
"Seseorang selalu berusaha mengincar nyawaku, mas...dan kita tidak tau siapa orang misterius tersebut." Kata Shanum dengan wajah pucat pasi.
"Mas Indra tak akan pernah lagi membiarkan siapapun menyakitimu, sayangku!!" kata Indra.
Shanum memeluk erat suaminya seolah takut kehilangan sosok itu di dalam hidupnya.
*********
"Ayo kita pulang!!" ajak Elang pada Indra.
"Ayo...!!" kata Indra setelah sebelumnya menghubungi Dodi dan Wahid serta Kirun.
Indra sudah diberi tahu tentang penyerangan yang akan dilakukan padanya lewat Rafli dan harus lebih waspada.
Tapi sebagai manusia, rasa takut itu pastilah ada pada dirinya.
"Kamu kenapa Ndra, sejak pagi tadi kulihat kamu murung terus!!" kata Elang.
"Lang, aku ingin bertanya sesuatu padamu!!" kata Indra.
"Apa itu??" kata Elang sambil menyimpan semua berkas yang akan dia kerjakan di apartemennya malam ini.
"Lang, apa kamu masih menyimpan rasa pada Shanum??" tanya Indra tiba-tiba.
UHUK...UHUK
Elang sampai tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan Indra kepadanya.
"Apa-apaan sih kamu, Ndra??" kata Elang.
Indra hanya tersenyum melihat reaksi sahabatnya.
"Lang, jika suatu hari nanti aku pergi untuk waktu yang lama, maukah kamu berjanji kepadaku??" tanya Indra.
"Memang kamu mau pergi kemana sih, Ndra?? mau bulan madu ke Inggris lagi bersama Shanum??" tanya Elang.
Indra menggeleng sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
"Aku dan Shanum tak akan pernah merasakan indahnya bulan madu, Lang!!" batin Indra.
"Janji apa yang harus aku penuhi padamu??" tanya Elang lagi.
"Menjaga Shanum istriku dan juga anak-anakku!!" kata Indra perlahan.
"Bicara apa sih kamu, Ndra?? aku nggak suka mendengar kamu berkata seperti itu!!" kata Elang rada kesal pada sahabatnya yang dia anggap bercandanya sudah kelewatan.
Indra hanya tersenyum tak lagi meneruskan perkataannya.
"Aku sebenarnya merasa bersalah kepada kamu, Lang!! sebenarnya sejak dulu aku telah tau bahwa kamu mencintai Shanum begitu pula sebaliknya!! kalian saling tertarik satu dengan yang lain walaupun dengan cara kalian sendiri!!" batin Indra.
__ADS_1
"Tetapi karena saat itu kamu telah bertunangan dengan Sheilla dan kamu juga mempunyai komitmen untuk tidak mengkhianati kekasihmu itu, maka kamu sering berkata kasar dan ketus pada Shanum padahal aku tau kamu mencintainya...kamu melakukan semua itu untuk menutupi rasa cintamu padanya." batin Indra.
"Karena kamu tau bahwa aku juga mencintai Shanum dan kamu mengetahui hubungan pertunanganku dengan Pingkan yang berjalan tak sehat maka kamu mengalah dan membiarkan Shanum akhirnya memilihku dan mencintaiku!!" batin Indra lagi.
"Sudahlah dari pada kamu terlalu banyak omong kosong lebih baik kita pulang saja!!" kata Elang setelah membereskan semua berkas-berkasnya.
Di parkiran mereka berpisah karena arah mansion Indra dan apartemen Elang juga berlawanan arah.
"Sampai jumpa besok, Ndra...nggak usah berpikiran yang macam-macam!!" kata Elang.
"Target sudah mulai meninggalkan area parkiran rumah sakit!!" kata Bucu.
Lalu mobil yang dikendarai Codet, Bucu, Sukran dan Abas juga ikut bergerak mengikuti mobil Indra dan tanpa pembunuh bayaran itu ketahui, Rafli dan bawahannya juga mengikuti mobil mereka dari tempat yang tersembunyi.
Sukran yang ternyata adalah seorang sersan polisi yang bernama asli Johan sudah memberi kode pada Rafli tadi.
"Aku jadi tidak sabar untuk menembak mereka!!" pancing Sukran dengan kata-katanya.
"Iya benar!!" kata si Bucu.
"Aku ingin cepat menyelesaikan tugas ini aku ingin cepat mendapatkan sisa bayaranku dan segera pergi berlibur meninggalkan kota ini!!" kata Abas.
"Lihatlah...benar pengamatan kita selama ini bahwa di jam segini di saat terjebak macet, mobil yang ditumpangi Indra mengambil jalan alternatif lain yang tidak dikepung kemacetan, walaupun jalan itu agak jauh dan memutar!!" kata Codet.
"Mereka mengikuti kita sesuai dugaan, bos!!" kata Kirun pada Indra yang duduk di samping Wahid sementara Dodi duduk di depan di sebelah Kirun.
"Bersiaplah bos, kita akan ngebut!!" kata Kirun.
Mobil yang dikendarai Indra tiba-tiba melesat cepat membuat Codet dan anak buahnya kaget bukan kepalang.
"Kurang ajar, cepat sekali si gemuk pendek itu menyetir mobilnya, mantan pembalapkah dia??" tanya Codet.
"Jangan khawatir bos, aku dulu juga mantan pembalap waktu di kampung!!" kata Bucu juga melaju cepat.
"Oh ya?? pembalap apa??" tanya Codet lagi.
"Balap karung!!" kata Bucu santai.
"Dasar tolol!!" kata Sukran menjitak kepala Bucu.
"Bukan balapan seperti itu maksudnya, Bucu...tapi balapan mobilkah atau balapan motorkah!!" kata Sukran.
Sementara di belakang...
Gila...dua mobil itu melaju seperti kesetanan saja, sudah bosan hidupkah mereka itu??" kata kelompok Rafli.
"Sudah, cepat kita susul, kita jangan sampai kehilangan jejak mereka!!" kata Rafli memberi aba-aba.
"Aduh rasanya aku kepengen muntah!!" kata Abas.
__ADS_1
"Nggak usah berkelakuan yang aneh-aneh brengsek...nanti kamu muntah di bajuku!!" ucap Sukran yang memang duduk bersebelahan dengan Abas.
"Ayo kejar...kejar!!" kata Kirun sambil tertawa-tawa senang.
"Tembak bos...tembak!!" seru Bucu sambil berusaha tetap menjalankan mobilnya.
Sukran yang melihat itu diam-diam merasa khawatir, karena dia tau bahwa setiap tembakan si Codet itu tak pernah meleset selalu tepat sasaran.
"Oke...lebih dekatkan mobilmu pada mobil di depan kita itu!!" kata Codet.
"Bah, bicara sih mudah bos, tapi sejak tadi juga kita berusaha mensejajarkan mobil ini dengan mobil di depan, sepertinya susah banget!! lihai sekali pengemudi itu membawa mobilnya!!" kata Bucu membuat Sukran sedikit lega.
"Hai...mobil di belakang itu mobil siapa?? sepertinya mobil itu sedang membuntuti mobil kota!!" kata si codet mengamatinya dari kaca spion.
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Kirun berbelok tajam karena posisi tikungan di depan memang tajam.
"Bucu awas!!" teriak mereka semua karena fokus Bucu juga terbagi pada mobil yang melaju mengejar di belakang mereka.
Sebelum mobil terjun bebas masuk ke jurang Sukran yang sudah memperhitungkan keadaan langsung melepas seat beltnya dan melompat turun.
Mobil yang meluncur masuk ke jurang itu akhirnya terbakar dan meledak.
Dari tempat yang tersembunyi seorang lelaki cungkring sedang memperhatikan senua kejadian dengan geram.
"Belum melaksanakan tugas sudah pada mati duluan, benar-benar nggak bisa diandalkan!!" maki orang tersebut kesal.
"Sersan!!" teriak Rafli lalu berlari menolong Sukran yang pingsan.
Tanpa sepengetahuan siapapun si cungkring itu mendekat perlahan kearah mobil indra yang kebetulan juga sedang berhenti.
DOR...DOR...DOR...DOR
"Mas Indraaaa??" teriak Dodi dan Kirun bersamaan.
Dua tembakan berhasil dihindari Indra dengan bantuan Wahid tetapi dua tembakan lain berhasil bersarang di punggung Indra persis seperti yang pernah dimimpikan oleh Shanum tempo hari.
Tetapi tembakan yang berhasil disarangkan kepunggung Indra harus dibayar mahal oleh si Cungkring saat dua tembakan kematian yang dilancarkan Sukran yang kebetulan berada dekat si cungkring mendarat tepat di jantungnya membuat si cungkring langsung tewas di tempat.
"Cepat telepon ambulan!!" teriak Rafli.
Dua tubuh diangkat dengan dua ambulan yang berbeda. Pertama ambulan yang membawa jenazah si cungkring dan yang kedua adalah ambulan yang membawa Indra dan Sukran yang terluka cukup parah akibat benturan dengan batu pembatas jalan saat dia melompat tadi dari mobil yang berkecepatan tinggi.
Dengan cepat Dodi menelpon mami Tiara. Sementara Wahid ikut dalam ambulan bersama Rafli.
*
*
***Betsambung...
__ADS_1
Apa yang dimimpikan oleh Shanum ternyata menjadi kenyataan, akankah pesan yang disampaikan oleh Indra secara bercanda dengan Elang adalah juga pesan terakhir??
Jangan lupa dukungannya ya reader dan nantikan di episode selanjutnya.🙏🙏