Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 139 Sandro tertembak


__ADS_3

"Sudah, biar ibu dan bapak yang gantian menuaganya!!" Kata ibu Maria yang nerasa kasihan melihat Bandiah yang sudah nampak kelelahan.


Tapi ibu juga sedang tak enak badankan?" Tanya Bandiah pada ibu Maria.


"Nggak apa biar ibu dan bapak yang gantian menjaga bayimu!!" Kata pak Josef lagi.


Akhirnya bayi kecil itu tertidur dalam gendongan ibu Maria yang menggendong sambil mengayun bayi mungil itu.


"Sudah tidur dia nak, ini baringkan Radhian dan kamu beristirahat juga sana dulu!!" Kata ibu Maria.


Bandiah memang teramat lelah dan mengantuk. Sejak kemarin Radhian Rabandy putranya selalu rewel untung ada ibu Maria dan pak Josef yang bergantian menjaga bayinya.


Sementara itu....


"Ayo cepat Sandro!! Jam berapa sudah ini??" Teriak pak Soedibyo dari bawah tangga di ruang tamu rumah besar kediamannya.


"Iya pi, sedikit lagi!!" Kata Sandro sambil mematutkan diri sekali lagi di cermin memastikan penampilannya.


Lalu bergegas Sandro keluar dari kamarnya di lantai dua dan turun kebawah.


"Lama amat, cepat sedikit kita sudah ditunggu oleh keluarga Shanum!!" Kata pak Soedibyo.


Lalu Sandro dan pak Soedibyo menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Tampak pak Darma supirnya dan asisten papinya duduk di bangku depan.


Sandro mengetuk jendela kaca depan mobil dari luar.


"Pak, saya duduk di depan saja dan bapak temani papi di belakang!!" Kata Sandro pada asisten papi nya itu.


"Kepala saya suka pusing jika duduk di belakang, saya nggak mau muntah di tengah jalan nanti!!" Kata Sandro lagi.


Akhirnya mereka berdua bertukar tempat duduk. Kini Samdro duduk di samping pak Darma supirnya.


"Serasa punya kernet!!" Canda pak Darma tertawa diikuti oleh yang lainnya.


Sepanjang perjalanan mereka diam. Pak Darma juga fokus melaju membelah jalan dengan hati-hati karena mansion kediaman keluarga Fahreza memang hampir mendekati puncak.


"Aneh ya?? Memang sih jalan raya ini jarang dilewati mobil dan motor terkecuali para pekerja perkebunan teh dan kelapa sawit milik keluarga Fahreza, tetapi tidak sesepi ini!! Seolah tak ada seorang pun manusia yang melewati jalan ini, atau mungkin sekarang sedang hujan gerimis atau seluruh pekerja diundang oleh papi Jonas untuk menghadiri upacara pernikahan menantunya??" Tanya Sandro.


Tak ada yang menjawab, mereka hanya membenarkan saja ucapan Sandro tadi.


Sedang asyiknya mereka bercengkerama mata Sandro tak sengaja mengarah pada spion di atas kepala pak Darma.


"Ayah lihatlah!!" Tunjuk Sandro pada kaca spion.


Serentak ketiganya mengalihkan mata pada kaca spion.


"Laju pak Darma, tancap gas!!" Seru Sandro tiba-tiba memberi aba-aba.

__ADS_1


"Mobil hitam di belakang mobil kita itu sedang menguntit kita, cepatlah agar kita bisa segera sampai di mansion keluarga Fahreza!!" Kata Sandro cepat.


DOR....


Suara tembakan memecahkan kaca di belakang kepala dokter Soedibyo.


"Tukar posisi pak Darma biar saya yang menyetir, cepat pak Darma!!" Teriak Sandro memberi peringatan.


"Papi dan pak Ilyas menunduk!!" Kata Sandro cepat memberi perintah.


Tak lama mobil yang dikendarai Sandro saling berkejaran dengan pengendara mobil hitam di belakangnya.


DOR...


AARRGGHHH...


Sandro mengerang menahan sakit saat dari kaca belakang yang ditembus oleh peluru penembaknya, salah satunya mendarat tepat di bahu Sandro.


"Den...Sandro....!!"


Teriakan pak Darma, dokter Soedibyo dan pak Ilyas terdengar berbarengan.


"Tetap menunduk!!" Sentak Sandro memperingatkan ketiganya sementara dia tetap melaju menuju mansion keluarga mempelai wanita.


Dokter Soedibyo tak kehilangan akal, sambil menunduk dengan cepat dia menelpon papi Jonas di mansion.


"Mengapa rombongan Sandro lama sekali sih pi??" Tanya mami Tiara mulai gelisah, karena penghulu yang akan menikahkan Sandro dan Shanum juga akan menikahkan mempelai di tempat lain.


Dia tau Sandro bukan tipe pembohong dan suka menunda waktu, jika sampai terlambat seperti ini pasti telah terjadi sesuatu pada calon suaminya itu.


Tiba-tiba....


DDDRRRRTTTT


πŸ“±"Pak Jonas, tolong kami!! Mobil kami sedang dikejar oleh sebuah mobil hitam, Sandro yang membawa mobil sedang terluka bahunya sekarang!!


πŸ“±"Di mana posisi kalian??


πŸ“±"Sepertinya kami berada di perkebunan teh sebelah barat, saat kami mau menuju ke mansion mobil itu mengejar kami membuat kami menjauh dari jalan menuju mansion."


πŸ“±"Kalian teruslah melaju, aku akan mengirimkan orang-orangku kesana!!"


KLIK...


"Wahid...Dodi...Kirun...bawa anak buah terbaik kalian!!" Perintah papi Jonas tanpa sempat menjawab pertanyaan panik istrinya.


"Pi, sebenarnya ada apa?? Apa yang sudah terjadi??" Teriak mami Tiara juga panik.

__ADS_1


"Kalian semua tunggu di sini, papi bersama beberapa yang lain akan menjemput keluarga Sandro, mereka berada dalam bahaya besar!!" Hanya itu yang sempat dipesankan oleh papi Jonas pada istrinya.


"Apa yang sudah terjadi, mi??" Tanya Shanum cemas.


"Mami juga nggak tau, Num!!" Kata Mami Tiara.


Sebaiknya kuta tunggu papi kembali!!" Kata mami Tiara.


Memang tak ada jalan lain bagi mereka selain menunggu kedatangan papi Jonas dan yang lainnya.


Darah terus mengucur dari luka di bahu Sandro. Tetapi lelaki muda itu masih berusaha terus bertahan untuk menyelamatkan dirinya dan juga tiga penumpang lainnya di dalam mobil itu.


Darah terus merembes membasahi kemeja putih yang dia kenakan.


Pak Soedibyo hampir menangis melihat putra kesayangannya walaupun tubuhnya telah bersimbah darah tetapi tetap berusaha terus bertahan.


"Bertahanlah nak, sebentar lagi pertolongan akan datang!!" Ucap dokter Soedibyo terus memberikan semangat pada putranya.


"Alhamdulillah...!!" Ucap pak Ilyas dan pak Soedibyo bersamaan saat melihat mobil papi Jonas muncul dari kejauhan datang untuk membantu mereka.


Melihat kedatangan mobil lain dari arah depan, mobil hitam mengejar mendadak berputar balik dan pergi menjauh.


"Jangan dikejar lebih baik kita menolong Sandro dahulu!! Ucap papi Jonas.


Sandro sudah tergeletak lemas karena hampir kehabisan darah.


Dengan cepat dokter Soedibyo membersihkan luka putranya.


"Gigit kain ini Sandro papi akan mencongkel peluru yang bersarang di bahumu!!" Kata dokter Soedibyo.


Karena mereka berada jauh dari jalan utama menuju ke kota dan peluru yang bersarang itu harus segera di keluarkan, jalan ini lah yang harus dilakukan oleh dokter Soedibyo.


Dengan menahan sakit yang luar biasa akhirnya peluru yang bersarang di bahu Sandro bisa dikeluarkan oleh papi nya.


Tubuh Sandro terkulai lemah. Sementara bajunya yang psnuh darah sudaj diganti oleh anak buah papi Jonas.


"Sial....lagi-lagi aku kalah dari pemuda idiot itu!!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Elang sambil membuka topeng penutup wajahnya.


"Mengapa si bodoh itu nggak mati-mati sih??" Geram Elang.


"Padahal tinggal sedikit lagi aku berhasil membunuhnya, tetapi ternyata umurnya masih panjang juga!!" tambah Elang menggeram kesal.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Selamatkah Sandro dari peluru itu??


Teruslah mengikuti kisah mereka selanjutnya ya readerπŸ™πŸ™ dan jangan lupa dukungannya.


__ADS_2