Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 101 Kepergian Indra


__ADS_3

"Mertua kamu menginap di rumah sakit, ya?" tanya Bu Karti.


"Iya, Bu, gantian sama Shanum dan Mas Elang!" kata Shanum.


"Yah, semoga suamimu cepat sadar dan cepat sembuh, agar kalian bisa berkumpul lagi seperti dulu," kata Bu Karti sambil membelai rambut putrinya.


 


"Mas...Mas Indra! Mas Indra mau kemana?" teriak Shanum, saat suaminya hendak menyeberangi jembatan yang memisahkan mereka.


Indra berbalik dan tersenyum pada Shanum. "Mas mau pergi dulu, ya? Kamu di rumah saja, jaga anak-anak kita baik-baik ya, Num. Mungkin Mas Indra akan pergi dalam waktu yang lama!"


"Mas pasti akan kembali lagi kan?" tanya Shanum.


"Mas nggak tahu pasti, tapi jangan khawatir akan ada seseorang yang Mas Indra anggap tepat untuk menjaga keluarga kita nantinya," kata Indra.


"Berarti Mas akan pergi lama dong? Mas mau meninggalkan Shanum lagi seperti dulu?" tanya Shanum mulai terisak.

__ADS_1


"Jangan menangis, Num! Walaupun Mas Indra harus pergi jauh bahkan mungkin tak kembali, kenangan dan cinta Mas Indra akan tetap hidup di sini," kata Indra sambil menepuk dada istrinya pelan.


"Mas pergi dulu, ya. Ingat pesan Mas Indra, jaga dirimu dan anak-anak kita baik-baik!" lalu Indra berbalik dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Sosoknya semakin hilang, ditelan kabut, dan akhirnya lenyap sama sekali.


Shanum terbangun dengan wajah dan tubuh bermandikan keringat. Rasanya mimpi itu seperti nyata, nyata saat dia berlari mengejar Indra tapi tidak dapat menemukannya lagi. Shanum meraih segelas air putih di atas meja riasnya, PRANGGG! "Astaghfirullah! Ada pertanda apa ini?" gumam Shanum, karena gelas yang dia raih tiba-tiba pecah dengan sendirinya.


"Perasaanku kok jadi tidak enak ya? Ada apa ya?" gumam Shanum lagi.


DDDDRRRRTTTT 📱"Assalamualaikum, Num. Cepat ke rumah sakit, kondisi Indra memburuk!" 📱"Apa, Mi? Memburuk? Bukannya tadi sore saat Shanum pulang, kondisi Mas Indra sudah stabil?" tanya Shanum lagi. 📱"Entahlah, Num. Barusan tubuhnya mengalami kejang-kejang!" 📱 "Ya Allah, Mi. Iya, Mi. Shanum akan ke sana!" 📱 "Biar nanti Dodi yang menjemputmu, Num. Jangan pergi sendirian!" 📱 "Iya, sudah, Mi. Shanum titip anak-anak lagi sama Ibu. Assalamualaikum!" 📱 "Wa'alaikumsalam!"


Dengan tergesa-gesa, Shanum pergi ke kamar Ibunya. "Bu, tolong titip anak-anak sebentar ya. Shanum mau pergi ke rumah sakit dulu, kasihan Mas Indra," kata Shanum. "Masya Allah, ada masalah apa lagi, Nak?" tanya Bu Karti. "Entahlah, Bu. Tadi Maminya telepon, katanya Indra kejang-kejang. Shanum jadi khawatir, makanya Mami menyuruh Dodi untuk menjemput Shanum," kata Shanum sedih. "Sabarlah, Nak. Perbanyaklah berdoa untuk kesembuhan Suami kamu," kata Bu Karti. "Iya, Bu," kata Shanum.


Di koridor rumah sakit, mereka berdua bertemu dengan Elang. "Mas Elang juga ditelepon sama Mami?" tanya Shanum. "Iya, Num. Mami tadi telpon, kondisi Elang sedang kritis makanya Mami minta aku datang kemari!" kata Elang. Akhirnya, mereka bertiga bergegas menuju ruangan ICU, di mana sudah menunggu Mami Tiara dan Papi Jonas.


"Bagaimana keadaan Suami Shanum, Mi?" tanya Shanum. "Kamu harus sabar, Nak. Tim dokter sedang berusaha menangani Suami kamu!" kata Mami Tiara sambil memeluk Shanum yang menangis. Elang jadi serba salah. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang pernah mengisi hatinya itu, bahkan masih bertahan di lubuk hatinya yang terdalam hingga detik ini. Tapi tentu saja, dia tidak memiliki wewenang sama sekali. Nanti orang akan berpikir dia sengaja mengambil kesempatan dari sakitnya Indra untuk kembali mendapatkan Shanum.


Tiba-tiba, beberapa dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan ICU. "Mami, apa yang terjadi, Mi? Shanum takut Mas Indra akan meninggalkan Shanum lagi seperti di dalam mimpi Shanum tadi!" kata Shanum. Alat kejut jantung, atau yang dalam ilmu kedokteran lebih dikenal dengan nama defibrillator, mulai dipasang di sisi kanan dan kiri tubuh Indra untuk mengatasi irama jantung abnormal, agar jantung Indra yang terhenti bisa kembali berdetak normal. Hingga akhirnya, monitor menunjukkan segaris lurus. "Tidak! Mas Indraaa!" kata Shanum, berteriak histeris dari luar ruangan, kemudian terkulai lemas dan pingsan.

__ADS_1


Untung Elang tepat berada di belakang Shanum, yang kemudian dengan cepat menangkap tubuh wanita malang itu. Mami Tiara juga roboh ke lantai jika tidak ditahan oleh Papi Jonas. "Indra Pi, kita kehilangan putra kita satu-satunya! Hu...hu...hu," tangisan Mami Tiara begitu menyayat hati.


Seorang dokter setengah tua keluar dari ruangan dan menghampiri mereka. "Maafkan kami, bapak-bapak dan ibu-ibu semua. Kami, tim medis, sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Mas Indra, tetapi Allah jugalah yang akhirnya menentukan." "Allah sayang pada Indra, dan Dia memanggil Indra pulang ke pangkuan-Nya, agar Indra tidak merasakan sakit lagi," kata dokter tua itu.


Suasana hening, seperti di pemakaman, hanya terdengar suara tangisan Mami Tiara yang begitu menyayat hati. Elang mengangkat tubuh Shanum dan membaringkannya di atas brankar, sambil sesekali menggosokkan minyak kayu putih ke hidung Shanum. Tak lama, terdengar erangan Shanum memanggil nama Indra. "Aku mau melihat Mas Indra. Aku mau melihat suamiku!" bisiknya lirih. Elang membantu membangunkan Shanum dan mengajaknya ke tempat tidur Indra sebelum ditutup dengan kain kafan.


"Mas, bangun yuk! Katanya Mas akan bersamaku hingga kita menua. Katanya, Mas Indra akan menjagaku dan tidak akan pergi lagi meninggalkan aku. Tapi, buktinya mana?" Tangisan Shanum pecah di samping jasad Indra yang hanya diam membisu.


"Mas Indra jahat! Mas Indra berbohong pada Shanum. Mas Indra pergi diam-diam tanpa pamit pada Shanum, mas Indra jahat!" isak Shanum semakin keras.


"Num, yang sabar ya? Kalau kamu menangis terus, Indra tidak akan bisa pergi dengan tenang!" Bisik Elang, berusaha menenangkannya.


"Bagaimana Shanum bisa tenang, Mas? Shanum tidak sempat berbicara apapun pada Mas Indra saat Mas Indra tertembak!"


"Kami hanya bicara saat pagi itu dan Mas Indra menggoda Shanum dengan mengatakan bahwa dia akan pergi jauh meninggalkan Shanum. Itulah terakhir kalinya kami saling berkomunikasi dan kini Mas Indra malah pergi sungguhan meninggalkan Shanum!" Suara tangisan Shanum semakin serak dan akhirnya dia jatuh pingsan kembali.


 

__ADS_1


Bersambung...


Mohon dukungannya, ya, reader tercinta. Like, komen, vote, favorit, dan rate-nya. Terima kasih.


__ADS_2