
Setelah menghabiskan waktu diluar sana dengan beberapa aktivitas yang Lyra lakukan membawa Kesy bersama, cuaca mendung bahkan langit tampak gelap.
Kesy sudah terlelap disamping Lyra yang tenga fokus dengan kemudi, dengan wajah lelahnya. Baju sekolah tampak berantakan, tidak seperti tadi pagi.
Lyra menekan pedal gas, menuju kediamannya yang terletak sedikit jauh dari pusat kota. Dia bernyanyi kecil, mengikuti alunan lagu yang diputar melalui audio.
Lyra memasuki gerbang area perumahan, terlihat lampu jalan sudah menyala, dan sama seperti yang dikatakan Kesy, bahwa wanita oriental merupakan tetangga mereka tengah berada di teras rumah Lyra bersama Dony.
Tentu pemandangan yang tidak biasa itu, membuat Lyra bertanya dalam hati, "Ngapain mereka duduk berdua di teras rumah? Apakah jika aku tidak ada mereka akan tidur bersama? Dasar laki-laki brengsek, tidak memiliki perasaan. Aku rasa uang yang aku beri tadi itu untuk selingkuhannya ini."
Lyra keluar dari mobilnya, membuka pagar, melihat sinis kearah dua insan yang tampak gelagapan karena kepulangannya. Lyra memasuki stir kemudi, memarkirkan kendaraan di carport yang tersedia.
Benar saja, wanita bernama Nela alias nenek lampir itu bergegas berlari menuju kediamannya.
Lyra keluar dari mobil, menatap sinis kearah Dony, menyindir sekaligus memberi perintah pada pria yang tidak tahu malu tersebut, "Aku fikir kamu sudah menginap di kediaman keluarga mu? Kenapa kamu masih kembali di kediaman ku? Bukankah kamu sudah menceraikan aku? Dan rumah ini milikku, tidak ada hak untuk kamu tetap tinggal disini! Angkat Kesy! Jika tidak mau mengikuti perintah ku, silahkan pergi....!!!"
Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Lyra membuat Dony tidak bisa terima. Wajahnya memerah karena pembicaraan mereka didengar oleh wanita tetangga yang sengaja menguping dari balik tembok pagar.
"Apa maksudmu, Lyra? Bukankah rumah ini kita renovasi bersama? Dan disini ada hak aku....!!!!" Dony berucap seolah-olah rumah itu miliknya.
Lyra mendekati Dony, dengan wajah menggeram, "Apa Don? Ulangi? Ini kita renovasi bersama? Berapa uangmu yang masuk untuk merenovasi rumah ini, Dony!? Apa kamu lupa? SK siapa yang tergadai untuk rumah nyaman dan mobil milikmu!? Kamu memohon pada ku, akan bekerja keras untuk mencicil uang ku! Tapi apa....? Apa Dony!?"
Bentakan Lyra membuat wajah Dony semakin memerah.
Lyra berteriak tanpa ada perasaan malu, memberi perintah, "Angkat Kesy sekarang! Atau silahkan tinggalkan kediamanku....!!"
Suara lantang Lyra, memberi keyakinan pada penghuni perumahan, yang selama ini penasaran siapa sebenarnya mereka.
__ADS_1
Dony yang tidak pernah memberikan kewajibannya sebagai seorang suami, membuat Lyra semakin tidak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya.
Lyra memilih meninggalkan Dony yang masih berdiri di teras, memasuki rumah yang terbuka sejak tadi. Dia membanting pintu kamar dengan sangat keras. Perasaan kesal dan kecewa yang tadi sudah mereda, kini kembali memanas hanya karena ucapan Dony yang meminta uang lagi padanya.
Lyra menggeram kesal, mengepalkan tangannya, "Dasar suami tidak berguna!! Bisa-bisanya dia meminta uang renovasi rumah pada ku! Dia pikir aku akan memberi uang lagi? Jangan harap laki-laki bodoh!!!"
Lyra mendengarkan dari balik pintu kamar, Dony sudah memindahkan Kesy atau masih membiarkan putri kesayangan tertidur di mobil.
Karena tidak ada tanda-tanda bahwa Dony telah memindahkan Kesy, Lyra membuka pintu kamar. Dia memeriksa kamar putri satu-satunya, yang ternyata tidak dia temukan Kesy disana.
"Brengsek, pria seperti apa dia? Sama sekali tidak mau membantu, bagaimana jika anaknya mati didalam mobil!" bisiknya dalam hati penuh amarah.
Secepat kilat, Lyra berjalan menuju carport. Benar saja, Dony tenga menikmati sebatang rokok dengan sangat santai, tanpa memperdulikan putrinya didalam mobil yang masih tertutup rapat.
Sontak amarah Lyra semakin memuncak, "Aku minta tolong pada mu untuk segera memindahkan Kesy! Tapi kamu malah merokok dengan sangat santai! Emang Bapak tidak ada otak! SPP dan uang buku anak saja kamu makan! Ini yang katanya kamu menyayangi Kesy!?" ucapnya lantang.
Lyra menepis alasan Dony, yang membela diri, berusaha menjelaskan padanya. Namun, wanita dewasa yang sedang tidak ingin berdebat tersebut hanya menganggap angin lalu pada suaminya.
Dony yang melihat mantan istrinya tidak mau mendengar alasannya, menarik lengan Lyra dengan kasar, "Dari awal kita menikah, kamu tidak pernah menghargai aku sebagai suami, Lyra! Kamu terlalu sombong, bahkan angkuh karena memiliki banyak uang, bahkan penghasilan mu melebihi pendapatan ku di toko!!!"
Lyra tersenyum tipis menantang kedua bola mata Dony, "Jika aku tidak menghargai mu! Mungkin aku sudah berselingkuh kesana kemari karena kamu tidak pernah memberi apa yang aku butuhkan! Aku hanya minta itu, Don.... hanya itu....!!!"
Lyra melepaskan tangan Dony yang meremas lengannya kuat, membuka pintu mobil, menggendong putrinya menuju kamar. Dia tidak ingin Kesy mendengar perdebatannya dengan Dony malam ini.
Sudah cukup dia disakiti Dony selama menikah, bahkan harus menerima penghinaan bertubi-tubi dari suami sendiri, sehingga keluarga ipar yang selalu menganggap rendah padanya.
Tanpa perasaan bersalah, Dony membiarkan Lyra menggendong tubuh Kesy sendiri tanpa mau membantunya.
__ADS_1
Lyra mendengus kesal, saat melewati Dony, "Silahkan tidur diluar! Karena aku tidak ingin melihat mu lagi dikediaman ku!"
Lyra menutup pintu menggunakan kakinya, dan mengunci pintu rumah dengan cepat, agar Dony tidak dapat masuk kekediaman mereka.
Dony benar-benar kesal, dia justru menggedor pintu itu dengan sangat keras, namun tidak dihiraukan oleh Lyra yang membawa Kesy tidur bersamanya.
Terdengar teriakan Dony dari arah luar, "Lyra..... Lyra..... Lyra.... buka pintunya!!! Dasar wanita durhaka! Istri yang tidak tahu sopan santun, tidak tahu bagaimana menghargai seorang suami! Lyra.... buka....!!!"
Lyra tersenyum tipis, menatap lekat wajah Kesy. "Maafkan Mama, Nak! Harus memperlakukan Papa seperti itu! Karena Mama sudah tidak sanggup dengan perlakuannya," bisiknya.
Lyra terdiam sejenak, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan beristirahat tanpa memikirkan Dony yang terkurung diluar rumah.
"Atas dasar apa aku dikatakan durhaka? Dia laki-laki yang memiliki keluarga, tidur saja dirumah adik atau kakak nya, mereka kan sangat menyayangi Dony dari pada aku dan putriku. Dia pikir aku merantau dikota ini sendiri, tidak akan kuat menghadapi tantangan ini?" gumamnya dalam hati.
Lyra membuka pakaiannya, membersihkan diri dibawah shower. Air mata kembali mengalir, membayangkan hinaan dari iparnya yang sangat menyakitkan.
Kenapa mereka sangat membenciku? Apa salahku pada mereka? Aku justru tidak pernah berkeluh kesah pada mereka!! Hanya pertanyaan ini yang ada dalam benak Lyra.
Kebencian yang tidak beralasan membuat Lyra semakin membenci Dony sekeluarga.
Cinta yang besar, dapat terkikis dari perkataan kasar yang sangat menyakitkan setiap harinya.
_______
Salam hangat Author,
Ini merupakan cerita ringan rumah tangga. Silahkan tinggalkan komentar anda pada kolom komentar. Terimakasih....❤️🥰😘
__ADS_1