
"Apa? Aku kasar? Aku kasar padamu? Apa yang selama ini ada dikepala ku kurang jelas? Aku berusaha membahagiakan mu lahir dan batin, sepenuhnya untuk membuat kamu menjadi perempuan yang di hargai! Bukan di manfaatkan oleh orang lain! Tapi apa yang kamu buat pada diri mu dan anak kita! Apa!?" bentak Zul.
Lyra terdiam, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, bahkan ingin sekali dia melempar sesuatu kearah Zul.
"Aku memikirkan Kesy! Semenjak aku hamil, aku kurang memperhatikan dia, Zul! Dia anak ku! Dia butuh aku!"
"Oooogh, Kesy butuh kamu? Sementara bayi kembar kita seakan-akan tidak berhak tumbuh di rahim mu? Begitu? Ternyata kamu lebih kejam dari yang aku pikirkan, Lyra! Kamu seperti wanita psikopat yang menjelma seperti malaikat. Tapi kamu terlalu naif, rela menukar kebahagiaan aku hanya untuk kebodohan yang kamu miliki sebagai seorang istri juga Ibu!"
Lyra tak terima dengan ucapan Zul, yang seolah-olah menyalahkan nya.
"Jadi semua ini salah ku!? Salah aku? Kamu ternyata sama seperti Dony! Selalu menyalahkan aku! Kamu egois, Zul!" teriaknya.
Zul mendekati Lyra, dia benar-benar tak terima di samakan dengan mantan suaminya yang tidak berguna bahkan sudah mati di makan cacing tanah ...
Dia meremas kuat lengan Lyra, menatap lekat mata istrinya yang benar-benar menantangnya, "Jika aku sama dengan mantan suami mu! Mungkin aku tidak akan peduli dengan kondisi mu! Bahkan aku akan mengirim mu ke neraka bersama mantan suami mu itu! Kamu dengar! Jangan pernah kamu membandingkan aku dengan pria manapun, karena aku di ciptakan Tuhan memiliki perasaan dari pada kamu yang tega membunuh darah dagingnya sendiri! Camkan itu ...!"
Zul melepaskan genggamannya, menghela nafas berat, memilih meninggalkan ruang inap tempat istrinya di rawat.
Lyra shock, dia menangis sejadi-jadinya, tak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya saat ini. Ini kali pertama Zul benar-benar murka padanya, sehingga membuat dirinya semakin terguncang karena kebodohannya sendiri.
"Zul! Zul ...!!" tangisnya pecah saat pintu ruangan terbuka.
Akan tetapi, Zul di kejutkan dengan kehadiran mertua dan sang Mama sudah berdiri mematung di depan pintu kamar VVIP tempat istrinya di rawat.
Kesy yang tengah menggandeng tangan Adi yang ikut bersama keluarganya, memandang wajah Zul yang tampak merah padam.
Zul hanya tersenyum tipis, sedikit gugup, dan berlalu meninggalkan ruangan.
"Ma, Zul pergi dulu! Nanti bawa saja Lyra ke paviliun. Zul pergi sama Kesy!" tegasnya menarik tangan putri kesayangannya.
__ADS_1
Boy dan Lince saling bertatapan, sesekali dia melirik kearah besannya. Bagaimanapun mereka bertiga mendengar keributan anak menantunya tentang gugurnya bayi dalam kandungan Lyra merupakan unsur kesengajaan.
Eni menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak ingin memihak pada siapapun. Baginya Lyra butuh suport untuk mengembalikan kesehatannya.
"Yuk Pak! Kita masuk saja, biarkan anak-anak dengan masalah mereka. Nanti juga kalau mentok, curhatnya sama kita. Yang penting kita memberikan masukan positif pada mereka berdua. Maklum, usia terpaut jauh, terkadang ego masih suka menari-nari," tawa Eni mengalihkan pikirannya dari yang dia dengar lewat anak menantunya.
Adi mengikuti langkah Eni, untuk menghibur sang kakak ipar yang masih menangis di ranjang rumah sakit.
Dengan perasaan bersalah, Lyra memeluk Mama Eni. Dia tidak tahu bahwa Zul akan semarah ini padanya. Sementara Ahmad sengaja menghindari menantunya, karena perasaan kecewa dengan alasan ada pasien yang harus mendapatkan tindakan.
Sebenarnya Ahmad lebih terpukul, dia yang mengharapkan penerus generasi dari Zul, harus mendapatkan kecewa yang teramat sangat menyakitkan dari kebodohan sang menantu.
Di waktu yang sama, Zul membawa Kesy untuk menghabiskan waktu membeli perlengkapan sekolahnya selama di Berlin. Seperti tas baru, dan buku-buku di salah satu pusat perbelanjaan kota kecil tersebut.
Mereka berdua menghabiskan waktu, dan uang untuk membeli pakaian dingin dan beberapa keperluan Kesy lainnya. Sehingga keduanya merasa lelah dan memilih duduk di salah satu restoran Jepang terbaik di mall tersebut.
Kesy terdiam, saat ini dia merindukan sang Mama yang terbaring lemah di rumah sakit.
"Pi, kita belanja sebanyak ini, kok buat Mama enggak ada? Papi masih marah sama Mama?"
Zul tersenyum tipis, "Hanya kecewa. Bukan marah sayang."
Kesy memajukan bibir kecilnya menoleh kearah etalase kaca yang ada di sebelah kirinya.
"Sebenci apapun Papi sama Mama, atau bahkan marah, jangan pernah lupakan Mama Kesy, yah? Papi itu pria yang paling baik yang di kirim Tuhan untuk Kesy dan Mama. Semoga Mama jadi semakin sayang sama kita berdua. Kan Papi udah marah-marah," tawanya menyeringai kecil.
Zul yang mendengar ucapan dewasa dari bibir putri tirinya, hanya bisa menahan rasa kecewanya untuk Lyra. Dia bukan tipe pria yang memiliki sifat dendam. Namun, dia sulit sekali untuk melupakan bahkan kembali seperti di awal walau sudah memaafkan.
Saat mereka tengah bercerita berdua, memainkan satu boneka bear yang baru saja di belikan Zul untuk putri kesayangannya, seorang gadis muda menghampiri meja mereka.
__ADS_1
"Dokter Zul?" sapa wanita itu pada Zul dan Kesy.
Zul menoleh kearah gadis yang berdiri di sampingnya, "Ya, siapa yah? Maaf saya mungkin agak lupa, karena terlalu banyak mahasiswi kedokteran yang saya bimbing. Apakah kamu salah satu maha-- ..."
Gadis itu memotong pembicaraan Zul, "Saya Kanza, Dok! Mahasiswi Anda di Berlin. Saya pikir Anda sudah kembali ke Berlin, ternyata masih di sini," ucapnya menyalami Zul, dengan menundukkan kepalanya.
Zul yang merasa kurang nyaman, dengan cepat menarik tangannya dari genggaman gadis itu. Meminta Kanza untuk bergabung dengan mereka sebagai basa-basi semata.
Tentu saja menjadi satu kebanggaan untuk Kanza, dapat dekat dengan dosen yang dia kagumi selama ini. Gadis itu sedikit menoleh kearah Kesy yang ada duduk di sebelah Zul.
"Hmm, siapa ini Dok? Kok akrab sekali? Masih banyak gadis dewasa yang ingin menjadi kekasih dokter, daripada harus berkencan dengan gadis kecil, kan?" tawanya sedikit penasaran.
Zul tertawa menggelengkan kepalanya, dia mengusap lembut punggung Kesy, "Ini anak saya. Kebetulan Mama-nya lagi di rawat. Jadi kami membeli kebutuhan sekolah, dan berbagai macamnya. Karena istri saya sudah mulai membaik. Mungkin minggu depan saya sudah berada di Berlin. Kamu kapan? Masih ada satu semester lagi, kan?" tanyanya basa-basi.
Kanza mengerenyitkan keningnya tidak percaya, "Hmm, emangnya dokter sudah menikah? Bukankah masih single dan tidak memiliki kekasih?"
Kesy mengalihkan pandangannya, menghela nafas berat, mendengus dingin melihat gadis yang berusaha mencari perhatian sang Papi.
"Pi, suapin ini!" tunjuk Kesy ke potongan salmon yang berada di pembakaran di atas meja.
Tentu Kanza melirik sinis, menunjukkan wajah tidak suka pada gadis kecil yang sengaja memanas-manasinya.
Kanza tersenyum sumringah menatap ketampanan sang dokter muda, "Enak juga kalau saya juga dapat suapan dari Pak Dokter ..." godanya lembut.
Tentu ini merupakan satu ancaman untuk Kesy juga Lyra, dengan sigap, gadis kecil itu melakukan video call dengan sang Mama melalui handphone Adi, agar dapat berbicara dengan Papi Zul.
Sementara Zul hanya tersenyum tipis, mendengar godaan gadis muda yang masih berusia 19 tahun tersebut.
"Hmm, kita ketemu di Berlin saja, yah. Senang bertemu dengan kamu ..." tolak Zul, saat mendengar suara istrinya yang masih terdengar serak di seberang sana.
__ADS_1