Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Rumah duka


__ADS_3

Siang yang cerah, matahari tidak malu-malu lagi untuk bersinar terang, karena cuaca sudah semakin panas dan sangat menyengat.


Lyra, tinggal di salah satu kota yang menjadi pusat khas melayu, memiliki adat istiadat dan tata krama sangat ramah juga sopan, sangat berbeda dengan kota besar.


Lyra membawa Kesy bersama, untuk menemui sahabatnya Iqbal juga Aryo. Mereka janjian disalah satu mall, yang berada dilantai tiga dan dekat dengan permainan anak-anak.


Setibanya di mall, Lyra memarkirkan mobilnya disalah satu parkiran yang terdapat diarea basemen. Dia menyisir rambut Kesy dan tidak lupa memoleskan lipstik berwarna senada dengan warna pipinya yang kemerahan.


Mata Lyra tertuju pada dua ajudan Iqbal yang masih menunggunya turun. Dia merasa tidak nyaman, menurunkan kaca memanggil salah satu pengawal untuk bertanya.


"Kalian berdua ngapain nungguin, saya?" Lyra terlihat bingung.


Ajudan menunduk, "Maaf Bu! Pak Iqbal meminta kami untuk tetap menjaga Ibu juga anaknya. Maaf jika Ibu tidak nyaman. Tapi ini sudah tugas kami Bu!" jelasnya.


Lyra menghela nafas panjang, menggelengkan kepalanya mendengus kesal, dia menaikkan satu alisnya, tersenyum tipis, "Baguslah.... jadi aku aman saat ini."


Lyra mengajak putri kesayangannya, yang terlihat sangat rapi bahkan sangat cantik. Wajah yang lebih dominan dengan sang Papa, membuat Kesy lebih terlihat seperti wanita oriental yang memiliki kulit putih dan bersih. Rambut panjang lurus mengkilap, sama halnya dengan Lyra.


Lyra menggunakan sweater untuk menutupi lambang instansi pemerintah, yang akan menjadi pusat perhatian orang-orang jika berada diarea mall. Dia meraih tas kecil berwarna coklat muda, mematikan AC dan menekan tombol start untuk mematikan mesin mobilnya.


Tidak lupa Lyra mengganti sepatu tingginya dengan sendal berwarna coklat muda yang memiliki gambar teddy bear pilihan Kesy beberapa waktu lalu.


Lyra menggandeng tangan Kesy, memasuki pintu basemen, menaiki eskalator dan mencari lift untuk menuju lantai tiga.

__ADS_1


Janjian kali ini sesuai permintaan Iqbal untuk Kesy agar tidak mendengar obrolan orang dewasa, yang akan berdampak pada emosi dan perkembangan sang anak.


Kesy tipe anak yang memperhatikan, dia sangat peka walau terlihat cuek namun memiliki perasaan sensitif lebih tinggi di bandingkan anak seusianya yang lain. Dia juga sering menangis sendiri, jika berada di rumah sambil menunggu Lyra pulang beraktivitas.


Mata Lyra tertuju pada dua orang pria yang ternyata sudah menunggu dirinya. Dengan langkah santai dia mendekati kedua sahabatnya.


"Maaf menunggu. Aku tadi di panggil kepala bagian," senyum Lyra.


Namun, Kesy masih terus menarik tangan sang Mama untuk masuk ke play ground, agar dapat bermain-main disana.


Iqbal dan Aryo mengangguk, memberi ruang pada Lyra agar mengurus putri kesayangannya terlebih dahulu.


Setelah membayar, dan membaca beberapa peraturan yang berlaku di permainan anak tersebut, Lyra kembali ke kursi yang tidak jauh dari tempat putrinya bermain. Dia memilih duduk di kursi yang dapat memantau Kesy, karena berhadapan langsung dengan pusat permainan.


Lyra memesan beberapa makanan ringan dan dua gelas minuman dingin untuknya dan Kesy. Tidak lupa juga satu botol air mineral yang berukuran sedang yang dia persiapkan untuk putri kesayangan.


Mereka mulai membicarakan semua permasalahan dari awal, untuk mempermudah bagi Aryo dan Iqbal menentukan sikap dan membantu Lyra dalam mengambil keputusan sebelum terlambat.


Saat mendengar Dony yang sudah berlaku curang pada Lyra, secara manusiawi kedua sahabatnya tersulut emosi sebagai seorang teman.


Bagaimana tidak, Lyra yang mereka anggap baik selama ini, harus menerima perlakuan pengkhianatan seperti itu.


"Oke Lyra....! Setelah mendengar semua penjelasan mu tentang Dony, aku jamin ini semua hanya Dony yang bisa menentukan sikap di hadapan keluarganya. Aku pikir dia tidak berselingkuh, karena menurutku dia tipe pria yang dingin. Bahkan untuk seorang Dony selingkuh itu sangat tidak mungkin. Badan kurus gitu, selingkuh!" tawa Aryo terbahak-bahak.

__ADS_1


Lyra hanya menggeleng, "Aku justru tenga berfikir! Kok, bisa dia selingkuh? Apa dia nggak sayang sama aku dan juga Kesy? Jangan aku lah.... Kesy lhoo! Kesy...! Aku mau di hina silahkan, tapi jangan dihadapan anak ku! Tapi dia sama sekali nggak peduli. Aku berkali-kali bicara, jangan suka mengadu pada keluarga tentang masalah rumah tangga. Tapi tetap saja, dia mengadu dan akhirnya begini. Aku seperti wanita yang benar-benar hina. Kenapa aku menikah sama pria seperti itu?" sesalnya.


Iqbal, selaku orang yang tenang sebagai penyelidik. Dia hanya diam mengamati cerita Lyra dan Aryo. Sehingga dia dapat mengambil kesimpulan.


Iqbal memotong pembicaraan kedua sahabatnya, "Dengar Lyra, aku rasa suami mu itu minder tingkat kakap. Karena tidak mampu menyeimbangi penghasilan mu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kalian. Naaaah, mungkin.... mungkin ni yah! Kemaren-kemaren dia cerita dengan keluarganya, dan diberi lah masukan yang tidak memiliki perasaan bahkan ingin memiskin kan dirimu seperti mereka."


Lyra tersenyum tipis, menaikkan kedua bahunya, "Aku tidak peduli apapun saat ini, yang pasti aku hanya ingin bercerai dari dia. Dan aku tidak akan merubah keputusan ku, juga sudah di ucapkan oleh Dony dalam keadaan sadar."


Aryo kembali bertanya pada Lyra, "Siapa selingkuhan nya?"


Lyra mengirimkan suara ancaman Dony yang dia rekam pagi tadi, "Tetangga sebelah rumah. Aku sendiri tahu nya tadi malam. Ternyata hubungan mereka sudah sampe ke ranjang. Aku enggak mau melanjutkan pernikahan ini, Yo!" ceritanya.


Iqbal dan Aryo saling menatap, tidak menyangka karena Lyra menghadapi situasi sesulit ini. Ditambah sahabatnya itu bekerja di instansi pemerintahan, tidak akan mudah untuk mengurus perceraian. Bisa-bisa satu hingga satu tahun setengah.


Apa yang dipikirkan Aryo dan Iqbal, sama dengan yang ada dikepala Lyra saat ini.


Aryo kembali memberikan masukan yang lain buat Lyra, "Bagaimana jika kamu pindah ke kota orang tua mu? Alasan yaaah, bercerai!" ucapnya.


Lyra menautkan kedua alisnya, "Mana mungkin aku tinggal sama keluarga ku, Aryo! Ngurus pindah, jual aset disini, aaaagh.... itu tidak mudah! Apalagi kamu tahu ekonomi lagi nggak stabil. Jika aku menjual aset-aset ku, pindah ke kota, itu akan menjadi beban untuk Papa dan Mama. Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan, dan aku tidak akan pernah percaya dengan pernikahan. Percuma menikah, yang kita harap itu rumah tangga bahagia, bukan rumah duka!" sesalnya.


Iqbal tersenyum tipis mendengar ucapan Lyra yang sangat menggelitik tenggorokannya, "Yaaah, kalau gitu kita gas kan saja. Cerai.... ambil hak asuh anak, dan datang mediasi. Muntah kan semua saat mediasi. Katakan saja, dua tahun saya tidak diberi nafkah batin. Saya normal! Dua tahun Pak, dua tahun!!!!" tawanya menggoda Lyra.


Lyra hanya tertawa melihat tingkah laku kedua sahabat. Setidaknya, mereka cukup menghibur dan mampu memberikan masukan yang baik dalam menghadapi semua tantangan terbesar yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

__ADS_1


__ADS_2