Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 159 Menuju Ke Mansion


__ADS_3

Tapi Shanum tidak lagi menunggu persetujuan Dodi, dia langsung lari kearah kolam renang.


Mas Dodi lihat!! Ada yang membuka pagar kolam renang??" Teriak Shanum menangis karena sudah membayangkan hal buruk akan terjadi pada putranya.


"Tenang mbak, kita akan segera kesana melihatnya.


"Rindra...Rindra...di mana kamu nak??" Teriak Shanum dan beberapa yang lain.


Sepi...


Di daerah kolam renang sepi tak ada tanda-tanda ada yang datang ke sana tetapi mengapa pintu pagar kolam renang terbuka?? Itulah semua pertanyaan yang ada di benak mereka yang ikut mencari Rindra.


"Mbak Shanum lihat?" Teriak Dodi.


Awalnya dia tidak terlalu memperhatikan sekitaran kolam renang karena cahaya di sana juga tidak terlalu terang tetapi saat dia hendak terpeleset karena menginjak sesuatu yang licin di seputaran kolam renang, dia mendekatkan senter ponselnya untuk melihat apa yang dia injak barusan.


"Ada apa mas Dodi??" Balas teriak Shanum.


"Ada air berceceran di sekitar kolam renang sepertinya tadi memang ada yang datang kemari!!" Kata Dodi.


"Ayo kita ikuti arah mana ceceran air ini mbak!!" Ajak Dodi cepat.


Mereka berjalan dengan bantuan senter ponsel untuk menambah penerangan.


"Mas ini jalan mengarah kemana??" Tanya Shanum yang memang belum pernah berkeliling sampai jauh ke sekitaran mansion papi Jonas dan mami Tiara yang luas itu.


"Ini jalan menuju ke arah gudang tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai tetapi masih bisa berfungsi, gudangnya ada di ujung dekat tembok mansion di bagian timur!!" Kata Dodi.


Mereka semua bergegas menuju ke sana.


"Ssttt...coba kalian semua dengar!! Seperti ada suara tangisan anak kecil di dalam gudang itu." Kata Dodi.


Shanum yang semakin panik langsung berlari menuju ke arah gudang diikuti oleh yang lainnya.


Huhuhuhu...ibu...ayah...


"Itu suara Rindra mas!!" Kata Shanum mempercepat larinya.


"Rindra??? Kamu di mana nak??" Teriak Shanum.


"Ibu....!!" Teriakan dan tangisan Rindra dari arah dalam gudang.


"Pintu gudangnya masih digembok mbak, jadi apakah ada orang yang sengaja membawa den Rindra kemari??" Tanya Dodi.


"Bagaimana caranya kita membuka gembok ini mas??" Tanya Shanum.


"Coba aku pinjam peniti hijab mbak Shanum!!" Kata Dodi.


Shanum memberikan peniti


hijab yang tersembunyi di balik hijabnya walau pun dia tidak tau untuk apa Dodi meminjam peniti hijabnya itu.

__ADS_1


Dengan cekatan Dodi mengutak atik gembok pintu gudang itu


Tampaknya Dodi sudah sangat ahli melakukannya dan tak lama...


TAK...


Gembok terbuka dan dengan cepat Dodi dan yang lain bergegas masuk ke dalam gudang.


Alangkah mirisnya hati Shanun melihat keadaan putranya.


Balita berusia dua setengah tahun itu tampak basah kuyup dan kedinginan. Rindra duduk di pojok gudang dengan sangat ketakutan dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk mainan robot yang ada di tangannya.


"Ya Allah Rindra anak ibu!!" Shanum lari menghampiri putranya.


"Ibu....!!" Teriak Rindra sambil menangis lebih keras.


"Mas Dodi tampaknya tadi Rindra habis kecebur di dalam kolam itu badannya basah kuyup semua!!" Kata Shanum.


"Tadi Rindra jatuh ke dalam kolam??" Tanya Dodi perlahan sambil membuka baju Rindra yang basah dan memakaikan jaketnya ke tubuh bocah kecil itu.


"Iya om!!!" Kata Rindra.


"Sudah mas Dodi kita pulang saja dulu kan di sekitar sini juga ada cctv nya kan??" Kata Shanum.


"Oh iya!!" Dodi menepuk jidatnya.


"Mbak Shanum benar jadi kita bisa mencari tau mengapa Rindra bisa sampai kemari, masuk ke kolam renang dan akhirnya terkunci di dalam gudang!!" Kata Dodi lagi.


"Lampu listriknya belum bisa menyala ya mas??" Tanya Shanum.


"Sepertinya belum mbak, tampaknya ada kerusakan!!" Jawab Dodi.


Sementara mereka di mansion dilanda kecemasan, Amini sedang membonceng Zoe menuju ke mansion dengan kecepatan tinggi.


"Mini lihat mobil yang terhenti di tengah jalan itu!!" Tunjuk pak Zoe pada putri yang baru saja ditemui olehnya itu.


"Ayah lihatlah tampaknya pengemudinya pingsan dan ada luka di keningnya!!" Kata Mini yang turun memeriksa keadaan pengemudi mobil itu.


"Mengapa dia bisa pingsan di tengah jalan begini ya??" Tanua Zoe.


"Sepertinya dia telah diserang oleh seseorang yah, lihatlah kunci kontak mobilnya tak ada, mungkin si penyerang memang sengaja menginginkan dia terjebak di tengah jalan begini!!" Kata Amini.


"Tampaknya dia adalah seorang dokter, ayah...dia mau pergi kemana ya?? Ini jalan satu-satunya menuju ke arah mansion." Kata Mini.


"Halo...apa yang sudah terjadi padamu??" Tanya Mini pada laki-laki yang baru saja sadar dari pingsannya itu.


"Aduh?? Saya ada di mana?? Kata laki-laki itu.


Setelah terdiam sesaat seperti mengumpulkan ingatannya, akhirnya dia sadar.


"Tadi saya mau datang ke mansion dari rumah sakit karena ditelepon oleh keluarga Fahreza yang mengatakan bahwa nyonya Tiara sakit, jadi saya mau datang ke mansion tetapi di tengah jalan saya di hadang oleh seorang wanita yang ingin ikut menumpang ke mansion tetapi di tengah jalan yang sepi dan gelap leher saya seperti ditusuk oleh sesuatu tiba-tiba saya terhenti dan rem mendadak sangking kerasnya kepala saya sampai ikut menghantam setir mobil saya." Kata dokter muda itu.

__ADS_1


Jika begitu kita lanjutkan saja naik motor saya ke mansion, saya takut sudah terjadi sesuatu di sana!!" Kata Mini.


"Naik motor bertiga??" Tanya dokter itu sedikit bingung.


"Tapi saya tidak pernah naik motor sama sekali!!" Jawabnya.


"Anggaplah ini akan menjadi petualangan pertama kamu bersama saya dan juga ayah saya." Kata Mini tersenyum.


Di mansion...


"Mana dokternya?? Lama sekali??" Tanya Sandro sedikit cemas melihat kondisi ibu mertuanya.


Tak lama orang yang bertugas menjemput si dokter datang dan masuk bersama seorang dokter wanita berbadan tinggi dan ramping.


Sandro langsung saja membatin dalam hatinya


"Apa dokter keluarga Fahreza itu memang seorang wanita??" Batin Sandro tetapi tidak mengungkapkan isi hatinya.


"Masuklah dokter, ibu saya tadi pingsan sepertinya beliau terlampau banyak mengkonsumsi obat tidur." Jawab Sandro cepat mungkin.


Tapi Sandro tak ada waktu untuk bertanya pada seorang maid yang berbisik pada temannya di sebelahnya.


"Apa sekarang dokter Arman punya asisten seorang dokter wanita??" Tanya nya pada teman di sebelahnya.


Teman di sebelahnya hanya mengangkat bahu saja tanda dia pun juga tak tau jawabnya.


Dokter wanita itu masuk dan mulai memeriksa keadaan mami Tiara.


Dia menoleh pada Sandro sambil bertanya.


"Apakah anda pernah belajar soal ilmu kedokteran sehingga tau jika nyonya Tiara kelebihan dosis meminum obat tidur??" Tanya dokter wanita itu kepada Sandro.


"Saya memang bukan dokter tetapi ayah saya seorang dokter dan saya juga sudah mempelajari ilmu kedokteran sejak saya kecil tadi saya sudah memberikan sedikit penawar dosis obat tersebut agar nyawa mertua saya bisa tertolong!!" Kata Sandro.


Tetapi mata Sandro tak pernah lepas dari apa-apa saja yang dipakai dan obat-obatan yang mau disuntikan dokter wanita itu kepada mertuanya.


"Maaf dokter, obat apa itu??" Tanya Sandro saat melihat dokter itu memasukan cairan ke dalam suntikan dan siap akan di suntikannya pada mami Tiara.


"Maaf dokter, bisa saya lihat dulu obat itu...bagaimana pun saya juga ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada mertua saya!!" Kata Sandro.


Dokter itu tampak hendak memberikan botol obat tersebut pada Sandro, tetapi tiba-tiba....


JLEB....


*


*


***Bersambung...


Selalu ikuti kisah mereka ya reader karena tinggal beberapa episode lagi kisahnya akan di tamatkan dan jangan lupa selalu dukungannya😊😊

__ADS_1


l


__ADS_2