Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 70 Gangguan Jiwa


__ADS_3

"Itulah sebenarnya mengapa oma melarang ibu kalian dan juga kalian berdua keluar sendiri, nih ibu kalian sudah contohnya...oma sudah bilang kalau mau keluar tunggu ayah kalian tapi ibu kalian ngeyel mau pergi sendiri, akhirnya beginikan kejadiannya!! coba siapa yang rugi jika sudah begini, kan diri sendiri!!" kata oma Tiara.


"Iya oma!!" kata Chika dan Chiro bersamaan.


"Nanti sore aja kita besuk ibu kalian sekalian bawa Rindra bertemu ibu kalian, sudah dua hari Rindra hanya minum susu formula, kasihan!!" kata papi Jonas.


********


Rahman sudah di perbolehkan pulang hari ini.


Dengan lesu Rahman masuk kedalam rumah. Ibu, bapak dan kakak perempuannya tidak bisa lama-lama menemaninya karena kakaknya punya balita yang hanya dijaga oleh suaminya.


"Sepi....!!" gumam Rahman lirih.


Lalu terngiang kembali ucapan ibu dan kakaknya yang mengatakan bahwa Shanum sudah mempunyai keluarga sendiri.


Ada rasa tak rela dalam hatinya mendengar Shanum sudah memiliki kehidupan sendiri.


Dia seolah tak begitu merasa kehilangan Yanti, dia hanya merindukan Atika putrinya dari Yanti.


"Num, sudah bahagiakah kamu sekarang?? kamu lebih beruntung dari aku, Num...kupikir dulu menduakan kamu dan menikah dengan Yanti membuat hidupku bahagia, ternyata aku salah...aku selalu hidup di bawah bayang-bayangmu...aku berusaha untuk menarik perhatianmu dari bersikap halus sampai yang terkasar sekalipun, tetapi yang ada kamu dan anak-anak kita semakin membenciku dan semakin jauh dariku!!" gumam Rahman seorang diri.


"Sekarang apa arti hidupku ini...semua orang sudah meninggalkanku dengan keadaanku seperti lelaki yang tak punya kegunaan lagi!!" kata Rahman.


Tiba-tiba dia ingat kemarin ibunya cerita bahwa Pingkan menyerang Shanum hingga Shanum harus di rawat di rumah sakit.


"Ya Allah...Shanum...bagaimana keadaannya ya!!" kata Rahman mulai panik.


Dengan cepat dia meraih ponselnya untuk menelpon tetapi tiba-tiba dia tersadar.


"Tidak...Shanum sudah tidak sendiri lagi seperti dulu, sudah ada seseorang yang kini lebih berhak mengkhawatirkannya!!" kata Rahman lemas lalu melempar ponselnya kesembarang tempat.


Tiba-tiba dia ingat lagi perkataan kakaknya bahwa yang membuat Shanum sampai harus masuk rumah sakit adalah Pingkan. Pingkanlah yang telah menganiaya Shanum.


"Kenapa Pingkan sampai menganiaya Shanum?? apa Pingkan mempunyai dendam pribadi pada Shanum??" tanya Rahman seorang diri.


*************


"Keluar kamu...ada seseorang yang mencarimu!!" kata seorang polisi pada Pingkan yang duduk bersender dipojokan.


Baru dua hari dia berada di dalam tahanan di kantor polisi itu tetapi keadaannya sudah seperti dua tahun.


Wajah cantiknya tampak pucat dan rambut pirangnya yang panjang sebahu tampak awut-awutan.


Dia berjalan gontai mengikuti polisi di depannya.


Rahman telah menunggunya di ruangan tempat tahanan bertemu dengan keluarga.


"Sayang....!!" kata Pingkan memeluk Rahman.


"Apa yang terjadi Pingkan kenapa kamu menganiaya seseorang??" tanya Rahman.

__ADS_1


"Aku khilaf Man, karena saat melihatnya kebencian itu tiba-tiba saja muncul lagi dengan sendirinya." Kata Pingkan.


"Kenapa kamu membencinya??" pancing Rahman sambil memegang tangan Pingkan.


"Kamu mau tau kenapa aku begitu membencinya?? karena dia telah mengambil dua orang yang aku sayangi sekaligus!!" kata Pingkan dengan geramnya.


"Mantan istri kamu itu telah mengambil Indra dariku, dan juga telah membuatmu selalu menyebut namanya!!" desis Pingkan lagi.


"Maksud kamu apa Pingkan??" tanya Rahman bingung sekaligus penasaran pada apa yang dikatakan Pinkan.


"Shanum yang sekarang menjadi istrinya Indra itu adalah mantan istrimu kan??" tanya Pingkan.


"Semua laki-laki suka padanya, termasuk juga Rafli dan Elang!!" kata Pingkan lagi.


"Dan kalian pun walau sudah berpisah setiap kita melakukan pelepasan, kamu selalu menyebut namanya, aku benci sekali aku benci!!" teriak Pingkan histeris membuat Rahman menjadi kaget mendengar teriakan Pingkan.


"Pingkan...Pingkan....kamu tidak apa-apakan??" tanya Rahman sambil menggenggam erat tangan Pingkan.


Hiks...hiks...ha...ha...ha...


Tiba-tiba menangis lalu bersamaan dengan itu dia tertawa sendiri seperti orang kurang waras.


"Pak polisi tolong...ada apa dengan teman saya ini??" teriak Rahman.


"Aku benci...aku benci padamu...hi....hi....hi!!" tawa Pingkan.


Matanya yang berlinangan dengan air mata mendadak menatap kosong dan dari bibirnya terus menceracau.


Rahman juga syok melihat kondisi Pingkan yang tiba-tiba seperti itu.


Pingkan mengamuk hingga akhirnya seorang dokter di datangkan untuk memeriksa kesehatannya.


Sebaiknya bapak juga keluar dulu lagi pula jam berkunjung sudah habis kata salah seorang polisi kepada Rahman.


Mereka membawa Pingkan ke


ruang perawatan untuk memeriksa kesehatan Pingkan lebih lanjut.


"Aku membencimu...aku membencimu!! hi...hi...hi!!" kembali caci maki diiringi tawa Pingkan.


"Maaf pak sepertinya mental ibu Pingkan ini memang terganggu, tekanan kehidupan yang berat membuat ibu Pingkan menjadi stress dan terganggu kejiwaannya, sebaiknya ibu Pingkan dipindahkan saja ke rumah sakit jiwa!!" kata dokter Aldi, dokter yang tadi menangani Pingkan.


Sementara itu Rahman mengendarai mobilnya dengan keadaan yang masih syok melihat kondisi kejiwaan Pingkan tadi.


"Masya Allah...kok Pingkan jadi seperti itu sih?? berarti selama ini aku sudah bercinta dengan wanita tidak waras dong!!" gumam Rahman berkali-kali mengusap wajahnya.


***********


"Ibu....!!" teriak Chika dan Chiro seraya masuk kedalam ruang rawat ibu mereka.


Chika, Chiro dan Rindra diantar oleh oma Tiara, opa Jonas dan nenek Karti kerumah sakit.

__ADS_1


""Anak-anak....!!"


Shanum mengembangkan tangannya memeluk Chika dan Chiro, menciumi mereka berdua. Setelah mencium tangan ibu dan kedua mertuanya, Shanum menggendong Rindra dan menyusui bayinya itu.


"Indra mana Num, kata oma Tiara!!" tangannya sibuk menata makanan yang tadi mereka beli dijalanan.


"Lagi sholat kemesjid mi...!!" kata Shanum.


"Paling sebentar juga kemari bersama pak Elang!!" kata Shanum.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Num??" kata bu Karti.


"Sudah agak enakan bu, hanya jahitan di kepala Shanum masih sedikit nyeri!!" kata Shanum.


"Syukurlah...lalu kapan kamu boleh pulang??" kata mami Tiara.


"Insya Allah besok sore sekalian nunggu mas Indra pulang kerja, mi!!" kata Shanum.


"Mas Indra...mas Elang!!" Bandiah lari tergopoh-gopoh di koridor rumah sakit mengejar mereka berdua yang baru selesai sholat dzuhur di mushola rumah sakit.


Indra dan Elang serentak berhenti dan menoleh pada Bandiah.


"Iya mbak Di ada apa??" tanya Indra sementara Elang hanya diam menunggu Bandiah mendekat.


"Mas Indra dan mas Elang sudah dengar kabar terbarukah??" kata Bandiah masih ngos-ngosan.


"Kabar apa mbak Di??" kali ini Elang yang bertanya.


"Bu Pingkan sekarang terkena gangguan jiwa di rutan dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit jiwa!!" kata Bandiah jadi khawatir.


"Apa?? maksudnya Pingkan terkena gangguan jiwa??" kata Indra lebih meyakinkan.


"Iya mas!!" kata Bandiah.


"Mbak Di tau dari mana??" tanya Elang lagi.


"Teman saya ada yang bekerja jadi cleaning service di sana...dengan jelas dia menyebutkan nama mbak Pingkan yang terkait kasus penganiayaan dua hari lalu di rumah sakit, ya siapa lagi kalau bukan mbak Pingkan lah mas!!" kata Bandiah.


Elang dan Indra saling berpandangan dengan wajah cemas.


"Apakah yang ada dipikiranku sama seperti yang ada dipikiran kamu, Ndra??" tanya Elang.


Indra mengangguk. Jika kita berpikiran sama maka keluargamu ada dalam bahaya, Ndra!!" kata Elang kemudian.


*


*


***Bersambung...


Apa yang ada dipikiran Elang dan Indra??

__ADS_1


Nantikan kelanjutan kisah mereka selanjutnya dan jangan lupa beri dukungannya ya reader🙏🙏


__ADS_2