Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Berkhianat


__ADS_3

Lyra terdiam saat wajahnya harus mendengar Aryo selaku pengacaranya membela mati-matian mantan suaminya, Dony. Tentu semua itu menjadi suatu pukulan keras untuk wanita dewasa yang tengah menggeram kesal di kursi pengadilan agama dalam menghadapi perceraiannya dengan Dony.


Apa maksud Aryo? Kenapa dia ingin memberikan Kesy dan rumah pada Dony? Bukankah laki-laki keparat itu masih menjadi tahanan kota? Apakah seorang tahanan bisa mengasuh seorang anak berusia tujuh tahun? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu menjadi bahan pertimbangan Lyra.


Persidangan ditutup untuk sementara, mereka akan berkumpul kembali pukul 14.00 dalam mengambil keputusan akhir dan pengucapan talak dari Dony untuk Lyra dihadapan majelis hakim.


Lyra berlari mengejar Aryo sahabat sekaligus pengacaranya, bertanya dengan hati marah dan kecewa, "Aryo.... tunggu....!!"


Aryo menoleh kebelakang, melihat Lyra yang tengah berdiri dibelakangnya, "Ya Lyra....!"


Lyra menatap nanar kedua bola mata Aryo, "Apa maksud mu? Memberikan Kesy pada Dony! Oke, aku tidak mempermasalahkan rumah itu, karena rumah itu mau aku jual. Tapi Kesy, Yo...! Kesy itu putri ku! Dia berhak mendapatkan perhatian lebih dari aku! Please.... ini enggak adil buat Kesy, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan anakku! Dia anakku....! Jika Dony mendapatkan hak asuh, dia akan menguras aku habis-habisan! Apa kamu punya dendam lain padaku?" 


Aryo tersenyum, menghela nafas panjang, "Dengar Lyra.... aku sudah memiliki perjanjian dengan Kak Rita. Jadi lebih baik kamu menyerahkan Kesy sekaligus rumah itu pada Dony, sehingga kamu bisa bebas melakukan apa saja. Satu hal lagi, mereka membayar ku lebih, daripada kamu membayar ku!!"


Saat Aryo menyatakan itu, tiba-tiba tangan pria muda menghajar pengacara gadungan itu tanpa diketahui Lyra.


BHUUUUG.....!


BHUUUUG.....!


Zul.... Ya, Zul dan Iqbal yang duduk sejak tadi menggunakan jaket dan topi saat menemani Lyra, dalam menutupi identitas mereka berdua yang tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuan Aryo.


Mereka dengan sengaja melakukan hal itu, untuk melihat sendiri sepak terjang Aryo dalam menangani sebuah perkara.


Waktu menunjukkan pukul 12.00 teng. Waktu istirahat untuk pihak karyawan, Aryo semakin kelabakan saat melihat Iqbal berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Zul membentak keras pada Aryo, "Aku sudah tahu identitas Anda, Tuan! Jika kau mau bermain, silahkan permainkan orang lain, tapi tidak untuk Lyra. Aku akan menuntut mu Tuan Aryo Akbar."


Lyra memeluk Zul, agar tidak membuat kericuhan saat jam istirahat, "Please Zul.... jangan lakukan semuanya disini. Ini kantor...!"


Iqbal menatap penuh perasaan kecewa pada Aryo, "Berapa kau dibayar oleh Keluarga Dony? Sehingga tega kau mengkhianati sahabat sendiri? Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya seorang Ibu jika jauh dari anak mereka? Aku pikir kau pengacara cerdas.... ternyata kau hanyalah pengacara gadungan yang ingin mencari kekayaan! Aku akan memproses sidang akhir, jika kalian masih mempersulit Lyra, aku akan mengajukan banding sehingga kalian dipindahkan ke pelosok!" ancamnya menggeram.


Aryo menyentuh rahangnya yang terasa rontok, karena bogeman keras dilayangkan Zul tepat di rahang kiri pengacara handal tersebut.


"Kau pikirkan baik-baik! Aku akan membuat perhitungan dengan mu, Tuan!!" teriak Zul, saat Lyra membawanya semakin menjauh dari Iqbal dan Aryo.


Dony yang sengaja datang pada sidang kedua atas saran Aryo menyaksikan kejadian tersebut dari jarak cukup jauh.


Wajahnya tampak ketakutan saat berpapasan dengan Lyra dan kekasih barunya. Kembali Dony hanya bisa terdiam saat mantan istrinya semakin mendekat. Ada perasaan sakit dan cemburu yang menghantam relung jiwanya.


Lyra terhenti saat berpapasan dengan Dony, menelan salivanya dengan sangat kasar, menatap sinis kepada pria yang menunduk malu didepan Zul, "Dengar laki-laki brengsek....!! Jika kau memang menyayangi Kesy..... kemana kau saat sudah keluar dari penjara? Kenapa kau malah diam? Aku akan menceritakan semua di sidang akhir. Dan aku tetap akan mendapatkan hak asuh terhadap Kesy! Jika rumah yang kau inginkan, ambil.... ambil semua, Don....! Mungkin hanya segitu harga dirimu sebagai laki-laki dan suami selama delapan tahun, namun tidak untuk Kesy....! Kau dengar....!!"


"Aku harap, ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan mu! Jangan pernah datang, ataupun muncul dihadapan aku dan Kesy. Jika berani kau lakukan itu.....! Aku akan menyeret mu ke penjara....!!" bergegas Lyra keluar dari pintu utama pengadilan menuju parkiran mobil dengan hati terluka.


Tak pernah Lyra membayangkan kehidupannya menjadi seperti ini, dikhianati suami sendiri, sekaligus sahabat lamanya. "Apa salah ku Tuhan.... kenapa aku dihukum seberat ini...!?"


Zul membukakan pintu mobil untuk Lyra, bahkan Dony masih melihat dari kejauhan.


Dony hanya bisa melihat dari kejauhan dengan perasaan penuh penyesalan, "Apa yang telah aku lakukan padanya? Kenapa aku memilih mundur untuk menjadi pendampingnya? Maafkan aku Lyra.... maafkan Papa Kesy. Aku harus fokus pada Nela, karena dia yang telah berjanji akan menikah dengan ku, jika sudah menceraikan Lyra. Aku harap wanita itu tidak lupa pada janjinya," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.


Sementara Lyra masih menangis sejadi-jadinya membuat Zul menjadi serba salah.

__ADS_1


Zul hanya bisa membawa Lyra masuk dalam dekapannya, dia tidak ingin ikut campur dalam masalah Dony dan Lyra. Tapi dia hanya peduli dengan permasalahan Kesy yang benar-benar membutuhkan suport sebagai anak yang menjadi korban perceraian. Ditambah perlakuan kasar dari pihak ketiga yang dilibatkan Dony pada putri kesayangan mereka.


Tentu perasaan Lyra sebagai ibu seperti dicabik-cabik, saat menghadapi semua tantangan yang tengah dia alami.


Sahabat yang dia tunjuk sebagai pengacara terbaik, selaku teman dekat, bahkan memilih berkhianat darinya hanya untuk uang.


Zul melihat dari balik kaca, mobil Luna dan Bara yang baru terparkir di halaman depan pengadilan, "Luna...? Dengan siapa dia? Ngapain dia kesini? Apakah dia sudah menikah dan akan bercerai?"


Lyra yang mengetahui Zul tengah berbisik dalam hati, melepaskan pelukannya, melihat keluar, mencari pemandangan yang mengalihkan perhatian Zul.


"Kamu kenal sama mobil itu?" tanya Lyra dengan suara pelan.


Zul mengangguk, "Itu mobil monster yang datang kekantor kamu tadi pagi. Sama siapa dia? Apakah dia masih berhubungan dengan salah satu hakim ketua yang bertugas disini?" tanyanya sebagai bahan untuk melakukan penyelidikan.


Lyra melihat sosok Bara keluar dari stir kemudi, karena sidang kedua akan dipimpin oleh hakim ketua Bara Adriansyah, "Bara....? Apakah wanita itu berselingkuh dengan dia? Hoooh.... my God....! Why.....!? Bukankah Bara sudah menikah dan memiliki istri? Justru aku mengenal istrinya Bara," jelasnya menatap kearah Zul.


Zul tersenyum, mengecup bibir Lyra sedikit agar tidak menangis lagi.


Lyra yang kaget karena sudah dua kali Zul melakukannya, memukul bahu pria muda itu dengan sangat manja.


"Jangan suka mengambil kesempatan.... aku tidak suka sama maling!" gerutu Lyra memangku tangan.


Zul mengacak rambut Lyra, "Kita masih ada waktu satu setengah jam lagi untuk beristirahat siang, bagaimana kita jemput Kesy kesekolah, membawanya kesini, untuk bertemu dengan Papa Dony? Jangan dendam, berdamailah dengan keadaan..." godanya.


Lyra mengangguk setuju, bagaimanapun Kesy masih membutuhkan sosok Papa kandungnya, walau tidak sesuai yang mereka harapkan.

__ADS_1


 


__ADS_2