
Suasana restoran sangat sejuk, hembusan angin pantai dan deburan ombak sangat menyenangkan untuk berlibur.
Lyra kembali menoleh kearah Adi, kali ini dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Bagaimana mungkin pria dewasa yang ada dihadapan ini tidak mengerti sifat putrinya, Kesy.
Kembali Lyra menoleh kearah Kesy ... "Mama tegaskan pada mu! Jika ada masalah, jangan pernah pergi meninggalkan suami mu sendirian. Ingat, diluar sana banyak yang menginginkan suami mu," tegasnya tanpa ingin di bantah.
"Ma ..." rengek Kesy manja menoleh kearah Zul sang Papi hanya untuk meminta pembelaan.
Namun kali ini Zul hanya tersenyum mengangguk pelan, membenarkan ucapan istrinya.
Lyra kembali menasehati putrinya panjang lebar. Tanpa memberi jedah pada sang putri untuk menyanggah.
"Adi ini suami mu, apapun kekurangannya sebagai seorang suami, harus kamu jaga. Ini yang pertama dan terakhir. Adi pengganti Mama juga Papi, jangan pernah membantah, ataupun meninggalkan suami mu. Mama tidak ingin, apa yang terjadi pada pernikahan Mama pertama dulu terjadi sama kamu. Bagi Mama, kamu merupakan anak kesayangan Mama. Sebagai contoh bagi Hana juga Hani!" tegas Lyra lagi.
Kesy mengangguk, dia meremas tangan Adi yang berada disampingnya.
Merungut menoleh kearah Adi dengan bibir maju kedepan, "Abang sih jahat ... Kesel!"
Adi hanya menghela nafas panjang, dia tersenyum, merangkul bahu istrinya mengecup lembut kening Kesy.
Lyra menoleh kearah Zul, "Ya sudah, Mama mau istirahat di kamar, nanti malam ada undangan makan malam di kediaman Aunty Caroline teman Papi. Jangan lupa, kamu mengerti!"
Kedua pengantin baru itu mengangguk patuh.
Zul menarik tangan Adi, untuk bisa mengobrol berdua, urusan Keluarga Ahmad. Bagi Zul, ia sangat memahami bagaimana sang adik menghadapi Kesy. Demi keharmonisan keluarga besarnya, Zul harus menekankan pada Adi tentang nama baik, dan jangan membuat masalah, bahkan tetap menjaga komitmen pernikahan mereka berdua.
Zul sangat mengetahui bagaimana perasaan Adi terhadap Laura. Melupakan mantan yang telah bersama selama tujuh tahun tidaklah mudah. Namun harus ia tekankan, demi kebahagiaan putri sambungnya juga adik kesayangan walau tak sedarah.
Adi mengangguk-angguk mengerti atas semua nasehat yang Zul berikan padanya. Dia juga tidak ingin menyakiti perasaan Kesy, karena sangat mengetahui bagaimana kondisi mental gadis itu sedari kecil.
.
Mereka menghabiskan waktu bersama menikmati keindahan Hawaii. Beberapa kali Hana dan Hani menghubungi Lyra juga Zul. Perasaan rindu, bahkan sangat merindukan kedua orangtuanya.
["Mama ... A-a-a-aku hmm ... Kann ein bisschen Indonesisch gebrauchen ..."]
(Mama ... A-a-a-aku hmm ... Sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia sedikit ...)
__ADS_1
Tawa Hani diseberang sana.
Lyra tertawa kecil mendengar celotehan Hani yang tak kalah serunya bercerita tentang keseruan mereka berbicara bahasa Indonesia yang di ajari oleh Bima juga Kenny.
Zul yang tak ingin melepaskan pelukannya dari sang istri saat menikmati sunset di sore hari, membuat Hani merasa kesal padanya.
["Könnt ihr ein bisschen Zeit im Raum Papi verbringen!"]
(Bisakah kalian menghabiskan waktu di kamar saja Papi!)
Pekik Hani dengan nada sangat keras.
Zul tertawa terbahak-bahak, mendengar suara teriakan Hani yang sangat lucu, jika putrinya kesal seperti itu.
["Ok ... Papi akan membawa Mama ke kamar, bye darling!"]
["Papi!!!"]
Lyra mencubit kecil perut suaminya, setelah menutup panggilan telepon dari putri kesayangan mereka.
"Senang sekali mengganggu mereka iigh ... Pasti Betris jadi bulan-bulanan mereka berdua," geramnya.
"Selama menikah, baru kali ini kita menginjakkan kaki di Hawaii, sayang. Karena kesibukan kita, membuat kita melupakan kebahagiaan selama ini. Terimakasih Lyra, telah mau menjadi pendamping hidupku. Tetaplah menjadi istri juga ibu yang baik untuk anak-anak kita. Semoga kita dapat memberikan warna bagi mereka hingga usia senja ..."
Lyra tersipu-sipu malu saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir pria yang selalu setia padanya.
Dengan sedikit nakal Lyra membalikkan tubuhnya agar duduk berhadapan, hanya untuk saling berpelukan mesra, di bibir pantai menikmati keindahan deburan ombak yang menyentuh ujung kaki keduanya.
"Kita buat anak lagi yah? Anak-anak sudah besar ..." kecup Zul nakal dileher hingga puncak kenyal yang masih terbalut benang.
Lyra menautkan kedua alisnya, "Jangan, entar kita bingung bedain anak sama cucu yang seumuran," sesalnya, namun mendessah kecil saat tangan Zul semakin liar diatas tubuhnya.
"Hunhh ... Kita ditempat umum, enggak mungkin kita melakukannya disini," geram Lyra namun tak kuasa menolak tangan nakal Zul.
"Siapa yang mau marah, bukankah disini bebas melakukan apa saja hmm ... Kita di Hawaii sayang, aku tidak ingin melewatkannya. Aku menginginkan mu saat ini juga!" kecupan-kecupan kecil yang Zul ciptakan, membuat Lyra benar-benar tak kuasa untuk menolak.
Tubuhnya justru meminta seraya memohon, membuat Zul semakin aktif menikmati keindahan lembah surga ditempat yang berbeda.
__ADS_1
"Hunhh ... Aaaagh ... Tutupinhh ... Malu hunhh ..."
Zul semakin geram mendengar penolakan, namun mendessah kecil, membuat dia benar-benar melakukannya di pinggir pantai, dengan menutup sedikit tubuh mereka, menggunakan kain pantai.
Sensasi yang berbeda mereka lakukan, membuat tubuh keduanya dibaluri pasir putih yang menempel, membuat mereka menikmati indahnya dunia dalam ikatan pernikahan ...
Beberapa pasang mata, yang terbiasa melihat kemesraan beberapa pasang yang melakukan hal itu, membuat Adi menutup mata istrinya yang tengah duduk dipangkuan nya.
"Iiighs ... Ternyata Mama sama Papi mesum banget yah Bang? Buat Kesy jadi mau ..." rengeknya mengalungkan tangannya keleher tegap Adi.
Adi tersenyum nakal, dia hanya ingin menikmati keindahan pantai, sambil mengusap lembut punggung istrinya. Keindahan alam membuat nuansa klasik yang berbeda, untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga bagi dua pasang Keluarga Ahmad Maeta.
Lyra tak ingin beranjak dari pinggir pantai, menikmati sejuknya angin yang berhembus sepoi-sepoi, kembali terbaring lemah tak berdaya.
Tangan keduanya saling menggenggam, menatap langit yang cerah, saling berjanji setia, mencintai hingga tutup usia ...
"Aku mencintaimu Lyra!!" teriak Zul bak pasangan muda yang baru mengikrarkan janji setia.
Lyra menggelengkan kepalanya, "Aku juga mencintai mu Zulmaeta ... Jangan keras-keras ngomong cintanya. Malu sama Kesy ..."
Zul tertawa kecil, kembali membawa tubuh sang istri masuk dalam dekapannya.
"Hun ..."
"Hmm ..."
"Selama menikah kamu pernah berkencan dengan wanita lain?"
Pertanyaan Lyra yang menjebak, membuat Zul lebih awas karena mengetahui bagaimana sifat wanita. Dia hanya menjawab singkat ...
"Emang penting yah?"
Lyra yang mendengar ucapan suaminya seperti itu, mencubit geram suaminya.
"Jawab saja ... Pernah enggak?" sesalnya.
Zul menatap iris mata Lyra yang indah, merangkul pinggang wanita yang telah memberikannya tiga anak kembar ...
__ADS_1
"Selama kita ribut, aku tidak pernah ingin mencari pihak ketiga. Bagiku, kamu wanita hebat ku, tidak pernah menuntut ini itu ... Walau sebenarnya kamu sangat egois. Bahkan melebihi keegoisanku, tapi aku tahu ... Itulah kamu, cara kamu melindungi dirimu sendiri, untuk menjadi wanita tangguh yang punya prinsip. Bagaimana dengan kamu? Apakah ada Sugar Daddy yang mendekati mu jika berpergian ke Italia, Swiss, bahkan Netherland ..."
Lyra menggembungkan pipinya, "Setiap aku pergi meninggalkan kamu, kita selalu video call. Bagaimana Sugar Daddy, akan mendekati aku, 30 jam kita online!" geramnya.