
"Lagi pula Shanum sekarang sudah bekerja kok, jadi dia tak memerlukan bantuan uang dari mas Rahman lagi!!" kata Rahman menyeringai.
"Mas benar...untuk apa mengeluarkan uang, dia yang harusnya mengajukan gugatan cerai itu!!" balas Yanti.
"Benar...kenapa tidak dari dulu aku berpisah dari Shanum, ya??? perempuan itu sedari awal feelingku sudah merasakan dia akan sangat merepotkan di kemudian hari." Gerutu Rahman.
**** Flashback on****
"Shanum...maafkan ibu sama bapak jika menjoodohkan dengan nak Rahman putranya pak Siswanto tanpa membicarakan denganmu terlebih dahulu!!" kata ibu Shanum di suatu pagi.
"Hah??? di jodohkan bu?? tapi Shanum selulus sekolah ini mau bekerja dulu bu, mengumpulkan uang agar bisa lanjut kuliah lagi!!" Shanum tampak sangat kecewa.
"Apalagi menikah dengan Rahman?? Shanum kenal Rahman itu sejak lama bu, dan Shanum tau persis bagaimana karakternya Rahman itu!! orangnya arogan, setiap kata-kata yang dia lontarkan seperti racun, makanya Shanum nggak mau berteman dengan dia!!" kata Shanum.
"Tapi bapak dan ibu terlalu banyak berhutang budi pada keluarga mereka, Shanum!! pak Hartoyo ingin kamulah yang menjadi menantu mereka, bukan wanita yang bernama Yanti yang menjadi pacar Rahman sekarang!!" ibu menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.
"Terus apa Rahmannya sendiri sudah tau tentang perjodohan ini?? Shanum nggak mau merusak hubungan dia dan Yanti!!" ujar Shanum
***********
"Kamu gimana sih mas??? katanya selulus sekolah mau melamar Yanti terus kita mau jadi TKI bersama, kok malah menikahi Shanum!! Yanti kecewa sama kamu mas!! Laki-laki kok tidak punya pendirian!!" ucap Yanti ketus.
"Aduh Yan, menikahi Shanum kan cuma sekedar formalitas untuk menyenangkan ibu dan bapak, tapi cintanya mas Rahman hanyalah untuk Yanti seorang!!" gombal Rahman.
"Kamu kenapa sih mau aja disuruh menikah denganku, menolak kek...atau kamu memang punya perasaan denganku??' tanya Rahman pada Shanum.
"Maaf ya Man, saya bukan tipe anak pembangkang, kamu pikir saya suka dengan perjodohan ini?? sama sekali nggak!!" jawabku juga tak kalah ketus.
Lalu Shanum berbalik meninggalkan Rahman sendirian.
Tak ada yang istimewa dari pernikahan kami setelahnya semuanya hanya demi kewajiban.
Hidupku benar-benar hampa tak berarti. Cita-citaku kandas semuanya.
Hingga saat anak kedua kami Chiro lahir, mas Rahman meminta ijin untuk berangkat ke Malaysia menjadi TKI di sana.
Ternyata modus belaka. Mas Rahman pergi ke Malsysia menyusul Yanti. Entah sudah berapa lama mereka bermain cantik di belakangku toh aku pun tidak tau karena aku di Indonesia.
Hanya memang setiap 3 bulan sekali suamiku itu mengirim uang sebesar 3 juta rupiah untuk kami.
Terakhir dia mengirimkan uang sekitar 5 bulan lalu sebelum akhirnya ketauan jika dia sudah menikah siri dengan Yanti.
****Flashback off****
"Jangan melamun, kamu dipanggil bos tuh!!" kata mbak Nana pekarya yang berdinas sama denganku di lantai 3 ini.
__ADS_1
"Hah??? kenapa aku di panggil ya mbak?? aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik kok!!" jawabku.
Aku berdiri juga dan menuju keruangan bosku itu.
TOK...TOK
MASUK...
Itu suara bos killerku.
"Mbak Shanum...jam 1 siang nanti kan ada rapat tuh, saya minta tolong belikan nasi padang 20 kotak dong?? lauknya samakan aja!!" itu suara pak Indra yang bicara dan bukan bos killerku.
"Mbak Shanum bisa ajak mbak Diah untuk membantu!!" kata mas Indra lagi.
Sementara bos killer itu sibuk mengurusi berkas-berkasnya tanpa mempedulikanku dan akupun juga sama tidak sedikitpun menoleh padanya.
"Sialan nih perempuan, tak sedikitpun dia menoleh padaku...fokusnya hanya pada Indra saja." Gumam Elang kesal.
Sementara Shanum sedikit bergetar hatinya saat sering bertatapan mata dengan Indra.
Senyum Indra memang ramah dan menawan, siapapun akan terpana melihat senyuman manisnya.
Dan entah mengapa akhir-akhir ini pak Indra sering mencariku menyuruh inilah, mengerjakan itulah!!
Aku juga senang, jika pak Indra yang meminta bantuanku. Seperti siang ini dia meminta tolong untuk dibelikan 20 nasi kotak.
"Iya, masih ada lagi yang mau dibeli pak??" tanyaku.
"Kamu perginya sama saya aja naik mobil, kalau naik motor sepertinya harus dua kali bolak balik!!" katanya lagi.
Mata Elang mendelik saat mendengar Indra akan pergi dengan shanum.
"Nggak salah Ndra??" tanyanya.
"Maksudnya salah gimana?? jika 20 kotak itu dimasukan kedalam mobilkan langsung sekaligus jalan!!" kata Indra.
"Ayo mbak kita pergi sekarang aja...!!"
Tanpa persetujuan dari Elang, Indra langsung bangkit dari kursinya dan berlalu sementara aku mengekor di belakangnya.
Di lantai 2 kami berselisihan dengan Bandiah.
"Mbak Di, ikut sekalian bantu mbak Shanum angkat kotak nasi ya!!" ajak Indra.
"Jangan duduk di belakang semua dong, emang saya supir!!" canda pak Indra.
__ADS_1
Akhirnya Bandiah duduk di depan dan aku tetap duduk di belakang.
Kami mengobrol biasa walaupun pak Indra banyak mengobrol dengan Bandiah karena mereka berdua sudah saling kenal lama.
Beda denganku yang hanya menjawab jika ditanya.
Aku sering mencuri pandang pada spion di depan pak Indra hanya untuk sekedar memandang wajahnya.
Aku cepat berpaling saat pak Indra balas menatapku sambil tersenyum.
DEG...DEG
"Aduh hati jangan norak dong...malu tau!!" bisikku.
Terkadang kami sama-sama saling memandang dan pandangan terakhir aku sempat melihat Indra memainkan sebelah matanya padaku.
"Ya Allah...salahkah aku jika menyukainya?? aku menikah dengan mas Rahman karena perjodohan tanpa dilandasi rasa cinta semua yang dijalankan selama bertahun-tahun ini hanya sebatas menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri yang tak pernah dianggap.
Wajah Shanum yang bersemu merah rupanya tertangkap mata oleh Indra.
Sebenarnya dia pun merasakan ada rasa bahagia bisa berada dekat dengan wanita ayu itu.
Selama ini hubungannya dengan Pingkan terasa amat hambar dan tak berwarna sama sekali.
Pingkan seorang pengusaha yang jarang ada bersamanya. Di saat dia butuh orang untuk berada di dekatnya walaupun hanya sekedar berbagi keluh kesah, tapi di saat itu Pingkan tak ada.
Akhirnya kami bertiga tiba di sebuah restoran padang yang kami tuju.
"Sambil pesan kita makan duluan ya...saya tau kok tanggal segini buat kalian pasti tanggal bokek, ya kan??" gurau Indra.
"Ihh mas Indra tau aja!!" kata Bandiah.
Sementara aku hanya bisa diam sibuk mengatur detak jantungku yang ribut berkejaran.
"20 kotak ya Uda...terus kita bertiga makan di sini!!" pesan pak Indra pada pelayannya.
"Ayo cuci tangan...cuci tangan!!" ajak Indra pada kami bertiga.
"Pak...sabunnya nggak bisa diputar!!" bisikku lirih seraya menahan malu, karena aku memang tak pernah makan di restoran besar seperti ini.
*
*
***Bersambung....
__ADS_1
Reader ada yang sedang jatuh cinta?? pasti merasakan saat hati kita berbunga-bunga dekat dengan orang yang kita suka😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya reader!!🙏🙏