin tampak gelisah, karena gadis itu menyalami Zul kemudian memeluknya mesra.


Kedua bola mata Lyra membulat besar, melihat pemandangan yang sangat tidak biasa di hadapannya. Sosok Kanza yang manja, muda, bahkan terlihat sangat menawan, masih sibuk menyentuh lengan Zul tanpa menoleh kearahnya.


Tubuh Lyra semakin panas, kegelisahan hatinya terjawab sudah, dia cemburu, sangat cemburu, namun Zul sama sekali tidak mengenakkan nya dengan istrinya.


Lyra menoleh kearah Zul, sengaja menyapa dengan nada lembut, "Hun, aku mau beli kue yang di sana. Kamu bisa temanin?" tanyanya sengaja.


Kanza menoleh kearah Lyra, sedikit memuji penampilan Lyra yang lebih baik darinya. Gadis itu sedikit mendengus dan merasa penasaran, 'Siapa siih wanita ini? Apakah di berasal dari keluarga kaya?' bisiknya dalam hati.


Dengan senang hati Zul meraih tangan istrinya, untuk menemani Lyra ke salah satu toko roti yang berada di lantai dua bandara.


Tanpa bisa menahan, Lyra menggandeng cepat lengan Zul, setelah meminta izin dengan gadis yang masih berharap bisa bicara lebih lama dengan suaminya.


Kesy yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum tipis, menoleh kearah Adi yang masih di sibukkan dengan permainan gamenya.


Lyra berjalan santai menuju toko roti, sambil berceloteh sepanjang jalan.


"Dasar wanita genit. Apa dia enggak tahu kamu sudah punya istri? Enak banget peluk-peluk suami orang di depan umum! Kamu juga, enggak bisa apa kenalin aku itu istri kamu, hun! Lama-lama begini aku bisa makan hati melihat kamu mesra-mesraan dengan wanita yang lebih muda dari aku! Apa kamu enggak cinta sama aku!" rungutnya sepanjang jalan seperti anak kecil.


Zul yang mendengar celotehan Lyra hanya terdiam. Keningnya mengerenyit memandangi wajah cantik istrinya. Dia tertawa kecil, mengusap lembut punggung istrinya.


"Sudah aaagh, jangan cemburu gitu. Dia mahasiswi aku. Masih ada satu semester lagi jadwal dia, dan itu akan membuat kami selalu bertemu. Masak kamu cemburu sama abege? Dia itu masih 19 tahun sayang. Otaknya pintar, tapi anak manja. Tidak ada yang spesial seeh menurut aku. Makanya kamu kasih aku baby dong! Biar kita terus sama-sama enggak ada cemburu buta begini ..." bisik Zul pelan menggoda puncak hidung istrinya.


Lyra merengek memeluk tubuh Zul sangat erat. Ingin sekali dia melarang suaminya, tapi apa mungkin melarang mahasiswi bertemu dengan Zul yang memang menjadi dosen pengganti.

__ADS_1


Sementara pemandangan itu, membuat hati Kanza terbakar api cemburu. Gadis itu menggeram kesal, dia mencari tahu siapa Lyra ...


"Aku akan membuat suami mu jatuh hati pada ku, Nyonya ..."


__ADS_2