Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Ngapain dia....!?


__ADS_3

["Lyra, angkat telepon ku...!! Apa salah ku? Hingga kamu tidak mau menerima telepon ku."]


Seperti itulah pesan terakhir pria muda di seberang sana yang biasa disapa Zul untuk Lyra.


Pria muda yang saat ini tengah mempersiapkan diri sebagai dokter spesialis kandungan, masih menghabiskan sisa waktunya untuk menyelesaikan semua tanggung jawab kepada kedua orang tuanya.


Lyra masih termenung di dalam kamar yang nyaman, melihat wajah putri kesayangan sudah terlelap sambil mendekap perut ramping sang Mama.


Sudah lebih dari satu bulan Lyra tidak ingin menjalin komunikasi dengan Zul, karena sudah mengetahui identitas pria yang masih menuntut ilmu di negara panser tersebut.


Lyra berusaha memejamkan mata, menatap wajah putri kesayangan, sambil mengusap lembut pipi mulus Kesy.


Jika waktu dapat di putar kembali, mungkin Lyra tidak ingin menetap di kota kecil ini setelah menikah dengan Dony. Pasti dia akan menetap di kota seberang tinggal bersama kedua orang tuanya, walau dengan penghasilan yang berbeda.


Lyra, yang sudah mengabdikan diri selama lebih dari 12 tahun, saat ini dia selalu mendapatkan promosi jabatan dari Pak Sardi agar mencapai golongan yang mendekati sebagai pimpinan disuatu instansi.


Terdengar dari luar suara ketukan pintu, perlahan Lyra beranjak dari tempat tidur untuk segera membuka kunci pintu kamar. Matanya beradu pandang dengan Lince sang Mama yang sudah berdiri didepan pintu.


Lyra mengalihkan tubuhnya untuk kembali ke ranjang peraduan, sambil bertanya, "Ada apa, Ma?"


Lince hanya bisa menghibur putri kesayangannya yang kini sangat membutuhkan suport karena proses perceraian Lyra dan Dony.


"Hmm, ada Bara di luar. Dia ingin menemui kamu! Dia sudah minta izin sama Papa, untuk membawamu minum wedang jahe, dan Papa mengizinkan," jelas Lince.


Lyra sedikit terkejut, mendengar penuturan Lince yang semena-mena padanya, "Dari mana Bara tahu kediaman kita? Aku aja enggak balas pesannya. Ck.... aku malas untuk bertemu dengannya. Aku pengen di kamar saja. Aku ini janda, Ma. Bukan anak gadis lagi.....! Jika aku seenaknya keluar dengan pria yang tidak jelas, itu akan membuat fitnah semakin berkembang dan menjadi beban pikiran bagiku. Aku enggak mau ketemu dia. Bilang saja aku sudah tidur!" tegasnya dengan nada kesal.


Lince menghela nafas panjang, ada benarnya pemikiran seperti itu, namun apa salah menjalin hubungan baik dengan teman yang sangat memahami bagaimana perasaan kita saat ini, batinnya. Memilih berlalu dari pada harus berdebat dengan Lyra yang semakin keras kepala semenjak mengahadapi perceraian.

__ADS_1


Lyra, melihat layar handphone yang kembali berdering, tertulis nomor yang tidak di kenal dan terlihat beberapa pesan yang dikirim dari Bara.


Lyra hanya membalas pesan singkat Bara, melalui whatsApp.


["Maaf, aku sedang tidak ingin keluar rumah!"]


Hanya pesan itu yang dapat Lyra kirim untuk Bara, karena tidak ingin memberi harapan pada siapapun. Kali ini dia hanya ingin fokus pada pekerjaannya dan juga Kesy, putri kesayangan yang membutuhkan perhatian lebih darinya secara pribadi.


Beban yang begitu besar berada di pundak seorang Lyra sebagai istri yang terzolimi bahkan tersakiti selama pernikahannya dengan Dony, dan entah sampai kapan harus berakhir. 


Lyra kembali mendengar deringan pesan singkat dari handphone yang terletak dinakas menandakan pesan masuk. Dia tidak ingin membukanya, karena masih mendengarkan suara Bara dari luar kamar tengah berbincang-bincang dengan sang Papa.


Dari sikap Lyra yang tidak ingin bertemu dengan Bara, sudah memberi sinyal kepada kedua orang tua, agar pria tersebut segera meninggalkan kediaman keluarganya.


Menurut Lyra, lebih baik dia menyendiri, tanpa harus dekat dengan pria manapun. Walau awalnya dia menjalin hubungan baik dengan Zul, tapi kali ini dia justru tidak ingin di sibukkan dengan urusan kacangan yang akan merusak moodnya setiap hari.


Matanya terlelap, berharap semua akan berakhir, demi mendapatkan kebahagiaan yang berbeda walau tanpa seorang pria di sampingnya.


.


Suasana pagi yang cerah, Lyra dengan sigap mengurus semua keperluan sang putri untuk sekolahnya hari ini.


Beberapa kali Lince dan Boy saling bercerita tentang kedatangan Bara tadi malam, sangat memekakkan gendang telinga, membuat dia semakin mempercepat tugasnya sebagai Ibu yang baik untuk Kesy.


Lyra tidak ingin berdebat, apalagi yang di perdebatkan hanya untuk seorang Bara. Dia merapikan rambut lurus Kesy, mengenakan satu bando berwarna pink yang ada pernak-pernik hello kitty. Kali ini dia tidak ingin membahas tentang Bara atau siapapun.


Bergegas Lyra memasukkan semua bekal Kesy kedalam tas sekolah, memberikan satu gelas susu coklat kegemaran sang putri agar segera di habiskan.

__ADS_1


Lyra mengecup lembut puncak kepala gadis kecilnya, sambil berkata, "Apapun yang di bicarakan Oma dan Opa jangan di dengar, yah? Oma senang sekali bercanda!" sindirnya.


Boy dan Lince saling berpandangan, menggelengkan kepalanya, merasa bahwa putrinya benar-benar aneh setelah menghadapi perceraian dengan Dony.


Sementara Kesy hanya mengangguk, mencoba menghibur Lyra agar tidak terlihat salah tingkah jika Oma dan Opa membicarakan nama pria lain di hadapannya.


"Tenang Mama, Kesy tidak tertarik dengan cerita dewasa," tawa Kesy.


Lince tersenyum tipis, menjawab sedikit sindiran putrinya, "Mama bukan mau menjodohkan kamu dengan Bara. Tapi apa salahnya kamu memberi ruang pada seorang pria, agar kamu tidak terus memikirkan Dony," tegasnya.


Lyra menyunggingkan senyum tipis, memberi isyarat bahwa dia tidak ingin berdebat. Di kepalanya hanya ingin segera mengantarkan Kesy dan melanjutkan pekerjaannya karena telah mengambil libur untuk mengurus perceraian sehari kemarin.


Wanita mana yang tidak akan terpuruk, jika di perlakukan seperti itu oleh pria yang telah memberikan seorang anak padanya. Bahkan, ingin menguasai sebagian hartanya hanya dengan alasan anak mereka.


Rumah dan mobil yang benar-benar akan menjadi hak Dony, jika Lyra tidak melakukan tindakan apapun. Termasuk Kesy akan di ambil dari tangannya. Kemana dia harus mengadu? Untuk memperjuangkan haknya sebagai Ibu dan seorang istri yang rela berjuang, menggantikan posisi Dony sebagai tulang punggung, agar kehidupan mereka jauh lebih baik seperti saat ini.


Sekolah Kesy yang menjadi pilihan Lyra, sebagai sekolah terbaik di kota kecil tersebut, membutuhkan biaya yang sangat tinggi, bahkan tidak pernah mampu bagi Dony untuk membiayainya, jika hidupnya masih seperti itu.


Seperti pepatah mengatakan, 'besar pasak dari pada tiang', mungkin itu lebih tepat bagi Dony dan keluarganya.


Lyra memohon pamit pada kedua orang tuanya, begitu juga Kesy. Tentu ini merupakan kegiatan yang sangat bahagia dilakukan nya, jika Dony mau bekerja sama dengan baik, bukan memanfaatkan keadaan sebagai seorang sapi perah untuk keluarga mereka.


Lyra memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk sekolah, melepas putrinya dengan penuh kasih sayang. Pelukan hangat dari seorang anak, menjadi kekuatan bagi wanita yang sudah bergelar menjadi Ibu yang tersakiti.


Lyra melanjutkan perjalanannya menuju kantor seperti biasa. Namun, kali ini dia harus di hadapkan dengan kehadiran seorang tamu yang tidak di undang tengah duduk di depan pintu ruangannya.


Lyra terdiam, sedikit terkejut, karena mesti melihat wajah pria itu tengah asik berbicara melalui telepon selulernya.

__ADS_1


"Aaaag.... ngapain dia kekantor ku?" kesal Lyra menggeram menatap sinis pada pria yang duduk dikursi telah tersedia.


__ADS_2