Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 13 Kesedihanku


__ADS_3

Nasi masih dimasak kembali di dalam dandang oleh Shanum sementara dia mencari daun singkong yang merambat di sekitar pagar rumah tetangganya.


"Masih saja badanmu ini bau asap dan bau tungku perapian, kapan sih kamu ini bisa terlihat lebih cantik dan wangi??" sebuah suara ketus dan menjengkelkan menyapanya.


Shanum tak perlu menoleh untuk melihat suara siapa yang menyapanya dengan sangat menjengkelkan tapi dia lebih memilih mengabaikannya.


Dia memilih daun singkong yang masih muda dan dia sisihkan untuk dioseng-oseng nanti.


"Sudah bau asap, tuli pula telinga kamu ini Shanum...!!" ucap suara itu.


Shanum berbalik perlahan menatap dingin orang yang menyapanya.


"Sudah tau saya bau asap, sudah tau saya tuli, kenapa masih datang kemari??" tanya Shanum datar.


"Jangan ge-er kamu Shanum, saya datang kesini hanya ingin meminta kamu menjaga Yanti selama saya ada urusan di Malaysia." Ucapnya tanpa perasaan.


"What??? menjaga Yanti selama kamu pergi???" Shanum mengerutkan dahinya.


Tak lama kemudian...


Ha...ha...ha...ha


Shanum tertawa geli mendengar perkataan Rahman sampai mengeluarkan air mata.


"Dasar perempuan tidak waras, nggak ada yang lucu tertawa!!" kata Rahman menahan emosi.


"Woi Rahman...sesungguhnya kamu ini masih waras atau sudah gila, hah??? kamu ini bego atau goblok sih?? bodoh sedikit atau kelewat bodoh??" Shanum kembali tertawa, tak ada lagi panggilan mas sebagai bentuk menghormati pada suaminya itu.


"Kamu dan Yanti bukan apa-apa saya...dari pada capek-capek mengurusi istri dari suami yang telah berselingkuh mending saya mengurusi ibu dan anak-anak saya...bagi saya kamu dan Yanti itu nggak penting!!" jawab Shanum tegas.


Merah padam wajah Rahman. Selama ini dengan sikap arogannya tak pernah ada yang berani membantah permintaannya, tetapi sekarang?? istri yang dulu patuhnya luar biasa seperti kerbau dicucuk hidungnya kini telah berani membangkangnya.


"Kamu!!!" sentak Rahman mau melayangkan tamparannya.


"Apa?? mau menamparku?? silakan saja jika kamu mau hidupmu berakhir di penjara dan orokmu itu jadi orok yang tak punya bapak, saya akan melaporkan kamu nanti dengan kasus yang berlapis-lapis, mengertikan maksud saya Abdul Rahman??" tekan Shanum.


Geraham Rahman bergemeletukan mencoba menahan emosinya.


"Kamu tidak punya pilihan lain selain menjaganya, Shanum??" suara Rahman bergetar menahan emosi.


"Memang kenapa saya tidak punya pilihan?? kalian pikir kalian ini siapa?? bagi saya kalian ini hanya sampah...bilang sama Yanti tidak usah berpikir mau menambah beban hidup saya dengan menampung dia di sini, atau dia mau saya masukan kedalam sumur di belakang rumah itu??" kata Shanum.


"Pulanglah Rahman, saya bilang tak usah datang kemari tunggu bulan ini panggilan pengadilan masalah perceraian kita dan saya ingatkan kamu jangan mempersulit saya jika tak mau saya mempersulit hidup kalian berdua." kata Shanum tegas walaupun harus menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


Dia berbalik badan membawa daun singkong di tangannya sebelum air mata menetes di pipinya.


Rahman tertegun mendengar perkataan Shanum.


Cerai?? 10 tahun membina rumah tangga walau tak dilandasi rasa cinta tetapi Shanum seorang istri yang baik dan penurut dan tak pernah banyak menuntut apapun, kini wanita itu akan mengajukan cerai sebentar lagi.


Tiba-tiba Rahman merasa asing dengan perkataan itu, tapi dia tak bisa mundur dengan semua karena dia yang telah memulai permainan ini.


Dia melangkah gontai keluar halaman, tak ada lagi niatannya untuk bertengkar dengan Shanum, karena wanita itu kini sudah berani menentangnya itu semua karena kesalahan siapa?? itu semua kesalahan dia.


Sementara di kamarnya, ketegaran yang Shanum bangun selama ini runtuh sudah.


Hinaan dan cacian yang dia tahan selama bertahun-tahun bersama kini membuatnya rapuh juga.


"Apa salahku ya Allah?? satu-satunya kesalahanku adalah tak mampu menolak keinginan orang tuaku dulu untuk dijodohkan dengan pria kasar bermulut racun itu!!" Shanum menangis tanpa suara berusaha menahan isakannya agar tak sampai terdengar oleh kedua anaknya.


Dddrrtt....dddrrtttt


Shanum melirik ponselnya yang berdering di samping bantalnya.


"Pak Indra calling...!! mau apa lagi bapak ini??" sungut Shanum tapi tak berniat untuk mengangkatnya.


Puluhan kali ponsel itu berdering tapi tak digubris oleh Shanum membuat si empunya cemas takut terjadi sesuatu pada Shanum.


Indra memutuskan untuk pergi menemui wanita yang mampu menggetarkan hatinya itu.


"Mau cari angin sebentar keluar pi!!" jawabnya.


"Kamu mau pergi dengan Pingkan??" kata mami Tiara.


"Mami...mami...pergi dengan Pingkan bukannya menghilangkan kesuntukan malah menambah kebebanan!!" kata Indra.


"Jangan berkata begitu Indra, Pingkan itu calon istrimu!!" kata mami Tiara sementara papi Adnan hanya diam saja.


Indra tak menjawab, dia mengambil kunci motor scoopy miliknya dan berlalu.


"Naik motor lagi sudah malam begini, ntar masuk angin tuh anak!!" gerutu mami Tiara.


"Sudah mi biarkan saja...Indra itu sudah 25 tahun bukan anak kecil lagi!!" kata suaminya.


Indra melajukan motornya kerumah Shanum. Sesiangan tadi hatinya galau bukan main semenjak acara peresmian gedung sebelah tadi siang saat Shanum melihat Pingkan menggandeng lengannya mesra, wanita itu hanya menundukan wajahnya sambil bekerja membuat Indra merasa tidak enak hatinya.


Rumah Shanum tampak gelap karena ini malam minggu kedua anaknya menginap di rumah ibunya jadi tinggal Shanum seorang diri di rumah dan mematikan lampu menghemat listrik.

__ADS_1


Indra tampak bertambah galau melihat lampu rumah Shanum gelap gulita.


Setelah sekian lama mengetuk pintu tak ada jawaban akhirnya Indra pergi tanpa dia tau Shanum bersender dipintu dalam menangis tanpa suara.


"Maafkan saya pak Indra...untuk saat ini saya tak ingin menemui siapapun dulu!!" ucap Shanum lirih.


"Kamu pergi kemana Shanum??? kamu membuatku hampir gila begini mencarimu??" lirih Indra melabuhkan bo*kongnya di atas pasir pantai.


Setelah berkeliling mencari Shanum dan ratusan kali menelponnya tak menemui hasil, Indra memilih pergi ke pantai untuk menenangkan diri di sana.


"Shanuuummmm!!" teriak Indra galau.


UHUK...UHUK...UHUK...


Shanum yang baru minum seteguk air langsung tersedak bersamaan saat Indra berteriak memanggil namanya jauh di pantai sana.


"Aduh...bahkan air yang sedang kuminum sekalipun memusuhiku, apa sih salahku??" lirih Shanum.


Ddrrttt...ddrrtttt


"Shanum!!" desis Indra.


"Ahhh ternyata Pingkan, mau apa sih menelponku?? sudah aku bad mood begini!!" gumam Indra.


Ting....


Sebuah pesan singkat di WA Indra masuk.


"Kamu di mana honey?? jangan buat aku khawatir, angkat teleponnya!!"


Indra tak bergeming dan dia hanya membalas pesan singkat itu.


"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin sendiri menenangkan diri, kumohon kamu mengerti tolong jangan ganggu aku dulu!!"


Pingkan menarik napas. Jika sudah begitu, walaupun dia menelpon sampai ponselnya jebol sekalipun Indra tak akan merespon panggilannya!!


"Ada apa sih dengan dia?? beberapa hari ini kulihat dia galau melulu seperti sedang memikirkan sesuatu??" batin Pingkan.


*


*


****Bersambung....

__ADS_1


Sakitnya saat kita berada di titik mencintai tapi tak bisa memiliki😓😓


Ikuti terus lanjutan kisah cinta Shanum dan Indra ya reader dan mohon dukungannya selalu.


__ADS_2