Sejuta Kenangan Bersamamu

Sejuta Kenangan Bersamamu
Bab 28 Di Tempat Baru


__ADS_3

"Bu, nanti di tempat yang baru kira-kira Chika sama Chiro bisa dapat teman lagi atau nggak ya??" tanya Chika sambil menatap gerimis di sepanjang perjalanan sementara Chiro sudah lelap tertidur karena perjalanan mereka masih memakan waktu sekitar 5 jam lagi.


"Insya Allah akan dapat teman baru Chika bahkan lebih banyak dari tempat kita tinggal sekarang ini!!" jawab Shanum.


Sebenarnya dia lebih mengkhawatirkan keadaan kehamilannya, haruskah dia memakai uang yang dikirim oleh Indra setiap bulan untuknya??" Shanum sesekali memijit pelipisnya yang sakit.


Sementara itu....


Sambil bersiul-siul Rahman turun dari mobilnya. Dia membawakan 2 paper bag untuk anak-anaknya dan sang mantan.


"Kok rumah Shanum gelap ya?? apa Shanum dan anak-anak pergi kerumah ibu??" pikir Rahman.


"Lho kok digembok?? pintu rumahnya digembok?? nggak biasa-biasanya??" gumam Rahman lagi.


Dia coba menelpon Shanum tapi selalu di luar jangkauan. Hati Rahman semakin tak enak karena dia mulai merasa ada yang tidak beres.


"Apa Shanum pergi?? tapi pergi kemana??" gumam Rahman.


Akhirnya dia berinisiatif untuk menemui Bandiah walaupun mereka tak pernah akur.


Dia kesampingkan ego nya untuk mencari tau keberadaan sang mantan.


TOK...TOK...TOK


Rahman agak sedikit ragu mengetuk pintu rumah kos-kosan Bandiah.


CEKLEK...


"Hah?? kamu nggak salah pintu rumah??" tanya Bandiah sambil mengucek-ucek matanya untuk lebih meyakinkan dirinya.


"Kamu pikir mataku sudah lamur, apa??" sentak Rahman.


"Ya mungkin saja kan??" kata Bandiah memandang tajam pada Rahman.


"Sudahlah Di...aku datang kemari kali ini bukan mau cari ribut denganmu, aku hanya ingin bertanya tentang keberadaan Shanum dan anak-anakku...tolonglah Di!!" mohon Rahman pada Bandiah dengan wajah memelas.


Akhirnya Bandiah tak tega juga melihat wajah jelek Rahman.


Setelah dia dipecat dari pekerjaannya, dia memang sempat di rumah lalu tadi sore mereka sekeluarga pamit padaku mau balik ke kampung halaman ibunya tapi nggak tau di mana!!" kata Bandiah.


Lama Rahman terdiam berusaha mencerna perkataan Bandiah.


"Lagi pula untuk apa kamu repot-repot mencari Shanum?? bukankah mereka bukan tanggung jawab kamu lagi??" perkataan Bandiah begitu menyentil perasaan Rahman.

__ADS_1


"Sudahlah...aku mau tidur!! kamu pulanglah!! Kata Bandiah lalu menutup pintu dan menguncinya, meninggalkan Rahman di teras tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Kamu pergi kemana, Num?? setelah kamu dan anak-anak pergi, baru aku merasa amat kehilangan kalian!!" lirih Rahman.


"Kok lesu banget, ada apa memangnya mas??" tanya Yanti pada Rahman.


"Kepala mas hanya sedikit pusing!!" dusta Rahman.


Yanti nampak termangu dengan perubahan suaminya akhir-akhir ini, sering banyak melamun dari pada fokusnya.


Shanum memandangi rumah mungil dengan halaman yang tak seberapa besar yang ada dihadapan mereka.


"Ini rumah peninggalan nenek kamu, Num kata ibu!!"


"Walaupun tidak besar tapi masih bagus untuk ditempati!!" kata ibunya Shanum.


"Setidaknya kita bisa memulai hidup baru di sini!!" kata Shanum.


"Maafkan aku mas Indra, aku harus pergi dari hatimu juga hidupmu...anak yang ada di dalam kandunganku ini akan menjadi kenangan dan saksi hidup betapa aku sangat mencintaimu, walaupun aku jatuh cinta pada orang yang salah!!" batin Shanum.


****************


"Honey...aku ingin melahirkan di Indonesia!!" kata Pingkan pada Indra.


"Aku ikut saja kemauanmu, nanti jika aku menolak maka kamu akan membuat laporan lagi pada kedua orang tuaku dan orang tuamu!!" sindir Indra sambil sibuk dengan laptopnya.


"Jangan berkata begitulah honey, aku melakukan semua ini karena aku sayang padamu!!" kata Pingkan.


Indra tak mengucapkan sepatah katapun tetapi jelas terlihat dari wajahnya dia amat senang mendengar kata pulang ke Indonesia.


Bayangan Shanum seolah melintas di depan matanya. Wanita yang juga telah menjadi istrinya tetapi tidak bisa dia temui lagi!!


"Aku masih mencintaimu, Num...tunggulah sebentar lagi suami kamu ini akan pulang!!" batin Indra lagi.


Dari atas kursi rodanya hati Pingkan menjerit pilu. Dia sadar dia sangat mencintai Indra tetapi Indra tak pernah mencintainya!!


Bagi Indra hanya ada Shanum, bukan Pingkan.


Tapi bukan itu yang menyebabkan dia mengajak Indra pulang ke Indonesia, dia telah di kabari oleh Sheilla bahwa dia telah memfitnah Shanum sehingga wanita itu telah di pecat dari pekerjaannya.


Dan ditambah ancaman dan tekanan dari keluarga Indra, hingga keluarga Shanum harus pergi menjauh dari kehidupan Indra.


"Shanum...Indra itu milikku, sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku dan kamu hanyalah orang asing yang masuk di dalam kehidupan kami." Batin Pingkan sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"Jika aku tak bisa memiliki Indra maka siapapun juga tak boleh memiliki Indra, Indra akan tetap di sampingku selama dia melihat aku cacat dan duduk seperti seorang pesakitan di atas kursi roda ini!!" kembali Pingkan menyeringai jahat.


"Sebaiknya kamu masuk kedalam mansion, tak baik angin sore ini sudah semakin dingin, kasihan kandunganmu!!" kata Indra sudah berdiri di belakang kursi rodanya.


Pingkan menurut. Sejak kejadian perselingkuhannya dan pasca dirinya mengalami kecelakaan dan duduk di kursi roda dia seolah menjadi kucing manis dan penurut tak banyak membantah dan selalu mengikuti perkataan dan peraturan yang dibuat oleh Indra.


*****************


"Assalamualaikum...bi Karti!!" sapa seseorang di muka pintu rumah pagi itu memberi salam.


"Waalaikum Salam!!" sahut Shanum dan ibu Karti ibu Shanum.


"Bi, ini ada sayur sama ikan dari ibu!!" sahut pemuda itu.


"Kamu siapa leh??" tanya bu Karti.


"Saya Adrian bi...masa bibi lupa sama saya, saya anak bungsunya bu Sandra!!" terangnya.


"Astagfirullah...kamu Ian kah??" tanya bu Karti.


"Sepuluh tahun lalu kamu masih SMP kelas 3 sekarang sudah segede ini...ganteng lagi, mana istri sama anakmu, leh??" tanya bu Karti sambil menyalin sayur dan ikan ketempat lain.


"Adrian belum nikah bu, belum nemu yang cocok sama Ian!!" kata Adrian malu-malu.


"Mbak Shanum kan??" tanya Adrian menyapa Shanum malu-malu karena sejak tadi Shanum hanya diam menatapnya membuat Adrian grogi dan salah tingkah.


"Iya!!" jawab Shanum singkat.


Dia masih kesal sama pemuda di depannya sebab waktu dia masih SMP dan Shanum saat itu sudah bekerja di counter ponsel, mereka suka mandi di sumur umum dan Adrian suka sekali menyembunyikan baju Shanum.


Siapa sangka remaja yang dulu nakal, burik dan jerawatan sekarang bertransformasi menjadi seorang pemuda tampan seperti oppa-oppa Korea.


Tubuhnya yang tinggi dan atletis serta kulitnya yang dulu coklat terbakar panas matahari dan bau apek karena terlalu banyak main layangan di bawah terik matahari sekarang putih bersih, sisa-sisa jerawat batu di wajahnya pun kini hilang tak berbekas.


Wajah Adrian merah merona saat Shanum memindai wajah dan penampilannya dari kepala sampai ke kaki.


*


*


***Bersambung...


Ikuti terus kisah Shanum di next episode dan jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2