Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Meminta lebih dulu


__ADS_3

Suasana kota kecil, tempat kelahiran Kesy masih di guyur hujan yang tak kunjung mereda, membuat ia hanya berharap hujan reda dan bisa berziarah ke makam Papa Dony.


Sejak tadi malam gadis kecil itu memilih tidur bersama Adi sang suami. Sebatas butuh, untuk melampiaskan hasratnya sebagai istri yang masih menginginkan suaminya berubah seperti awal Adi mengambil kehormatannya.


Wajah cantik Kesy menghadap jendela kamar yang sengaja ia buka lebar, untuk menikmati cuaca sejuk dari alam semesta.


Adi menoleh kearah istrinya, dia benar-benar berada di ambang kebimbangan. Dia mencintai Laura, namun semakin menginginkan Kesy untuk terus bersamanya.


Perlahan Adi melilitkan tangannya di perut ramping Kesy, mengecup lembut leher sang istri dari belakang.


"Kamu benar-benar berubah, yang ... Abang kewalahan menghadapi hasrat liar kamu yang semakin lama semakin membuat Abang penasaran. Apa yang kamu baca hmm? Atau jangan-jangan kamu belajar dari Mama ...?" bisiknya pelan.


Kesy menghela nafas panjang, kali ini ia hanya ingin menikmati indahnya alam yang sangat bersahabat dengannya.


Mendengar bisikan dari Adi, sangat menyenangkan hatinya. Namun kali ini, ia telah membentengi dirinya sendiri dari serangan Adi yang selalu mendadak dalam membuat sebuah drama dalam rumah tangga mereka.


"Apa penting buat Abang? Akses untuk belajar juga banyak." Kesy membalikkan badannya, agar bisa menatap mata indah Adi yang telah mampu memikat hatinya sedari kecil.


"Hmm enggak! Laura saja tidak pernah melakukan hal itu pada Abang, tapi kamu lebih berani. Padahal dari usia kamu jauh lebih muda dari Laura ..." ungkapnya tanpa sadar.


Mendengar nama Laura keluar dari bibir Adi, membuat darah Kesy yang awalnya sejuk dalam kedamaian ... Tiba-tiba mendidih bahkan semakin terasa sangat menyakitkan.


Bagaimana mungkin suami sendiri harus membandingkan istri sah dengan Laura yang merupakan mantan tunangan, bahkan pernah mengkhianati cinta Adi.


Kesy mendelik tajam, menatap nanar kedua bola mata Adi, ingin sekali dia mencekik leher suaminya, atau meludahi wajah pria yang tidak memiliki perasaan tersebut.

__ADS_1


Kesy menelan ludahnya, dia hanya bisa menggeram, menepuk-nepuk dada Adi yang ada dihadapannya.


"Jika Kesy lebih menggairahkan Abang daripada wanita jallang itu! Kenapa Abang masih mengharapkan jallang itu? Bukankah Abang yang di khianati? Atau jangan-jangan Laura hamil dengan pria lain, dan meminta Abang bertanggung jawab?"


Adi terdiam, wajahnya merah padam. Kali ini lagi-lagi dia salah telah menyebut nama Laura disaat hati Kesy dalam keadaan damai sejak bangun tidur hingga berdiri menghadap kearah luar dengan balutan busana yang lebih kasual.


Adi tampak gugup, "Bu-bu-bukan itu maksud Abang, yang ... Tapi hmm eee ... Kita ganti topik saja. Kita ke bawah yuk? Kasihan Mama sudah lebih dari dua hari tidak bertemu dengan kita."


Kesy mengangguk dua kali tanda setuju, tersenyum tipis, walau sesungguhnya hatinya masih terasa sangat sakit. Perlahan dia melepaskan tangannya dari tubuh pria yang sudah berstatus sebagai suaminya tersebut, dan melenggang ke lantai bawah, untuk bertemu dengan keluarga.


Benar saja, saat Kesy hendak duduk di kursi ruang makan, Eni sedikit menyindir kearah Kesy dengan berkata, "Kan kalian sudah puas bulan madu. Kenapa di sini malah di kamar terus! Ingat Kesy, kamu itu masih kecil, tidak boleh terus-menerus meminta hal itu. Belum waktunya kamu ketagihan pada hal-hal dewasa seperti itu. Nanti kalau hamil bagaimana? Apa kamu sudah siap menjadi Ibu di usia muda?"


Kesy tampak kebingungan, dia menoleh kearah Adi yang tidak memberikan pembelaan, bahkan hanya diam menikmati roti bakar yang di berikan Eni ke piringnya.


Kesy menjawab omongan Eni dengan nada pelan, "E-e-emang kenapa, Ma? Kalau Kesy hamil, dan punya baby? Lebih bagus dong, karena akan memberi keturunan pada Bang Adi. Lagian kami sudah menikah!" jelasnya.


Eni menatap mata menantu sekaligus cucu tirinya, "Ternyata kamu sama dengan keluarga Papa kamu, yah! Hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diri sendiri. Sudah dua hari kamu di rumah Oma, kamu hanya di kamar terus! Kamu pikir tugas bibi, hanya mengantarkan makanan siang, sama malam kamu? Apa salahnya kamu belajar masak, mengurus makanan suami, bahkan ngapain kek! Banyak hal di luar sana yang bisa kamu lakukan, jangan di kamar terus! Contoh Mama kamu, bisa melakukan apa saja, walau sesungguhnya dia gagal mendidik kamu yang keras kepala!"


Ahmad yang mendengar ucapan Eni yang berapi-api kepada Kesy, dibuat terkejut. Karena selama ini istrinya itu sangat menyayangi anak dari Lyra tersebut.


Ahmad membela Kesy dihadapan Adi serta Eni, "Mama kenapa? Kalau kesal sama Adi, yah Adi saja! Jangan limpahkan kekesalan Mama pada Kesy. Dia tidak salah apa-apa. Wajar Kesy di kamar sama suaminya, kalau hamil yah kita bersyukur di kasih cicit. Kesy ini menantu kita, jadi jangan buat dia menjadi serba salah. Dia hanya ingin menikmati liburan!"


Eni justru mendengus dingin, mendengar penuturan suaminya yang selalu tidak pernah mendengar keluh kesahnya, "Papa tidak tahu. Semenjak Kesy menikah dengan Adi, pernah enggak dia melakukan tugasnya sebagai istri? Menyiapkan makan atau hal-hal kecil! Ini malah pesan makanan Padang, bakso, bawa ke kamar. Kenapa dia tidak makan di sini? Mama ngasih tahu karena peduli sama Adi. Kayaknya Adi sudah salah menikahi anak kecil!" geramnya melirik kearah Kesy.


Kesy benar-benar tidak mampu berkata-kata. Bibirnya terkunci rapat, dihatinya memberontak terhadap sua yang di lontarkan oleh Eni. Ingin melawan, tapi dia tidak memiliki kuasa, karena dia tidak ingin Eni dan Ahmad mengetahui bagaimana Adi memperlakukan nya setelah menikah.

__ADS_1


"Ingin sekali aku melempar piring ini kewajah Bang Adi. Oma Eni pikir, selama dua hari aku menghabiskan waktu bersama Bang Adi ...? Ooogh Oma, baru tadi malam aku meminta Bang Adi menyentuh ku! Itupun ... Masih nama Laura yang keluar dari bibirnya pagi ini. Ada apa dengan pernikahan ku dengan Bang Adi? Kenapa Oma Eni jadi berubah? Laki-laki di sebelah ku, hanya diam tanpa mau membela, seperti Papi memperlakukan Mama ku ...!" sesalnya dalam hati.


Kesy memilih menghindar dari tatapan mata Eni yang masih menatapnya dengan sinis, dia memilih meninggalkan sarapan paginya, bergegas membuka pintu keluar melalui samping, namun berpapasan dengan Zul juga Lyra dan ketiga adik kembarnya.


Susah payah Kesy membendung amarah dan air matanya, dia berusaha tersenyum tipis menatap Zul, dan menyambut kedatangan keluarganya ...


"Papi sama Mama dari mana? Masih hujan, kan? Kok ...?" telunjuknya bergoyang-goyang mengisyaratkan kebingungan serta kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya.


Zul memeluk Kesy, "Kamu sendiri mau kemana? Oma sama Opa dimana? Terus Bang Adi kok enggak nemanin?"


Kesy menggelengkan kepalanya, dia menunjuk kearah taman samping, membawa ketiga adiknya untuk bermain-main di bale-bale yang terbuat dari jati.


Zul dan Lyra masuk kedalam rumah, melihat suasana hati keluarganya sedang kurang baik.


Eni menoleh kearah Lyra, "Kamu bawa deh Kesy pulang ke rumah kalian sampai resepsi. Biar Mama enggak kesel aja sama anak itu. Masih kecil pikirannya mesum mulu. Kesy pikir Adi nikahin dia cuma buat pelampiasan nafsu? Justru ini karena keinginan Kesy yang meminta lebih dulu, makanya mereka menikah, mana ada kucing nolak ikan! Ya kan Adi?"


Lyra mendelik tajam menoleh kearah Adi, kali ini dia benar-benar tidak suka dengan ucapan ibu mertuanya.


"Ma-ma-maaf, Ma! Maksud Mama apa? Jujur Lyra tidak mengerti?"


Adi tampak salah tingkah, saat kedua bola mata Zul menatap sinis kearahnya ... "Bisa jelaskan? Apa maksud dari ucapan Mama, Adi!"


Ahamad menatap lekat kearah putra tirinya, karena tidak pernah Eni bertindak kasar seperti itu pada siapapun.


"Ada apa ini? Bisa jelaskan?"

__ADS_1


__ADS_2