Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Bestie masa kecil ...


__ADS_3

Keluarga besar Kesy berangkat menuju kota kelahirannya. Tentu saja ini menjadi kenangan terindah bagi wanita yang sudah menjadi suami Adi, yang berprofesi sebagai pilot tersebut.


Lyra memilih kembali kekediaman Zul yang berada di perumahan elite Nirvana. Sementara Kesy kembali ke kediaman Ahmad, yang berada di rumah sakit ibu dan anak tersebut.


Perang dingin yang tak tampak, dari raut wajah Kesy dihadapan keluarga, membuat Eni memberikan ruang pada menantu sekaligus cucunya tersebut, walau sebentar sang Mama kurang menyukai sikap Kesy untuk menghabiskan waktu bersama Adi di lantai dua, tanpa mau menemaninya di lantai bawah.


Kamar mereka yang bersebelahan, membuat Kesy memilih tidur di kamarnya, tanpa mau satu kamar dengan Adi.


Adi bergegas menarik tangan istrinya, agar tidak menjadi bulan-bulanan kedua orangtuanya. Dengan wajah garang, dia menatap nanar kedua bola mata istrinya.


"Please ... Saat ini kita berada di rumah keluarga. Jangan buat ulah! Jangan buat Abang menjadi serba salah karena sikap, Ayang!" tegasnya dengan rahang menggeram.


Kesy tersenyum sumringah, "Ya ... Kesy lupa!"


Perlahan Kesy mengusap lembut perut sispack suaminya yang masih terbalut baju kaos, mendekatkan wajahnya dengan wajah Adi yang sudah semakin dekat.


Adi menautkan kedua alisnya, tampak kebingungan bahkan merasa ada yang aneh dengan sikap Kesy.


"Yang ... Kamu kenapa? Please, jangan seperti ini. Abang tidak ingin melihatmu seperti wanita nakal. Abang sangat merindukan kamu menjadi gadis kecil yang sangat penurut, bahkan patuh pada suami," ucapnya dengan suara serak serta pelan.


Kesy tersenyum tipis, menyunggingkan senyuman manisnya, mengusap lembut dada Adi dengan jari telunjuk yang melentik memutar seperti tengah membuat angka delapan.


"Hmm ... Kesy akan patuh. Jika Abang mempertemukan Kesy dengan Laura. Just it! Mungkin dua minggu lalu Kesy masih menuruti semua perintah Abang, tapi kali ini tidak akan pernah! Karena Abang tidak pernah jujur sama Kesy, bahkan Abang berniat mengundang pihak ketiga dalam rumah tangga kita! Dengar Captain Adi yang terhormat, jika Abang masih belum mampu mempertemukan Kesy dengan wanita jallang itu, jangan pernah berharap Kesy akan menuruti semua perintah Abang!"


Kesy mendorong tubuh Adi agar segera keluar dari kamarnya dengan sangat kuat, kemudian mengayunkan tangannya untuk membanting pintu ...


BRAAAK ...! 


Pintu kamar Kesy tertutup rapat, membuat Adi terdiam. 

__ADS_1


Adi benar-benar tak menyangka melihat perubahan Kesy lebih berani padanya. Membuat dirinya semakin bingung, "Apa yang harus aku lakukan? Aku menginginkan Laura, tapi tidak dapat melepaskan Kesy saat ini. Aaaagh ..."


Saat terdengar suara bantingan pintu dari arah bawah, membuat Eni terhenyak sedikit penasaran apa yang terjadi di lantai dua, yang merupakan kamar anak-anaknya sejak dulu.


Eni sedikit mengeraskan suaranya, tanpa menaiki anak tangga, "Adi ... Are you oke?"


"Hmm ya Ma, Adi baik-baik saja. Kesy lagi rindu tidur di kamarnya, jadi ya sudah lah," jawabnya, tanpa mau berbasa-basi, sambil berlalu memilih masuk kedalam kamarnya.


Eni menghela nafas panjang, menggelengkan kepala sendiri, "Hmm ... Ini ni, kalau menikah dengan anak di bawah umur. Selalu belum mengerti bagaimana yang namanya pernikahan. Adi ... Adi ... Adi!"


Wanita paruh baya itu kembali masuk kedalam kamarnya, sambil menghubungi Lyra yang berada di kediaman sang putra.


["Ya Ma ..."]


["Lyra kamu bawa anak-anak ke rumah Mama, dong! Kesy semenjak nikah di kamar mulu sama Adi. Buat Mama jadi kesepian ..."]


["Nanti Lyra kasih tahu sama Zul, Ma. Karena barusan hun keluar bawa anak-anak. Mungkin mau ke rumah Mama. Lyra masih beresin kamar anak-anak, karena berantakan sekali. Di bantuin bibi."]


["Ya sudah! Nanti Mama hubungi Zul saja. Kesel banget punya menantu daun muda, ngamar terus!"]


Lyra terdiam, dia bingung mau jawab apa pada mertuanya. Tidak pernah Eni seperti ini padanya, namun sangat berbeda dengan Kesy.


"Ooogh Tuhan, apakah Kesy akan kuat menghadapi Ibu mertua ku yang sekarang menjadi mertuanya juga ...?" gumamnya dalam hati. 


Lyra hanya bisa menjawab 'ya' saat Eni mengakhiri percakapan mereka.


Tak selang berapa lama, Zul tiba di kediaman keluarganya. Dia sedikit khawatir dengan keadaan putrinya, Kesy, yang akan menggangu kenyamanan sang Mama.


Benar saja, begitu Zul memarkirkan mobilnya di halaman parkir yang telah terbuka lebar, Eni berlari mendekati anak-anaknya serta Zul yang akan keluar dari mobil.

__ADS_1


Eni berceloteh sepanjang Zul membantu ketiga buah hatinya, untuk keluar dari mobil ...


"Mama enggak suka aaagh ... Kalau Kesy di kamar mulu. Pengantin baru siih pengantin baru, tapi kan sudah puas di Hawaii ... Masak di rumah Mama begini juga, Zul. Kasih tahu tuh sama anak tiri kamu, malah pake banting pintu kamar segala! Zul ... Kalian tinggal di sini saja? Mama sepi, Papa masih ada rapat dengan pihak kedokteran universitas Riau ..." jelasnya dengan suara pelan.


Zul menghela nafasnya dalam-dalam, menjelaskan panjang lebar, "Ma ... Mama kok jadi begini setelah Adi menikah dengan Kesy? Wajar Kesy dan Adi di kamar terus, mereka lagi liburan! Bukan bekerja kayak aku dan Lyra. Atau aku minta mereka tinggal di apartemen? Biar Mama enggak begini? Jangan begini dong, Kesy menantu Mama, Adi anak kesayangan Mama. Tolong pahami mereka. Mungkin kalau Adi sudah aktif kerja, Kesy kuliah, pasti mereka akan jarang di kamar. Mama ngertiin yah? Mereka masih muda, masih ingin bermain-main dengan pasangan halalnya. Jangan marah lagi, Zul bawain anak-anak biar Mama ada teman, dan makanan kesukaan Mama."


Eni memeluk Zul, sejujurnya ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Adi menikahi anak tiri Abangnya. Rasa kecewa Eni semakin terlihat saat Kesy yang tak seperti beberapa waktu lalu, sebelum menikah.


Semenjak bertemu di Jakarta, sikap Kesy berubah dan dapat di rasakan oleh pihak keluarga. Namun, gadis kecil itu berusaha menutupi semua polemik yang terjadi dalam rumah tangganya yang masih seumur jagung, karena mendengarkan nasehat Zul serta Lyra kala itu.


Kini Kesy tengah membersihkan kamarnya sendiri, setelah lama tidak iya tempati. Tidak ada perubahan yang berarti. Namun, ketika ia membuka laci meja yang ada di depan ranjang kesayangannya, matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dengan amplop kuning, selayaknya dia mengirim surat kepada Dony kala itu.


Kesy tersenyum tipis, menatap kertas yang sudah menguning bahkan sangat lusuh. Senyumnya mengembang lebar saat melihat surat itu tertuju untuk seorang temannya, Carlos.


Kesy menyandarkan tubuhnya di kursi meja belajar, membayangkan wajah cina Carlos yang sangat lugu, menggunakan celana kotak-kotak pendek, serta baju sekolah yang selalu di masukkan dengan rapih.


Selayaknya anak Cina yang lucu, dengan rambut belah samping, dan selalu tampak basah dari pagi sekolah hingga sore pulang sekolah ...


Kesy tertawa terbahak-bahak, melihat tulisannya naik turun, bahkan sangat lucu saat mengatakan di bagian akhir ...


[Besok jangan lupa bawa buku Kesy yang kamu pinjam ... Thanks, Kesy]


Selayaknya anak kecil yang hanya bisa mengenang masa sekolah dasar itu, menyadarkan Kesy dengan keputusannya.


"Ternyata dari dulu aku sangat suka berkirim surat, padahal enggak pernah terkirim ..." tawanya menyeringai kecil penuh kerinduan pada bestie masa kecilnya.


____


Hai hai hai ...

__ADS_1


Kali ini kita masuk ke polemik rumah tangga Kesy dan Adi yah reader ... Tapi tidak menutup peran utama, karena masih bersinambungan ...


Mohon suport, untuk author ... agar tetap konsisten agar rutin update ... terimakasih ...


__ADS_2