
"Alhamdulillah, Lang!! keadaan istriku sudah membaik kembali!!" kata Indra sambil menatap istrinya dengan tatapan mesra.
"Sialan....di mana sih aku meletakan peluru sialan itu??" gumam Pingkan yang tampak membongkar isi laci di kamar ruang perawatannya.
"Kampret...pasti ada seseorang yang masuk ke kamarku saat aku sedang bertemu mami tadi siang...tapi siapa?? tak mungkin perawat baru itu karena dia hampir tak bergerak dari tempat berdirinya sesentipun." Geram Pingkan.
"Sial...jadi gagal aku mau menemui mereka di rumah sakit!! dua kali kamu selamat, Shanum sialan!!" maki Pingkan.
Dengan cepat dirapikannya kembali kamarnya yang berantakan karena ulahnya tadi saat mencari peluru pistolnya yang hilang.
"Dasar bodoh...pistol tanpa peluru sama aja bohong namanya!!" gerutu Pingkan kesal.
"Kenapa aku juga jadi goblok begini menaruh benda penting itu sembarangan padahal di sini banyak kumpulan para maling semua!!" geram Pingkan sangat murka.
Rafli tertawa dalam hatinya melihat Pingkan seperti orang kebakaran jenggot!!
"Cari teruuusss sampai bego dan kumat gilamu itu!!" kekeh Rafli.
"Pingkan...Pingkan...kamu pikir aku ini jadi polisi baru kemarin sore?? kamu pikir aku bekerja sendirian?? kamu pintar dan licik jadi aku juga harus mengimbangi kelicikanmu." Kata Rafli.
"Untung orang-orang Elang masih ada di sekitar sini, jadi siang tadi aku mengawasi gerak-gerik Pingkan sementara Sandi bergerak menuju ke kamar Pingkan dan menggeledah isinya!!" gumam Rafli.
***********
Sheilla menggigil di losmen tempat dia menginap. Radang usus yang dialaminya begitu sangat menyiksanya.
"Mami...papi...tolong Sheilla!!" ratap Sheilla sambil meringkuk di kasur kecil yang disediakan di losmen itu.
TOK...TOK...TOK
Dengan susah payah Sheilla menuju kearah pintu dan membukanya.
"Maaf mbak, pesanan bubur dan teh hangatnya ditaruh di mana??" kata pekerja di losmen itu.
"Di taruh di meja aja mas!!" kata Sheilla pelan.
Untuk melawan rasa sakitnya Sheilla tadi memang minta dibelikan pada salah seorang pekerja losmen tersebut.
__ADS_1
Sheilla berusaha menghabiskan makanannya. Padahal dulu saat dia masih tinggal di rumah maminya, cerewetnya nggak ketulungan. Tapi sekarang dia harus mandiri untuk melakukan semua keinginannya.
"Mi...pi...Sheilla kangen...Sheilla rasanya ingin menyerahkan diri aja pada polisi, Sheilla capek harus hidup begini terus, lari dan terus sembunyi seperti tikus got!!" kata Sheilla sambil dengan susah payah menelan makanannya.
***********
"Mau kemana kamu Man, kok sudah rapi banget??" tanya ibunya yang sedang duduk bersama bapaknya di ruang tamu.
"Mau kesekolah bu!!" jawab Rahman.
"Ngapain kamu kesekolah, mau kejar paket A??" tanya ibunya.
"Sembarangan aja ibu ini, Rahman mau menonton...kemarin Rahman mendapat info dari pihak sekolah Chika dan Chiro bahwa Chiro akan bermain drama untuk mengisi acara perpisahan kakak kelasnya, sementara Chika akan bernyanyi!!" kata Rahman.
Ibu dan bapaknya Rahman tersenyum senang. Setidaknya Rahman sekarang punya kemajuan, jika dulu dia tidak peduli dengan kedua buah hatinya, sekarang sikapnya sedikit demi sedikit mulai berubah.
Kecelakaan digigit ular waktu itu, tidak selamanya merupakan sebuah malapetaka, ada hikmah yang bisa diambil dari sebuah musibah.
"Oo ya sudah, pergilah...kalau ketemu mereka sampaikan salam ibu dan bapak ya...kami kangen sama mereka." Kata ibunya Rahman.
"Ayo cepat sayang, dandan jangan lama-lama ntar banyak yang naksir!!" kata Indra pada istrinya.
"Isshh, apaan sih mas!!! tinggal pakai hijab juga!!" kata Shanum membalas perkataan suaminya.
Hari ini mereka berencana menonton pertunjukan Chika dan Chiro di sekolah.
Mami Tiara dan ibu Karti yang rencananya akan ikut harus gagal karena penyakit asam urat bu Karti kambuh!! jadi mami Tiara memutuskan untuk tinggal di mansion saja menemani bu Karti sekalian menjaga cucu tercinta, Sharindra Fahreza.
"Maafkan ibu ya Num, maafkan nenek juga ya Chika, Chiro!!" kata bu Karti penuh penyesalan.
"Pergilah kalian...nanti mami yang akan menjaga Rindra di mansion!!" kata mami Tiara.
"Anak ayah....tinggal sebentar sama oma dan nenek ya...Rindra nggak boleh ikut, Rindra masih kecil banget soalnya!!" kata Indra sambil menciumi buah hatinya itu.
"Ayo ayah cepat...nanti make up nya Chika dan Chiro luntur semua!!" teriak Chika dari dalam mobil!!
"Iya...iya...bawel banget kayak ibunya juga!!" kata Indra lalu bergegas masuk ke mobil.
__ADS_1
Dodi dan Wahid ikut mereka. Karena kedua bawahannya opa Jonas itu mempunyai ilmu bela diri yang tangguh. Kejadian di mansion tempo hari membuat mereka selalu bertindak waspada pada sekitarnya.
"Mas Dodi di mobil saja biar mas Wahid ikut ke dalam ya!!" kata Indra saat mereka turun dari mobil di parkiran.
"Siap bos!!" kata laki-laki bertubuh mungil yang di panggil Dodi itu.
Badan Dodi boleh mungil tapi kakak seperguruan Wahid itu mempunyai dasar ilmu bela diri yang tangguh.
Mereka ikut keluarga Indra sudah sejak lama sehingga keluarga Indra sudah mempercayai mereka berdua.
Mereka berlima lalu bergegas menuju kedalam aula ruang kelas tempat akan dilangsungkannya pertunjukan.
Chika dan Chiro bersiap di belakang dulu ya bu, yah, om Wahid...kalian harus duduk di depan nanti suara Chika nyanyi nggak kedengaran!!" kata Chika lalu mengikuti Chiro masuk kebelakang panggung berkumpul bersama peserta lainnya yang juga akan tampil.
"Isshhh itu anak kamu kasih sarapan apa sih tadi pagi, yank...kok tumben hari ini cerewet banget!!" kata Indra membuat Shanum dan Wahid tertawa.
Rahman yang sedari tadi sudah datang dan duduk di bangku deretan paling belakang merasakan hatinya teriris pedih saat dia melihat Shanum digandeng oleh Indra sementara tangan mereka yang masih bebas menggandeng Chika dan Chiro persis seperti sebuah keluarga yang bahagia.
"Maafkan mas Rahman ya Num, seandainya mas tidak mudah tergoda iman pada pesona wanita lain, tentu sampai sekarang kehidupan rumah tangga kita masih adem ayem saja, apa guna semua harta yang mas kumpulkan selama menjadi TKI di Malaysia kalau pada akhirnya tidak bisa kamu dan anak-anak kita nikmati."
"Sementara kamu dan anak-anak saat itu menderita kekurangan, mas malah bersenang-senang dengan Yanti tinggal di rumah yang layak juga punya mobil dan motor tapi sekarang semua sudah tak ada gunanya lagi." Rahman terus bermonolog di dalam hatinya sendiri.
Chiro bermain drama sangat bagus dan memukau penonton. Mereka riuh bertepuk tangan memberi aplaus pada Chiro.
Giliran Chika yang naik kepanggung menyanyikan lagu ayah dengan penuh penghayatan, saat selesai menyanyi Indra langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan paling meriah diikuti oleh penonton yang lain.
"Hebat Chika...anak ayah!!" teriak Indra dari arah kursinya membuat semua orang bertepuk tangan dan terharu mendengar perkataan Indra barusan begitupun dengan Shanum yang memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca.
*
*
***Bersambung...
Bagaimana rasamu saat orang yang terpenting di dalam hidup kita telah menjadi milik orang lain??
Lanjut ke next episode readers tercinta...
__ADS_1