Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Ooogh maaf Tuhan ...


__ADS_3

Tubuh Lyra bergetar hebat saat mendengar kalimat cerai dari bibir Zul, dia menoleh kearah pria yang telah 12 tahun membina rumah tangga dengannya walau berstatus janda kala itu.


Kini Lyra harus mendengar kalimat itu lagi dari bibir Zul.


"Apa? Cerai? Apa salah aku, Zul!?"


Zul tertawa kecil mendengar pertanyaan bodoh istrinya.


"Salah? Apa kamu enggak pernah salah? 12 tahun Lyra, aku menghabiskan waktu dengan mu! Dari kehilangan janin kembar ku di awal kita menikah, kau menyalahkan aku saat kematian mantan suami mu! Pengakuan cinta mu pada Dony! Bahkan sikap mu yang terlalu over protective pada Kesy juga aku! Awal aku berfikir itu cara mu mencintai ku, tapi ternyata aku salah! Itu cara mu untuk menjebak aku, agar kau bisa melakukan hal yang semena-mena terhadap kami! Dari usia, ku akui kamu lebih tua! Tapi dari pengalaman hidup, kamu hanya takut kehilangan kami!" jelasnya dengan wajah tertekan.


"Zul, aku mencintaimu, menghargai mu! Bahkan semua aku abdikan untuk kita! Kenapa di sini aku yang salah! Aku enggak salah! Aku hanya ingin Kesy tidak terlalu bergaul di luar sana! Ini Jerman Zul, aku takut dia melakukan kesalahan yang fatal. Dia anak perempuan aku! Aku takut, karena Adi melakukan hal itu sama Laura tunangan nya! Wajar aku marah, aku Ibu Kesy. Sembilan bulan aku mengandung nya Zul ...!" tangisnya dengan bahu bergetar.


Zul hanya bisa terdiam, dia menghela nafas panjang, lebih memilih menenangkan diri daripada melakukan hal yang lebih fatal terhadap Lyra.


'Wanita egois. Tidak pernah mengakui kesalahannya. Lebih baik aku mencari sendiri di mana keberadaan Kesy ...!'


Sementara Lyra masih menangis keras, meraung-raung di ruang apartemen mereka, membuat ke-tiga anak kembar Lyra dan Zul mengintip dari balik pintu kamar mereka.


Zul yang sangat tidak suka dengan sikap Lyra jika sudah seperti ini, kembali membentak keras istrinya.


"Stop it Lyra! Stop! Anak-anak masih tidur! Apa kau ingin aku yang pergi meninggalkan mu!?"


Lyra terdiam, wajahnya memerah bibir masih bergetar karena gertakan Zul yang sangat menyakitkan hatinya.

__ADS_1


Lyra memilih berdiri, masuk ke dalam kamar yang telah di buka oleh Zul.


Ketiga buah hati mereka yang tidak mengerti apa yang mereka katakan, namun Hana dan Hani dapat merasakan apa yang di rasakan Lyra sebagai Ibunya.


Betris yang tidur bersama anak-anak kembar keluarga itu hanya mengusap lembut kepala Hana dan Hani, namun Haris masih terdiam di pintu yang terbuka. 


Haris bertanya dengan wajah datar di hadapan Hani juga Hana pada Betris, "Machen Erwachsene oft diese Tante? Warum hat sich Mama nie mit Schwester Kesy versöhnt?"


(Apakah orang dewasa sering melakukan hal itu bibi? kenapa Mama tidak pernah berbaikan dengan Kak Kesy?)


Betris hanya tersenyum tipis, "Als Erwachsener ist das alles sehr verwirrend. Also ist es besser, wir sind geduldig und ruhig. Beten Sie, dass Schwester Kesy unter Gottes Schutz steht, während Mama bereit ist, ihre Mängel zu akzeptieren und ihre Fehler einzugestehen ..." peluknya pada ketiga anak kembar yang sangat dekat dengannya.


(Jika kalian dewasa, semua akan terasa sangat membingung kan. Jadi lebih baik, kita sabar dan tenang. Berdoa semoga Kak Kesy dalam lindungan Tuhan, sementara Mama mau menerima kekurangan dan mengakui kesalahannya ...)


Sementara di apartemen yang sama kamar yang berbeda, Lyra masih menangis memeluk tubuh Zul yang enggan membalas pelukannya.


Zul hanya diam mematung, bahkan membisu. Kali ini dia tidak main-main lagi. Karena merasa sudah sangat kecewa. Mungkin jika sejak dulu dia memiliki keberanian untuk menceraikan Lyra, sudah tidak ada wanita ini dalam hidupnya.


Namun, karena mempertimbangkan semua keadaan keluarga, Kesy, serta mencoba memaafkan kesalahan fatal yang pernah di lakukan oleh Lyra, membuat Zul ingin bertahan hanya atas nama cinta dan perasaan sayang.


Akan tetapi, 12 tahun memperjuangkan pernikahan dengan semua keegoisan seorang istri yang tidak mengerti bagaimana putrinya yang sebenarnya membuat Zul semakin muak dengan sikap Lyra.


"Zul aku mohon jangan ceraikan aku! Aku mohon Zul, jangan pisahkan aku dari anak-anak! Aku akan berubah, aku akan menjadi Ibu yang baik untuk mereka. Jangan tinggalkan aku, Zul ..." ucap Lyra memeluk erat tubuh Zul di atas sofa kamar mereka.

__ADS_1


Zul sama sekali tak membalas, dia hanya membiarkan istrinya memohon seperti itu, sebelum dia mengeluarkan semua isi perutnya.


"Zul ... Jawab aku sayang. Jawab!! Aku menyesal sudah mengusir Adi, tidak mau mendengarkan penjelasannya. Aku mohon Zul!" tangisnya meraung-raung.


Zul melepaskan dekapan Lyra dari tubuhnya yang sangat menyesakkan.


"Dengar Lyra, sejak awal kita menikah. Sama sekali aku tidak pernah ingin menyakiti mu! Aku susah payah mengobati Kesy. Kamu harus tahu bagaimana pengorbanan kami sekeluarga untuk mengobati putri mu! Tolong, tolong mengertilah! Apa memang begini kamu selama menjadi istri Dony? Tidak pernah mau mendengarkan, tidak mau tahu bagaimana Kesy, bagaimana cara mengobati mentalnya. Itu yang aku jaga Lyra. Adi hanya sebagai pembuka akal dan pikiran ku, untuk terus menjadi korban ke egoisan kamu! Aku bekerja delapan jam sehari, kamu bekerja lima sampai delapan jam sehari. Bedanya, kamu di rumah, aku di rumah sakit. Anak-anak kamu yang kontrol. Aku tekankan pada mu! Jika kepergian Kesy ini, membuat satu kesalahan yang fatal, kita selesai! Aku tidak mau tiga lagi menjadi korban keegoisan mu! Camkan itu!"


Zul yang akan beranjak dari sofa tempat mereka duduk, seketika di tahan lengannya oleh Lyra.


"Please Zul, jangan ancam aku dengan kata pisah. Anak-anak kita membutuhkan kita, aku juga kamu. Apa kamu enggak sayang lagi sama aku? Enggak cinta lagi sama aku, Zul?" mohon Lyra sambil menangis.


Zul tersenyum tipis, "Ini bukan masalah cinta atau sayang Lyra. Tapi ancaman kamu sama Kesy, membuat dia semakin jatuh ke dasar lautan," tegasnya mencoba mengingatkan.


Lyra diam tak bergeming ...


Zul menunjuk-nunjuk dada Lyra kemudian mengucapkan kalimat yang sangat menusuk jantungnya ...


"Bisa enggak kamu tidak mengatakan pada Kesy, setiap kalian ada masalah selalu mengatakan 'akan Mama kirim kamu ke keluarga Papamu ...'! Apa itu nasehat seorang Ibu? Kamu pikir selama ini dia tidak cerita sama aku? Bagaimana keluarga Papanya, kamu sebagai Mamanya! Apa kamu enggak pernah berpikir bagaimana kecewanya dia sama kalian berdua? Ooogh maaf Tuhan, yang satu sudah mati! Tinggal Ibunya yang ada. Kamu pikir hanya memberikan uang, makanan enak, itu cukup? Kamu lupa memberikan kelembutan mu kepada keempat buah hati mu, Lyra! Aku sudah cukup menyaksikan nya. Cukup, 12 tahun itu cukup! Tidak akan ada waktu lagi ...! Sia-sia aku mempertahankan rumah tangga yang tampak harmonis, namun tidak hangat kepada buah hati ..." jelasnya dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca ...


"Zul ..."


Lyra ingin mengelak, tapi tidak mampu untuk melanjutkan, dia hanya bisa menangis meratapi nasibnya sendiri saat ini.

__ADS_1


__ADS_2