
"Nantilah kita bercerita, kita kekantin yuk!! nanti aku yang traktir!!" kata Rafli.
"Beneran Raf?? makasih loh...kamu tau aja ini tanggal tua apalagi bagi orang yang punya gaji pas-pasan seperti aku!!" kata Bandiah.
"Iya bener, ayo...ada yang mau aku ceritakan sama mbak Di tentang temuanku semalam!!" kata Rafli lagi.
Lalu Bandiah dan Rafli pergi ke kantin rumah sakit, tetapi bukannya bisa ngobrol dengan nyaman, beberapa teman sesama cleaning service yang melihat kehadiran si ganteng Rafli kembali, jadi berteriak histeris dan pada merubungi Rafli seperti semut merubungi gula. Bandiah hanya bisa menarik napas panjang sambil mengangkat bahu tidak tau mau melakukan apa lagi.
***********
"Bagaimana Ndra?? apa sudah mendapatkan kejelasan dari kepolisian mengenai penyerangan di mansion papi Jonas semalam??" tanya Elang saat mereka berdua ada di kantor siang ini.
"Belum ada Lang, tapi yang nyata penyerang itu adalah seorang wanita!!" kata Indra lagi.
"Orang-orangku yang kusebar di sekitar rumah sakit jiwa pun tak ada melihat pergerakan yang berarti."
"Pingkan sejak pagi selalu tertawa-tawa sendiri dan akhirnya menangis sendiri begitu terus sepanjang pagi hingga siang sampai bosan orang suruhanku selalu mengawasi orang gila." Kata Elang.
Sementara di rumah sakit jiwa...
Pingkan yang diantar kekamarnya oleh seorang suster tampak tersenyum.
"Kalian pikir aku ini orang bodoh apa?? aku lebih pintar dari kalian berdua, Elang dan Indra suamiku tersayang!!" kata Pingkan.
"Elang, jangan kamu pikir aku tidak tau jika kamu menyebar mata-mata di rumah sakit jiwa ini, untuk mencari tau aku benaran gila atau nggak!!" gumam Pingkan terkekeh geli.
"Untung mami menyelipkan sebuah pistol kedalam lipatan pakaian untukku, jadi bisa aku gunakan untuk memusnahkan semua musuh-musuhku!!" geram Pingkan.
"Terutama kamu wahai wanita pelakor!!" tubuh Pingkan bergetar menahan amarah dalam dirinya.
"Kamu sudah mengambil suamiku dan semua yang aku miliki!! Dasar perempuan jaha*nam!!" maki Pingkan.
"Kebencianku padamu setinggi langit sedalam lautan, belum puas hatiku sebelum ku DOR...kepalamu agar otak pelakormu itu lenyap bersama tubuh ja*langmu!!" maki Pingkan lagi.
"Shanum oh, Shanum....tunggu aku!! aku pasti akan datang untuk menjemput nyawamu, untuk sementara ini cukup terorku saja yang kukirimkan untukmu!!" gelak tawa Pingkan.
"Tidak sia-sia mami mempunyai pikiran menyuruhku untuk berpura-pura gila seperti ini, ternyata asyik juga menjadi orang gila begini ya??" kekeh Pingkan.
__ADS_1
"Dengan begini aku akan bebas dari segala tuduhan yang akan memberatkanku." Desis Pingkan.
"Nah para penggemarmu sudah puas meminta tanda tanganmu sekarang tiba waktunya kamu bercerita padaku!!" kata Bandiah sambil tertawa melihat Rafli yang semenjak tadi terlihat memasang wajah cemberutnya.
***Flashback on***
"Tak tenang rasa hatiku untuk berdiam diri seperti ini, sebaiknya selepas isya ini aku akan mendatangi rumah sakit jiwa yang diberitahukan oleh mbak Di kemarin." Kata Rafli.
Dia baru tiba di hotel jam 6 sore tadi, setelah satu jam beristirahat dia mulai tak tenang. Jiwa detektifnya meronta-ronta untuk bisa cepat bergerak dan tak membuang waktu lagi.
Setelah makan malam dan melaksanakan sholat Isya, Rafli dengan menggunakan motor sewaan pergi menuju rumah sakit jiwa xxx yang diceritakan oleh Bandiah tempat Pingkan dirawat.
"Aku kok jadi curiga ya dengan wanita itu??" kata Rafli perlahan.
"Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa sebenarnya Pingkan itu hanya berpura-pura gila untuk memudahkan melancarkan aksi kejahatannya." Gumam Rafli.
Di sekitaran rumah sakit tampak sunyi, hanya beberapa orang suster saja yang berlalu lalang itupun sangat jarang dan di tempat-tempat tertentu malah minim pencahayaan.
Tiba-tiba mata tajam Rafli menangkap seseorang yang keluar dengan mengendap-ngendap melompat dari jendela sebuah kamar ruang perawatan.
"Siapa itu??" gumam Rafli pelan.
"Dilihat dari gerakannya dan bentuk tubuhnya yang tinggi ramping itu sepertinya dia adalah seorang wanita." batin Rafli.
Dengan otak cerdasnya dia menandai dari arah jendela kamar yang mana orang misterius itu tadi melompat turun.
Rafli membiarkan saja dan hanya melihat apa yang akan dikerjakan oleh orang misterius itu.
Orang itu mengendap-endap menuju kesebuah parkiran motor dan mencari-cari, beruntung dia menemukan sebuah motor yang kuncinya tergantung di sana, dengan cekatan dia menaiki motor itu dan melaju diikuti oleh Rafli.
Rafli terus mengawasi gerak gerik orang itu sampai tragedi di mansion itu terjadi.
Awalnya Rafli berniat hendak turun tangan membantu Wahid tetapi dia melihat Wahid mampu menghadapi penembak misterius itu, walaupun lengannya harus terluka.
Saat motor itu melaju berbalik menuju ke rumah sakit, Rafli terus mengikuti hingga orang itu melompat masuk dari jendela.
Rafli mengintip dari sela jendela dan alangkah kagetnya dia saat dia melihat Pingkanlah dalang dari semua kejadian itu.
__ADS_1
"Sudah aku duga ternyata Pingkan itu tidak gila, dia hanya berpura-pura gila agar terlepas dari jeratan hukum!! tapi kamu jangan khawatir Pingkan karena akulah yang akan menyeretmu kembali kepenjara."
Rafli terus memantau dan merekam semua kegiatan Pingkan, setelah dia merasa cukup akhirnya dia berlalu pergi.
***Flashback off***
Begitulah menurut pengintaianku mbak Di!!" kata Rafli.
PLOK...PLOK...PLOK
"Wah, Rafli keren abis!!" kata Bandiah sambil bertepuk tangan mendengar aksi cerita Rafli tadi.
Hidung Rafli terasa mekar dan wajahnya jadi kemerahan saat Bandiah memujinya.
Biasanya banyak teman satu timnya dalam memecahkan kasus memuji kepiawaian dan kecerdasan otaknya dan kejelian matanya serta ketajaman daya ingatnya, tapi biasanya hanya berlalu silih berganti saja di telinganya bahkan sudah terlalu biasa dia mendengar pujian itu dari teman satu timnya.
Tetapi ketika pujian itu datang dari bibir seorang wanita sederhana yang benar-benar tulus memujinya, Rafli jadi berdebar sekaligus bangga saat Bandiah memujinya.
"Ah, biasa aja mbak Di!!" jawab Rafli untuk menghilangkan kegugupannya.
"Terus kapan kamu mau kita menemui Shanum??" tanya Bandiah.
"Apakah suami mbak Shanum nggak bakal cemburukah mbak Di?? jika kita mengunjungi mbak Shanum??" tanya Rafli ragu-ragu.
"Kitakan temannya sewaktu bekerja dulu Rafli, lagian aku itu tau persis mas Indra itu orangnya bagaimana, jadi kamu nggak usah khawatir jika dia cemburu padamu, toh kamu menemui Shanum juga berdua denganku kan??? tidak sendirian!!" kata Bandiah meyakinkan Rafli.
"Okelah kalau begitu, aku nurut aja mbak sama ajakannya mbak Di!!" jawab Rafli.
"Oohh jadi maksudmu, aku nyebur ke kali kamu juga ikut nyebur, begitukah??" tanya Bandiah sambil senyum-senyum.
*
*
***Bersambung....
Tresno jalaran soko kulino...apa yo artinya??😁😁 begitulah yang terjadi pada perasaan Rafli ke Bandiah!!
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, favorite dan rate nya ya reader!! terima kasih🙏🙏