
Sementara Elang hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Sheilla.
"Dasar istri sesat...sudah salah ditegur malah marah!!" geram Elang.
Sementara di dalam kamar...
"Bercerai dari Elang??" oh, no...Dari mana lagi aku akan mendapatkan keroyalan seperti sekarang ini??" gumam Sheilla.
"Aduh kok aku bisa lupa sih, kalau Elang pulang cepat hari ini?? tapi sumpah aku nggak bisa terima jika Elang membandingkan aku dengan Shanum!!"
"Selalu saja Shanum yang jadi pertimbangan Elang, atau jangan-jangan suamiku itu juga ada hati dengan wanita pelakor itu??" gumam Sheilla mulai curiga
"Jika memang benar demikian, akan aku bunuh perempuan itu, Indra sudah direbutnya apa Elang hendak direbutnya juga?? dasar menjijikan!!" desis Sheilla.
************
"Num...Shanum...kamu di mana?? mas kangen!!" isak Indra dalam tidurnya.
"Berikan mas petunjuk kamu di mana, Num??" kata Indra bicara sendiri masih dalam tidurnya.
"Bi Yem yang pagi itu mau mengambil pakaian kotor di kamar tuan mudanya itu mendengar Indra menangis terisak.
"Den Indra bermimpi!!" lirih bi Yem iba.
"Den...den Indra, bangun den!!" bi Yem berusaha membangunkan Indra.
"Masya Allah...badan den Indra panas sekali!!" gumam bibi sedikit panik lalu berlari kearah kamar mami Tiara.
"Bu...ibu...den Indra tubuhnya menggigil, badannya panas sekali!!" kata bi Yem.
Semalam Indra sehabis ketemuan dengan Elang tidak pulang ke apartemen menemui Pingkan.
Rasanya dia sudah kehilangan semangatnya. Sekian bulan dia memendam rasa untuk bisa menemui istri dan calon bayinya, tetapi saat pulang ke Indonesia, yang dia cari malah hilang entah kemana.
Fisik dan kesehatan Indra kembali drop. Tubuhnya menggigil dan terus mengigau memanggil nama Shanum.
Papi dan mami Tiara cepat-cepat menyusul masuk ke kamar Indra begitu mendengar bi Yem bilang Indra sakit kembali.
"Ndra...sadar nak!!! kamu jangan begini!!" isak mami Tiara melihat kondisi putranya.
"Pi, apa mami terlalu keras pada Indra dengan melarangnya menikah dengan wanita yang dia cintai dan memaksanya menikah dengan wanita pilihan mami??" tanya mami Tiara.
"Kan dari awal papi sudah bilang, mi!! anak dikandungan Pingkan adalah anak James dan bukan anak Indra, tetapi mengapa Indra yang harus menanggung semua perbuatan James, sedangkan Indra sudah punya tanggung jawab sendiri untuk bayi yang ada di dalam kandungan Shanum yang nyata-nyata adalah darah dagingnya sendiri."
"Bahkan mami mengancam jika Indra berani berhubungan lagi dengan Shanum, maka Shanum dan seluruh keluarganya akan mami buat sengsara, begitukan??" kata suaminya.
__ADS_1
"Sekarang mami lihat sendiri, betapa sengsaranya kehidupan Indra sekarang??" kata sang suami sementara mami Tiara tangisannya semakin menjadi.
"Kasihan Indra mi, walaupun Indra bukanlah anak kandung kita tetapi baktinya kepada kita melebihi bakti seorang anak kandung sekalipun."
"Tak pernah sedikitpun Indra membantah atau berkata tidak jika kita meminta sesuatu untuk dia lakukan walaupun itu terkadang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri." Kata suaminya membuat sang istri semakin merasa bersalah.
Dia menginginkan Indra menjadi orang yang selalu nomor satu begitupun dalam hal jodoh, dia ingin Indra memiliki istri yang perfect tetapi dia juga lupa bahwa Indra bukanlah lagi bocah kecil yang dia adopsi 20 tahun yang lalu, Indra sudah dewasa dan berhak menentukan kehidupannya sendiri.
Dokter Andre keluar dari kamar Indra, tadi mami Tiara segera menelponnya saat kondisi Indra sedang tidak baik-baik saja.
"Indra ini sudah Andre buatkan resep obatnya ya tante, usahakan jangan selalu membuat dia tertekan !!" jelas dokter Andre.
Kondisi Indra sudah agak mendingan. Dia kembali tertidur dengan tenang dan nyenyak.
"Jangan membuatnya tertekan tante, om...sel-sel tumor yang ada di tubuh Indra itu belum sepenuhnya sembuh, ditakutkan jika Indra sering mengalami depresi, maka akan memicu pertumbuhan sel tumor itu kembali." Terang dokter Andre pada kedua orang tua Indra.
"Coba kamu lihat menantu pilihan kamu itu, mi?? nggak ada dia menyusul suaminya kemari atau paling tidak telepon menanyakan tentang keadaan suaminya!!" kata papi Indra.
"Istri macam apa, itu...bahkan mungkin saat ini dia belum pulang ke apartemen sehingga dia tidak mengetahui tentang kondisi suaminya!!" kata suami nya lagi.
Baru sekarang papi Indra angkat bicara. Selama ini diamnya dia mempunyai menantu seperti Pingkan bukan berarti setuju tetapi karena lebih tidak enak pada hubungan bisnisnya dengan keluarga Prianka, maminya Pingkan yang merupakan teman masa kuliahnya dulu.
Mami Tiara semakin menyadari kekeliruannya.
"Nah itu mami tau!!" kata suaminya.
"Atau mami mau menelpon Pingkan mengatakan kondisi Indra sekarang??" tanya suaminya lagi.
"Nggak usah pi, justru dengan kedatangannya malah akan mengganggu istirahat Indra!!" kata mami Tiara.
**************
"Waduh...bakalan kena omel lagi nih!!" keluh Pingkan saat mau masuk pintu apartemen.
Setelah membuka pintu dia melihat kedalam dengan perasaan sedikit was-was apalagi sekarang hari telah malam.
Memang benar sih Indra tak pernah peduli dia mau pergi kemana saja dan dengan siapa!! tetapi tetap saja dia merasa was-was.
"Kok sepi ya?? biasanya mas Indra selalu berceloteh jika aku pulang malam begini, dia kemana ya??" desis Pingkan celingukan.
Pingkan masuk menuju kamarnya. Selama di Inggris juga di Indonesia mereka berdua tidur terpisah kamar.
Setelah mandi dan berganti baju, Pingkan berniat menyusul ke kamar Indra.
CEKLEK...
__ADS_1
Rapi!!!
Indra memang orang yang selalu rapi dan wangi. Mau ruangan kerjanya ataupun kamar tidurnya selalu bersih, rapi dan wangi.
"Tidak ada!! kemana mas Indra ya?? masa dia pergi dengan Elang dan jam segini belum pulang??" kata Pingkan.
"Coba aku telepon Sheilla dulu ah...apa Elang pergi bersana Indra atau nggak!!" gumam Sheilla.
π±"Malam beb...suami kamu ada di rumah ya??"
π±"Tumben nanyain suamiku, biasanya musuhan??"
Tampak suara Sheilla terdengar heran saat Pingkan menanyakan Elang.
π±"Bukan begitu, apakah Elang pergi bersama mas Indra??"
π±"Nggak...itu dia lagi di ruangan kerjanya karena kami tadi habis bertengkar hebat karena dia marah aku pulang malam!!"
π±"Oh ya sudah...kupikir dia bersama Indra."
"Waduh?? kemana mas Indra ya?? apa aku telepon mami Tiara aja?? tapi nanti apa kata mereka kok aku baru mencari Indra sudah malam begini?? bodo amat lah...yang penting kucoba telepon dulu aja!!" ucap Pingkan.
π±"Mami?? apa mas Indra ada di mansion??"
π±"Kamu ini, sudah telepon nggak memberi salam terlebih dahulu, tiba-tiba nanya soal suami kamu!!"
Mami Tiara mencibir dari seberang sana mendengar Pingkan baru mencari Indra saat sudah menjelang pukul sepuluh malam begini.
π±"Mulai pagi sampai sore kamu kemana saja sampai lupa suamimu nggak ada di rumah??"
π±"Kan semalam Indra nggak pulang ke apartemen, Pingkan pikir paling tidur di mansion jadi Pingkan nggak berani ganggu!!"
π±"Iya Indra di sini lagi istirahat mungkin sekarang sudah tidur sebaiknya kamu jangan mengganggunya dulu!!"
"Yes...yes!!" sorak Pingkan kegirangan.
"Aku bisa bebas dari omelan Indra malam ini!!"
*
*
***Bersambung...
Ikuti terus lanjutan kisah mereka ya readerππ
__ADS_1