Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Berpikir nakal


__ADS_3

Lyra mendekati ruangannya yang telah di bersihkan oleh petugas kebersihan. Dia melirik tajam kearah pria yang sudah menunggunya sejak tadi.


Lyra tak menghiraukan pria tersebut, karena baginya dia tidak ada urusan lagi setelah mendengar permintaan pria itu di ruang mediasi kemarin. Wajahnya sangat jijik saat matanya beradu tatap dengan Dony, mantan suaminya.


Ya, pagi-pagi sekali Dony sudah berada di kantor Lyra untuk meminta kunci rumah yang selama ini dia bawa. Sudah hampir sebulan dia tinggal bersama selingkuhannya, berharap Lyra akan kembali ke kediaman mereka.


Dony menyusul Lyra untuk masuk keruangan yang mana sudah menjadi mantan istri, namun di tolak oleh wanita cantik itu.


Lyra menahan dada Dony, agar tidak ikut masuk keruang kerjanya, "Mau apa kamu kesini?" tanyanya kesal.


Dony tersenyum tipis, menjawab pertanyaan Lyra dengan santai, "Pertama aku kesini untuk mengambil kunci rumah, kedua aku akan membawa Kesy agar tinggal beberapa bulan bersama ku sampai keputusan Pengadilan mengetuk palu perceraian kita!" tegasnya remeh.


Lyra menaikkan kedua alisnya, tertawa sinis mendengar permintaan Dony yang tidak masuk akal, "Haaah....??? Apa kamu tidak tahu malu.... meminta rumah ku, juga Kesy!? Ingat Dony, keputusan pengadilan belum jelas. Mereka masih mempertimbangkan! Aku jamin, kamu tidak akan mendapatkan apapun, karena kamu tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan Kesy. Apa yang akan kamu berikan?"


Pertanyaan Lyra yang sangat menghinanya, sontak membuat Dony menjawab dengan asal, "Kan ada kamu Mama nya yang bisa menafkahi Kesy!! Aku selaku Papa harus ikut mengasuh anak ku demi masa depannya!"


PLAAAAK....!!


Tamparan keras jemari Lyra melayang ke pipi kanan Dony, yang tidak pernah memiliki rasa malu jika sudah berhadapan dengan wanita yang sudah berstatus mantan istri tersebut.


"Dengar laki-laki brengsek....! Silahkan pergi dari kantorku... sebelum kamu ku laporkan ke security depan. Jangan berharap kamu akan mendapat kan semua! Karena jika sampai itu terjadi, aku akan melaporkan mu ke Komnas HAM, atau ke polisi sekalian karena perselingkuhan mu dengan wanita tua itu...!!!" geram Lyra menantang Dony dengan tatapan kebencian. 


Dony menahan panas tamparan Lyra yang melayang ke pipinya, jika di ikutkan hati ingin sekali dia membalas perlakuan wanita yang tengah menantang seperti akan membunuh dan memakannya bulat-bulat.


Lyra kembali bertanya pada pria yang telah memberikannya seorang putri, "Mulai detik ini, jangan pernah menemui aku! Atau aku akan mengambil paksa mobil yang ada di tanganmu! Karena itu milikku TUA BANGKA....!!!"


Lyra membanting pintu ruangannya dengan sangat keras, kembali menangis sejadi-jadinya membayangkan masa depan Kesy jika tumbuh ditangan Dony.

__ADS_1


Namun, dia tidak mampu memisahkan antara anak dengan Papa kandungnya. Sebenci apapun Lyra, semua harus dia lakukan karena suatu saat nanti mereka membutuhkan Dony untuk perwalian bagi anak perempuannya.


Aaaagh..... itu masih lama! Dan mungkin saja suatu hari nanti Dony akan berubah demi Kesy putri kesayangan mereka berdua. Tidak selamanya manusia akan terus melakukan kesalahan yang sama. Mungkin saja, jika berpisah dengan Lyra semua akan berubah menjadi lebih baik.


Lyra beranjak ke kursi kebanggaan, kursi hitam yang telah mengangkat derajat perekonomiannya menjadi lebih baik selama beberapa tahun ini. Dia memijat pelan pelipisnya, melihat beberapa pesan yang masuk ke dalam handphone sejak tadi malam.


Terlihat panggilan telepon dari Zul, dan nomor yang tidak di kenal.


Lyra terdiam, membuka layar laptopnya, melakukan pekerjaan seperti biasa. Menyelesaikan tugas sebagai bagian keuangan untuk mengirim laporan pertengahan bulan, sebelum di minta oleh rekan yang berada di pusat kota seberang sana.


Sejenak pekerjaannya terhenti, karena Zul melakukan video call, dia menghela nafas panjang, menggeser lambang hijau, menggunakan headset bluetooth di telinga kanannya.


Mereka saling menatap lewat layar handphone.


["Hmm.... halo!"]


Terdengar suara Zul sedikit kesal karena Lyra memutuskan komunikasi mereka secara sepihak tanpa mau memberi kabar dan kesempatan lagi.


Lyra hanya menatap wajah tampan Zul di seberang sana, wajah seorang pria muda yang berwibawa, berkulit putih dan sangat bersih, terlihat jelas benar-benar khawatir dengan kondisi wanitanya saat ini.


Lyra tersenyum tipis, hanya mengusap wajah lembut.


["Bicaralah sayang.... jangan diam seperti ini. Aku harus bagaimana? Jika memang aku tidak pantas dengan mu, beritahu aku. Pria seperti apa yang pantas untuk mendampingi mu, Lyra?"]


Lyra hanya bisa tersenyum, menahan rasa rindu yang ternyata dapat dia rasakan saat ini. Entahlah, saat ini dia hanya ingin melupakan sejenak permasalahan yang terjadi, seperti pesan dari Mama dan Papanya.


Tidak ada salahnya menjalin komunikasi dengan pria, apalagi posisi Zul saat ini jauh di seberang sana. Jadi tidak akan ada yang tahu dengan hubungan ini, batin Lyra sedikit berfikir nakal.

__ADS_1


["Lyra....! Apa kamu masih mendengarkan aku?"]


Lyra menaikkan kedua alisnya.


["Hmm, aku masih disini! Seperti yang kamu lihat, aku sudah berada di kantor.... saat ini aku sedang melakukan pekerjaan ku!"]


["Syukurlah sayang. Bagaimana dengan anak kita, Kesy? Apakah dia sudah pindah sekolah?"]


Lyra kembali membulatkan kedua bola matanya, sedikit menggeram, karena pertanyaan Zul, sangat menggelitik hatinya karena kalimat 'anak kita Kesy'.


["Ya Zul.... Kesy sudah pindah sekolah, seperti saran kamu. Setidaknya lebih baik dan dia juga happy. Tapi saat ini aku mesti menghadapi kenyataan, bahwa mantan suami ku menginginkan rumah kami. Padahal aku sudah memberikan mobil padanya. Aku bingung Zul. Aku harus bagaimana?"]


Mata Lyra kembali berkaca-kaca, bahkan dia tak mampu membendung air matanya yang tanpa disadari membasahi pipi mulusnya.


["Ooogh Lyra...  sayang... aku turut prihatin. Jika aku berada disana, mungkin aku akan ada untuk mendampingi mu. Tapi kamu tenang saja, aku akan segera meminta pengacara keluarga untuk membantu mu! Kamu jangan khawatir, aku serius.... semua akan baik-baik saja. Lagian jika rumah itu kamu berikan pada mantan suami mu, apa salahnya? Toh, dia tidak akan bisa menjualnya. Dia hanya bisa tinggal, tapi tidak memilikinya utuh."]


Lyra termenung, sedikit mengingat bahwa rumah itu memang atas namanya, dan tidak bisa di miliki sepenuhnya oleh Dony mantan suaminya.


["Dengar Lyra, mungkin saja dia membutuhkan rumah itu. Oya, apa saat ini kamu tinggal di kosan atau dimana? Maaf, jika aku sedikit bertanya. Karena aku memiliki rumah di Perumahan Nirvana, jika kamu bersedia..... kamu bisa tinggal disana. Karena rumah itu memang di huni oleh dua pembantu keluarga ku. Apa kamu bersedia?"]


Zul bertanya seakan-akan Lyra adalah wanita yang teraniaya karena mantan suami sendiri, namun pikiran wanita dewasa itu bukanlah 'teraniaya' nya. Namun, kejujuran Zul yang memiliki rumah di Perumahan real estate Nirvana, tempat tinggal yang merupakan rumah mewah di daerah tersebut.


Lyra bergumam dalam hati, "Rumah di Nirvana yang di huni pembantu? Apa dia bercanda? Atau jangan-jangan dia memang pewaris tahta rumah sakit ibu dan anak di sini? Aaaagh.....!!"


["Lyra.... kenapa kamu banyak bengong siih? Kamu bisa tinggal disana jika kamu tidak keberatan. Mungkin akan lebih baik kamu berada di sana. Setidaknya aku akan lebih tenang."]


Lyra tersadar dari lamunannya, tidak ingin membayangkan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan, mana ada seorang perjaka mau sama janda?

__ADS_1


"Apa mata Zul salah menilai ku? Ini bukan jaman Cinderella, Zul. Mana ada seorang pangeran yang mau sama upik abu seperti ku?" tawa Lyra dalam hati.


__ADS_2