
"Aku ingin meminta jika bisa dan boleh, suami soleh seperti mas Indra dulu yang bisa menyayangiku dan keluargaku dengan setulus hatinya menjadi imam bagi keluarganya, membuatku menjadikannya tempat ternyaman di sisa hidupku."
"Aku tidak ingin mengecewakan siapapun, tetapi aku pun juga tidak ingin hatiku terluka dan hidupku tersiksa lagi, berikanlah petunjukmu, ya Allah!!" Desis Shanum mengakhiri doanya.
Dia melipat sajadah itu. Lalu merebahkan dirinya di lantai. Entah dalam keadaan sadar atau tidak dia seperti berjalan di atas awan yang putih.
"Sayang, kamu mau kemana??" Sebuah suara lembut menyapanya.
Shanum menoleh kearah suara itu.
"Mas Indra?? Mas berdua dengan siapa??" Tanya Shanum saat melihat Indra berdiri bersama seseorang yang membelakanginya.
Orang itu tiba-tiba berbalik menghadap Shanum.
Mereka berdua tersenyum pada Shanum.
"Dia adalah aku dan aku adalah dia!!" Jawab Indra.
"Saat itu kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan tetap menunggu aku kembali dan aku akan kembali tetapi dalam wujud dia!!! Terima kasih istriku karena besar dan tulusnya cintamu kepadaku membuatku memohon pada sang pencipta alam untuk mengembalikan aku dalam wujud yang lain karena aku tak ingin istriku tercinta berada pada hati yang salah, aku ingin istriku berada pada hati yang tak menyakiti karena dia sudah sangat menderita selama ini."
"Bersabarlah istriku, dia akan datang padamu tepat di saat yang tak kamu duga untuk menjadi payungmu di saat hujan hingga pelangi akan muncul memberi warna pada hidup kalian berdua!!"
Tak lama kemudian mereka berdua menghilang dari pandangan Shanum sehingga Shanum terbangun dan merenungi arti mimpinya tadi.
"Apa arti mimpi tadi? Apa mas Indra tidak merestui pernikahanku dan mas Elang, tapi kenapa? Bulankah mereka sahabat terbaik mulai mereka kecil?" Gumam Shanum.
**************
"Assalamualaikum sayang, apa kabarmu di sana?? Aku tidak membawa anak kita kemari tadi, badan Rindra agak hangat mas, tadi habis vaksin, mas mau dengar nggak aku punya cerita hari ini??" Shanum bercerita sambil membelai batu nisan Indra.
"Pagi tadi sewaktu di vaksin ada kata pertama yang keluar dari bibir mungil putra kita mas, dia menyebut p.a.p.a sambil menangis karena takut disuntik." Shanum berhenti sebentar sambil menyeka air matanya.
"Jika mas masih hidup pasti mas Indra sangat bahagia mendengarnya!! Aku aja cemburu kenapa Rindra menyebut papa dan bukan mama terlebih dahulu." Shanum tersenyum sambil menyeka air matanya.
Tanpa dia sadari sepasang mata teduh menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Aku tak rela istri saudaraku jatuh ke tangan lelaki yang hanya ingin menyakitinya, aku akan melindunginya."
"Iiihh kamu lagi kamu lagi yang lagi bicara sendirian di sini!! Tanya sendiri jawab sendiri!!" Suara itu mengagetkan Shanum. Dengan cepat Shanum mengangkat wajahnya.
Dia tersenyum pada Shanum yang membuat Shanum sesaat terpana melihat senyum itu tetapi kemudian kembali keluar lagi sifat tengilnya.
"Hai wanita aneh, kita bertemu lagi di sini!!" Katanya sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Kamu juga aneh...bahkan lebih aneh dariku!!" Gerutu Shanum kesal.
Shanum tak melihat bibir tipis itu tersenyum mendengar ucapan Shanum barusan. Karena dia fokus sama omelannya.
"Kamu aneh dan aku juga aneh, mengapa kita tidak menikah saja?? Bukankah dua orang aneh jika disatukan akan menghasilkan banyak orang aneh?? Mending orang aneh tetapi jujur dibandingkan orang munafik?? Baik di depan saja sementara di belakang menikam??" Ucapan Lelaki itu tampak menohok hati seorang yang lain yang bersembunyi tak jauh dari tempat Shanum berada.
"Sandroooo!! Kamu mengganggu orang lagi yang lagi ziarah!! Dasar anak nakal!!" Lelaki tua yang ternyata adalah dokter Soedibyo itu tampak menjewer telinga Sandro.
"Maafkan anak bapak ya nak, hobinya memang suka mengganggu orang saja!!" Kata Soedibyo.
"Ayo kita pulang Sandro hari sudah sore, kamu kan belum mandi tadi!!" Kata pak Soedibyo.
"Tapi wanita aneh itu juga harus pulang, di sini sepi nanti takut terjadi apa-apa nanti dia di terkam serigala!!" Kata Sandro entah menyinggung atau apa tetapi yang jelas setiap kata-kata Sandro menyentil orang tersebut.
Soedibyo melirik nama yang ada di batu nisan itu.
"Indra Fahreza Pramudya??" Bukankah itu juga nama belakang Sandro?" Gumam Soedibyo.
Sebenarnya tadi Sandro juga sudah membaca nama di batu nisan itu. Dia semakin yakin bahwa Indra yang dimaksud adalah kembarannya yang telah dua puluh tahun terpisah.
"Iya benar, ayo kita pulang nak, tidak baik seorang wanita di tengah pemakamam seorang diri sudah sore seperti sekarang.
"Ayo!!" Dengan tidak sabar Sandro menarik tangan Shanum untuk bangkit dan beranjak dari sana.
"Kamu ikut mobil kita aja, biar pak Dion yang membawa motormu di belakang." Kata dokter Soedibyo.
"Asyik...kita berdua duduk di belakang ya biar papi yang bawa mobil!!" Sorak Sandro senang.
__ADS_1
Setelah mobil dokter Soedibyo melaju diikuti oleh motor Shanum yang dibawa oleh pak Dion supirnya pak Soedibyo, sosok yang sedari tadi bersembunyi muncul.
"Istrimu masih selamat bro....padahal tadi niatku jika tak ada bocah idiot beserta ayah dan supirnya tadi, aku sudah menculik istrimu, tak sabar rasanya menunggu satu bulan lagi untuk menikmati tubuh indahnya yang dulu selalu bermain di pelupuk mataku."
"Kamu mengambil dia dariku, kamu pikir aku ikhlas?? Kita musuh dan sampai kapanpun kita tetap akan menjadi musuh, kamu saja yang masih terlalu lugu untuk mempercayai aku." Dia menepuk batu nisan Indra kemudian berlalu di tempat mana dia menyembunyikan motor besarnya.
"Nak, sebaiknya kamu hati-hati!! Jangan lagi pergi kepemakaman seorang diri apalagi sudah sore begini, di tempat ramai saja rentan kejahatan, apalagi tempat sepi begini!" Kata dokter Soedibyo.
"Dengar itu apa kata calon papi mertuamu, sebagai calon istri yang baik itu harus nurut sama suami!!" Kata Sandro sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya.
"Isshhh, siapa juga yang mau jadi istrimu!!" Kata Shanum cemberut.
*************
Rafli baru tiba di kota B saat ada laporan masuk dari anak buahnya.
Jadi Rafli tidak langsung pulang kerumah, tapi dia ke kantor terlebih dahulu.
"Jadi menurutmu Indra meninggal bukan karena pengangkatan peluru dari tubuhnya, tetapi karena ada indikasi lain??" Tanya Rafli pada Sandi anak buah kepercayaannya.
"Iya, menurut hasil penyelidikan kami bahwa di dalam infusan Indra terdapat kelebihan dosis obat tetapi belum tau siapa pelakunya karena cctv di ruangan Indra saat itu tidak berfungsi.
Rafli menepuk jidatnya.
"Baru juga aku sampai belum sempat pulang kerumah menjenguk istri dan calon bayiku, sudah di hadapkan lagi pada kasus yang baru!!" Kata Rafli seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Bisakah aku pulang dulu sebentar, Sandi!! Paling tidak aku menaruh tasku dulu dan berjumpa dengan istriku." Kata Rafli sambil duduk dulu meluruskan kakinya.
*
*
***Bersambung...
Lanjut ke next episode ya reader dan jangan lupa dukungannya😊😊
__ADS_1