Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Sumpah serapah mantan ipar ...


__ADS_3

Lyra di jemput oleh Kesy juga Zul ke kamar yang ternyata sudah ada Luna bersama sang istri tercinta di sana. Pria berwajah tampan itu hanya tersenyum tipis, melihat gadis yang pernah ada dalam hatinya menggandeng tangan Lyra sang istri yang tengah mengandung bayi kembar mereka ...


Seluruh team event wedding organizer mengurus dua insan itu, untuk berjalan menuju gedung mewah yang menjadi pusat acara pesta pernikahan mereka.


Beberapa kerabat dari Keluarga Ahmad sengaja datang dari Australia, juga Adi adik Zul tiba di Indo dua hari lalu ...


Acara pernikahan sangat hikmat dan berbeda dari acara pernikahan lainnya. Mereka berbaur bahkan terasa dekat dengan para tamu.


Tak sedikit Ibu-ibu sosialita yang memuji kecantikan Lyra walau berstatus janda yang terpaut usia sangat jauh dari Zul.


Eni yang tidak menyukai perhiasan, hari ini dia mengenakan perhiasan mahal yang menjadi koleksinya selama ini. Tentu menjadi pemandangan yang sangat memukau bagi para sahabat sosialita yang berada di acara tersebut.


Lince terlihat bahagia, saat menerima para pejabat yang hadir memberikan ucapan selamat pada kedua keluarga terpandang tersebut.


Di tambah desas-desus keberangkatan Lyra dan Zul ke Berlin, dengan berbagai berita-berita miring yang sangat menyebalkan pendengaran Lyra selaku orang biasa baru berbaur dengan keluarga mereka.


Mama Luna menghampiri Lyra yang masih menggandeng tangan Zul berdiri tegak di sampingnya.


"Selamat yah Zul dan Lyra ...! Jangan lupain Tante dong, walau enggak jadi menantu," tawa Mama Luna merangkul kedua insan yang tengah berbahagia tersebut.


Lyra hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan Mama Luna seperti itu ...


Namun Zul memeluk Mama Luna, menghargainya selayaknya orang tua.


"Terimakasih Tante, kita bisa jadi teman, kan?"


Mama Luna hanya tertawa kecil, mengusap lembut kepala Zul yang terlihat sangat tampan di balut jas putih pengantin pria, terlihat seperti seorang pangeran kerajaan.


Berbeda dengan Kesy, dia justru tengah asyik menyantap makanan di meja bundar yang menghidangkan makanan kesukaannya, di temani Adi sang pilot muda yang berusia 18 tahun.


Adik kandung Zul yang menyukai adik perempuan sangat akrab walau baru mengenal Kesy beberapa hari.

__ADS_1


Panggilan Abang yang Kesy biasakan, sangat mengejutkan bagi Zul dan Lyra tanpa merubah kebiasaan panggilan putri kesayangan mereka pada Adi yang seharusnya di sapa Paman.


Susana pesta, semakin ceria saat melihat Ahmad dan Boy melantunkan sebuah tembang yang sangat merdu. Lagu yang mereka ciptakan selayaknya untuk menyampaikan isi hati seorang Ayah yang sangat bahagia melepas putri dan putra kesayangan mereka untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, yang pasti akan mengalami badai menerjang, saat pernikahan itu kembali di uji.


Kekuatan dan wejangan yang di berikan kerabat, membuat dua insan dewasa tersebut semakin yakin, bahwa Zul merupakan jodoh terbaik untuk Lyra.


Tibalah saatnya Lyra melemparkan bunga yang ada dalam genggaman nya. Disambut sorak sorai pasangan muda yang belum memiliki pasangan berdiri di belakang Lyra dan Zul yang akan melempar kan bunga indah berwarna putih dan pink tersebut.


"Satu ..."


"Dua ..."


"Ti ..."


"Ga ..."


Bunga terlempar ke belakang, disambut oleh tangan pria muda yang berprofesi sebagai mahasiswa penerbangan di Jerman.


"Aaaagh!"


"Will you marry me, honey....?"


Kesy melihat Adi yang duduk bersimpuh di hadapannya, memberikan seikat bunga yang dia dapatkan dari Lyra sang kakak ipar yang baik hati.


Sontak pemandangan itu menjadi lelucon bagi keluarga, namun tidak untuk Kesy yang mengagumi pria gagah itu sejak pertama kali bertemu.


Kesy hanya mengangguk, merasa terbang tinggi bak seorang putri raja, yang di lamar di usia belia.


Itu hanyalah lelucon yang di ciptakan Adi untuk menghibur Kesy agar tidak bersedih, karena pernikahan dan kehamilan sang Mama yang sedikit melupakan perhatian untuk putri kecil itu.


"Yes I will ..." bisik Kesy dalam hati, melanjutkan makanannya.

__ADS_1


Pesta semakin semarak saat Lyra dan Zul berdansa bersama, saling bercerita tentang keindahan cinta sepasang insan yang akan menyambut kedatangan buah cinta mereka.


Tentu saja, pemandangan tersebut menjadi sorotan media dan beberapa rekan yang tidak menyukai pernikahan mereka. Usia yang terpaut jauh, dan status sosial yang berbeda, menjadi topik penting yang kembali beredar di luar sana.


Tidak untuk Luna, dia berdansa bersama Aldo yang merupakan sahabat sekaligus partner bisnis keluarganya sejak dulu.


Keluarga yang menyaksikan kedekatan dua anak muda tersebut, hanya mampu mendoakan Aldo dan Luna menjadi sepasang suami istri seperti Zul dan Lyra ...


.


Di tempat yang berbeda, Riche masih menangis keras karena tidak menyangka bahwa mantan kekasihnya yang menjadi penyebab kematian Dony.


Pria bajingan itu bernama Dilan, yang menjadi tangan kanan pemilik salah satu diskotik di kota kecil tersebut.


Riche meringkuk di pangkuan Rey sang keponakan, yang masih tampak terpukul karena Rita mendekam di penjara selama 20 tahun.


"Bagaimana ini Rey? Apa yang harus kita lakukan? Uang kita tinggal sedikit! Jujur Tante sudah tidak ada uang lagi. Dulu ada Tante Lyra, dia selalu memberikan pada Dony. Sekarang wanita jahanam itu sudah menikah dan menjual rumah Dony. Bagaimana caranya, agar kita bisa meminta uang sama wanita itu, sebelum dia berangkat ke Berlin? Alasan apa yang harus kita bicarakan? Bagaimana kalau Rey yang maju ke Tante Lyra? Kali saja dia mau memberikan uang hasil penjualan rumah mereka pada kita. Kan lumayan untuk hidup kita tanpa bekerja? Karena kalau Tante yang maju, dia pasti tidak mau memberikan nya," pujuk Riche pada sang keponakan.


Rey menghela nafas panjang. Bagaimanapun Lyra merupakan Tante terbaiknya yang selalu memberikan nya uang belanja walau sesekali bertemu.


"Ada perasaan enggak tega, Nte. Masak Rey harus menemui Tante Lyra di kantornya? Apa kata rekan kerjanya? Selama ini Rey tidak pernah ada masalah dengan Tante Lyra, dan ini akan menjadi masalah besar buat keluarga kecil mereka," jelas Rey menolak keinginan Riche.


Riche mendengus kesal, melirik kearah Rey. Dia duduk dari pangkuan sang keponakan, menepuk bahu Rey dengan sangat keras.


"Aaauugh! Sakit Nte ..." Ringis Rey mengusap bahunya.


Riche menggeram, "Dengar yah? Tante Lyra itu sudah kaya! Dia tidak membutuhkan uang lagi. Bahkan Tante yakin, kalau gajinya masih utuh karena mendapatkan suami kaya dan masih muda lagi. Aku yakin, suatu hari nanti suaminya itu akan mencari wanita muda lebih dari wanita jallang itu!"


Rey bergidik ngeri, dia menggelengkan kepalanya. Tidak menyetujui sumpah serapah yang sudah menjadi mantan, keluar dari mulut Riche yang sangat mengerikan di telinga anak seusia 17 tahun tersebut.


"Enggak boleh begitu, Nte! Tante Lyra itu baik. Dia berhak bahagia. Kita aja yang jahat sama dia. Apa lagi Mami, Rey saja tidak setuju sama perbuatan Mami. Biar ajalah Mami di penjara, palingan Rey bisa minta kerja sama Tante Lyra di rumah sakit Om Zul suaminya. Dari pada minta duit, bagus minta kerjaan. Sambil kuliah," jawab Rey enteng.

__ADS_1


Tentu jawaban itu menjadi tamparan keras bagi Riche. Dia tidak bisa menghasut Rey walau anak laki-laki itu hanya sebagai pendengar dalam pertikaian keluarga mereka.


"Aaaagh ... Ternyata kamu itu penjillat yang tak berguna! Sana pergi!"


__ADS_2