
Sore yang sejuk karena hujan membasahi tanah Melayu, tak menyulutkan langkah kaki Kesy untuk segera tiba di mobil Papi-nya Zul yang telah menunggu sejak tadi.
Dengan wajah murung dan langkah gontai Kesy masuk ke mobil, setelah security membukakan pintu mobil yang memayungi nya sejak berjalan dari gerbang sekolah.
Kesy melambaikan tangannya pada security, berkata sedikit berteriak agar terdengar oleh security yang seumuran dengan Papa-nya, "Jangan lupa berikan surat Kesy yah, Pak? Terimakasih."
Security mengacungkan jempol, membantu anak-anak lainnya yang sudah di jemput sopir atau keluarganya.
Kesy merebahkan tubuhnya di jok belakang, membuka tas sekolah dan melihat kearah luar dengan mata berkaca-kaca, tanpa mau menyapa Zul atau Lyra yang terlihat kebingungan karena tingkah putrinya.
Lyra membuka pembicaraan mereka, agar tidak hanya terdengar alunan lagu Yuni Sarah dan Rafi Ahmad saja yang menyanyikan tembang '50 tahun lagi'.
"Kesy, kita makan di restoran sushi-mi, yah? Kamu tadi Mama bawain baju kaos, nih!" Lyra mengambil baju kaos putrinya, di ambil oleh Kesy yang masih enggan berbicara.
Lyra menghela nafas panjang, melirik kearah Zul.
Kesy membuka baju kemeja sekolahnya, melipat dan mengenakan kaos yang di berikan sang Mama. Hatinya merasa sedih, karena security tidak memanggil nya saat Dony datang memberikan surat padanya.
Kesy menyentuh bahu Lyra dari belakang, "Besok Kesy enggak usah di bawain bekal yah, Ma? Kesy mau makan di kantin saja sama teman-teman ..." ucapnya terdengar pelan.
Lyra mengangguk setuju, sedikit menoleh kearah Kesy, "Oya, Mama ada berita bahagia! Mama lulus ujian beberapa waktu lalu untuk pindah ikut sama Papi ke Berlin. Dan ... Kita bakal pindah ke sana, menetap selama lima tahun dan tinggal di apartemen Papi," ceritanya dengan wajah berseri-seri melirik kearah Zul yang masih fokus pada stir kemudi.
Kesy hanya mengangguk-angguk, namun hatinya semakin terasa sedih.
'Pindah ke Berlin ... Berarti Kesy harus pisah sama Papa. Kenapa enggak nunggu Kesy lulus sekolah saja? Papa yang di kira Mama jahat, ternyata dia baik dan peduli sama Kesy. Mungkin karena Papa baru menyadari sekarang. Pa ... Kesy kangen pengen peluk Papa. Besok kita ketemu yah, Pa? Mudah-mudahan kalau Kesy pindah, Papa menemukan sosok Ibu yang baik. Tuhan, jaga Papa buat Kesy. Aaagh ... Kenapa hati jadi gelisah?'
Pikiran-pikiran Kesy berkecamuk, namun dapat di rasakan oleh Lyra terutama Zul.
Mereka bertiga seperti memiliki perasaan yang sama, namun sulit untuk berkata jujur setelah pertikaian beberapa waktu lalu dengan Dony di restoran Aldo dan pusat perbelanjaan.
Saat tiba di restoran, suasana tampak semakin gelisah.
Kesy terus tak kuasa menatap mata sang Mama, karena hatinya semakin gelisah. Makanan yang tersaji, tak satupun dia sentuh walau Zul terus menggoda istri dan anak tirinya.
Makanan yang Lyra pesan tidak begitu banyak, namun karena kegelisahan putri kesayangannya, di memilih membungkus dan membawa pulang untuk Mama dan Papa mertua, yang tengah menanti kepulangan anak menantu dan cucu kesayangan walau bukan darah dari anak laki-lakinya.
__ADS_1
Zul yang sedang merogoh dompetnya, kembali Lyra menahan, menatap penuh arti karena sebuah janji sebelum pulang kerja.
"Hun ... Hari ini aku yang traktir. Selama kamu jadi suami ku, uang gaji ku sama sekali tak tersentuh. Bahkan semakin gendut. Besok aku mau ke Bank, untuk memisahkan nya. Takut di audit ..." bisik Lyra manja.
Zul menggelengkan kepalanya, mengusap lembut kepala istrinya, mengecup lembut bibir Lyra dihadapan Kesy, "Terimakasih yah, semoga kamu sukses di Berlin. Dan kita bakal di karuniai anak yang banyak buat Kesy."
Kesy menutup wajahnya, jika melihat Mama dan Papi saling bermesraan. Bagaimanapun, pemandangan itu tidak pernah dia lihat saat sang Mama masih bersama Papa kandungnya, Dony.
"Malu ..." rengek Kesy masih menutup matanya.
Zul tersenyum sumringah, menyambut tangan Kesy, berjalan lebih dulu, menggandeng mesra tangan putri kesayangannya walau bukan darah daging pria muda dan tampan tersebut.
Lyra beranjak ke kasir untuk membayar makanan mereka, memperhatikan Zul dan Kesy dari kejauhan dengan senyuman manis.
"Terimakasih Zul, kamu pria hebat untuk Kesy juga aku ..."
Lyra mengambil card yang dia miliki dari tangan kasir, melenggak-lenggok mendekati mobil yang berada di parkiran.
Saat mereka akan memasuki mobil, handphone Zul berdering, dan pria itu meletakkan telunjuknya di bibir, agar kedua wanita itu tidak membawanya bicara.
Zul menjauh dari Lyra dan Kesy yang akan memasuki mobil yang sudah menyala.
Cukup lama kedua wanita itu menunggu Zul memasuki mobil, sementara Kesy yang tadi tidak selera makan, kini tengah memainkan handphone sang Mama.
"Ma ... Beliin Kesy handphone juga, dong! Yang kayak punya temen Kesy harganya dua jutaan. Kesy ada uang di kasih Papa satu juta. Mama tambahin aja ..." ucap Kesy tanpa sadar.
Lyra yang mendengar ucapan putrinya menoleh kearah belakang, menutup layar handphone yang tengah di mainkan Kesy.
"Apa? Papa kasih kamu uang?" tanya Lyra penuh selidik.
Kesy mengangguk jujur.
Lyra bertanya meyakinkan, "Kapan? Kamu langsung ketemu sama Papa?"
Kesy menggelengkan kepalanya, "Security yang kasih ..." ucapnya pelan.
__ADS_1
Lyra tersenyum, mengangguk mengerti, "Ya sudah ... Bagusnya kamu beli yang bermanfaat saja. Jadi kan ke sesuatu yang berharga. Handphone nanti Mama yang belikan."
"Serius Ma!?" tanya Kesy penuh harap.
Lyra mengangguk.
Kesy kembali bertanya, "Emang sesuatu yang berharga apa, Ma?"
"Hmm ... Contohnya saja perhiasan. Nanti kita cari apa yang cocok buat Kesy sesuai kebutuhan anak Mama yang moodnya suka naik turun," cubit Lyra di pipi sang putri.
Zul memasuki stir kemudi, wajahnya diam mematung bahkan tampak kebingungan. Hatinya merasa bersalah, karena tidak memberitahu sejak awal.
Perlahan Zul menoleh kearah Lyra serta Kesy, menelan ludahnya, menggenggam erat jemari Lyra juga meraih tangan Kesy.
Sekali lagi dia menelan ludahnya susah payah, tenggorokan nya terasa tercekat ketika melihat kedua wanita itu tengah berbahagia, 'Haruskah mereka kembali berduka?'
"Dony ...!" ucap Zul pelan.
Lyra menggeleng tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Zul. Dia menoleh kearah Kesy, kembali mengulang ucapan yang sama ...
"Dony ...??? Why ...?" tanya Lyra semakin tidak sabar.
Dadanya bergemuruh seketika saat Zul menyebutkan nama mantan suaminya. Sejak awal pria yang telah menjadi suami dalam kehidupannya telah melarang keras untuk menyebut ataupun mengingat nama 'Dony'. 'Kenapa hari ini Zul menyebut nama pria itu lagi ...?
Zul menggenggam jemari tangan Lyra, "Dony gagal di selamatkan. Dia mengalami tekanan darah tinggi, dan gagal jantung saat operasi pemasangan pen pada bahunya. Dony ... Dony ... Dony meninggal sayang ..."
Zul tak kuasa membendung air matanya. Berita mengejutkan ini harus dia terima dan sampaikan pada kedua wanita kuat itu.
Tubuh Lyra bergetar, menggeleng tidak percaya atas kepergian Dony.
"Kamu bohong, hun ... Dony enggak mungkin meninggal ... Dony enggak mungkin ninggalin aku dan Kesy ...!" tangis Lyra pecah.
Sementara Kesy diam membisu, air matanya kembali mengalir membasahi pipi, pria yang dia cintai, merupakan cinta pertama saat terlahir ke dunia, kini sudah pergi untuk selamanya.
"Papa ... Papa ... Papa ..." tangis Kesy turut pecah mendengar berita mengejutkan itu.
__ADS_1